
"Bagaimana kabar kakakmu Bayu? Apa dia tidak pernah pulang?" Dokter Vilia mulai bertanya.
Aku sedikit tercengang dengan pertanyaan dokter Vilia. Kenapa tiba-tiba dia menanyakan Kak Bayu.
"Hmm, kak Bayu pulang saat acara pernikahanku" Jawabku.
"Oohh, saya menyesal tidak bisa menghadiri acara pernikahanmu. Waktu itu mama saya sedang sakit, jadi saya harus pulang ke Sukabumi."
Aku tatap wajahnya yang terlihat kecewa, tetapi senyuman tetap terukir di bibirnya.
"Maaf dok, kenapa tiba-tiba dokter menanyakan Kak Bayu?" Tanyaku penuh hati-hati takut menyinggung perasaannya.
"Ah tidak apa-apa. Saya hanya..." Ucapannya terhenti dia memalingkan wajahnya. Dan jarinya mengusap ujung matanya. Aku tahu dia sedang menangis. Hanya saja dia berusaha menutupi air matanya.
"Apa ada yang mau dokter sampaikan mengenai kak Bayu? Sebelumnya aku minta maaf dok, mungkin ini privasi dokter, tapi kalau dengan bercerita bisa mengurangi sesak, ceritalah... Aku akan mendengarkan apa yang dokter ungkapkan saat ini" Ucapku meyakinkannya.
"Terima kasih Natasya atas waktunya. Saya tidak menyangka kalau cinta pertama saya sulit untuk di lupakan. Bahkan setelah berpisah bertahun-tahun. Bayu tetap mengisi ruang hatiku"
Tanpa ada rasa malu lagi, dokter Vilia mengeluarkan isi hatinya. Aku hanya menjadi pendengar saja. Tidak ingin menasehatinya. Bagaimanapun juga usianya sama dengan kakakku.
Dokter Vilia adalah teman sekolah kak Bayu sewaktu SMP. Mereka juga pernah menjalin hubungan cinta, lebih tepatnya cinta monyet. Dokter Vilia adalah cinta pertama kak Bayu. Begitu juga dengan Dokter Vilia, Kak Bayu adalah cinta pertamanya.
Mereka berpisah saat kak Bayu memutuskan untuk menjadi pelaut. Tetapi dokter Vilia merasa keberatan dengan cita-cita Kak Bayu. Akhirnya Kak Bayu lebih memilih mengejar cita-citanya yang sudah dari kecil dia inginkan. Mungkin waktu itu kak Bayu tidak terlalu memikirkan soal cinta karena dia masih anak-anak yang baru menginjak dewasa.
Tapi sampai saat ini pun soal jodoh kak Bayu menyerahkan semua sama yang di atas. Tidak terlalu memikirkannya. Malah dia lebih memikirkan jodoh untukku daripada jodohnya sendiri.
Tidak menyangka kalau cinta monyetnya sungguh luar biasa. Apa mungkin mereka masih saling cinta. Karena sampai sekarang dokter Vilia dan kak Bayu sama-sama belum menikah. Sedangkan kak Bayu, kabarnya sedang dekat dengan perempuan asal Turki. Entah itu benar atau tidak, karna sampai sekarang kak Bayu belum memperkenalkan perempuan itu kepada keluargaku secara langsung.
Setelah mereka berdua berpisah, keduanya belum pernah menjalin hubungan asmara dengan yang lain. Masih dengan status jomblo masing-masing. Dengan alasan masih mengejar cita-citanya. Padahal perpisahan mereka sudah lebih dari sepuluh tahun.
Apalagi yang mereka cari, pekerjaan sudah ada, uang sudah banyak, cita-cita susah tercapai, lalu apa lagi ???... sepertinya cinta mereka yang terhalang jurang pemisah.
__ADS_1
Aku tidak tega jika harus mengatakan bahwa kak Bayu sedang dekat dengan perempuan asal Turki. Pasti dokter Vilia akan sangat kecewa, tapi jika aku tidak mengatakannya sekarang, aku takut kalau dokter Vilia akan terus berharap pada kak Bayu.
"Dok, kalau boleh tahu, apa diantara kalian pernah terucap kata tunggu aku ?" Tanyaku. Dokter Vilia tampak berfikir sejenak lalu dia menggeleng pelan.
"Sepertinya hanya saya saja yang terlalu mengharapkan cinta kami berlanjut. Karena sampai saat ini Bayu tidak pernah menghubungi atau pun menemui saya"
"Kenapa dokter menaruh harapan pada kak Bayu kalau dokter sendiri tahu Kak Bayu tidak menginginkannya?" Aku semakin penasaran dengan kisah mereka yang terlalu rumit.
