
Perlahan Aisyah melepas pelukanku "Saya bisa menerimanya teh, saya ikhlas" Ucapnya dalam isak tangis.
Melihatnya seperti ini, aku merasa menjadi orang jahat, yang menyakiti hati orang lain.
Aku genggam tangannya "Aisyah, kamu masih mencintainya kan?" Tanyaku.
Dia menggeleng perlahan. "Jawab dengan jujur jangan bohongi perasaanmu" Kataku pelan, tapi seolah memaksanya.
"Apa kamu masih mencintainya?" Aku mengulangi pertanyaanku. Aisyah menatapku. Menggenggam erat tanganku. Dan dia mengangguk.
"Kamu tenang saja, aku akan meminta Arka untuk segera menceraikan aku. Kalian berdua saling mencintai kan, kamu akan kembali bersamanya lagi, aku yakin kalian berdua akan hidup bahagia" Air mataku pun tak terasa menetes.
"Jangan teh, jangan lakukan itu. Jangan bercerai dengannya. Jangan memintanya untuk meninggalkanmu. Tetaplah disampingnya" Aisyah pun menangis tersedu-sedu. Dia terus menggenggam erat tanganku.
Aku pun ikut terisak. Kami kembali saling memeluk, larut dengan kesedihan masing-masing. Entah apa yang aku rasakan, sedih karena memisahkan orang yang saling cinta atau sedih karena takut untuk melepaskan Arka. Karna saat ini aku benar-benar merasakan kalau hatiku tidak bisa melepasnya.
"Maafkan aku Aisyah ... maafkan aku" Ucapku lirih. Kami kembali terisak.
"Teh, te... Eh maaf, Rani nggak tau ada Kak Caca disini" Teriakan Rani terputus saat melihat aku dan Aisyah saling peluk. Suara yang tadinya nyaring tiba-tiba lirih seperti orang berbisik.
Kami saling melepaskan pelukan. Aku usap pipinya yang basah karena air mata. Aku tersenyum dihadapannya. Dia juga membalas senyumanku.
"Baiklah aku akan ganti baju dulu ya." Nada suaraku aku normal kan kembali. Karena aku nggak mau Rani berpikiran yang tidak-tidak tentangku.
"Iya teh" jawab Aisyah.
Aku pun mengambil bingkisan yang tadi sempat aku letakkan di atas meja rias. Aku membawanya masuk ke kamarku.
Aku buka bingkisan itu perlahan. Baju yang sangat indah, kombinasi warna violet dan putih. Lengkap dengan jilbabnya.
Aku perhatikan jilbabnya yang berbentuk segi panjang dan ada juga beberapa aksesoris yang menempel berbentuk bunga-bunga kecil.
Aku ganti bajuku dengan baju dari Aisyah. Pas dengan bentuk tubuhku. Warnanya juga cocok dengan warna kulitku.
Aku merasa kebingungan saat akan memakai jilbabnya. Aku putar-putar posisinya di kepalaku. Tapi hasilnya sungguh tidak bagus. Aku putus asa. Bagaimana caranya memakai jilbab ini. Sungguh bodoh sekali.
Setelah berpikir, aku melangkahkan kakiku keluar kamar. Aku lihat pintu kamar Aisyah masih terbuka, itu berarti dia masih di dalam kamar.
Aku intip sebentar isi kamar, terlihat Aisyah berdiri di balik jendela kaca. Menatap keluar, tapi pandangannya seperti kosong. Aku perhatikan sejenak, akhirnya Aku beranikan diri untuk mengetuk pintu kamar.
tookk
tookk
tookk
Aisyah pun menoleh, "Aisyah boleh aku masuk?" Tanyaku saat dia menatapku.
Dia mengangguk dan berjalan menghampiriku.
"Masuk saja teh, ada apa?"
"Aku mau minta tolong, aku nggak bisa pakai ini. Apa kamu bisa bantu aku memakainya." Aku perlihatkan jilbab yang ada di tanganku.
"Oh bisa teh" Jawabnya dengan sangat enteng.
Aku duduk di depan meja rias, Aisyah mulai menyisir rambutku, menatanya. Kemudian memasang jilbab itu di kepalaku. Sangat cekatan tangan Aisyah memasangnya. Dalam sekejap Jilbab itu sudah terpasang rapi di kepalaku.
"Sudah teh, cantik sekali " Pujinya.
"Makasih ya, dari tadi aku berusaha memakainya tapi wajahku jadi aneh" Aku pun memeluknya sesaat dan kembali melepaskannya.
"Ya sudah, sebentar lagi acaranya di mulai, ayo kita turun" Ajak Aisyah. Aku pun menggandeng tangannya.
Saat sampai di lantai bawah, semua orang terdiam menatapku.
