Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Aku sudah siap di dalam mobil, duduk di bangku depan di samping Arka. Sedangkan ayah, mamah dan Rani duduk di bangku belakang.


Arka melirikku sekilas dan melontarkan senyuman manisnya.


"Kenapa kok lirik-lirik?" Tanyaku.


"Nggak apa-apa" Jawabnya sambil menginjakkan pedal gas. dan mobil pun melaju perlahan keluar dari halaman rumah.


Di dalam mobil suasana sangat hening, aku tekan tombol audio untuk mendengarkan lagu. Agar tidak terasa sepi.


Sesekali Arka melirikku dan kembali fokus dengan setirnya.


"Kenapa sih dari tadi lirik-lirik saja" Protesku.


"Emang nggak boleh ya kalau lirik istri sendiri, kalau lirik perempuan lain gimana ?" Jawab Arka asal


Aku hanya melotot mendengar jawaban Arka. Karna nggak enak sendiri jika harus berdebat di depan orang tuanya.


Tak lama kemudian mobil memasuki area parkiran mobil. Parkiran di luar sudah penuh. Akhirnya Arka mengemudikan mobil memasuki area parkir di basement.


Setelah mobil terparkir dengan rapi, Kami pun turun dari mobil.


"Sayang kita cari baju aja dulu ya, habis itu kita belanja kebutuhan dapur." Ucapku.


"Iya" Ucapnya.


Arka melingkarkan tangannya ke bahuku. Aku lihat mamah dan ayah jalan berdampingan sambil sesekali tersenyum. Sedangkan Rani...


"Kalau tau gini kan lebih baik aku nggak ikut, jadi kambing congek disini" celetuk Rani tiba-tiba , aku lirik dia, masih menggerutu dengan bibir yang sedikit di monyongkan.


"Sini, sama teteh" Aku mengulurkan tangan kananku padanya.


"Eeehhh sudah biarkan saja dia" Arka menarik lagi tanganku sambil tertawa.


"Ih kamu ini ya, jangan gitu, kasihan dia" Aku lepaskan rangkulan Arka.


Aku hampiri Rani yang hanya berjarak dua langkah dariku. Aku lingkarkan tanganku ke lengannya dan berjalan mendampinginya.


"Yeeekkk... teteh lebih memilihku" Ledek Rani sambil menjulurkan lidahnya.


Kalau aku perhatikan mereka berdua memang kakak beradik yang lucu, saling ejek dan berantem, tapi setelah itu baikan lagi dan bercanda lagi.


Aku lirik dia sambil tersenyum kilas. Senang rasanya bisa punya saudara. Mungkin kalau aku punya saudara perempuan, ada tempat buat saling berbagi, entah itu berbagi bahagia atau mungkin berbagi kesedihan. Tapi sayangnya aku hanya punya saudara laki-laki itu pun selalu jauh. Memang sih kak Bayu selalu memberikan apa yang aku minta secara materi aku tidak pernah kekurangan apapun , bahkan lebih dari kata cukup.


Tapi semua itu tidak bisa menggantikan rasa kesepian ku. Sepi... benar-benar sepi...


"Eeiittss .. ngelamunin apa sih" Tiba-tiba Arka mengagetkanku.


"Eh .. enggak kok" Jawabku gugup.


"Nggak ngelamun, tapi di tanya kok diam saja"


"Emang nanya apa?" tanyaku


"Tuh kan ngelamun...Mau beli baju apa?" Katanya kembali meledek sambil mencubit hidungku.


"Aaww... nyari baju kantor buat kamu, sama sekalian buat Rani, buat mamah juga buat ayah" Ucapku sambil menepis tangannya dari hidungku.


"Nggak usah... mamah sama ayah nggak usah di belikan baju. Baju mamah sudah banyak. Kalian saja yang beli ya" tolak mamah dengan polos.


Aku dekati mamah dan aku raih tangannya. Aku usap perlahan.


"Mah, jangan nolak ya. Caca harap mamah mau nerima. Lagian ini bukan dariku, ini dari anak lelaki mamah. Jadi mamah harus terima ya" Pintaku memelas .


Mamah tampak menatap Arka dengan mata berkaca. Seperti ada pertanyaan di mata itu.


"Sudah mah, mamah pilih saja bajunya yang mana, atau mau aku saja yang pilih buat mamah?" Arka ikut membujuk mamah.


"Makasih ya sayang, semoga kalian bahagia" Ucap mamah membalas genggaman tanganku.


"Aamiin" Jawab kami serempak.


"Ya udah ayo kita cari baju sekarang" Ucapku mencairkan suasana.

