
Setelah makan siang Arka mengantarku pulang ke hotel sedangkan Arka kembali lagi ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Masih terlihat di wajah Arka kalau dia menahan rasa kesal padaku.
Sesampainya di kamar hotel aku segera mandi dan merebahkan tubuhku di kasur. Begitu nyaman sekali rasanya. Padahal baru saja pergi sebentar tapi badanku rasanya sangat kelelahan.
Sayup-sayup terdengar suara Televisi. Aku tersadar, ternyata aku ketiduran karena merasa kelelahan. Aku langsung terduduk dan melihat Arka yang sudah duduk di hadapan televisi menyaksikan acara berita.
"Sayang, kamu sudah pulang?" Tanyaku.
"Heem" Jawabnya hanya dengan deheman.
Aku langsung beranjak dan melangkahkan kakiku mendekati Arka. Aku duduk di pangkuannya.
"Tadi aku ketiduran. Mungkin karena kelelahan" Ucapku. Tapi Arka tidak merespon sama sekali. Matanya tetap fokus menghadap ke arah televisi.
"Sayang" Ucapku manja.
"Heem" Lagi Arka menjawab dengan deheman.
"Kamu pulang tapi kenapa tidak mau bangunkan aku sih. Biasanya kalau aku lagi tidur kamu suka godain aku" Aku terus bergelayut manja di pelukannya. Tapi Arka sama sekali tidak meresponku. Biasanya kalau aku bersikap kayak gini, Arka akan sangat agresif membalasnya. Tapi mungkin kali ini dia capek kerja.
"Sayang, kamu capek ya pulang kerja. Mau aku pijit nggak. Aku bisa kok mijit kamu." Aku terus merayunya agar dia merubah sikapnya. Tapi usahaku sia-sia. Arka tetap saja cuek sama aku.
"Kamu kenapa sih, kalau ada masalah di kantor jangan bawa pulang. Diajak ngomong daritadi diem aja. Di rayu-rayu nggak ada respon sama sekali. Apa kamu nggak suka kalau aku masih tidur disaat kamu pulang kerja. Kan kamu sendiri yang bilang lakukan apa saja mau ku. Tapi sekarang kamu malah kayak gini. Apa sih mau kamu?" Omelku dengan nada yang agak meninggi.
"Kenapa jadi kamu yang marah-marah. Aku nggak pernah mempermasalahkan kalau kamu tidur di saat aku pulang kerja. Lagipula biarpun aku ada masalah di kantor aku nggak pernah membawa masalah itu ke rumah" Ucap Arka dengan nada suara yang biasa aja. Tidak sebanding dengan suaraku yang meninggi.
"Kalau memang kamu nggak ada masalah terus kenapa kamu kayak gini?" Tanyaku.
"Aku nggak suka aja kalau aku punya saingan" Aku terkejut mendengar ucapannya. Seketika aku terdiam, memikirkan ucapannya. Saingan, apa yang di maksud Arka dengan saingan...
"Apa maksud kamu?" Tanyaku lagi.
"Nggak usah lagi tanya apa maksudku. Sekarang aku tanya sama kamu, apa maksud kamu sampai kamu simpan nomer sopir taksi yang kamu bilang dia akan ngantar kamu kemanapun kamu akan pergi. Aku yakin kalau dia hanya baik di awal. Nanti dia akan punya niat buruk sama kamu." Gerutu Arka tapi dengan suara yang datar, Tidka meninggi sama sekali. Hanya saja nada suaranya terdengar kesal.
"Oh, sopir taksi itu." Aku tersenyum, emosiku seketika lenyap mendengar penjelasannya.
Arka menatapku dengan tajam "Kenapa kamu malah senyum-senyum gitu?" Ucapnya.
"Emang nggak boleh ya senyum-senyum. Aku lagi ingat sama sopir taksi itu. Gara-gara dia kamu jadi cemburu" Ucapku.
"Aku nggak cemburu, hanya nggak suka aja" Arka mencoba mengelak.
"Sudahlah. Ayo kita makan. Aku lapar, tapi aku yang pilih tempatnya" Ajakku. Aku abaikan Arka yang hanya diam mematung itu.
Aku ambil handphone ku untuk menghubungi bapak sopir taksi itu. Karna aku dan Arka mau makan di luar hotel. Sebenarnya bukan itu sih niatku. Hanya saja aku mau tunjukkan pada Arka sosok sopir taksi yang sebenarnya. Aku udah nggak tahan lihat tingkah konyolnya yang diam seribu bahasa.