"Meskipun saya dan Bayu tidak ada komunikasi, tapi saya selalu mencari tahu tentang Bayu melalui salah satu teman kami. Melalui dia lah saya tahu kalau sampai sekarang Bayu belum menikah, bahkan dia belum pernah dekat dengan wanita manapun,dari situlah saya menganggap Bayu masih mencintai saya" Ucapnya begitu yakin.
"Kalau seandainya kak Bayu sedang dekat dengan wanita lain, apa dokter tetap mengharapkan kak Bayu?" Dokter Vilia menatapku tajam saat aku mengucapkan kalimat tersebut.
"Saya akan berhenti berharap jika Bayu memang benar-benar sudah menikah dengan wanita lain"
Ternyata dokter Vilia adalah perempuan yang tidak mudah menyerah ataupun pasrah dengan keadaan . Aku ambil jus mangga yang sedari tadi aku abaikan. Lalu menyedotnya. Rasa dingin menjalar di tenggorokanku.
"Kenapa dokter tidak berusaha membuka hati untuk yang lain. Aku yakin banyak yang ingin menjadi pendamping hidup dokter"
Oh Tuhan ternyata cinta dokter Vilia begitu dalam terhadap kak Bayu. Aku jadi tidak tega kalau memberitahunya tentang kak Bayu dekat dengan wanita lain. Apalagi aku sendiri masih meragukan kak Bayu.
"Apa dokter tidak ingin berkomunikasi dengan Kak Bayu?"
Dokter Vilia hanya diam menatapku. Dari sorot matanya sebenarnya dia menginginkannya. Hanya saja tidak punya keberanian.
"Saya tidak mau Bayu merasa terganggu dengan kehadiran saya. Karena dulu saya lah satu-satunya orang yang tidak mendukungnya meraih cita-cita. Saya tidak mau Bayu membenciku karena menghalangi kesuksesannya" Ucapnya perlahan.
"Dok, saya rasa kalian memang butuh untuk berbicara. Supaya diantara kalian tidak ada lagi keraguan. Kalau memang kalian masih saling cinta, kalian bisa melanjutkan hubungan kalian. Tapi kalau kak Bayu sudah tidak mencintai dokter, Dokter harus menerimanya dan jangan lagi berharap kepada kak Bayu. Dokter harus bisa membuka hati untuk lelaki lain. Saya yakin dokter akan mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari kak Bayu"
Akhirnya keluar juga saran dariku. Daritadi aku sudah menahannya. Tapi selalu mengurungkannya. Semoga saja dokter Vilia tidak tersinggung dengan ucapanku. Dokter Vilia terdiam, mungkin dia masih memikirkan saran dariku.
"Tapi apa Bayu masih mau berbicara dengan saya?"
__ADS_1
"Bagaimana kita tahu jawabannya kalau belum di coba" Jawabku enteng.
Aku keluarkan ponsel yang ku simpan dalam tasku. Lalu aku hubungi kontak kak Bayu melalui video call.
Sampai dua kali panggilan, panggilanku tidak juga di jawabnya.
"Mungkin dia sedang sibuk. Kita coba lain kali saja" Aku abaikan ucapan dokter Vilia, Aku coba lagi untuk kembali melakukan panggilan. Dan akhirnya kak Bayu menerima panggilanku. Terlihatlah wajah kayu yang tampan mengenakan seragam kebanggaannya.
"Assalamualaikum kak"
"Waalaikumsalam" Senyum manis terlihat dari bibirnya.
"Tumben nih hubungi kakak, ada apa ? kangen ya sama kakak?" Aku memang tidak pernah menghubungi kak Bayu. Karena jarang sekali kak Bayu menerima telepon. Keseringan kak Bayu lah yang menghubungi saat ada waktu senggang.
"Iya kangen kak, tapi bukan aku yang kangen"
Alis kak Bayu bertaut merasa heran dengan jawabanku.
"Siapa?"
"Someone, someone from the past"
"Udah dong jangan basa basi kakak tidak punya waktu banyak nih"
"Iihh nggak sabaran banget sih" Aku arahkan kamera belakangku ke arah Dokter Vilia. Sehingga terlihatlah wajah dokter Vilia yang cantik itu di layar ponselku. Kak Bayu menajamkan penglihatannya mencoba untuk mengenali wajah cantik dokter Vilia.
"Kakak ingat siapa dia?" Tanyaku. Empat tahun belakangan ini dokter Vilia menjadi dokter keluargaku, tetapi sekalipun belum pernah bertemu dengan kak Bayu di rumah. Karena kak Bayu memang jarang pulang.
"Vilia?"
Kak Bayu sedikit terkejut saat menyadari wanita cantik ini adalah Vilia, mantan kekasihnya sewaktu remaja.
__ADS_1