Mama berjalan menghampiriku "Sayang, ini kamu kan?" Tanya mamaku sambil meraba pipiku.
"Emangnya anak perempuan mama ada berapa?" Ledekku.
"Sayang, kamu cantik sekali. " Puji mamaku.
__ADS_1
"Gila, ini beneran lu ca" Sekarang Alda ikut berkomentar. Dia berjalan memutari tubuhku.
"Iyalah ini aku" Jawabku.
"Cantik banget" Joy pun tak mau kalah dengan yang lain.
"Makasih ya... " Ucapku
"Ya udah ayo, kita ke depan semua. Kayaknya sudah mau di mulai deh" Ajak mamaku. Semua langsung berjalan keluar begitu juga denganku.
Aisyah menuntun mamah Arka, aku berjalan dengan mamaku. Sedangkan teman-temanku sudah keluar lebih dulu.
Tiba-tiba Arka masuk dengan terburu-buru.
"Mah, mana istriku?" Tanya Arka pada mamahnya.
"Itu istrimu" Jawab mamah Arka menunjuk ke arahku.
Arka melihat ke arahku.
"Ya sudah mama duluan ya, papa sudah nunggu mama." pamit mama. Aku pun mengangguk.
Arka terus saja menatapku. Dari bawah sampai ke atas. Mungkin dia tau baju yang aku pakai ini.
"Kenapa?" tanyaku sedikit ketus.
"Kamu cantik sekali" Dia mulai memujiku. Tangannya mencoba menyentuh pipiku, tapi dengan cepat aku menepisnya. Aku sempat melihat Aisyah menoleh ke arahku.
"Sudahlah aku mau ke depan. Bajumu sudah aku siapkan dikamar" Ucapku dan Aku pun meninggalkannya.
Aku menuju ke halaman rumahku yang sudah dipasangi tenda lengkap dengan kursinya. Aku mengambil duduk bersebelahan dengan Alda.
Suasana riuh, karena ternyata yang menghadiri acara ini sangat banyak.
Tak lama kemudian Arka keluar dan menghampiriku.
"Sayang, kita duduk di sebelah sana saja" Jari telunjuknya mengarah ke dua kursi kosong di samping papaku.
"Sayang, kamu kenapa sih, jangan kayak gini dong. Kita bahas nanti ya. Sekarang ikut aku duduk disana" Akhirnya aku berdiri dan langsung duduk di samping papa.
Arka juga mengikuti ku, mengambil duduk di sampingku.
Sepuluh menit kemudian acara di mulai. Semua acara di lewati tanpa ada kesalahan ataupun kekurangan apapun. Sampai menjelang sore acara di akhiri sebelum menjelang Maghrib.
Para tamu dan undangan sudah banyak yang berpamitan pulang. Hanya tinggal keluarga dan teman-temanku saja.
"Papa dan mama langsung pamit pulang saja ya sayang, soalnya papa mau bertemu dengan klien malam ini" Pamit mama padaku.
"Iya ma, makasih buat semuanya ya ma" Ucapku sambil mencium pipi mama.
"Gue juga langsung pamit deh ca, soalnya cowok gue dah nungguin, seharian ini gue tinggal kasian kan dia." ucap Firna yang di sambut gelak tawa yang mendengarnya.
"Makasih ya kedatangannya"
Aku memeluknya, Joy dan Alda segera bergantian.
"Kalau ada waktu main kesini ya" Pintaku.
"Oke sip, gampang di atur. Kapan-kapan kita hangout bareng ya, dah lama nih kita nggak hangout" Celetuk Alda.
"Boleh ya bang" Rayu Firna pada Arka.
"Boleh asal nggak macem-macem" Sahut Arka.
"Siap boss" Alda menyahut sambil mengangkat tangannya memberi hormat ..
"Ya udah deh gue langsung balik ya" Pamit Firna.
"Iya, hati-hati ya" Ucapku. Mereka bertiga berjalan menuju mobil yang mereka parkir di dekat garasi. Aku lambaikan tanganku saat Alda membuka kaca mobil. Aku pandangi sampai mobil itu keluar dari pintu gerbang.
Arka masih berdiri menemaniku. Sesaat kemudian aku membalikkan badanku untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
"Sayang, tunggu..." Dia berusaha memanggilku tapi tak aku hiraukan.
Aku percepat langkahku. Menaiki tangga menuju ke kamar. Aku buka pintu kamarku dan menutupnya kembali. Aku sandarkan tubuh dan kepalaku di balik pintu. Aku pun meneteskan air mataku.
Aku nggak sanggup jika harus melepaskanmu. Tapi aku juga nggak mau menjadi orang jahat, yang memisahkan kedua orang yang saling mencintai. Cinta Aisyah begitu besar terhadapmu. Semoga jalan yang aku pilih, adalah jalan terbaik. Yaitu melepaskanmu....
