
POV author
Sedikit cerita ya readers, tapi aku mohon jangan marah. Aku akan menceritakan sedikit jalan hidupku antara hidup dan mati.
Kehamilan bukanlah hal yang buruk, apalagi jika kita sangat mengharapkan kehadiran sang buah hati. Saya mohon apabila ada diantara kalian ada yang sedang hamil tapi merasa belum siap, jangan kalian sia-siakan. Kalau pun (maaf ya) "Hamil di Luar Nikah" , jangan kalian lenyapkan nyawanya. Kalau kalian tidak mau membesarkannya berikanlah pada orang yang benar-benar mengharapkan kehadiran seorang anak.
Aku sendiri sudah mempunyai seorang anak yang sudah mulai beranjak dewasa, usianya 13 tahun. Aku sangat suka sama anak-anak, tapi untuk hamil lagi aku selalu menundanya. Pakai kontrasepsi implan, pil KB, bahkan KB suntik juga. Karena aku merasa belum bisa menghilangkan trauma di saat melahirkan anak pertama.
Sebenernya aku juga ingin, tapi trauma itu kembali muncul sehingga menyurutkan niatku. Padahal ini sudah berlalu lebih dari delapan tahun.
Suatu ketika, Saat malam sebelum tidur, saat yang tepat untuk berkomunikasi. Aku mencoba untuk bertanya pada paksu.
"Yah, aku mau tanya boleh?"
"Apa?" Dia balik tanya dong.
"Kamu, apa nggak pingin punya anak lagi?" Tanyaku dengan penuh hati-hati, karena bertahun-tahun kami tidak pernah membahas ini. Suami ku tahu kalau aku masih merasakan trauma untuk melahirkan lagi. Makanya dia tidak pernah membahas masalah ini.
"Iya pingin mam, kasihan iyos nggak punya teman. Dia sendirian" Itu jawabannya.
"Ya sudah kalau gitu, mulai besok aku lepas KB ya?" Suamiku tidak menjawab apa-apa tapi aku tahu dia sangat senang mendengarnya.
Saat itu aku pakai pil KB. Sudah tahu kan efek samping dari pil KB, katanya kalau telat sekali aja bisa langsung dung alias hamidun.
Tapi itu tidak berlaku untukku, hari berganti bulan, bulan berganti tahun, Aku masih belum hamidun juga.
__ADS_1
Kecewa ? jelas dong ya ...
Menginjak tahun kedua tanpa sepengetahuan paksu, aku beranikan diri konsultasi ke Dr SpOG. Dan di sarankan mengikuti promil. Semua yang Dr SpOG sarankan saya lakukan seperti konsumsi vitamin, susu, perbanyak ikan laut segar, buah-buahan, olahraga, diet dan juga jam-jam yang bagus untuk melakukan pelepasan.
Tapi aku merasa usahaku sia-sia, aku down, aku stres. Sampai aku berhenti menulis, semua hobi aku tinggalkan, dan pelarianku hanya ke makanan. Setiap aku merasa stres, maka nafsu makanku bertambah. Dan alhasil badanku membengkak, bukan karna hamil tapi karena lemak yang menumpuk.
Sampai akhirnya aku drop, tiba-tiba badan menggigil. Dan setelah beberapa hari, Kaki kiri ku membengkak dan menghitam. Sampai tidak bisa jalan. Karena berdiri saja aku tidak kuat menahan sakit.
Awal pemeriksaan dokter menduga kalau ini semacam asam urat dan kolesterol. Tapi karena tidak mau sekedar menduga-duga, akhirnya di lakukan tes darah. Dari situlah di ketahui kalau aku terkena infeksi pembuluh darah.
Ya Allah penyakit macam apa ini?"
Tiga Minggu terbaring lemah, sampai berat badan turun lima belas kilo. Fantastis bukan, tanpa diet tanpa olahraga. Badan langsung langsing. Tapi sungguh tersiksa. Bahkan saat masa penyembuhan tiga kuku jari kakiku terlepas dengan sendirinya, kecuali jempol dan kelingking. Tidak hanya itu, kulit pun mengelupas tanpa merasakan sakit. Kalau kalian mau tahu, bayangkan saja melepas kulit ceker ayam, yang masih ada kulit luarnya itu. Seperti itulah kulit kakiku saat di kelupas.
