
"Ma, kita pulang yuk. Capek" Aku kembali merengek pada mama.
"Kamu nggak makan dulu. Ayo makan dulu" Ajak mama.
"Enggak ah ma. Nggak selera"
"Makanannya sepertinya enak-enak lho. Itu ada nasi goreng juga, baru datang nasi gorengnya. Jadi masih panas. Ayo makan dulu" Mama masih membujukku
"Mama aja yang makan sana. Caca enggak mau. Caca tunggu di mobil aja ya" Sudah tidak tahan berada di tempat yang membosankan. Bukan tempatnya sih, tapi lebih ke orang-orangnya yang membosankan.
"Ya sudah mama pamitan dulu ya, nggak enak kalau tiba-tiba pergi. Apalagi habis menang kocokan" Aku pun mengangguk.
"Caca tunggu di parkiran" Aku pun pergi meninggalkan tempat arisan Princess. Geli banget menyebut nama arisannya.
***
Mobil melaju meninggalkan area parkir cafe. Mama mengemudikan dengan kecepatan sedang.
"Ma, kita cari makan yuk. Caca lapar" Bagaimana tidak lapar, tadi pagi hanya sarapan apel. Sedangkan sekarang sudah hampir jam dua siang.
"Tadi di ajak makan nggak mau. Sekarang malah ngajak makan" gerutu mama.
"Malas aja ma kalau harus makan disana. Teman mama lebay semua. Mama juga" Aku pun mendengus kesal.
"Lha kok mama, memangnya lebay gimana sih?"
"Ya pokoknya lebay, Caca nggak suka. Ini terakhir kali mama ngajak Caca datang ke arisan. Besok-besok nggak usah ngajakin lagi"
"Iya iya, mama nggak akan ngajakin lagi. Besok-besok mama datang sendiri kok, tenang aja. Sekarang mau makan apa?" Akhirnya mama mengalah.
"Sate Maranggi" Jawabku cepat. Ah kenapa bisa spontan aku menjawab. Padahal biasanya aku masih berpikir enaknya makan apa.
"Jam segini belum ada yang buka sayang. Yang lain saja ya"
"Lagi pengen sate Maranggi ma" Ucapku lagi.
"Kamu ngidam?" Tanya mama.
"Enggak, nggak tahu juga sih. Tiba-tiba pengen aja gitu" Aku sendiri belum tahu ngidam itu seperti apa. Makanya .
"Kita cari di dekat taman ya, biasanya disana buka jam empat sore. Ini baru jam dua. Tapi kita lihat saja dulu, siapa tahu sudah buka" Mama memberi penawaran, aku hanya mengangguk saja.
"Ma, nanti setelah makan Caca ikut ke rumah mama ya. Tadi dia ngirim chat, katanya dia nyusul papa ke tempat pemancingan" Ucapku saat mengingat pesan dari Arka.
"Iya sayang, apa mau nginap sekalian. Besok kan Minggu, kamu sama Arka nginap saja"
__ADS_1
"Lihat nanti saja ma" Aku pejamkan mataku, karena merasa sedikit lelah.
Entah kenapa belakangan ini mudah sekali lelah padahal tidak pernah bekerja berat. Tapi badan serasa remuk dan terkadang pula seperti tak bertulang, loyo sekali. Apa ini juga termasuk bawaan bayi?
Tak lama kemudian mobil terasa berjalan dengan lamban sekali. Aku buka mataku, aku edarkan pandangan keluar jendela. Susah berada di taman. Tapi aku tidak menemukan orang yang jual sate maranggi.
"Dimana ma yang jual" Tanyaku pada mama yang masih sibuk mengatur supaya mobil terparkir.
"Disebelah sana" Mama menunjuk ke sebuah warung bercat merah. Dan warung itu masih tutup. Hanya pintu samping saja yang terbuka sedikit. Dan terlihat orang keluar masuk lewat pintu yang terbuka itu. Sepertinya itu karyawan yang masih mempersiapkan dagangannya.
"Caca mau ikut, atau mau tunggu di mobil saja?" Tanya mama.
"Ikut aja ma" Aku lepas sabuk pengamanku lalu membuka pintu mobil. Berjalan mengikuti mama yang sudah berjalan terlebih dahulu.
Aku ikuti mama yang berjalan ke arah warung yang menjual sate Maranggi.
"Permisiiii...hallooo.." Teriak mama mengarah ke arah pintu samping warung yang terbuka tadi.
Tak perlu waktu lama, ada seseorang yang menghampiri kami.
"Iya Bu, ada yang bisa kami bantu?" Tanya wanita yang usianya sepertinya tak jauh dariku.
"Mbak, sate Maranggi nya ada?" Tanya mama dengan ramah.
"Ada Bu, tapi kami masih belum buka. Nanti jam empat an bukanya" terangnya
"Baik Bu, ibu tunggu dulu ya, kami akan membuatkannya" Jawab wanita itu dengan raut wajah yang tampak berbinar. Lalu dia segera masuk ke dalam lagi.
"Mama bisikin apa sih sama dia, kok jadi mau?" Tanyaku.