__ADS_1


Kami pun kembali berjalan. Aku masih tetap menggandeng tangan Rani, sambil sesekali bercanda dan tertawa.


"Rani lebih suka dimana, di sini atau di kampung?" Tanyaku dengan agak serius.


"Di kampung" Jawabnya singkat


"Kenapa?"


"Kalau di kampung tuh banyak temannya, banyak tetangga yang sudah seperti saudara. Nggak kayak disini, nggak punya teman ataupun tetangga" ucapnya menjelaskan.


Aku diam sejenak mencoba mengerti yang dikatakan Rani.


"Tapi disini kan enak banyak mall, banyak tempat buat hangout sama teman" Ucapku nggak mau kalah.


"Teh, hidup di kota seperti ini penuh perjuangan, butuh uang banyak buat bahagia. Tapi kalau di kampung, kita nggak perlu mengeluarkan uang buat bahagia. Dengan kesederhanaan pun kita bisa tertawa lepas tanpa beban" Ucapnya lagi. Aku kembali diam dengan ucapan Rani.


Apa iya yang di katakan Rani ini benar. Bukannya di kampung itu segala susah. Aku sendiri sih belum pernah merasakan hidup di kampung seperti apa.


"Hayo ngelamun aja" Tegur Arka, mengagetkan aku yang memang sedang melamun.


"eh... kamu ini selalu saja ngagetin" Protesku.


"Makanya jangan ngelamun aja" Sambil mencubit kedua pipiku, Kali ini pipiku yang jadi sasaran gemesnya Arka.


"Iihhh... kamu ini seneng sekali nyubit-nyubit" Aku pun memukul lengannya.


"Gemes lihat kamu" Ucapnya sambil tertawa.


Dan kami pun sudah sampai di depan butik yang khusus menyediakan pakaian wanita.


"Kita coba disini ya cari baju buat mamah sama Rani" Ucapku.


"iya terserah kamu" Jawab Arka.


Saat memasuki butik kami di sambut ramah oleh salah satu karyawan.


"Selamat siang mbak, ada yang bisa kami bantu" Ucap salah satu karyawan butik.


"Mari ikut saya, biar saya tunjukkan" Jawabnya dengan senyum ramahnya.


"Mamah duduk sini saja ya, biar Caca yang ambilkan bajunya" Ucapku pada mamah karna sepertinya mamah mulai kelelahan.


Mamah mengangguk dan duduk di temani ayah. Aku mengajak Rani dan juga Arka agar ikut memilih baju. Karna aku nggak tau style gamis yang bagus kayak gimana.


"Ini mbak model terbaru kami, warna yang tidak mencolok cocok dengan mamahnya dan yang sebelah sana cocok buat seumuran adiknya" Karyawan itu menunjuk beberapa deret pakaian yang di gantung dengan rapi.


"Baik mbak makasih ya, biar saya pilih dulu ya" Ucapku.


"Baik mbak, saya tinggal dulu. Apabila butuh sesuatu mbak bisa panggil saya lagi atau staf yang lainnya" Aku pun mengangguk dan karyawan tadi segera pergi meninggalkanku.


"Sayang, mamah suka warna apa?" Tanyaku pada Arka.


"Warna kuning" Jawab Arka.


"Kalau Rani warna apa? pilih saja disana ya. Ambil saja sesukamu" Ucapku.


Aku dan Arka sibuk memilih baju buat mamah. Sama halnya dengan Rani. Tidak lama kemudian aku melihat Rani menghampiri Arka dan berbisik di telinganya.


Karena penasaran aku mendekatinya. "Ada apa, mana bajunya?" Tanyaku.


Arka menarik lenganku, dan berbisik di telingaku " Kata Rani nggak ada yang cocok, bukan dengan bajunya, tapi dengan harganya"


Aku pun terkejut mendengar bisikan Arka. Aku mendekati Rani.


"Mana baju yang kamu suka?" Tanyaku.


"Nggak usah teh, kita beli di pasar aja ya" suara Rani terdengar sangat pelan sekali , mungkin takut di dengar karyawan disini.


"Memangnya berapa harganya?" Tanyaku.


"Enam ratus lima puluh ribu" Jawabnya.


"Ya ampun cuma segitu aja kamu nggak jadi ambil? Kalau kamu suka ambil aja. Jangan pikirkan harganya" Ucapku dengan tersenyum.

__ADS_1


Dalam hati aku hanya tertawa melihat Rani seperti ini. Mungkin selama ini dia memang hidup dalam kesederhanaan. Membeli baju harga segitu sudah di anggap mahal.