Setelah sembuh aku memutuskan untuk memulai hidup sehat. Makan dengan teratur , olahraga meskipun sekedar berjalan kaki, hindari stress, ini yang penting.
*
Kalian tahu, semenjak lepas KB aku selalu mencatat tanggal saat aku datang bulan. Jadi aku bisa tahu kapan terlambat dan tepatnya saat tamu bulanan datang. Seringkali terlambat datangnya, terkadang telat sampai seminggu bahkan kadang sampai dua Minggu.
Maka dari itu aku selalu menyediakan testpack untuk mengetahui hamil atau tidaknya. Tapi hasilnya selalu saja mengecewakan, yaitu negatif.
Rasa kecewa kembali hadir manakala yang kita inginkan belum terwujud. Bahkan di setiap sujud ku, aku selalu berdoa meminta kepada pemilik kehidupan agar di tiupkan nyawa ke dalam rahimku. Ini adalah doa yang selalu aku ulang-ulang.
Tidak ingin kecewa lagi dengan hasilnya, aku tidak lagi melakukan test saat terlambat datang bulan. Aku jalani hari-hari seperti air yang mengalir.
__ADS_1
Suatu hari perutku terasa kram setelah berjongkok. Dan ada rasa sedikit nyeri di perut kanan bagian bawah. Aku mengabaikannya, mungkin nyeri sebelum datang bulan.
Tapi sampai sakit itu hilang, bahkan sudah terlewat beberapa hari tamu bulanan ku tidak kunjung datang.
Setelah aku ingat-ingat dan melihat catatan rutinku, ternyata sudah dua bulan berlalu aku tidak datang bulan. Dengan hati yang berbunga-bunga dan harap-harap cemas. Sepulang kerja aku membeli testpack lagi.
Dan hasilnya garis dua merah, tapi yang satunya terlihat sedikit samar. Aku ragu positif atau negatif?
Aku tidak berani mengatakan kepada paksu, takut dia kecewa. Tapi aku bercerita kepada temanku, semasa perempuan yang pernah hamil juga pasti dia lebih paham.
Aku tunjukkan foto yang tersimpan di galeri ponselku. Dan temanku menatapku dengan mata yang sedikit berkaca, diam beberapa saat, lalu..
"Buk, ini positif buk. Ibuk hamil, ya ampun buk akhirnya..." Dia hampir berjingkrak kalau aku tidak menahannya. Sampai beberapa teman kerja yang lain menoleh ke arah kami. Dari awal temanku sudah tahu betapa aku menginginkan anak ini.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang mewakili perasaanku. Ya, perasaan bahagia.
Sepulang kerja aku mengajak paksu untuk periksa ke bidan, dan memang benar setelah di lakukan USG aku memang positif hamil dan usia kandungan sudah delapan Minggu.
Paksu tidak menunjukkan ekspresi bahagia berlebih. Tapi aku tahu kalau dia bahagia mengetahui aku hamil.
Aku lalui hari-hari kehamilanku dengan rasa bahagia. Tapi sepertinya tidak dengan paksu. Aku merasa dia sedikit berubah. Apalagi saat aku melarang dia jangan keluar malam lagi.
Aku memang bukan tipe istri yang suka mengekang suami, suamiku mau nongkrong silahkan, suamiku mau minum, Monggo. Malah kadang aku yang kasih uang untuk beli minuman, kalaupun mau sampai mabuk aku tidak melarangnya asalkan harus minum di depanku.
Bukannya mendukung keburukan suami. Tapi aku tidak mau suamiku sembunyi-sembunyi di belakangku. Aku lebih suka kalau suamiku jujur. Tapi sejak hamil paksu jarang sekali peduli. Bahkan seringkali pulang saat subuh.
__ADS_1
Padahal aku tidak mau memikirkan hal itu, tapi tetap saja menjadi bahan pikiran. Kalau saja aku tidak hamil, aku akan biarkan dia pergi, mau pulang atau enggak aku tidak peduli.
Karena tidak mau terus-terusan stress dan berakibat pada janinku. Akhirnya aku memutuskan resigne lebih awal. Aku resign saat usia kandunganku tujuh bulan.