Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Tentang Firna


__ADS_3

Sepanjang perjalanan sesekali kami bernyanyi mengikuti alunan musik. Alda mengemudikan mobilnya dengan santai. Katanya biar bisa jalan lebih lama denganku.


"Loe tahu nggak, momen seperti ini lah yang selalu gue kangenin. Jalan bareng, bercanda, kadang ribut juga. Pengen rasanya seperti dulu lagi" Ucap Alda


"Kadang aku juga ngerasa gitu Al, kangen saat kita jalan bareng, shopping, liburan, clubing. Tertawa bersama, kadang juga kita ngeributin hal yang nggak jelas. Tapi ya aku sadar, Pada saatnya kita akan bertemu jodoh dan berada di jalan kita masing-masing. Saat itu lah akan ada kata saling merindu." Ucapku lirih.


"Iya Ca, beginilah hidup. Kita harus jalani setiap prosesnya. Mau nggak mau kita harus tetap hadapi, iya kan"


"Tumben cerdas" Suasana yang tadinya haru berubah menjadi tawa yang cukup nyaring.


Tidak sampai satu jam perjalanan, sampailah di dumah kontrakan Firna. Sepetak rumah yang dia kontrak berbentuk minimalis dengan halaman yang cukup luas. Dulu Firna menyewa apartemen, tapi karena dia sudah tidak mampu untuk membayar sewa lagi. Akhirnya dia mengontrak rumah, yang menurutnya lebih hemat di bandingkan menyewa apartemen.


Firna sering sekali mengalami kesulitan ekonomi, tapi dia tidak pernah mengeluh. Jangankan meminjam, saat aku ingin membantunya pun dia menolak. Dia tidak mau membebani sahabat-sahabatnya dengan masalah pribadinya.


Firna anak yatim piatu, dulu dia berasal dari keluarga yang bergelimang harta. Tapi karena kejadian naas, kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat yang mereka tumpangi.


Firna sangat terpukul, waktu itu dia masih duduk di bangku SMA. Perusahaan yang di miliki keluarganya perlahan bangkrut karena tidak ada pewaris yang mengelolanya. Firna yang tidak terbiasa hidup sederhana terpaksa harus mengencani lelaki kaya supaya bisa mencukupi gaya hidupnya.


Tidak hanya lelaki yang pantas untuknya, terkadang aku memergokinya dia sedang jalan dengan om-om tajir. Kadang ada yang sudah duda, kadang yang sudah beristri. Padahal aku dan lainnya seringkali menasehati kalau mau kencan jangan sama lelaki beristri karena akan membawa masalah.


Benar saja, Firna pernah di labrak istri sah lelaki yang dia kencani. Sejak saat itu dia tidak lagi berhubungan dengan lelaki beristri. Firna lebih memilih lelaki yang seumuran dengannya dan tentunya status single.


Sudah banyak lelaki yang menjalin hubungan dengannya. Tapi tak satupun yang di inginkan Firna. Tak ada cocok sebagai pendamping hidupnya. Firna takut jika suatu saat statusnya yang saat ini akan menjadi masalah saat dia sudah berumah tangga.


Alda menepikan mobilnya, mengatur parkir dengan rapi supaya tidak mengganggu kendaraan lain. Karena dia parkir di pinggir jalan yang ada di depan rumah kontrakan Firna.


Saat kami akan turun Alda menarik tanganku, mencegah supaya aku jangan turun dulu.


"Kenapa?" Tanyaku


"Tunggu dulu ca, siapa itu yang barusan masuk?" Mata Alda mengarah pada lelaki yang mengendarai motor matic masuk ke halaman Firna.


"Aku nggak tahu, jangan-jangan Firna udah nggak disini Al"

__ADS_1


"Kayaknya gue kenal deh sama itu laki?" Alda menggumam tapi tatapan matanya tidak lepas dari lelaki itu. Dia membuka helm yang tadi di pakainya.


"Siapa?" Tanyaku.


"Kalau nggak salah dia Haris, lelaki yang dulu pernah ke apartemen gue waktu Firna mabuk"


"Kayaknya nggak salah deh Al. Kemaren Firna juga bilang kan kalau ada Haris yang datang bertamu.


