
"Sayang, nanti jadi ya ke rumah Luna. Barusan aku sudah nelpon. Mereka sudah datang" Aku membuka percakapan kala kami sedang di meja makan bersiap untuk makan malam.
"Iya, habis ini kita kesana ya. Cepat habiskan dulu makannya. Kalau nggak habis, nggak usah kesana" Arka tampak menikmati makannya. Sedangkan aku yang malas makan, Arka selalu saja ada cara untuk memaksaku makan.
Dengan terpaksa aku menghabiskan makananku supaya permintaan ku di turuti.
"Susunya juga di minum dong sayang biar anak kita sehat" Arka menyodorkan gelas susu di hadapanku.
"Sudah kenyang, kamu aja yang minum"
"Kok aku sih, ini kan khusus buat anak kita" Arka kembali memaksaku. Lagi, dengan terpaksa aku menghabiskannya.
Tadi siang kami memang sudah bersiap untuk ke rumah Luna, tapi ternyata mereka sedang tidak ada di rumahnya. Untung saja Arka menelpon terlebih dahulu untuk memastikan ada enggaknya mereka di rumah.
Awalnya Arka ingin mengajakku jalan-jalan tapi ternyata ada klien yang mengajaknya bertemu. Setelah mengantarku pulang, Arka langsung pergi menemui klien di tempat yang sudah di janjikan.
Dan sekarang kami sudah bersiap untuk ke rumah Luna.
"Sudah nggak ada yang ketinggalan?" Tanya Arka saat duduk di belakang kemudi.
"Sudah"
"Oke, kita berangkat sekarang. Bismillahirrahmanirrahim" Arka menginjak pedal gas, dan mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah.
"Sayang, tadi mama nelpon, mama minta di temani arisan" Ucapku kala ingat dengan obrolan mama tadi.
"Hm, kapan?" Arka masih fokus menyetir
"Besok"
"Terus kamu mau?" Tanya Arka lagi.
"Aku sih belum jawab apa-apa. Aku bilang mau ijin dulu sama kamu. Kalau kamu kasih ijin aku akan ikut temani mama. Tapi kalau kamu nggak ngijinin ya aku nggak pergi" Jelasku.
"Pintar" Tangan Arka mengusap kepalaku layaknya seorang papa yang memuji anaknya.
"Kamu ngijinin apa enggak?" Tanyaku karena masih belum mendapat jawaban.
"Iya aku ijinin, asalkan pakai pakaian yang tertutup ya" Arka menoleh sekilas ke arahku.
"Iya. Makasih ya sayang. Sekarang aku akan ngabarin mama dulu" Aku keluarkan ponsel dari tasku.
"Halo ma"
"Iya sayang, gimana?" Tanya mama begitu tahu maksudku menghubunginya.
"Iya ma, Arka sudah ngijinin. Besok Caca temani mama. Besok jam berapa?"
__ADS_1
"Besok jam sepuluh"
"Oh oke. Besok mama yang jemput apa Caca yang kesana?"
"Besok mama yang jemput saja ya. Kalau kamu punya baju warna kuning, pakai warna kuning ya. Biar samaan"
"Memangnya harus ya ma?" Tanyaku, karena heran saja aku kan hanya menemani masa iya harus di tentukan juga bajunya.
Aku yang sudah tahu kehidupan sosialita mama terkadang merasa heran, aku kira hanya ada di film-film tapi ternyata memang ada kehidupan seperti itu di dunia nyata.
"Kalau ada sih, kalau nggak ada juga nggak apa -apa pakai baju yang mirip-mirip ke warna kuning"
"Iya ma iya. Ya udah ya Assalamualaikum" Tanpa menunggu mama bicara lagi, Aku putuskan panggilan sepihak.
"Kenapa sayang, kok kayak kesal gitu?" Tanya Arka yang mengetahui kalau aku memang kesal.
"Mama nih minta di temani tapi nyuruh pakai baju yang warna nya sama juga. Aku kan cuma menemani bukan anggota arisan. Arisan cuma pakai gaya-gaya doang. Nanti ada saja yang di pamerin, entah itu tas, baju, perhiasan malah kadang sepatu pun jadi ajang pamer. Heran sama kehidupan mereka. Pamer saja kerjaannya" Aku terus mengomel mengeluarkan kekesalanku.
"Kok kamu tahu?"
"Dulu kan aku juga sering ngantar mama arisan, makanya aku tahu. Sejak tahu mereka kayak gitu, aku nggak pernah gabung sama mereka aku hanya duduk menjauh. Malas berurusan sama emak-emak rempong" Gerutuku yang masih menyimpan kekesalan.
