
Pagi ini udara terasa dingin. Menusuk hingga ke tulang. Membuatku enggan untuk terlepas dari selimut. Sedangkan Arka, sangat bersemangat untuk berolahraga. Meskipun hanya di lakukan di halaman rumah . Setelah Arka keluar kamar, aku memilih melanjutkan tidurku.
Saat aku terbangun, aku pandangi jam yang menggantung di sisi tembok kamarku. Sudah pukul delapan, itu artinya Arka sudah berangkat kerja. Tapi kenapa dia tidak berpamitan denganku.
Karena merasa penasaran, aku singkap selimut yang menyelimutiku. Lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju balkon.
Aku edarkan pandangan ke arah halaman, tapi nihil orang yang aku cari tidak ada disana. Mobil yang biasa dia pakai untuk ke kantor juga tidak ada. Berarti benar dugaanku. Arka pergi ke kantor tanpa berpamitan denganku.
Aku kembali memasuki kamar dan mencari ponselku. Aku tekan tombol hijau saat nama yang aku cari sudah ketemu.
tuutt...tuutt ..tuutt...tuutt...tuutt
Terdengar nada terhubung, tetapi tak kunjung diangkat sampai nada itu berakhir. Aku ulangi sekali lagi .
tuutt..tuutt ...tuutt
Di nada ketiga barulah terdengar suara dari seberang.
"Assalamualaikum sayang" Terdengar suara sapaan dari seberang.
"Kenapa sih berangkat kerja nggak pamitan. Main pergi-pergi aja. Di telepon juga lama sekali ngangkatnya"
"Jawab dulu salamku sayang" Ucap Arka dengan lembut. Ya ampun saking jengkelnya sampai aku lupa menjawab salamnya.
"Waalaikumsalam" Jawabku.
"Nah gitu dong, dan maaf ya sayang tadi aku pergi nggak pamitan soalnya buru-buru. Terus kamu juga tidurnya pulas banget. Nggak tega aku bangunin kamu. Makanya aku langsung pergi" Ucap Arka dengan lembut.
"Banyak alasan"
"Beneran sayang, Ini aku juga belum berangkat kerja kok. Aku ijin berangkat agak siang. Dan Aku Ada kejutan buat kamu"
__ADS_1
Hah... aku melongo mendengar suaranya yang dari seberang sana. Sehingga kami diam sesaat. Kejutan apa yang disiapkan Arka sepagi ini. Sampai-sampai dia bela-belain menunda berangkat kerja. Tidak seperti biasanya Arka seperti ini.
"Kok diam, Sudah mandi apa belum nih?" Tanya Arka membuyarkan lamunanku.
"Be-belum" Jawabku tergugup.
"Sebentar lagi aku sampai rumah, cepat mandi ya. Setelah mandi tunggu aku di lantai bawah. Ya sudah kalau gitu, aku matiin dulu ya. Soalnya mau lanjut jalan lagi"
"Iya" Panggilan pun terputus. Aku diam sejenak. Masih memikirkan kejutan apa yang disiapkan Arka. Sampai-sampai aku harus mandi dulu sebelum dia sampai rumah. Biasanya juga biarpun aku belum mandi Arka tetap bersemangat mendekatiku.
Ahhh... pusing mikirin ucapan Arka. Aku letakkan ponsel yang dari tadi aku genggam. Aku pun segera mandi, tidak seperti biasanya, Kali ini cukup singkat hanya memakan waktu dua puluh menit saja. Karena aku tidak mau saat Arka datang aku masih di dalam kamar mandi.
Aku rias wajahku dengan make up yang tipis. Hanya menyapukan bedak dan mengoleskan lipstik berwarna merah muda di bibirku. Setelah menyisir rambut dan memakaikan bando di kepalaku, aku segera keluar kamar.
Saat menuruni tangga terdengar suara mobil Arka memasuki garasi. Terlihat buk Mar dan Mbak Susi berlari kecil melewatiku.
"Mbak, mau kemana?" Tanyaku pada mbak Susi, salah satu asisten rumah tanggaku.