Rani tampak ragu mau ambil baju itu, tapi karena aku terus memaksanya, akhirnya dia mau terima. Aku mengambil dua baju gamis untuknya, warna hijau dan kuning berpadu dengan hitam.


Aku juga mengambil dua baju buat mamah.


"Sayang ini bagus juga" Arka menyodorkan baju gamis warna hijau muda padaku.


"Sayang itu terlalu mencolok buat mamah" Ucapku.


"Ini bukan buat mamah, tapi buat kamu" Ucapnya.


"Buat aku" Aku memekik sambil menunjuk diriku sendiri dengan ujung jariku.


"iya, sudah jangan protes lagi" Jawabnya.


Apa-apaan Arka masa iya aku di belikan baju gamis. Apa kalau keluar jalan aku di suruh pakai baju gamis itu. Aduuhh suamiku ini ada-ada aja.


"Hai... Caca" Teriak seseorang di depanku. Aku menatapnya, seorang perempuan dengan memakai pakaian yang agamis banget. Sesaat aku sedikit tercengang melihatnya, tapi aku mengenalinya.


"Tiara?" Kami pun saling berpelukan dan saling cium pipi.


Tiara adalah temanku waktu SMA, setelah lulus sekolah tak lama kemudian aku mendengar kabar kalau dia di jodohkan oleh orang tuanya. Dan tak pernah lagi terdengar kabarnya.


"Kamu makin cantik aja, sama siapa?" tanya Tiara.


"Oh iya kenalin, ini Arka, suamiku. Dan ini adik ipar ku" aku pun mengenalkan Arka padanya.


"Kamu udah nikah? udah punya momongan?" Aku menelan ludah mendengar pertanyaan Tiara. Momongan ?... Anak ?...


"Kami baru menikah, belum ada satu bulan" Jawab Arka yang mengerti kebingunganku.


"Ooh, jadi kalian pengantin baru. Selamat ya... semoga pernikahan kalian bahagia dan menjadi pasangan dunia akhirat"


"Makasih" aku dan Arka menjawab secara bersamaan..


"Tiara, mana suami kamu?" Tanyaku.


"Suamiku ngajar di pesantren." Jawabnya.


Salah satu karyawan wanita datang menghampiri kami, dan memberikan buku pada Tiara.


"Maaf ibu saya mengganggu sebentar, ini laporan yang ibu minta. Permisi" Kata karyawan wanita itu langsung pergi setelah memberikan buku pada Tiara.


"Jadi butik ini punya kamu?" Tanyaku sedikit terkejut.


"Iya, daripada nggak ada kerjaan kan." Jawabnya.


Kami pun sedikit bercerita tentang masa yang terlewatkan. sampai akhirnya bertukar kontak telepon.


"Ya udah aku pamit dulu ya, kasihan mertuaku nunggu disana. Kapan-kapan aku mampir lagi." Pamitku.


"Oke, makasih ya sudah mampir" Ucapnya. Aku pun memeluknya dan melambaikan tangan padanya.


Aku menghampiri mamah yang sedang berbincang dengan ayah.


"Mah, ini bajunya. Mamah suka warnanya nggak? kalau nggak suka biar di tukar dengan yang lain" Aku berikan baju itu pada mamah.


"Apapun pilihan kamu, mamah tau itu yang bagus." Aku tatap matanya yang sedikit berkaca, entah apa yang membuatnya seperti ini. Aku pun memeluk mamah


"Mamah jangan sedih" ucapku.


"Mamah nggak sedih, mamah bahagia punya menantu seperti kamu." Mamah menangkupkan kedua tangannya ke pipiku, dan mencium keningku kilas.


"Makasih ya mah, mau menerima kekurangan Caca. Caca janji akan belajar jadi istri dan menantu yang baik" ucapku sambil menyentuh tangannya yang menempel di pipiku.


Kemudian aku pergi menuju kasir dan membayar semua belanjaan.


"Mbak total semuanya, tiga juta delapan ratus ribu rupiah. Dan ini ada titipan dari ibu Tiara buat mbak, dan maaf kata ibu nggak sempat memberikan langsung, tadi langsung pergi karena ada keperluan mendadak." Karyawan itu memberikan paper bag padaku.


"Saya terima ya mbak, dan sampaikan ucapan terima kasih saya ya sama ibu Tiara. oh ya saya bayarnya pakai ini ya" Aku menyodorkan sebuah kartu pada karyawan tadi.


Setelah pembayaran selesai kami pun pergi meninggalkan butik. Dan sekarang giliran mencari baju buat Arka dan juga Ayah.

__ADS_1


__ADS_2