
Puas bermain, kami pulang membawa bahagia. Benar-benar bahagia. Terutama Luna, terpancar jelas kebahagiaan di wajahnya. Mungkin ini momen paling menyenangkan dalam hidupnya. Rasa bahagia itu tak henti-hentinya dia ungkapkan dengan berbagai kata. Aku dan Arka terkekeh melihatnya berceloteh.
Kami tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi untuk menjenguk adik Luna yang sedang di rawat.
"Kita beli makanan dulu ya, mungkin ibu Dina belum makan" Ucap Arka.
Arka memarkir mobilnya di depan warung makan yang tak jauh dari klinik. Setelah selesai kami pun melanjutkan perjalanan menuju klinik.
"Om, boneka beruangnya buat adik boleh nggak om?" Tanya Luna.
"Tentu saja boleh sayang, Luna baik banget sama adiknya. Nanti om belikan lagi buat Luna ya" Jawab Arka. Tadi sebelum pulang Arka sempat membelikan sebuah boneka Teddy bear yang lumayan besar buat Luna. Bahkan ukurannya lebih besar dari tubuhnya yang mungil itu.
"Nggak usah om, Luna main Barbie aja. Adik main boneka beruang" Jawab Luna polos.
"Baik banget sih kamu" Mamah mencubit kedua pipi Luna karena gemes.
"Kan Luna udah cukup senang-senangnya. Kasihan adik nggak bisa ikut main. Makanya Luna hadiahkan ini buat adik"
"Kamu pinter banget. Tante tambah sayang sama kamu" Ucapku sambil memeluk tubuh kecilnya.
Mobil memasuki area parkir klinik. Setelah terparkir rapi, kami pun turun bersama. Tak lupa juga mengambil barang bawaan yang tersimpan di bagasi. Ternyata mamah sudah menyiapkan pakaian ganti buat ibu Dina. Mertuaku ini ternyata pengertian dalam segala situasi. Hal sepele yang sangat berarti, bahkan hal seperti ini tidak ada dalam pikiranku sama sekali.
Luna berlari kecil mendahului kami, Arka membawa kantong makanan dan juga membawa boneka Teddy bear. Mamah membawa paper bag yang berisi pakaian. Sedangkan aku, aku tidak membawa apa-apa. Hanya handbag-ku saja yang menggantung di lenganku.
"Sayang, sini. Jangan berlari ini kan bukan taman bermain. Nanti bisa mengganggu orang lain" Panggilku pada Luna yang sudah berlari menjauh dariku. Dia pun menghentikan langkahnya. Dan menungguku sampai aku menghampirinya. Di tangannya memegang box boneka Barbie yang sesekali dia pandangi.
Aku raih tangannya untuk menggandengnya, kemudian berjalan berdampingan. Sampai di depan kamar inap, aku mengintip dari celah kaca yang ada di bagian pintu. Terlihat ibu Dina sedang duduk di samping ranjang, menatap putri kecilnya yang tertidur.
Aku ketuk pintu itu dan membukanya perlahan. "Assalamualaikum"
"waalaikumsalam" Ibu Dina menoleh ke arahku, senyuman mengembang di bibirnya.
"Ibuuuu" Luna menghambur ke pelukan ibunya.
"Anak ibu, ibu kangen"
Aku menyaksikan mereka saling berpelukan dan saling cium, melepas rasa rindu meskipun baru sehari tidak bertemu.
"Ibu liat ini, bagus kan. Ini om Arka yang beliin" Luna memperlihatkan Barbie yang daritadi di pegangnya.
"Luna nggak nakal kan, nggak merepotkan om dan Tante disana?"
"Enggak kok Bu, Luna anak yang baik, dia tidak merepotkan kami" Jawabku menyela pembicaraan mereka.
"Assalamualaikum" Arka dan mamah datang memasuki kamar, karna memang tadi aku berjalan mendahului mereka.
"Waalaikumsalam" Kami menjawab secara bersamaan.
__ADS_1
Mamah menyalami ibu Dina dan memeluknya, seperti sedang bicara dari hati ke hati, karna mereka sama-sama seorang ibu. "Yang sabar ya, terimalah dengan ikhlas, ini ujian dari Allah" Ucap mamah. Ibu Dina mengangguk dalam pelukan mamah.
"Bu Dina ini mamah mertua saya, ibunya Arka" Aku memperkenalkan mamah pada ibu Dina. Begitu juga sebaliknya. Mamah menyerahkan apa yang tadi mamah bawa.