"Kita nggak jadi keluar, kita makan disini aja." Ucap Arka.
__ADS_1
"Kalau kamu mau makan disini ya terserah saja. Kalau gitu, biar aku sendiri yang pergi. Karna nggak mungkin aku membatalkan pesanan taksiku." Ucapku pada Arka. Arka seperti terjebak, sehingga dia tidak bisa bicara apa-apa lagi. Jadi mau nggak mau dia harus ikut pergi denganku.
Dalam hati, aku tertawa sendiri melihatnya yang daritadi hanya cemberut. Aku kenakan pakaian yang cukup santai tapi pas di badanku. Memakai hotpant dan atasan kemeja putih tipis. Sehingga nampak tembus warna bra yang aku kenakan.
"Ganti bajunya dengan yang lain." Tegur Arka begitu melihatku.
"Kelamaan, yuk ah berangkat" Aku tarik tangan Arka. Dengan terpaksa dia menurutiku.
Di dalam lift kami saling diam, aku berdiri agak menjauh dari Arka. Saat aku menoleh ke arahnya, mata kami beradu. Ternyata Arka memperhatikanku.
"Ngapain sih liatnya kayak gitu. Awas lompat bola matanya" Godaku. Tapi tak ada jawaban darinya. Mata Arka tetap menatapku dengan tajam yang membuatku salah tingkah. Aku palingkan pandanganku karena tidak mau beradu pandang dengannya.
Begitu lift terbuka aku langsung melangkah keluar. Arka mengikutiku dari belakang. Aku hentikan langkahku saat sampai di lobby hotel. Aku mencari sosok bapak sopir taksi itu tapi tidak aku temukan. Mungkin saja dia belum sampai.
"Sayang, duduk sini dulu. Mungkin sopirnya belum sampai " Aku tarik tangan Arka agar duduk di kursi yang ada di sebelahku. Tetap dengan sikap cueknya, namun masih nurut perkataanku.
Beberapa menit kemudian handphone ku berdering. Aku lihat nama di layarnya, ternyata bapak sopir taksi. Segera aku angkat ternyata benar kalau bapak sopir baru saja sampai dan sekarang ada di area parkir.
"Sayang, taksinya udah nunggu. Ayo" Ajakku. Dengan langkah malas Arka tetap menuruti yang aku minta. Tapi kali ini aku dan Arka berjalan dengan jarak yang cukup jauh. Segera aku temui sopir taksi itu.
Aku berbicara sebentar dengan bapak itu. Dan aku melihat Arka berjalan dengan sangat lambat dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam kantong celananya.
"Sayang, cepetan sini" Aku lambaikan tanganku ke arahnya. Dengan sangat santai Arka menghampiriku. Sedangkan pak sopir keluar dari dalam taksi. Dengan senyum ramah pak sopir menyapa Arka ketika mulai mendekat. Wajah Arka seketika berubah ketika melihat pak sopir.
"Sayang, ini loh pak sopir yang aku bilang siap mau ngantar kemana saja aku pergi. Makanya aku simpan nomer bapak ini" Ucapku.
"Memang sengaja, aku kan juga pengen tau, kamu cemburu apa enggak. Dan ternyata kamu cemburu" Tawaku
"Kamu ini ya..." Seketika Arka memelukku dengan erat dan mengecup keningku agak lama. Dia berbisik "Bagaimana pun aku nggak rela jika ada lelaki yang membuatmu nyaman selain aku"
Setelah sekian detik saling berpelukan, aku lepaskan pelukanku "Kita lanjutkan nanti, sekarang kita cari makan dulu" Ucapku.
Arka segera melepas pelukannya dan membukakan pintu taksi untukku. Pak sopir segera masuk dan duduk di belakang kemudi. Dan taksi pun segera melaju menyusuri jalanan kota Surabaya.
"Sayang, kamu sudah pernah ke Surabaya?" Tanya Arka memecah keheningan.
"Sudah beberapa kali. Terakhir kesini setahun yang lalu" Jawabku.
"Sama papa?" Tanya Arka lagi. Aku menoleh ke arah Arka. Arka ikut menoleh ke arahku. Aku gelengkan kepalaku. "Bukan papa, tapi sama Farhan" jawabku lirih. Sungguh berat aku mengucapkan nama itu. Entahlah, apa karena sudah hilang rasaku sama dia, atau mungkin karna aku menjaga perasaan Arka.
