
Saat terbangun mataku tertuju pada sofa tempat Arka tidur semalam. Tapi tidak aku dapati sosok Arka disana. Sofa juga sudah rapi, hanya ada mangkok yang tertutup dan segelas air putih di meja. Pasti mangkok itu berisi salad, batinku.
Aku langsung bangun dan menuju kamar mandi, membersihkan diri. Setelah itu aku juga melakukan ritual kecantikan di depan meja rias. Cantik, pekikku dalam hati. Aku pun tersenyum kecil. Berharap Arka akan luluh saat melihat kecantikanku.
Dengan bersemangat aku berlari kecil menuruni anak tangga satu persatu. Sampai di ruang tengah, mataku mengedarkan pandangan ke berbagai arah, tapi nihil, seseorang yang aku cari tidak ada.
"Kamu nyari Arka?" Suara mamah mengagetkanku, yang tiba-tiba muncul dari arah dapur dan menghampiriku.
"I..iya mah. Kemana Arka?"
"Tadi pagi Arka sudah berangkat ke kantor" Jawab mamah sambil menepuk pundakku.
"Ke kantor?" Tanyaku heran.
"Iya, jadwalnya di majukan, sekarang hanya pengenalan dengan staf di kantor. Supaya besok Arka sudah mulai kerja" Jelas mamah. Aku berjalan menuju meja makan dan menuang air mineral ke dalam gelas.
"Kenapa dia nggak cerita?" Aku teguk habis air itu sampai nggak bersisa.
"Gimana mau cerita, tadi pagi papa kamu menjemputnya kesini. Dan mereka berangkat bersama"
"Oowwhh..." Jawabku sedikit kecewa. Aku hempaskan bokongku di kursi yang ada di dekatku. Kecewa bukan karena di tinggal kerja, tapi kecewa karena dandananku merasa sia-sia.
"Maaf nyonya, apa nyonya mau di buatkan sarapan?" Tanya salah satu asisten rumah tanggaku yang baru, kalau nggak salah namanya Bu Marni, tapi minta di panggil buk Mar saja.
Aku lirik jam tanganku waktu menunjuk angka 10. "Boleh lah buk, Buk Mar ya namanya? Maaf saya lupa" Terkekeh geli dengan pertanyaanku sendiri.
"Iya nyonya, panggil saja saya buk Mar." jawabnya dengan sopan.
"Buk Mar jangan panggil nyonya, panggil non aja ya. Umurku belum setua itu" Aku kedipkan mata genitku padanya.
"Ta..tapi.. nyonya..." Belum selesai dia bicara, jari telunjukku aku tempelkan di depan bibirku, yang artinya menyuruhnya diam tanpa membantah.
"No..na... ingat no..na.. bukan nyonya. Kasih tau pada yang lainnya ya" Tegasku lagi. Buk Mar merasa malu dengan sikapku. Dia mengangguk dengan ragu. Lalu pergi ke ruang dapur.
Tapi mau gimana lagi, aku nggak suka dengan sebutan nyonya, meskipun aku adalah nyonya di rumah ini. Tapi sebutan itu sangat tidak pantas untukku. Aku lebih suka di sebut nona. Seperti mbok Imah, asisten rumah tanggaku yang dulu, bukan..bukan.. maksudku asisten rumah tangga mama. Mbok Imah selalu memanggilku nona.
Menunggu sarapanku datang, aku gunakan waktuku untuk membaca koran hari ini. Tidak biasanya aku membaca koran. Aku lebih suka membaca majalah, katalog fashion, dan sebagainya yang berhubungan dengan kehidupan wanita. Mataku terbelalak saat melihat foto papaku terpampang di halaman pertama. Dengan berita " SIAPAKAH PENERUS PENGUSAHA SUKSES RAMA WIJAYA???" Aku terkekeh membaca judul yang tertulis dengan ukuran huruf cukup besar itu.
"Non, ini sarapannya" Buk Mar menyodorkan menu sarapan pagiku, padahal ini bukan waktunya sarapan pagi. Sudah hampir menuju makan siang.
"Taruh aja. Tolong ambilkan gunting ya buk Mar" Perintahku.
"Baik non" Dengan cepat buk Mar pergi dan kembali lagi dengan gunting di tangannya dan di berikan padaku. Aku gunting berita di koran yang menyangkut tentang papa. Aku kumpulin dan sisanya aku remas dan aku menyuruh buk Mar untuk membuangnya.
