
Setelah mengajukan resign aku minta segera pulang kampung. Ini sudah di rencanakan sejak lama. Sedangkan Anak pertamaku sudah tinggal di kampung terlebih dahulu, karena anakku minta sekolah di kampung.
Aku ingin melahirkan di kampung, karna kalau di perantauan kita sungkan kalau mau minta tolong ke tetangga.
Setelah mengantarku pulang kampung paksu kembali ke perantauan bekerja seperti biasa.
Aku tinggal dengan anak dan juga budhe ku.
Sampai suatu sore hari kepalaku terasa sakit sekali, sakit yang belum pernah aku rasakan. Bahkan aku sampai muntah karena tidak tahan dengan rasa sakitnya.
Aku meminta anakku untuk membeli obat pereda nyeri, paracetamol. Tapi setelah beberapa saat sakitnya tidak mau pergi. Kepalaku seperti tertimpa gada besar. Sakitnya sangat luar biasa. Pukul sembilan malam Aku memilih untuk merebahkan diri di kasur di temani anak lelakiku.
Aku tidak tahu kejadian selanjutnya seperti apa. Karena menurut anakku, tetangga dan saudaraku aku mengalami kejang yang amat dahsyat.
Beberapa kali aku mengalami kejang dan tidak sadarkan. Akhirnya saudaraku menghubungi pihak Puskesmas supaya di datangkan ambulance.
Kejadian itu terjadi saat bulan puasa, yang mana masih banyak tetangga yang masih melek. Sehingga banyak tetangga yang membantu membawa ke dalam ambulance bahkan ada yang ikut sampai ke puskesmas.
Sampai Di puskesmas petugas menangani dengan cepat, di suntikkan beberapa cairan ke dalam tubuhku dan di pasangkan infus. Tapi aku masih tidak sadarkan diri juga. Bahkan masih saja kejang.
Karena keterbatasan alat medis, akhirnya aku di rujuk ke RS yang ada di kota.
Sampai disana di lakukan tindakan untuk segera mengeluarkan bayi yang ada dalam kandunganku. Setelah meminta persetujuan pihak keluarga, dokter bergerak cepat melakukan operasi Caesar. Demi menyelamatkan bayiku.
Bayi terlahir jam enam pagi. Dan aku masih juga belum sadarkan diri. Bayiku terlahir prematur dan berat badannya di bawah standart.
Bayiku memerlukan perawatan khusus, di masukkan inkubator , di infus dan juga di berikan alat bantu nafas.
__ADS_1
Sedangkan aku sendiri di rawat terpisah dengan bayiku. Aku di rawat di ruang ICU.
Terdengar tepukan yang sangat keras, mungkin itu memang cara dokter yang membangunkan pasien yang tidak kunjung sadar.
Saat aku tersadar aku hanya bisa membuka mata, sedangkan tubuhku belum bisa di gerakkan.
"Alhamdulillah Bu, ibu mau bangun juga. Susah puas tidurnya ya Bu" Terdengar suara candaan "Bu, ibu tahu ini dimana?" Tanya lelaki di samping brankarku, yang mengenakan kemeja putih khas dokter.
Aku hanya diam tidak bisa menjawab. Mataku tetap menatap dokter itu.
"Bu, ibu sekarang di rawat di RS kota. Ibu tahu apa yang terjadi, ibu mengalami preklampsia. Ini hari ketiga ibu di rawat di sini. Sebelum masuk sini ibu sudah tidak sadarkan diri. Bahkan bisa di bilang kalau ibu koma. Ibu yang semangat ya, semangat untuk sembuh" Ucapan dokter itu hanya bisa aku dengarkan. Ingin sekali aku melontarkan banyak pertanyaan,tapi aku tidak bisa.
Setelah dokter itu pergi, aku edarkan pandangan mataku. Infus terpasang di tangan kanan, ada beberapa kabel yang terpasang di dadaku. Bahkan di mulut dan di hidungku terpasang beberapa alat juga yang aku tidak tahu namanya. Tapi sepertinya yang terpasang di hidungku adalah selang.
Terdengar suara monitor bersahutan.
Dalam hati aku menangis, apa yang terjadi denganku. Tiga hari aku disini dalam keadaan tidak sadar. Bagaimana dengan bayiku, apa dia baik-baik saja, atau mungkin dia sudah......