"Farhan? Mantan kamu itu?"
Aku anggukkan kepalaku "Iya"
"Kamu belum pernah cerita sama aku tentang dia, apa kamu nggak ingin berbagi kisah sama aku?"
"Buat apa, aku dan dia sudah selesai. Jadi udah nggak ada lagi yang harus di bagikan ataupun di ceritakan" Jawabku sedikit kesal.
__ADS_1
"Sayang, jika kamu ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan sama aku, apapun itu aku bersedia mendengarkan. Apalagi tentang masa lalu kamu."
"Sudahlah nggak usah di bahas lagi. Kalau kamu terus membicarakannya, lebih baik kita kembali ke hotel, karena aku sudah nggak ada nafsu untuk makan malam" Ucapku kesal.
Arka terdiam, begitu juga denganku. Meskipun saling diam, tetapi tangan Arka tetap menggenggam erat tanganku. "Maafkan aku" Ucapnya lirih. Mulutku enggan untuk menjawabnya. Mataku terus menerawang jauh di luar jendela.
Tangan Arka yang awalnya menggenggam erat tanganku berpindah mengusap lembut kepalaku.
"Neng, maaf. Jadi ke jembatan merah nggak neng." Tanya pak sopir.
"Nggak usah pak. Carikan tempat lain saja." Ucapku.
"Kalau kamu nggak mau makan, kita kembali ke hotel saja" Ucap Arka.
"Udahlah nggak usah banyak omong. Kalau kamu mau kembali ke hotel, ya udah turun sana. Biar aku sendiri yang pergi" Ucapku dengan ketus.
"Bukan itu maksudku sayang. Kan tadi kamu bilang kalau kamu sudah nggak nafsu makan. Mending kita kembali aja." Ucap Arka lagi.
Aku baru ingat, kalau memang aku yang bicara seperti itu. Ya ampun kenapa otakku jadi kacau begini. Malu banget rasanya. Meski begitu aku masih berusaha menutupi rasa malu ku dengan kekesalanku. Untung saja Arka tipe lelaki penyabar. Kalau tipe lelaki yang keras kepala, mungkin kepalaku dah benjol di jedotin ke pintu mobil.
"Neng, sudah sampai" ucap pak sopir.
"Iya pak" Aku lihat sekitar rumah makan, tempatnya bersih dan rapi. Pinter juga pak sopir nyari tempat makan yang nyaman sesuai seleraku.
"Bapak ikut makan aja sama kita di dalam pak" Ucap Arka sebelum turun dari taksi.
"Oohh.. Ndak usah. Bapak masih kenyang. Tadi bapak sudah makan bareng anak-anak di rumah" Tolak pak sopir dengan tawa khasnya yang memperlihatkan keriput pipinya.
"Kalau gitu, minum aja pak" Tawar Arka lagi.
"Bapak nunggu disini saja. Nanti bapak ngopi di warung sana" Pak sopir menunjuk dengan jarinya ke arah warung kaki lima yang ada di seberang jalan.
"Ya udah kalau bapak nggak mau. Ini pak buat ngopi disana" Arka memberikan selembar uang limapuluh ribuan .
"Ndak usah, ini bapak ada kok uangnya buat ngopi." Lagi-lagi bapak sopir menolak kebaikan Arka.
"Kalau gitu saya temani bapak ngopi disana"
Bapak itu jadi salah tingkah. "Jangan, kalau gitu saya terima aja uangnya ya. Tapi jangan ikut bapak ngopi disana. Kasihan si Eneng nanti ngambek lagi" Ucap bapak itu.
Aku hanya meringis. Arka pun tersenyum karna akhirnya uangnya di terima. Lalu aku dan Arka segera masuk ke rumah makan, memesan beberapa makanan untuk Arka. Karena aku hanya memesan lemon tea saja. Selain karena hilang nafsu makan, tapi juga karna sudah terlalu malam bagiku untuk melakukan makan malam.
"Beneran nggak mau makan nih?" Tanya Arka.
"Iya, lihat aja udah jam berapa" Jawabku.
"Ya sudah kalau gitu, aku makan sendirian aja" Arka menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan lahap. Mungkin dia memang lapar atau mungkin karena makanannya yang enak, hanya dia yang tau.
__ADS_1