
Sore hari
"Sayaaang, banguuun... sayang, banguuun" Aku goyang-goyang kan tubuh Arka agar bangun.
"Hmmm.. masih ngantuk sayang" Gerutu Arka sambil menutup kepalanya dengan bantal.
"Sayang, ayo bangun... ini sudah sore. Katanya mau ke dokter" Aku terus menggoyangkan tubuhnya.
"Sepuluh menit lagi ya" Jawabnya dari balik bantal.
Aku tarik bantalnya sekuat tenaga dan berhasil. "Ayo bangun. Kalau nggak mau bangun kita nggak usah ke dokter ya" Gerutuku kesal.
Dengan terpaksa Arka bangun dan terduduk dengan malas.
"Iya sayang... iya... tunggu bentar. Masih ngumpulin tenaga dulu nih" Arka bicara tapi tetap dengan mata terpejam.
"Sayaaang, buka mata kamu. Jangan merem aja. Kalau kamu masih merem. Ngantukmu nggak akan pergi."
Arka membuka mata dan menghadap ke arahku. "Sayang, kamu udah rapi?" Tanya Arka.
"Iya aku dah siap, cepetan mandi sana" Aku dorong tubuh Arka agar cepat turun dari ranjang.
"Mandiin doonggg" Rengeknya dengan manja.
"Iiihhh kamu ini ya. Bikin lama aja. Mau pergi nggak sih. Kalau nggak pergi ya udah aku mau tiduran lagi." Aku pun pasang wajah kesal.
"Iya, iya.. pergi. Jangan ngambek gitu dong. Iya ini aku bangun terus mandi. Tunggu ya" Dengan cepat Arka menyingkirkan selimut yang menutupi kakinya. Lalu dia pergi ke kamar mandi.
Sedangkan aku kembali duduk di depan meja rias. Memoles wajahku dengan bedak tipis, dan juga menambahkan paduan make up lainnya. Lalu aku lanjutkan dengan menyisir rambut hitamku yang panjang yang aku biarkan tergerai bebas. Aku berkaca dengan gaya miring kanan miring kiri. Seperti ada yang kurang, pikirku. Tapi apa ya... Oh iya aku melupakan sesuatu yaitu bando. Aku ambil bando berwarna hitam dengan hiasan pernak pernik yang ada di kotak make up ku. Lalu aku kembali berkaca. Nah ini baru pas, gumamku.
"Sayang, kemejaku yang warna putih kemana?" Teriak Arka dari dalam.
"Belum datang. Sepertinya nanti malam deh diantar kesini. Pakai yang lain aja napa sih?" Teriakku.
"Pakaian kerjaku tinggal satu loh sayang, kok tumben lama laundry nya belum ngantar. Biasanya cepet" Arka berjalan menghampiriku dengan menggerutu.
Aku menoleh ke arahnya yang sudah berpakaian rapi, dengan setelan kemeja berwarna maroon dan celana jeans hitam.
"Sayang, itu lengannya di lipat aja, biar nggak panjang gitu." Ucapku saat melihatnya.
"Kenapa harus di lipat sih. Kenapa kamu nggak beli lengan pendek aja kalau nggak mau lengan panjang" Protes Arka.
"Sini deh aku lipetin. Ini namanya style sayang. Emang gini biar keren. kecuali kalau kamu pergi ke acara formal lengannya di panjangin juga nggak apa-apa" Ucapku sambil melipat lengan kemejanya.
"Hmm... terserah kamu aja. Kamu yang paling mengerti." Di akhir ucapannya bibirnya sudah menyentuh keningku.
"Tuh udah, gini kan lebih bagus dan kelihatan keren" Pujiku.
"Tergantung orang yang pakai juga" Gerutuku Arka.
"Huuu dasar sok cakep" Omelku
"Emang iya kan sayang."
"Iya iya, suamiku ini emang paling cakep, paling keren,paling gagah, paling sabar, dan juga paling cengeng"
"Kenapa ujungnya jadi nggak enak di dengar" Protes Arka lagi.
"Hahahaha" Tawaku.
"Beruntunglah kalau ada lelaki yang mau mengeluarkan air mata demi kamu. Karna rasa cintanya itu sudah pasti tulus" Ucap Arka tepat di hadapanku. Aku terpaku sejenak mendengar ucapannya. Apa benar yang di katakan Arka ini... Apa dia benar-benar mencintaiku dengan tulus.