"Kenapa kamu nggak bilang ke mama untuk berhenti saja?"
"Sudah, tapi waktu itu arisannya sudah berjalan beberapa kali. Kalau mau keluar uangnya tidak bisa di kembalikan. Kecuali kalau arisan masih berjalan tiga kali kocokan. Kalau lebih dari itu sudah nggak bisa. Bayarnya juga lumayan sih, lima belas juta setiap kocokan, anggotanya tiga puluh orang"
"Siapa juga yang mau ikuti kehidupan seperti itu. Kalau beli barang mahal, branded memang iya. Dulu aku selalu beli barang yang mahal. Tapi setelah kamu ngajak aku belanja di Surabaya, aku merasa yang aku lakuin selama ini sia-sia. Ternyata bahagia itu bisa tercipta dengan hal yang sederhana"
"Alhamdulillah " Arka mengusap lagi kepalaku.
"Eh sayang berhenti di swalayan depan ya, aku mau beli buah dulu" Aku menunjuk swalayan yang sudah terlihat di depan.
"Siap sayangku"
***
"Assalamualaikum" Aku dan Arka mengucap salam bersamaan ketika sudah sampai di rumah Luna.
"Waalaikumsalam, tanteee" Luna langsung menghambur ke pelukanku ketika mengetahui aku yang datang.
"Ini Tante bawain kue. Tante sendiri lho yang bikin" Aku memberikan bingkisan itu kepada Luna
"Waaahhh baunya wangi banget. Kayaknya enak nih" Luna meletakkan box itu dan membukanya. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya.
"Pelan-pelan sayang makannya" Arka mengambil air mineral dan menyediakannya untuk Luna.
"Kok sepi, pada kemana?" Tanyaku
__ADS_1
"Lagi keluar sebentar" Luna kembali memakan kue itu.
"Enak ya, Luna suka?" Tanyaku lagi
"Enak banget. Besok buatin lagi ya. Tapi buatnya kalau Luna kesana. Biar Luna bisa bantuin" Senang rasanya kalau apa yang kita berikan membuat orang lain menyukainya.
"Iya besok kita buat sama-sama" Jawabku
***
Sepulang dari rumah Luna badan terasa lelah sekali. Ingin sekali rasanya langsung merebahkan diri di kasur dan tidur.
"Eits...ayo ke kamar mandi dulu, cuci kaki ambil wudhu kita sholat Isya' dulu" Sepertinya Arka sudah mengetahui isi otakku.
"Nanti saja lah. Aku capek banget" Jawabku dengan lesu.
"Jangan di tunda sayang, semakin di tunda semakin malas. Kamu memberi kesempatan setan buat mendekatimu" Ucapan Arka membuat aku melongo.
"Ah mana setannya?" Tanyaku sedikit takut.
"Itu di kasur"
"Jangan nakut-nakuti ya, memang kamu bisa lihat?" Aku langsung berjalan menjauh dari ranjang.
"Nggak percaya ya sudah, Tuh lihat dia melambaikan tangan ngajak kamu tidur. Pantas saja baru datang mau rebahan" Arka terus menakut-nakutiku.
Padahal selama ini aku nggak pernah takut dengan namanya setan atau pun hantu. Itu karena aku belum pernah melihatnya. Tapi entah kenapa kali ini aku mempercayai Arka dan berhasil membuatku takut.
"Ya udah ayok kita wudhu terus sholat" Ajakku sambil menggandeng tangannya.
"Nah gitu dong, tuh kan setannya langsung kabur mendengar kamu mau sholat"
"Kalau sudah pergi, mending tidur aja lah nggak usah sholat" Aku berniat membalikkan badan. Tapi dengan cepat Arka mencegahku.
"Kalau kamu nggak sholat , setannya balik lagi"
Beneran nggak sih yang di katakan Arka. Kok aku sedikit merinding ya...
"Ya udah ayok" Meskipun sedikit kesal tapi aku tetap mengikuti perintah Arka.
Setelah selesai sholat Arka tidak langsung tidur tapi dia masih mengambil Al-Qur'an.
"Kamu istirahat ya, aku mau ngaji dulu" Ucapnya kala aku mencium punggung tangannya.
Aku sudah terbaring di ranjang sedangkan Arka mulai membaca Al Qur'an dengan suara yang pelan. Hati terasa tenang saat mendengar lantunan ayat-ayat suci itu.
Perlahan mataku terpejam dan mulai terlelap
__ADS_1