Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Ada apa dengan istriku POV Arka


__ADS_3

drrtt drrtt


Ponsel yang daritadi aku abaikan kembali bergetar. Aku mengabaikannya karena aku tahu yang menghubungiku adalah Aisyah. Mau apa dia menghubungiku, batinku.


"Sayang, itu ada yang nelpon kok nggak di angkat. Kenapa di biarin aja?" Istriku yang sedang membersihkan wajahnya menoleh ke arahku.


"Nggak apa-apa. Udah biarin saja, ini tanggung pekerjaannya, sedikit lagi selesai" Jawabku yang masih berkutat di depan laptop untuk memeriksa laporan mingguan pabrik. Sebenarnya alasannya bukan ini, tapi karena aku sudah tahu yang menghubungiku adalah Aisyah, mantan kekasihku.


"Siapa tahu penting, angkat dulu kenapa sih biar nggak nelpon terus" Ucapnya lagi


Aku hentikan ketikan jariku dan menatap istriku "Kamu yakin aku harus angkat panggilan ini?" Tanyaku memastikan.


"Nggak mau nanya siapa yang nelpon?" Tanyaku lagi.


"Iya, tinggal di angkat saja apa salahnya sih" Istriku kembali menatap wajahnya di depan cermin sambil mengoleskan kapas ke pipinya.


Dengan malas aku terima panggilan ini.


"Assalamualaikum" Aku ucapkan salam setelah menekan tombol hijau.


"Waalaikumsalam, Alhamdulillah akhirnya Aa' mau mengangkatnya. Aa' apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik. Maaf aku masih sibuk. Ada perlu apa Aisyah? kenapa tiba-tiba menghubungiku'' Tanpa basa basi aku langsung menanyakan tujuannya menghubungiku. Dan saat aku menyebut nama Aisyah, Caca langsung menoleh ke arahku. Tatapan yang awalnya sendu kini telah berubah, seolah ingin menerkamku.


"Aisyah, sekarang sudah ada di Jakarta. Apa boleh Aisyah main ke rumah Aa' ?"


"Maaf Aisyah, sekarang ini aku masih di Surabaya" Aku berkata bohong karena aku tidak mau masa lalu ku mengganggu kebahagiaan keluarga kecilku.


"Oh gitu ya. Padahal Aisyah pingin sekali ketemu sama Aa' dan teh Caca. Masih lama kah di Surabaya?"


"Iya lumayan lama ini saja baru sampai kemaren sore. Mungkin sebulan lagi baru balik ke Jakarta" Aku kembali berbohong padanya.


Mataku tetap mengarah kepada istriku. Kini dia mulai berdiri dan berjalan mendekatiku. Diambilnya ponsel yang tadinya menempel di telinga, lalu dia menekan tombol loudspeaker.


"Ternyata lama juga ya. Padahal Aisyah mau silaturahmi kesana. Oh iya bagaimana keadaan Teh Caca A'?"


"Alhamdulillah baik. Kandungannya juga sehat" Jawabku lagi.


"Oh jadi sekarang Teh Caca sedang hamil? Alhamdulillah, Aisyah ikut senang mendengarnya. Ya sudah A' kalau begitu. Aisyah pamit mau Sholat Isya' dulu. Assalamualaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam" Aku letakkan kembali ponsel di atas meja. Lalu aku tatap lekat wajah istriku.


"Ada apa sayang?" Sorot mata istriku masih saja menunjukkan ekspresi yang seperti meminta penjelasan.


"Ngapain dia nelpon?" Benar dugaanku, istriku sedang tidak baik-baik saja. Sorot matanya menunjukkan kekesalan.


"Seperti yang kamu dengar sayang, dia nanya kabar"


"Terus kenapa tadi kamu bilang di Surabaya. Apa dia mau menemuimu?" Ya ampun Feeling istriku ternyata cukup kuat. Atau dia hanya sekedar menebak saja.


"Bukan menemuiku sayang, tapi menemui kita" Tanganku mengusap anak rambut yang ada di keningnya.


"Halah alasannya saja, padahal yang dia mau itu ingin menemui kamu. Dia kangen sama kamu. Makanya ngajak ketemuan. Pantes aja daritadi nggak mau angkat telepon nya. Karna ada aku kan, jadinya nggak bebas buat bicara, nggak bebas ngungkapin perasaan kalau kamu juga kangen sama dia. Kalau nggak ada aku, pasti kamu juga bakal ngajak ketemuan sama dia. Buat melepas rindu yang terpendam. Iya kan? Udah ngaku aja" Istriku mengeluarkan kekesalannya.


"Astaghfirullah. Mau ada kamu atau nggak ada kamu, aku juga nggak bakalan mau ketemu sama dia. Tadi aku juga kan sudah nggak mau angkat telepon nya. Kamu lupa ya kalau kamu yang menyuruhku untuk mengangkatnya, makanya aku angkat"


"Kamu ragu mau mengangkatnya, karna ada aku. Setelah di angkat hatimu bersorak gembira bisa mendengar suara kekasih lama yang di rindukan" Ya Allah kenapa istriku begitu sulit di berikan pengertian. Apa ini karena hormon kehamilan, yang menyebabkan emosi tidak stabil.


