Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Sampai menjelang sore, aku berada di taman bersama Arka. Menghabiskan waktu sambil bercanda, bertanya tentang kehidupannya sebelum menikah denganku. Sesekali kami tertawa, sesekali juga aku merasa cemburu. Cemburu dengan masa lalunya yang begitu dia cintai.


Tapi berbeda dengan diriku, sedikitpun Arka tidak bertanya tentang masa laluku, maksudku masa lalu bersama mantan pacarku. Yang dia tanya hanya tentang keluarga dan teman-temanku. Bahkan dia lebih banyak menceritakan tentang rencana yang dia buat untuk masa ke depan yang akan aku lewati.


"Sayang, sudah sore nih, aku belum sholat ashar, kita sholat yuk " Ajak Arka padaku.


"Eh.. tapi..."


"Aku akan mengajarimu, nggak usah khawatir. Mau kan?" Aku tidak bisa berkata lagi. Hanya mengangguk, dan dengan anggukan saja aku bisa membuat wajahnya terlihat bahagia.


Semenjak menikah, aku selalu membuat alasan jika di ajak untuk sholat. Bisa di katakan kalau aku ini hanya Islam KTP, bagaimana tidak, Islam hanya tertulis di setiap kartu pengenal ku. Aku tidak pernah melakukan ibadah. Tapi sekarang hidupku berubah, aku benar-benar mendapatkan suami yang baik, bahkan imam yang baik, yang bisa membimbingku menjadi jauh lebih baik lagi.


Sesekali Arka menoleh ke arahku sambil tersenyum, tanganku bergelayut di lengannya saat berjalan memasuki rumah.


"Hmmm ... harum banget aroma masakannya. Pasti mamah yang masak" Seperti kucing yang mengendus, aku naik turun kan hidungku.


"Coba tebak mamah masak apa ini?" Ucap Arka.


"eemmm... sepertinya masak... masak rawon" Jawabku penuh semangat.


"Salah, ini tuh aroma rendang"


"Masa sih, coba aku lihat mamah dulu" belum jauh aku melangkahkan kaki. Arka menarik tanganku agar tidak meninggalkannya.


"Eeitsss ...mau kemana, sholat dulu. Kali ini nggak ada alasan lagi" Ucapnya tegas.


"Uppss...Oh iya aku lupa" Aku pun tertawa cengengesan di depannya.


Kembali berjalan menuju kamar. Arka mengajariku dengan telaten dari awal ambil air wudhu sampai sholat. Aku mengikuti setiap gerakan yang dia lakukan. Meskipun bacaan-bacaan doanya aku belum bisa, tapi aku tetap mengikuti gerakannya. Semoga saja Tuhan tidak marah padaku karna aku tidak membaca doa.


Setelah sholat Arka mengulurkan tangannya di hadapanku. Dengan sigap aku segera menyambut tangannya dan aku cium punggung tangannya. Dia membalas dengan mengecup keningku.


Entah mengapa hatiku merasa tenang dan terasa plong banget.


Kemudian Arka mengambil sebuah buku kecil dan menyuruhku duduk lebih dekat dengannya. Masih lengkap dengan mukenah dan perlengkapan sholat lainnya. Dan Arka mengajariku tentang doa-doa yang harus di baca saat sholat.


Dia mengajariku penuh dengan kesabaran, layaknya seorang guru yang mengajari muridnya yang sedang hafalan. Meskipun kendalanya aku tidak bisa membaca tulisan arabnya, tapi Arka mencoba mengerti dan tetap mengajariku menghafal. Sesekali dia hanya tersenyum ketika aku salah mengucap, dia tidak mengejek ataupun menertawakanku.


Bahkan Arka juga mempraktekan posisi sholat yang benar, yang di lanjutkan dengan bacaan doanya. Sehingga aku lebih mudah memahami.


Dalam hati aku hanya bisa merutuki kebodohanku dulu. Karena telah menyia-nyiakan untuk hidup yang tidak berguna. Sekarang barulah aku mengerti, bahwa kehidupan malamku tidak ada gunanya bahkan untuk diriku sendiri. Mungkin orang tuaku menangis tanpa aku ketahui saat dia tau anak gadisnya menjadi orang yang tidak berguna sama sekali.


Tanpa aku sadari aku menitikkan air mata. Entah mengapa aku tidak bisa menahan air mataku. Aku tundukkan kepalaku agar Arka tidak melihat air mataku ini. Karna aku tidak punya jawaban jika dia bertanya kenapa aku menangis.


Aku masih mendengar Arka membacakan bacaan sholat, tapi mulutku terhenti tidak menirukan bacaannya.