__ADS_1
"Udah jangan ngelamun aja. Katanya mau cepat-cepat ke dokter" Arka membuyarkan lamunanku.
"Eh.. ya udah ayo berangkat" Sahutku dengan agak kikuk.
//*//
Dokter menjelaskan semua yang menjadi pertanyaan-pertanyaan kami. Kami merasa lega karena sudah mendapat penjelasan dari dokter. Tapi masih ada satu hal yang membuat kami merasa kurang nyaman. Karena Dokter menyarankan agar kami tidak berhubungan intim dulu sampai kandunganku di nyatakan kuat. Kira-kira sampai usia dua bulan atau tiga bulan. Karna jika terlalu dipaksakan perutku bisa mengalami kram atau gejala lainnya.
Mendengar penjelasan itu raut wajah Arka langsung berubah. Aku tau kalau lelaki sangat sulit menahan nafsunya. Sama halnya dengan Arka. Tapi aku yakin demi calon anak kami pasti Arka akan berusaha menahannya.
"Sayang, maafkan aku ya. Kamu harus puasa dulu" Ucapku lirih.
"Iya sayang, nggak apa-apa. Demi calon anak kita. Aku akan mengikuti semua anjuran dokter." Ucap Arka.
"Tapi kamu nggak bakal cari wanita lain kan sayang?" Tanyaku.
"Ya enggaklah sayang. Kamu ini bicara apa sih. Nggak mungkinlah aku cari wanita lain" Jawab Arka dengan tegas.
"Beneran?"
"Iya sayang, beneran aku nggak bakal cari wanita lain. Aku akan tetap setia sama kamu."
"Makasih ya sayang" Aku peluk tubuh Arka. Dan dia membalas pelukanku lalu mengecup keningku.
"Sebelum kembali ke hotel kita cari makanan dulu ya?" Aku mengangguk mengiyakan. Padahal aku lagi nggak pengen makan. Tapi aku berusaha menuruti kemauannya.
Pak sopir membawa kami ke sebuah warung makan yang yang tidak begitu ramai pengunjungnya.
"Ayo sayang kita turun. Bapak juga ikut turun ya" Ucap Arka.
"Iya mas" Jawab pak sopir.
"Sayang, minum ini ya. Kata mamah bagus buat orang hamil." Ucap Arka menyodorkan sebuah kelapa hijau yang sudah di buka di bagian atasnya.
"Ada es batunya?" Tanyaku.
"Sebentar" Arka kembali menghampiri pemilik warung dan pemilik warung memberikan segelas es batu padanya.
Aku duduk di tempat paling pojok. Tidak lupa juga aku mengajak pak sopir agar mengikutiku.
"Ini es batunya sayang. Kata mamah kamu harus sering-sering minum ini loh" Ucap Arka lagi.
"Iya besok nanam di belakang rumah" Ucapku asal. Pak sopir hanya tertawa mendengar ucapanku. Lalu Arka pun ikut tertawa.
"Nah gitu dong, ketawa. Masa daritadi kamu cemberut aja" Ucapku sambil menarik hidungnya. Arka merasa malu saat aku berkata begitu. Tapi dia kembali tertawa.
Tak lama kemudian ada dua orang membawakan pesanan makanan untuk Arka dan juga pak sopir.
"Kelihatannya enak" Ucapku saat makanan itu tersaji di hadapanku.
"Aku suapin ya, kita makan berdua." Ucap Arka. Dengan bersemangat aku langsung mengangguk.
"Jangan rewel ya sayang. Mama mau makan bareng papa" Arka mengusap-usap perutku dengan lembut.
Suapan demi suapan masuk ke dalam perutku. Aku menyudahi makanku saat aku merasa kenyang. Aku merasa aneh, kenapa tidak sedikitpun aku merasa mual.
"Sayang, kamu kenapa melamun?" Tanya Arka.
"Aku merasa heran aja, kenapa makan banyak tapi sama sekali tidak merasa mual" Sahutku.
"Oohhh... mungkin karna aku yang suapin kamu makanya anaknya nggak rewel." Jawab Arka sekenanya.
__ADS_1
"Emang bisa kayak gitu?" Tanyaku
"Bisa dong. Nih buktinya, nggak rewel kan kalau makan bareng papanya. Berarti anak kita ini maunya deket terus sama papanya" Arka terkekeh sambil mengusap permukaan perutku.