Pertanyaan-pertanyaan itu terucap dalam hati.
"Pagi Bu, akhirnya ibu sadar juga. Kami bersihkan dulu ya" Beberapa perawat datang menghampiri.
"Alhamdulillah Bu, ibu dan bayinya bisa di selamatkan. Kalau saja terlambat sedikit entah apa yang terjadi Bu. Ibu dan bayinya Nemu nyawa" ucap perawat itu sambil mengelap badanku menggunakan tisu basah.
"Iya, Bu. Kecil kemungkinan bisa terselamatkan keduanya. Yang sering terjadi adalah hanya salah satu yang terselamatkan. Bahkan ada juga yang meninggal keduanya, bayi dan ibunya."
Alhamdulillah hanya itu yang terucap dalam hati. Bayiku baik-baik saja. Ucapan perawat Itu membuat hati dan pikiranku tenang.
__ADS_1
Di rawat di ICU bukanlah hal menyenangkan. Bahkan beberapa kali aku masih ngedrop dan sampai melakukan transfusi darah.
Alat-alat yang terpasang sungguh mengganggu. Tidak nyaman, itulah yang aku rasakan kala itu. Bahkan untuk minum saja di masukkan melalui selang yang terhubung lewat hidung ke lambung. Beberapa kali di berikan obat injeksi melalui infus. Beberapa kali pula darahku di ambil.
Saat aku sudah bisa menggerakkan tangan, aku menulis pesan pada perawat, "Aku mau pulang".
Aku bisa di ijinkan pulang apabila aku bisa bernafas tanpa bantuan alat lagi. Tiga jam percobaan pertama aku sudah tidak kuat, tapi aku berbohong aku mengatakan kalau aku kuat. Tapi mereka tidak bodoh. Di monitor sudah terbaca oleh mereka kalau aku tidak mampu.
Setelah satu Minggu di rawat di ICU aku di pindahkan ke ruang perawatan bersalin. Disana suhu AC terpasang 26' C. Tangan dan kaki terasa dingin, Tapi keringat dingin di kepala mengucur dengan derasnya.
Ternyata preklampsia ini mengakibatkan paru-paruku penuh dengan cairan, jantungku juga mengalami pembengkakan. Sama halnya dengan bayiku. Bayiku juga harus menerima perawatan khusus.
Aku sudah berada di rumah sedangkan bayiku masih di rawat di RS. Selama bayiku belum pulang, suamiku bolak balik ke RS untuk melihat anakku meskipun hanya lewat jendela. Pergi pagi pulang sore. Itu yang di lakukannya setiap hari. Mungkin dia ingin menebus kesalahannya, karena mengabaikannya selama dalam kandungan.
Setelah dua Minggu bayiku di ijinkan pulang. Inilah pertama kali aku melihat dan menyentuhnya. Bayi kecil yang aku rindukan kehadirannya.
Sebelum pulang pun dokter memberi pesan, agar aku tidak hamil lagi karena bisa beresiko Kematian. Ya, tanpa dokter minta pun, aku Sudah tidak ingin hamil lagi.
Aku takut kalau hamil dan melahirkan lagi nyawaku tak terselamatkan, bukannya mendahului takdir. Tapi memang itu yang ada dalam pikiranku.
Aku belum siap jika harus meninggalkan anak-anakku. Jika aku pergi, Aku takut tidak ada orang yang menyayangi mereka, tidak akan ada yang melebihi kasih sayangku sebagai ibunya sekalipun itu ayah kandung mereka. Itulah alasan kenapa aku takut mati. Bukan takut karna banyak dosa dan belum sempat bertaubat.
Biarlah dosaku menjadi rahasia antara aku dan Allah-ku.
Setelah vacum lama dari dunia literasi, sekarang aku kembali hadir. Itulah kenapa cerita Arka dan Caca terjeda dalam jangka waktu yang panjang.
Buat kalian para pejuang garis dua, aku doakan semoga segera terwujud. Dan untuk kalian yang sudah di berikan keturunan, jangan di sia-siakan, karna banyak wanita lain yang mengharapkan.
__ADS_1
Mohon maaf ya, jadi curhat tentang kisahku. Sampai 2 bab pula. Mohon maaf jika ceritanya tidak menarik.
Peluk jauuuhhhh