Sebelum Haris menginjakkan kaki di teras, pintu rumah terbuka. Dan munculah Firna di balik pintu.


"Tuh kan dia bohong sama kita, dia nggak kemana-mana. Dia ada di sini. Tapi buat apa dia membohongi kita" Tanyaku semakin penasaran.


"Ayo cepat kita turun sebelum di menghindari kita lagi"


Bergegas aku dan Alda turun dari mobil dan berjalan cepat mamasuki halaman rumah Firna. Firna yang melihat kami datang seketika membulatkan matanya.


"Ini aku bawain pesanan kamu" Haris memberikan kantong kresek pada Firna. Tapi tatapan Firna menuju ke arah kami. Menyadari kalau Firna tidak menanggapi, Haris menoleh ke arah kami mengikuti arah mata Firna.


"Kamu Alda kan?" Tanya Haris.


"Apa kabar?" Haris pun mengulurkan tangannya pada Alda dan juga padaku secara bergantian.


"Baik Ris, kamu sendiri gimana?"


"Alhamdulillah, selalu dalam keadaan baik" Haris tersenyum wajahnya yang teduh mengingatkanku pada Arka. Sepertinya Haris memang lelaki baik.


"Kok malah bengong, ajak mereka masuk dong Fir" Firna yang berdiri mematung sedikit terkejut saat Haris menegurnya.


"I-iya ayo masuk" Firna pun mempersilahkan kami masuk.


Kami pun langsung masuk dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Kenapa tidak bilang kalau ada teman-teman kamu mau datang, kan biar sekalian aku beliin minuman" Haris berkata pada Firna, sedangkan Firna hanya diam terlihat kebingungan untuk berkata.

__ADS_1


"Sorry ris, gue sama Caca emang nggak bilang kalau mau kesini, kita kesini emang mau mampir aja kok" Alda mencari alasan kedatangan kami.


"Oohh gitu, emangnya kalian habis darimana?" Tanya Haris.


"Kita dari.."


"Dari belanja" Aku pun menyahut melanjutkan ucapan Alda yang terlihat bingung.


"Belanja? jauh amat, bukannya kamu tinggal di apartemen yang dulu itu kan?" Tanya Haris lagi. Duuhhh kenapa di usut sampai ke akar sih. Udah kayak di interogasi aja.


"Eh itu, tadi mau belanja online, mau beli box bayi, cuma karena dekat, jadi aku mau lihat dulu box nya. Soalnya belinya bukan di toko. Ini yang jual perorangan. Karena belum di pakai jadinya di jual sama orangnya" Akhirnya aku menemukan juga jawabannya. Semoga dia tidak bertanya-tanya lagi.


"Oohh gitu. Ya udah deh kalian lanjut aja ngobrolnya. Aku mau keluar sebentar mau cari minuman. Kalian mau minum apa?"


"Nggak usah repot-repot, air putih aja nggak apa-apa kok?" Ucapku supaya dia tidak merasa di repotkan dengan kedatangan kami.


"Eh Ris, boleh nggak kalau gue minta di beliin jus, jus alpukat" Ucap Alda.


"Bukannya Buk mar udah bilang kalau lagi nggak musim" Alda pun dengan cepat menginjak kakiku.


"Aawww apaan sih main injek aja" Aku pun kesal dengan tingkah Alda.


"Diem loe" Alda bicara cukup pelan, sehingga hanya aku saja yang mendengarnya matanya juga melotot ke arahku.


Aris dan Firna merasa heran melihat tingkah kami.


"Bisa kan Ris?" Alda memastikan lagi permintaanya.


"Oh ya sudah kalau gitu. Aku mau pergi dulu, ada yang mau kalian pesan lagi?"


"Nggak ada"


Haris pun pergi dengan motor maticnya. Setelah Haris pergi sekarang saatnya meminta penjelasan pada Firna.

__ADS_1


"Fir, coba jelaskan apa maksud semua ini?" Alda mulai mengeluarkan suara.


"A-apa maksud kamu?" Firna terlihat gugup dengan pertanyaan Alda.


__ADS_2