"Mama pelet biar dia nurut" Tawa mama pecah begitu pula denganku yang ikut tertawa.
Kami pun duduk di warung yang masih tutup ini. Menunggu di buatkan pesanan. Tak lama kemudian keluarlah mbak-mbak yang tadi membawakan minum disusul dua orang membawakan sate lengkap dengan nasi nya juga.
Kini di depan ku terhidang dua porsi sate Maranggi dan satu nampan sate Maranggi siap santap. Lidahku bergeleyar saat melihat tumpukan sate Maranggi. Sudah tak sabar ingin menghabiskannya.
Tanpa banyak tanya lagi, aku segera menyantap sate Maranggi. Tusuk demi tusuk sate itu berhasil masuk ke dalam mulutku. Rasanya enak sekali, bahkan menurutku itu sate Maranggi terenak yang pernah aku makan.
"Sayang kamu nggak pake nasi?" Tanya mama
"Enggak ma, aku makan satenya saja." Jawabku yang masih tetap mengunyah.
"Lahap sekali kalau makan. Baru kali ini mama lihat kamu makan dengan lahap. Enak ya satenya?"
"Iya ma, enak banget" Aku ambil lagi sate Yang ada di nampan.
__ADS_1
"Ya sudah habiskan, kalau mau nambah, bilang saja. Bila perlu nanti mama borong semua sate nya khusus buat kamu"
"Makasih ya ma"
"Iya sayang" Mama mengusap pelan pundakku. Sedangkan aku masih melanjutkan makanku yang seperti orang kesurupan.
Setelah cukup kenyang aku hentikan makanku. Hanya tersisa beberapa tusuk saja sate yang di nampan. Sedangkan sate mama yang ada di piringnya masih tersisa dua tusuk lagi.
"Mama nggak makan?" Tanyaku pada mama yang sedari tadi hanya memperhatikanku.
"Mama sudah kenyang, lihat kmu makan dengan lahap membuat mama senang sekali" Ucap mama dengan lembut.
"Bu, ini sate yang di bungkus" Mbak-mbak yang tadi kembali lagi dengan membawa bungkusan kantong kresek besar dan di letakkan di meja yang ada di sebelahku.
"Mama beli lagi, sebanyak ini ma? Aku sudah tidak mau lagi ma, sudah cukup kenyang" Tanyaku setengah melotot.
"Iya sayang, tapi ini bukan buat kamu kok. Ini untuk pengajian nanti malam di masjid. Dapat rejeki harus bagi-bagi" Jawab mama.
"oohh ya sudah, kirain buat aku. Bisa-bisa meledak perutku kalau makan sebanyak ini"
"Mbak, berapa totalnya ?" Mama kembali fokus dengan mbak-mbak yang melayani kami.
"Ini Bu totalnya" Di tunjukkan nya nota pada mama. Setelah melihat nominal nya, mama mengambil dompet yang ada di tasnya.
"Mudah-mudahan uang cash nya cukup mbak. Kalau nggak cukup sisanya saya transfer ya" Mama mengeluarkan lembaran uang berwarna merah dari dalam dompetnya.
"Ini Caca ada uang cash juga kok ma, berapa totalnya.?" Tanyaku.
"Tidak sayangku, biar mama saja yang membayarnya" Mama kembali menghitung uang yang di pegangnya.
"Alhamdulillah cukup mbak, malah masih ada sisa. Ini sisanya ambil saja. Bagi-bagi sama teman kamu yang bekerja melayani kami. Makasih banyak ya" Mama menyerahkan tiga lembar uang seratusan ribu itu kepada mbak yang tadi.
Rona bahagia nampak jelas di wajahnya "Wah, banyak sekali. Terima kasih banyak ya Bu. Ibu sudah memborong masih kasih tips pula. Terima kasih banyak Bu. Semoga lancar rejekinya dan semoga calon cucunya selalu sehat ya Bu. Semoga lahir dengan selamat bayi dan ibunya.Aamiin" Kami pun serempak meng-Aamiin-kan doanya.
"Tapi mbak, boleh minta tolong. Saya parkir mobil disana" Mama menunjuk letak mobil terparkir "Minta tolong bawakan semua ini ke bagasi mobil saya ya"
"Iya Bu, dengan senang hati saya membantunya"
Dan kami pun berlalu untuk pulang ke rumah mama.
Sesampainya di rumah, rumah masih sepi hanya ada mbok Imah yang datang menyambut kedatangan kami. Mungkin papa dan Arka masih belum pulang memancing.
"Sayang, kamu pasti capek kan? Sekarang kamu ke kamar dan istirahatlah"
"Iya ma" Lalu aku berjalan menuju kamarku. Kamar yang sudah lama tidak aku tempati.
__ADS_1
Setelah mandi aku segera membaringkan tubuhku di atas kasur. Aku pejamkan mataku, karena mataku sudah cukup lelah dan ngantuk. Tidak hanya mata saja tapi juga tubuhku. Sangat lelah sekali.
Saat mata terbuka nanti aku berharap rasa lelahku sudah hilang dan badanku kembali segar.