Aku masih memikirkan perkataan Arka. Apa benar yang di katakannya. Calon anakku ini maunya deket sama Arka. Tapi kan dia belum dua bulan. Masih belum berbentuk bayi seperti yang aku lihat di YouTube kemarin. Ah, mungkin Arka hanya menghiburku saja.
//*//
Di kamar hotel
Aku sudah bersiap untuk tidur, tapi Arka masih saja menatap layar laptopnya.
"Sayaaang, ayo tidur" Panggilku dengan sangat lembut.
"Sebentar sayang, nanggung. Dikit lagi kelar kok. Kamu duluan aja ya tidurnya. Nanti kalau udah selesai aku langsung tidur kok" Sahut Arka tanpa menoleh ke arahku. Matanya masih menatap layar laptop dengan tatapan serius.
Aku turun dari ranjang dan menghampirinya yang duduk di sofa. "Sayang, aku maunya tidur sama kamu. Aku nggak mau tidur sendiri" Rengekku.
"Sebentar aja ya. Tunggu" Ucap Arka lagi tanpa menoleh.
Aku putar kepala Arka menggunakan tanganku agar menghadap ke arahku. "Kamu jangan kayak gini terus kenapa sih. Belakangan ini kamu sangat sibuk dengan pekerjaanmu. Sampai-sampai aku terabaikan" Ucapku kesal.
"Sayang, aku nggak pernah mengabaikanmu. Aku hanya menyelesaikan pekerjaanku. Tunggu sebentar aja ya" Jawab Arka dengan lembut. Lalu dia menurunkan tanganku yang melekat disalah satu pipinya. Dan dia kembali menghadap ke laptopnya.
Merasa benar-benar di abaikan. Aku berdiri dan meninggalkannya. Aku ambil sweater yang aku gantung di lemari lalu memakainya.
Arka sama sekali tidak menatapku saat aku berjalan melewatinya. Ya sudah aku teruskan langkahku untuk berjalan menuju pintu. Tapi belum juga sampai di depan pintu Arka memanggilku.
"Sayang, kamu mau kemana?" Tegur Arka.
Aku hanya menoleh tapi tidak menjawabnya. Kakiku kembali melangkah dan tanganku membuka pintu.
"Sayang" Arka kembali memanggilku dan terdengar langkah kakinya yang berlari. Tapi aku abaikan dia. Kakiku terus berjalan keluar kamar dengan santai.
Tapi tiba-tiba Arka menarik tanganku sehingga langkah kakiku terhenti "Sayang, kamu mau kemana malam-malam gini?" Tanya Arka dengan nada cemas.
"Apa pedulimu" Jawabku ketus.
"Sayang, jangan marah gini dong. Ayo kita kembali ke kamar" Ajak Arka.
"Kamu aja sana yang ke kamar, aku mau cari angin. Bosan di kamar aja, bosan cuma tiduran liat orang kerja"
"Sayang, maafin aku ya. Ayo kembali ke kamar, kita tidur ya" Bujuk Arka lagi.
Aku tidak menjawabnya. Tapi tangan Arka menggiringku kembali ke kamar. Seperti terhipnotis, kakiku melangkah mengikuti Langkah Arka memasuki kamar.
Sampai di kamar Arka membuka sweaterku dan meletakkannya di sandaran sofa. "Sebentar ya sayang aku matikan dulu laptopnya"
Dalam hitungan detik Arka kembali menghampiriku. "Sudah, sekarang kita bisa tidur" Ucap Arka.
Arka membaringkanku di ranjang dan dia juga ikut berbaring di sampingku. "Sini aku peluk" Aku menurut apa yang di katakan Arka. Aku menggeser tubuhku agar lebih dekat dengannya.
Melihatnya seperti ini, rasa kesal ku seketika lenyap. Dan sekarang justru aku ingin bermanja di dekatnya. "Sayang, buka bajunya" Rengekku.
"Sebentar ya" Arka duduk dan membuka kaos oblongnya, sehingga tubuhnya yang berotot itu tampak jelas. Arka kembali merebahkan tubuhnya dan memelukku. Tanganku pun meraba dadanya dan memainkan putingnya yang kecil dengan jari telunjukku.
"Sayang, jangan membangunkan gairahku" Ucap Arka
"Jangan ngomong lagi aku ngantuk" Bisikku dengan mata yang sudah aku pejamkan.
"Ya sudah, tidurlah" Arka mengusap punggungku sampai kami berdua benar-benar terlelap .
__ADS_1