"Sayang, cepat di makan itu. Nanti keburu dingin malah nggak enak" Seru mamah dari balik sofa yang ada di depan TV. Ternyata mamah memperhatikanku.
"Iya mah" Aku letakkan potongan koran tadi. Aku tarik mangkok yang berisi sarapan pagiku. Rawon sapi. Kesukaanku. Dengan lahap aku memakannya.
__ADS_1
"Mamah udah sarapan?"
"Sudah, tadi pagi" Jawab mamah.
Dengan cepat aku habiskan makananku. Setelah selesai makan, Buk Mar segera membersihkan meja makan dari bekas makanku. Aku kumpulkan potongan koran tadi jadi satu, dan menyimpannya di laci dekat TV. Kemudian aku duduk di sofa bersebelahan dengan mamah. Berbincang, menceritakan tentang keluarga mamah, keadaan di kampung, dan tentunya tentang kebiasaan Arka.
Tak terasa sampai siang aku berbincang dengan mamah di sini. Aku lirik jam yang menempel di dinding. Sudah jam satu lewat sepuluh menit.
"Assalamualaikum..." Terdengar seseorang mengucap salam, suara ketukan sepatunya mendekat ke arah kami. Saat aku menoleh ternyata Arka.
Arka mencium punggung tangan mamah. Dia juga menjulurkan tangannya ke arahku. Awalnya aku hanya diam saja, mengangkat sedikit kepalaku agar bisa menatap wajahnya. Arka menatapku dengan alis yang mengkerut. Dia gerakkan tangannya mendekati wajahku, aku baru sadar maksud Arka seperti itu. Langsung aku raih tangannya dan aku cium punggung tangannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Arka meninggalkanku. Aku hanya menatapnya sampai bayangan punggungnya menghilang dari pandanganku.
Mamah menyentuh pundakku "Kamu yang sabar ya, Arka selalu begitu kalau marah. Dia lebih memilih diam daripada harus berdebat. Lebih baik kamu pikirkan lagi keputusan kamu. Ini semua demi keutuhan rumah tangga kalian. Mamah tidak mau ikut campur, mamah hanya bisa memberi nasihat yang baik buat kalian" Suara lembut mamah membuatku terharu, dan aku pun menitikkan air mata saat mengingat kejadian semalam.
"Mamah tau apa yang terjadi antara kami?" Tanyaku dengan suara lembut, mencoba menebak agar tidak salah paham.
Mamah mengangguk " Arka sudah menceritakan semuanya, sekarang bicarakan baik-baik sama dia" Mamah menyuruhku, agar segera menyusul Arka ke atas.
Aku genggam tangan mamah dengan erat, dengan mata yang masih memerah, aku meninggalkan mamah untuk menyusul Arka.
Perlahan aku buka pintu kamarku, mengintip keadaan di dalam kamar. Sunyi, tidak terdengar suara sama sekali. Aku beranikan diri untuk masuk ke kamar dan mencari Arka. Jantungku mulai berdegup dengan kencang tidak berirama. Aku edarkan pandanganku ke berbagai sudut kamar, tapi tidak ada. Aku langkahkan kakiku menuju balkon. Ternyata Arka sedang duduk disana.
Kepalanya bersandar pada sandaran kursi rotan, tangan kirinya mengurut pelipisnya dan sedikit tekanan di area itu. Perlahan aku mendekatinya. Meraih tangan kanannya, dan itu membuatnya sedikit terkejut.
"Capek? Sini biar aku yang pijit" Aku hentikan tangan kirinya, aku gantikan dengan tanganku.
"Sayang, aku minta maaf ya dengan ucapanku tadi malam. Aku han..."
"Sudahlah nggak usah di bahas lagi. Kamu memang benar, dan apapun yang kamu katakan sudah pasti benar dan selalu benar." Arka memotong perkataanku. Dia menepis tanganku, lalu berdiri hendak meninggalkan aku. Tapi dengan cepat aku tarik tangannya.
"Kenapa kamu nggak mau dengerin aku dulu. Dengerin dulu penjelasan ku" Aku mencoba mengiba padanya. Tapi itu tidak merubah suasana hatinya.
"Untuk apa, sudah jelas kalau kamu akan tetap dengan keputusan kamu, dan akan mengabaikan keputusanku. Jadi apalagi yang perlu di bicarakan." Dengan cepat Arka berjalan meninggalkanku yang mencoba mencegahnya.
Air mataku tak bisa aku tahan lagi. Terduduk lesu di pinggiran kursi. Aku menangis sejadi-jadinya dengan perlakuan Arka yang seperti ini. Aku tenggelamkan wajahku di bantalan kursi, menangis sejadi-jadinya berharap tidak ada yang mendengar karena sudah teredam bantalan kursi.