"Sayang... kenapa berhenti?" Tanya Arka saat dia sadar aku hanya diam.


Segera aku usap air mataku menggunakan mukenah yang aku kenakan. Arka mengangkat daguku, sehingga dia bisa melihat jelas wajahku. Tentunya mataku yang sedikit sembab.


"Kamu kenapa?" Lirihnya.


Dengan cepat aku langsung memeluknya dan menangis terisak. Aku sandarkan daguku di bahunya.


"Aku kangen mama" Lirihku di samping telinganya.


"Habis Maghrib kita ke rumah mama ya"


Aku lepaskan pelukanku, dan menatap wajahnya. Wajah yang begitu teduh. Aku pun mengangguk memberi jawaban pada Arka. Lelaki di hadapanku ini adalah lelaki asing yang telah menjadi suamiku. Tapi dia selalu berusaha untuk membahagiakan aku. Selalu mengerti dengan perasaanku.

__ADS_1


"Jangan ngelamun aja, kita sholat Maghrib dulu ya. Setelah itu kita ke rumah mama"


Arka langsung berdiri untuk memimpin sholat lagi. Aku pun mengikutinya, kali ini dengan membaca doa, biarpun tidak semua doa aku hafal dengan benar. Tapi aku akan berusaha untuk segera memperbaiki semuanya.


Setelah sholat aku langsung berganti pakaian. Menggunakan dress selutut, tanpa lengan, dan dengan leher model sanghai. Dress dengan warna dasar biru muda berpadu dengan corak bunga-bunga berwarna merah muda.


Arka menatapku dengan tajam saat aku duduk di depan meja rias. Tatapannya dapat aku lihat dari pantulan cermin di depanku.


"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu" Tegurku. Lalu dia berjalan mendekatiku.


Berdiri di belakangku dengan menyandarkan kepalanya di ujung kepalaku.


"Nggak apa-apa. Emang nggak boleh ya ngeliatin istri sendiri." Protesnya .


"Isshh... Sana dah, aku mau dandan dulu" Aku majukan kepalaku agar tidak di tindihnya.


"Nggak dandan juga sudah cantik kok"


"Bilang aja kalau aku nggak boleh dandan" Aku cibirkan bibirku tanda kesal.


"Boleh kok, siapa bilang nggak boleh. Asalkan jangan menor" Arka mengambil jam tangan yang tadi dia letakkan di dekat meja rias. Lalu memakainya.


"Aku tunggu di bawah ya. Cepetan kalau dandan biar nggak kemalaman di jalan"


"Iya bawel." Jawabku. Arka pun keluar kamar lebih dulu, sedangkan aku masih melanjutkan merias wajahku.


Setelah selesai aku segera menyusul Arka. Dia sedang berbincang dengan mamah.


"Kalian hati-hati ya. Ini sudah malam, kalian menginap saja disana." Pesan mamah.


"Lho, mamah nggak ikut?" Tanyaku


Aku pun mengangguk dan segera pamit sama mamah. Kami pergi setelah bergantian mencium punggung tangan mamah.


Arka segera menginjak gas untuk melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang masih padat. Tak banyak bicara, kami hanya lebih banyak diam.


"Sayang, kapan security dan asisten rumah tangga datang?" Tanyaku memecah keheningan.


"Besok pagi mereka datang" Jawabnya menoleh ke arahku kilas. Dan kemudian dia kembali fokus menyetir.


Aku sandarkan kepalaku di sandaran kursi. Sesekali Arka menoleh ke arahku hanya untuk membagi senyumannya, yang kemudian dia kembali fokus lagi.


Hampir dua jam perjalanan mobil pun memasuki halaman rumah mama. Arka turun lebih dulu memutari mobil bagian depan dan membukakan pintu untukku.


"Capek banget di jalan kalau macet gini" Gerutuku saat keluar dari mobil.


Arka tidak menggubris omelanku, mungkin dia juga capek tapi lebih memilih untuk diam. Tangannya melingkar di oinggangku saat berjalan memasuki rumah mama.


"Maaaaa... mamaaaaa..." Teriakku.


Terlihat mbok Imah berlari menghampiriku.


"Noonn.... non Caca gimana kabarnya. mbok kangen sekali" Sambil memelukku mbok Imah menitikkan air matanya. Tidak diam saja, aku segera mengusap pipinya yang mulai keriput itu.


"Baik mbok, mbok gimana ? sehat?" Aku pun menanyakan keadaan mbok Imah.


"Alhamdulillah non, mbok sehat. Non kesini kenapa nggak bilang. Biar mbok siapkan makanan kesukaan non Caca".