Tiba-tiba handle pintu bergerak dan pintu terdorong dengan kuat. Aku mencoba menyingkir dari balik pintu. Tapi terlambat dengan cepat Arka membuka pintu dan menarik tanganku.
Aku berusaha menyembunyikan wajahku darinya, agar dia tidak melihat jika aku habis menangis.
"Hei, kamu kenapa? Bilang sama aku" Tanya Arka sambil menarikku agar mendekat ke tubuhnya.
Aku tundukkan kepalaku "Nggak apa-apa"
Arka meraih daguku, memaksa agar wajahku menghadapnya. "Sayang, lihat aku jangan seperti ini. Katakan apa aku berbuat salah?"
"Kamu nggak salah. Tapi aku lah yang salah" Jawabku menghadap ke arahnya. Arka terkejut saat melihatku menangis. Dia berusaha mengusap pipiku, tapi aku menepisnya.
"Kenapa kamu nangis, katakan apa yang sudah aku perbuat" Arka terus mendesak ku.
Aku lepaskan cengkeraman tangannya. Dan berjalan menghindarinya. Duduk perlahan di sisi ranjang, membuka jilbab yang aku kenakan tadi.
Dia menghampiriku. Berdiri di hadapanku, lalu membungkukkan tubuhnya, sehingga kepala kami sejajar.
Kedua telapak tangannya di tangkupkan di kedua pipiku. Perlahan di naikkan sedikit agar matanya bisa menatap mataku dengan lurus.
"Bicaralah apa yang terjadi." Lirihnya.
"Kamu... apa kamu masih mencintai Aisyah?" Tanyaku dengan sangat berhati-hati.
Arka mengernyitkan alisnya, dan menatapku lebih tajam lagi "Kenapa kamu tanyakan itu?" Bukan jawaban yang aku dapatkan. Dia malah balik bertanya.
"Jawab saja, apa kamu masih mencintai Aisyah?" Aku mengulangi lagi pertanyaanku.
"Jawablah dengan jujur" Tambahku.
"Tidak, aku tidak mencintainya"
"Bohong" Sahutku cepat "Kamu bohong, aku hanya minta kamu jawab dengan jujur"
Arka terdiam, di tempelkannya dahinya ke dahiku. "Maafkan aku, aku masih mencintainya."
"Ceraikan aku" Ucapku tegas.
Seketika Arka melepas kedua tangannya dari pipiku. Menekuk lututnya menjadi setengah berdiri, sehingga kepalanya berada lebih rendah dari kepalaku.
"Aku janji aku akan mencintaimu sepenuhnya, aku hanya butuh waktu untuk melupakannya" Ucapnya dengan suara yang tertahan.
Air mataku terus mengalir dengan cepat. "Aku hanya minta sama kamu, ceraikan aku, dan kembalilah pada Aisyah. Dia sangat mencintaimu. Kamu juga masih mencintainya. Ini semua gara-gara aku, cinta kalian jadi terpisah. Aku orang jahat. Maafkan aku" Ucapku yang membuat tangisku semakin terisak.
Arka menyentuh tanganku yang aku letakkan di ujung lutut ku. Dia menciumi kedua tanganku secara bergantian.
"Aku nggak akan ninggalin kamu, kita akan memulai semuanya bersama. Kita akan belajar saling mencintai." Lirihnya.
"Tapi aku nggak mencintaimu, Aisyah lah yang mencintaimu. Kembalilah padanya" Suaraku pun terdengar lirih.
"Aku akan membuatmu mencintaiku. Apa kamu lupa dengan yang kamu ucapkan kemarin. Disini, di ranjang ini" Ucap Arka mencoba mengingatkan aku dengan kejadian kemarin.
"Aku sudah melupakan ucapanku" Aku terpaksa membohongi Arka.
Sebenarnya hatiku sakit saat mengatakan agar dia menceraikan aku. Tapi aku lakukan ini karna aku sangat kasihan dengan Aisyah.
Arka berdiri, aku menatap wajahnya. Tampak kekecewaan di wajahnya. Tapi dia tidak mau lagi menatap wajahku. Perlahan dia berjalan dengan meremas rambut di ujung kepalanya yang sudah tertata rapi. Sampai rambut itu terlihat kusut dan berantakan.
Dia berjalan menuju kamar mandi, meninggalkanku yang masih terduduk disini.
Oh Tuhan apa yang aku telah menyakiti hati dan perasaannya dengan kebohongan ini.
Aku rebahkan tubuhku menyamping, aku masih terus menangis, sampai mataku terpejam dan terlelap.
__ADS_1