Tapi dugaanku salah, sepasang tangan kokoh menyentuh kedua pundakku dan mengangkatnya. Aku tengadahkan wajahku untuk melihat pemilik tangan kokoh itu. Arka, ya wajah Arka yang ada di hadapanku. Matanya terlihat merah dan berkaca-kaca. Dengan cepat aku berdiri dan menghambur ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, maafkan aku" Ucapku lirih berulang-ulang.
Arka mengecup keningku berulang-ulang. "Aku juga minta maaf, berbuat kasar sama kamu" Aku tatap wajahnya.
Mata Arka terlihat sembab, dia juga menangis hanya saja tangisannya tidak terdengar sepertiku.
"Kamu nangis?" Tanyaku dengan menyunggingkan bibirku, mencoba tersenyum. Arka mengangguk memberi jawaban.
"Kenapa, kenapa kamu nangis?" Tanyaku dengan menangkupkan kedua tanganku di pipinya.
__ADS_1
"Hatiku sakit melihat kamu nangis sedih kayak gini. Hatiku sakit melihat kamu aku sakiti. Maafkan aku" Ciuman di kening kembali aku dapatkan darinya.
"Aku takut dengan kemarahanmu. Kamu nggak marah lagi kan?" Arka menggeleng mendengar pertanyaanku.
Kembali aku peluk tubuhnya dan mendekapnya lebih dalam lagi. Arka juga membalas dekapanku. Seolah tak ingin melepaskanku. Kami saling dekap. Sampai akhirnya handphone Arka berdering. Dengan terpaksa dia melepaskan dekapannya. Dan merogoh handphone yang dia simpan di kantong celana kainnya. Dia mulai menyapa dengan ramah saat menerima panggilan teleponnya.
Karena tidak mau mengganggunya, aku berniat meninggalkannya, tapi niatku gagal karena dengan cepat tangan Arka meraih tanganku dan tidak mau melepasnya. Akhirnya aku menunggunya sampai dia menutup panggilan teleponnya.
"Sayang, barusan aku dapat undangan makan malam dari staf di pabrik. Acara aqiqah anak keduanya. Aku mau ajak kamu untuk menghadiri undangannya"
"Aku???" Aku tunjuk diriku sendiri menggunakan ujung jari telunjukku.
"Iya, emangnya istriku siapa lagi?"
"Tapi aku malu" Jawabku. Karna jujur saja aku tidak pernah menghadiri acara-acara formal seperti ini.
"Kalau kamu nggak ikut, aku nggak bisa hadir kesana"
"Kenapa? Kan kamu bisa hadir tanpa aku" aku mencoba untuk membujuknya.
"Terus, kalau ada yang nanya mana istrinya? aku jawab apa, apa aku harus jawab ada di rumah lagi tiduran, atau aku bilang saja maaf saya belum menikah. Gitu?" Arka tampak kesal, tapi aku malah tertawa dengan ucapannya.
"Iya.. iya aku ikut." Jawabku.
"Makasih ya sayang" Tanganku pun langsung di ciuminya.
"Tapi aku pakai baju apa ya?" Tanyaku bingung.
"Biasanya kalau acara aqiqah itu ada pengajiannya. Berarti kamu harus pakai baju muslim" Jelas Arka.
"Oh gitu, ya udah lah ya.. aku nurut saja." Jawabku pasrah.
"Nanti kita cari kado buat mereka ya" Ajak Arka.
"Oke, enaknya kado apa ya?" Aku pun ikut berfikir.
"Kita hadiahkan mainan saja, gimana?" Arka memberikan ide. Tapi aku tidak setuju dengan ide nya.
"Jangan sayang, jangan mainan. Kita cari hadiah yang lainnya. Tapi jangan mainan. Kita pergi ke baby shop aja ya sekarang. Nanti kita tanya sama penjualnya" Aku memberikan ide padanya.
"Boleh juga ide kamu. Ternyata istriku cukup pintar ya" Arka mengacak poniku dengan kasar.
"Iya lah, aku kan emang pinter hhhaha" Ucapku dengan bangga.
"Kita ke baby shop sekarang aja ya biar nggak kesorean" Ajak Arka.
"Ayo"
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan mamah, aku dan Arka pun segera pergi ke baby shop. Tidak terlalu jauh tempatnya dari rumahku. Jadi kami tidak butuh waktu yang lama.