"Sayang, jangan berpikir negatif tentangku. Aku nggak mungkin menghianatimu. Hatiku hanya milik kalian" Aku peluk istriku dari samping dan mengecup kepalanya.


"Kalian? siapa maksudmu, aku dan Aisyah?" Dia melepaskan pelukanku. Suaranya terdengar mulai meninggi.


"Sayang, pelankan suaramu jangan marah-marah seperti ini, nggak baik buat kamu dan juga calon anak kita. Yang aku maksud kalian itu ya kamu dan calon anak kita ini" Aku usap perlahan perut istriku yang mulai sedikit berisi.


"Bener sayang. Hanya kamu dan calon anak kita" Ucapku lagi.


"Maafin aku ya, aku sudah salah sangka" Kini bibir itu melengkung menunjukkan senyum yang sungguh cantik.


"Iya sayang" Lalu aku peluk istriku dan aku kecup kening istriku beberapa detik.


"Sayang" Ucapnya dalam pelukanku


"Hmm"


"Kenapa ya, aku tuh merasa seneeeenngg banget kalau kamu nyium disini?" Istriku menunjuk keningnya.


"Kamu mau tahu?"


"Iya" Jawabnya mantap.

__ADS_1


"Karena ciuman ini adalah ciuman kasih sayang bukan ciuman nafsu" Jelasku padanya.


"Oohh pantas saja rasanya berbeda ya sama ciuman bibir atau di leher"


"Sekarang aku mau nanya, kamu lebih suka di cium di mana disini, disini, atau disini?" Tanyaku padanya sambil menunjuk kening, bibir dan leher.


"Hmmm.. tergantung situasi" Jawabnya enteng, alisku bertaut mendengar jawabannya


"Kok bisa gitu"


"Aduuhh kamu ini gimana sih, masa iya kalau bercinta harus nyium kening, hambar say" Istriku terkekeh.


Melihatnya tertawa, membuat hatiku merasa damai. Ya Allah, jangan Engkau ambil kebahagiaan ini, doaku dalam hati.


Istriku berdiri "Sudah malam, ayok tidur. Biar besok enak bangunnya. Lanjutkan pekerjaanmu di kantor saja. Tapi sebelum tidur, bereskan dulu itu mejanya. Aku nggak mau besok pagi waktu bangun tidur melihat meja yang berantakan" Astaga tawa yang baru saja membuat hati damai, kini berubah menjadi ancaman. Sebentar marah, sebentar luluh, lalu marah lagi... hmmm.


'Sabar Arka, sabar. Istrimu sedang hamil jadi harap maklum' batinku.


Istriku sudah terbaring di ranjang, sedangkan aku masih membereskan laptop dan beberapa berkas yang ada di meja. Aku kumpulkan semua berkas itu menjadi satu, dan memasukkannya ke dalam map plastik agar lebih aman.


"Jangan berisik kenapa sih, aku nggak bisa tidur nih. Baru juga merem, sudah kebangun gara-gara suara berisik" Istriku kembali mengomel.


"Iya sayang, maaf" duuhh kenapa salah terus ya, padahal aku tidak menimbulkan suara. Apa ini juga efek hormon kehamilan, yang bisa membuat pendengaran lebih tajam. Ahh aku rasa tidak, mungkin istriku memang sedang ingin marah.


***


"Sayang, nanti pulang cepat ya. Aku mau ke rumah Luna" Ucap istriku kala di telepon.


"Kan baru kemarin Luna pulang sayang, masa mau di jemput lagi. Kasihan biar dia bertemu keluarganya dulu" Ucapku.


"Siapa juga yang mau jemput. Aku cuma mau ngasih kue bolu buat Luna. Tadi aku bikin sendiri kuenya" Suara istriku terdengar bahagia.


"Berhasil?" Tanyaku


"Terus kamu pikir aku mau ngasih kue bantat kesana. Emangnya aku mau pamer kebodohanku" Suara istriku terdengar meninggi. Ya ampun ternyata aku salah bertanya.


"Bukan begitu maksudku sayang, maksudku berhasil ...berhasil buat yang banyak...iya berhasil buat yang banyak. Itu maksudku" Kenapa jadi gelagapan begini aku menjawabnya.


"Kamu bohong, kamu memang mengira aku ini istri bodoh, istri yang nggak bisa apa-apa iya kan? Liat saja nanti kalau kamu pulang, kamu bakalan lihat apa yang sudah aku buat hari ini" Sulit sekali mengendalikan kemarahan istriku.

__ADS_1


"Iya sayang iya, aku percaya kok. Istriku ini sekarang sudah pintar masak, pintar bikin kue juga" Rayuku.


Selalu saja aku salah bicara, sepertinya aku harus hati-hati kalau mau bicara dengan istriku. Harus bisa mencari kata-kata yang tepat dan menghindari kata-kata yang bisa menyinggungnya.


__ADS_2