Aku melanjutkan jalanku untuk menyambut kedatangan Arka. Lebih tepatnya ingin tahu kejutan apa yang sudah di siapkan olehnya. Dan awas saja kalau kejutannya tidak bisa membuatku senang, aku sudah menyiapkan kata-kata untuk memarahinya. Karena tadi waktu berbicara lewat telepon rasanya kurang puas marahnya. Maka dari itu aku sudah bersiap-siap untuk adu mulut dengannya.
Saat di ruang tamu aku kembali berpapasan dengan buk Mar, dia membawa tas yang cukup besar. Disusul dengan mbak Susi yang membawa tas dan keranjang yang sepertinya berisi buah. Aku tidak mau bertanya lagi dia darimana, karna sudah tahu jawabnya, pasti dia akan menjawab dari depan. huft.. sungguh konyol.
Setelah mereka berlalu Arka sudah muncul di ambang pintu dengan senyum manisnya.
"Nggak usah senyum-senyum. Darimana saja, pagi-pagi sudah ngilang aja?" Bukannya menjawab dia malah berjalan mendekatiku lalu memelukku dengan senyumannya menawan. Tapi aku tidak boleh lengah dengan rayuannya. Dia seperti itu supaya terhindar dari amukanku.
"Masih pagi, jangan marah-marah saja sayang. Kan aku sudah bilang kalau aku lagi siapin kejutan buat kamu" Ucapnya dengan lembut dan tangannya di lingkarkan di pundakku.
"Apa, mana coba kejutannya?" Tanyaku dengan ketus.
"Sebentar, tunggu sini ya" Arka melepas rangkulannya dan berjalan melewati pintu yang baru saja dia lewati.
__ADS_1
Dan tiba-tiba muncul dua orang di ambang pintu "Surprise"
Mataku membulat sempurna melihat dua orang yang ada di ambang pintu.
"Mamah???... Rani ???" Teriakku dan menghambur ke dalam pelukannya mamah. "Caca kangen sama mamah" Aku pun terisak dalam pelukannya.
"Mamah juga kangen sayang. Mamah tidak berhenti memikirkan kamu" Ucap mamah dengan lembut, lalu menatap wajahku, tangannya bergetar mengusap air mataku.
Mamah dan Rani, dua sosok wanita yang sangat aku rindukan. Kini mereka sudah ada d hadapanku.
"Suka kejutannya?" Tiba-tiba Arka berdiri di sampingku.
"Iihhh kamu ya, kenapa nggak bilang kalau mamah mau datang" Rengekku.
"Kan aku sudah bilang kalau ini kejutan. Kalau aku ngasih tahu kamu terlebih dahulu, itu namanya bukan kejutan sayang. Tapi pengumuman" Kami pun terkekeh.
Aku pun memeluk Rani, melepas kerinduan padanya.
"Rani kangen sama teteh" Ucapnya kala kami saling peluk.
"Teteh juga kangen sayang".
"Udah dulu kangen-kangenannya. Lebih baik sekarang kita sarapan. Aku sudah lapar nih. Mamah Sama Rani juga pasti belum sarapan kan"
Arka mengajak kami untuk sarapan terlebih dahulu. Ternyata Buk Mar sama mbak susi sudah memasak makanan lebih , karena mereka sudah di beritahu Arka terlebih dahulu kalau mamah sama rani akan datang.
"Mamah tadi kesini naik apa mah?" Tanyaku saya di tengah sarapan.
"Naik kereta. Tadi berangkat habis subuh. Mamah minta jemput sama Arka, di janjiin terus. Mamah nggak tenang kepikiran terus sama kamu sayang, mamah takut Arka tidak bisa menjaga kamu dengan baik. Makanya mamah minta antar Rani. Padahal dia juga baru sembuh kan"
Mamah sungguh perhatian terhadapku. Padahal aku hanya menantunya. Perhatiannya tak kalah dengan mama ku sendiri. Ternyata mertuaku berbeda dengan mertua pada umumnya. Selama ini aku sering mendengar kalau mertua dan menantu perempuan itu tidak akan pernah akur. Tapi selama ini aku dan mertuaku selalu baik-baik saja. Semoga saja hubungan seperti ini akan tetap terjaga selamanya.
__ADS_1