"Udah nggak apa-apa mbok. Oh iya mbok mama dimana? Apa belum pulang?" Tanyaku sambil melihat keadaan di dalam rumah.

__ADS_1


"Nyonya ada di kamar atas, lagi nggak enak badan. Hari ini nyonya juga nggak kerja."


"Mama sakit? kenapa nggak ada yang ngabarin aku sih" Omelku.


Tanpa menunggu jawaban dari mbok Imah aku langsung berlari menaiki tangga, menuju kamar mama.


Aku ketuk perlahan pintu kamarnya, tidak ada jawaban. Tanpa berpikir lagi, secara perlahan aku buka pintu kamar mama. Aku memasuki kamar mama dan tentunya di ikuti Arka di belakangku.


Mama terlihat sedang berbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Aku melangkah lebih dekat lagi. Aku lihat di meja kecil samping ranjang mama, ada semangkuk bubur,segelas air putih dan beberapa obat di sampingnya masih utuh tidak berkurang sedikitpun. Sepertinya mama belum makan sama sekali.


Aku duduk di samping mama, aku raih tangan mama dan mencium nya. Tangan mama terasa panas. Aku cium pipi mama, mama sedikit mengerjap, mungkin mama kaget dengan sentuhan ku.


"Maaaa..." Lirihku.


"Caca... kamu datang sayang" Mama menyentuh tanganku dengan tangan satunya lagi.


"Kenapa mama nggak bilang kalau sakit" Tak bisa ku tahan lagi tangisanku. Air mataku mengalir dengan derasnya. Arka menyentuh pundakku dan mengusap-usapnya secara perlahan.


"Apa kamu khawatir dengan mama?" Mama berkata dengan sangat lirih. Aku dapat melihat air mata mama menetes dari sudut matanya. Aku usap air mata itu.


"Tentu saja aku khawatir dengan mama, kenapa mama nggak ngabarin aku?" Aku pun menghambur memeluk mama yang masih terbaring.


Mama tidak menjawab pertanyaanku, mama masih menangis. Bahkan di dalam tangisnya aku sempat mendengar suaranya yang sangat lirih " Mama kesepian disini, mama merindukanmu" Mama semakin mengeratkan pelukannya. Seolah tak ingin melepasku.


"Mama belum makan?" Tanyaku


"Belum" Mama menoleh ke arah nampan di samping ranjangnya.


"Caca suapin ya ma" Aku ambil mangkok bubur itu. Masih hangat.


Awalnya mama menolak, tapi aku terus membujuknya. Dan akhirnya mama mau. Dan aku membantunya untuk duduk. Lalu aku mulai menyendokkan bubur itu dan menyuapi mama perlahan. Tidak sampai habis bubur itu mama menyudahinya. Mungkin karena mama sakit makanya nggak enak makan.


Mama menatap Arka dan menyuruhnya mendekat.


"Mama butuh sesuatu biar Arka ambilkan" Mama menggelengkan kepalanya.


"Terima kasih kamu membawa Caca kesini, mama juga ucapkan terima kasih kamu membuat Caca menjadi anak yang baik. Mama titip Caca sama kamu ya Arka. Jangan pernah bosan untuk menegurnya" Mama mengucap pesan pada Arka.


"Iya ma" Jawab Arka.


"Mama minum obat dulu ya" Aku mengambil segelas air putih dan beberapa tablet yang tersedia di samping gelas.


Mama meneguk beberapa tablet itu.


"Kamu menginap disini kan?" Tanya mama sambil menyentuh tanganku. Aku tidak langsung menjawab, aku menoleh ke arah Arka dan menatapnya.


Seolah tau kalau tatapanku adalah sebuah pertanyaan. Arka pun mengangguk perlahan.


"Iya ma, aku menginap disini" Jawabku. Dan mama tampak senang sekali.


"Biarkan mbok Imah menyiapkan kamarmu"


"Nggak perlu ma, kalau boleh Caca tidur disini sama mama" Ucapku.


"Bagaimana dengan suamimu?" Tanya mama dengan rasa bersalah.


"Mama jangan khawatir, aku bisa tidur dimana saja ,disini juga boleh" Jawab Arka sambil menunjuk sofa yang didudukinya.


"Baiklah terserah kalian" Mama menghela nafas lega.

__ADS_1


Aku meminta Arka untuk mengambilkan pakaian tidur di kamar lamaku. Malam ini aku bermalam di kamar mama, bukan aku saja sih. Tepatnya dengan Arka, hanya saja dia memilih tidur di sofa.


__ADS_2