Begitu juga dengan Arka. "Ibu belum makan ya, ini kami bawakan makanan. ibu harus jaga kesehatan juga. Kalau ibu sakit siapa yang akan mengurus ibu. Dan juga anak-anak, kan kasihan mereka" Arka menyerahkan kantong makanan pada Bu Dina. Mata bu Dina tampak berkaca-kaca.
"Terima kasih atas kebaikan kalian semuanya. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian" Ucapnya.
Aku pun menyuruh Bu Dina untuk segera makan. Luna menemaninya sambil ngobrol di sebelahnya. Sampai ibunya selesai makan.
Luna menceritakan tentang hal yang dia lalui tanpa ibunya, celoteh bahagianya membuat kami tertawa. Dia menceritakan betapa bahagianya hari ini karena mendapatkan yang belum pernah dia dapat sebelumnya. Bu Dina merasa terharu mendengar cerita dari anaknya, berkali-kali dia mengucap rasa terima kasihnya pada kami.
Kami pun lanjut mengobrol, hal-hal kecil tentang keluarga. Ibu Dina menceritakan tentang kehidupannya sehari-hari. Ceritanya persis dengan yang di ceritakan Luna. Jika bisa memilih pun, ibu Dina tidak ingin menyusahkan anak-anaknya. Namun keadaan yang sudah memaksanya.
"Kalau ibu tidak keberatan, apa boleh Luna sering main ke rumah kami. Karena saya juga ingin belajar bagaimana cara mengurus anak." Ucapku.
"Dengan senang hati saya mengijinkan, tapi apa itu tidak merepotkan kalian. Luna masih anak-anak dan terkadang dia sangat rewel" tambah Bu Dina.
"Itu hal wajar, kelak jika mereka sudah punya anak, mereka juga akan mengalami hal seperti itu. Biarkan saja mereka belajar dengan hal-hal kecil seperti itu" Mamah ikut menambahkan.
Kami pun kembali mengobrol dengan hal-hal lain. sampai tak terasa waktu sudah malam. "Luna udah ngantuk ya, gimana kalau kita pulang sekarang?" Tanyaku pada Luna, karena sudah beberapa kali dia terlihat menguap.
"Ke rumah Tante ?" Tanya Luna.
"Iya dong, masa mau disini, kan nggak boleh anak kecil tinggal disini kalau nggak lagi sakit" Ucapku lagi.
"Yyyeeee... Luna pulang ke istana" Ucapnya girang.
"Iya Bu, Luna nggak nakal kok. Luna kan anak baik jadi harus nurut" Jawabnya.
Beberapa saat kemudian kami pun pamit pulang. Sebelum pulang Luna meletakkan boneka beruang itu di kursi yang ada di samping ranjang. Lalu dia berpamitan pada ibunya.
"Sayang, sepertinya Luna ngantuk beneran deh. Matanya sayu gitu. Kamu gendong aja, kasihan dia." Bisikku pada Arka. Luna berjalan di depan ku, bergandengan dengan mamah.
"Luna capek ya, ayo gendong sama om" Ucap Arka. Tapi Luna menggeleng.
"Ayo nggak usah malu" Ucapku.
Arka pun menggendongnya tanpa menunggu jawabannya lagi. Benar saja tak lama kemudian dia benar-benar tertidur. Sampai di parkiran mobil, Arka menidurkan Luna di kursi belakang. Kepalanya bersandar di paha mamah. Aku duduk di kursi depan bersebelahan dengan Arka. Aku sandarkan kepalaku pada sandaran kursi. Tak ada lagi perbincangan di dalam mobil. Karna aku cukup lelah untuk berkata-kata.
Sesekali Arka menoleh ke arahku, kemudian dia kembali fokus lagi pada jalanan Yang ada di depannya. "Sayang, kamu kecapekan ya?" Tanya Arka tanpa menoleh padaku.
"Iya" Jawabku singkat.
"Mau makan dulu nggak nih, mumpung masih di luar?" Tawar Arka.
"Kamu aja ya yang makan, aku lagi malas makan, Siapa tahu mamah juga mau makan" Ucapku.
__ADS_1
"Kita makan di rumah saja, buk Mar juga pasti sudah masak, kan kasihan makanannya nggak ada yang makan." Sahut mamah.
Mobil terus melaju sampai memasuki halaman rumah. Sebelum turun, aku menoleh ke kursi belakang, Luna masih tertidur.
"Sayang, jangan di bangunin ya, angkat saja pelan-pelan biar nggak kebangun" Ucapku setengah berbisik.
Dengan sangat hati-hati Arka menggendong Luna memasuki rumah. Malam ini aku minta pada Arka agar Luna tidur di kamar kami. Karna kasihan kalau dia tidur sendirian di kamarnya.
Arka membaringkan Luna di kasur, dan menutupi tubuhnya dengan selimut. "Aku mandi dulu ya" Ucapku dengan sangat lesu.
"Sudah malam sayang, liat ini sudah jam berapa, besok aja mandinya" Arka melarangku mandi.
"Bentar aja kok, nggak enak kalau nggak mandi, lengket semua" Protesku, Arka pun memilih diam karena percuma saja dia berkata lagi, aku nggak akan menurutinya.
Aku pun masuk ke dalam kamar mandi dan pintu tertahan saat aku akan menutupnya, ternyata Arka yang menahannya karena dia juga mau masuk ke kamar mandi.
"Mau ngapain?" Tanyaku heran.
"Mandi lah" Jawabnya enteng.
"Kan aku mau mandi dulu sayang, nanti kalau aku sudah selesai gantian kamu yang mandi" Jelasku.
"Aku mau mandi bareng" Ucapnya.
"Ngaco ah"
"Beneran aku mau mandi bareng kamu" Ucapnya lagi.
"Aku lagi datang bulan masa iya mau mandi bareng" Aku coba mengingatkan padanya.
"Aku tahu itu, lagipula kita juga cuma mandi aja kan, nggak ngapa-ngapain. Jadi apa masalahnya"
Benar juga yang dikatakan Arka, kan cuma mandi saja, nggak berbuat apa-apa kenapa aku berpikir jauh sekali.
"Malah ngelamun, ayo cepet buka pintunya" Arka mendorong lagi pintu kamar mandi. Kali ini aku membiarkan pintu terbuka dan Arka memasuki kamar mandi.
"Aku cuma minta kamu gosokin punggungku, itu saja" Aku terkekeh mendengar perkataannya. Lalu Arka pun melucuti semua pakaiannya di hadapanku. Ingin rasanya memeluk tubuh polosnya itu, tubuh yang sempurna di mataku. Darahku berdesir ke otakku dengan cepat. Kalau saja aku tidak datang bulan, aku pun akan melakukan hal yang sama dengannya, yaitu melucuti pakaianku di depannya. Benar-benar menguji nafsuku.
Aku berusaha membuang jauh pikiran mesumku. Dengan tetap berpakaian, aku pun melakukan apa yang Arka minta, yaitu menggosok punggungnya. Dan memang benar dia tidak berbuat yang aneh-aneh padaku. Tapi saat dia menawarkan diri untuk menggosok punggungku, aku menolaknya dengan halus. Karena aku tidak mau menambah penderitaanku, menderita karena menahan rasa untuk menyentuhnya.
Selesai mandi Arka membelitkan handuk di pinggangnya. Lalu dia keluar dari kamar mandi. Sedangkan aku melanjutkan mandiku yang tertunda akibat ulah Arka.
Segera aku selesaikan mandiku, dan mengganti pakaianku dengan piyama. Sepertinya Arka tidak ada di kamar. Karna sama sekali aku tidak melihatnya. Aku hanya melihat Luna yang masih terlelap di atas kasur. Aku pun menaiki ranjang dan merebahkan tubuhku di sebelahnya. Aku tatap lekat-lekat wajahnya, aku sentuh pipinya yang halus. Bibirnya menyunggingkan senyum, Aku mengernyitkan keningku saat melihat Luna yang sesekali tersenyum dalam tidurnya. Mungkin dia sedang bermimpi indah, pikirku.
Aku mencari ponselku yang masih tersimpan di dalam handbag-ku. Aku geser layar foto menjadi video, Aku rekam tingkah Luna saat tertidur pulas. Sesekali dia tersenyum, lalu diam, dan kembali tersenyum lagi. Aku terkekeh melihat gaya tidurnya.
Arka memasuki kamar "Sayang kamu ngapain,?" Tanya Arka saat tahu apa yang aku lakukan. Aku tempelkan jari telunjukku di depan bibirku yang artinya menyuruhnya diam. Aku matikan rekaman video itu.
__ADS_1
"Sini" Aku menyuruh Arka mendekat untuk melihat hasil rekamanku. Arka tertawa terbahak-bahak saat melihat video itu. Spontan aku pukul lengannya agar tidak berisik. "Oh iya lupa. Maaf" Ucapnya. Dia pun masih tertawa, hanya saja suara tawanya tertahan agar tidak menimbulkan suara yang berisik. Karena tidak mau membangunkan Luna.
Bersambung....