Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Arka dan Monika sudah berangkat keluar kota untuk menghadiri meeting dengan klien. Dan mungkin dia akan pulang terlambat hari ini. Tapi itu sudah Tidak menjadi masalah bagiku. Karena sudah ada Luna yang akan menemani kesepianku.


Luna datang menghampiriku yang sedang asik membaca majalah fashion. "Tante...Kita jalan-jalan yuk. Kemarin Luna lihat ada kolam renang di sini. Luna mau berenang" Pintanya.


Aku terdiam sejenak untuk berfikir, kalau aku menurutinya aku takut kalau saja aku bertemu dengan Farhan. Tapi kalau aku tidak menurutinya, aku nggak mau membuat Luna kecewa dan sedih.


"Tante?" Luna merengek.


"Eh iya sayang, kita nunggu om Arka libur aja ya?" Rayuku


"Yaaaahhh, kenapa nunggu om Arka libur sih. Masih lama. Luna maunya sekarang" Rengek Luna dengan mata yang mulai memerah menahan tangis. Aku mulai kebingungan dengan sikap Luna.


"Baiklah sayang, kita renang ya. Memangnya Luna bawa baju renang?" Tanyaku.


"Bawa, Luna udah siapin semuanya" Jawabnya tidak merengek lagi.


"Baiklah, Tante ganti baju dulu ya" Aku pun segera mengganti pakaianku. Menggunakan dress selutut, tanpa lengan yang membuatku sangat nyaman di cuaca panas seperti ini.


Aku mengirim pesan pada Arka kalau aku membawa Luna berenang di area hotel. Mungkin Arka masih sibuk sampai beberapa menit belum juga di baca. Aku dan Luna segera keluar kamar dan menuju lantai bawah dimana kolam renang itu berada. Aku duduk di tempat yang mudah untuk mengawasi Luna saat berenang.


"Tante nggak ikut renang?" Tanya Luna.


"Enggak ah. Luna aja ya yang renang"


"Oke Tante" Sahutnya.


"Jangan kesana ya, itu buat orang dewasa. Luna di sekitar sini aja renangnya" Aku menunjuk kolam yang memang khusus buat anak-anak. Luna mengangguk dan segera berlari menceburkan dirinya ke dalam air.


Melihat tawa bahagia Luna membuat hatiku merasa senang sekali.


"Boleh duduk disini?" Tiba-tiba ada suara yang mengejutkanku, tidak hanya suaranya saja, tapi orangnya juga sangat mengejutkanku. Farhan, berdiri tepat di sampingku.


"Baiklah, aku akan tetap duduk meskipun kamu belum mengijinkan" Tanpa menunggu jawabanku Farhan langsung duduk di kursi yang ada di sebelahku. Dan itu cukup membuatku membulatkan mata menatap tingkahnya.


"Hai, kenapa kamu hanya diam. Aku disini ingin menghabiskan waktu bersamamu. Ayolah... jangan memandangiku seperti itu. Bukankah ini yang kamu mau. Aku selalu ada waktu buat kamu" Ucap Farhan tanpa rasa bersalah.


Aku hembuskan nafasku kasar sebelum memulai berkata "Iya itu dulu, tidak untuk sekarang ataupun seterusnya. Karena aku sudah bersuami" Ucapku tegas.


"Suami?? aku tau itu. Tapi apa kamu mencintainya?" Tanya Farhan lirih.


"Iya, aku sangat mencintainya. Begitu juga dengannya, yang sangat mencintaiku" Aku alihkan pandanganku ke arah Luna.


"Bukannya kalian menikah karena di jodohkan. Bagaimana bisa kalian saling cinta? Apa ini sebuah drama?"


Aku kembali menatap Farhan " Drama? Apa menurut kamu aku orang yang pandai berakting? Perlu kamu tahu, cinta itu bisa tumbuh kapan saja, hanya saja butuh waktu."


"Lalu bagaimana perasaanmu padaku?" Farhan mencoba meraih tanganku yang aku letakkan di atas meja. Tapi dengan cepat aku menarik tanganku.


"Jadi kamu masih belum tahu bagaimana perasaanku padamu? Semua sudah hilang, lenyap, bahkan tak bersisa sedikitpun untukmu. Karena kamu sudah cukup banyak meninggalkan luka yang tak bisa lagi untuk di sembuhkan. Jadi untuk apa kamu tanyakan lagi bagaimana perasaanku terhadapmu. Sudahlah, biarkan aku bahagia dengan hidupku. Dan kamu bahagia dengan hidupmu. Jangan pernah lagi datang di hidupku. Karena itu akan membuat luka lama terbuka kembali" Berkata seperti itu, tak terasa air mataku menetes tanpa aku sadari.


Bagaimanapun juga dulu dia adalah lelaki yang sangat aku cintai.

__ADS_1


Farhan terdiam, bibirnya menyunggingkan senyum terpaksa padaku. "Aku minta maaf, aku menyesal sudah menyakiti hati kamu. Aku nggak tau kalau pada akhirnya itu semua akan membuat kamu begitu terluka. Maafkan atas semua perlakuanku terhadapmu dulu." Farhan menundukkan wajahnya. Kata-katanya terdengar begitu tulus. Aku merasa sedang berhadapan dengan orang lain, bukan Farhan yang selama ini aku kenal dengan suara kasarnya, bukan Farhan dengan sikap sombongnya. Tapi Farhan yang aku lihat sekarang adalah Farhan yang jauh berbeda.


"Kamu sadar kan dengan semua ucapanmu?" Tanyaku meyakinkan.


"Ya aku sadar. Asal kamu tahu setelah hubungan kita berakhir. Aku mencoba berhubungan dengan banyak wanita. Aku mencari sosok wanita sepertimu. Yang akan menolak saat aku mengajaknya untuk tidur. Tapi tak ada satu pun yang menolak. Semua bersedia, bahkan tanpa di beri ikatan pernikahan"


"Ternyata kamu belum berubah" Rasa simpatiku yang tadinya muncul kini kembali tenggelam setelah mendengar pengakuannya.


"Kamu salah, aku memang menawarinya untuk tidur, tapi setelah wanita-wanita itu mengatakan bersedia. Saat itu juga aku meninggalkannya tanpa berkata lagi. Aku semakin sadar hanya kamu wanitaku yang berharga. Aku minta maaf telah menyia-nyiakan mu ." Di akhir katanya terdengar kata maaf yang begitu lirih karena Farhan langsung menundukkan wajahnya tapi masih terdengar olehku.


"Jadi ini alasan kenapa sampai sekarang kamu masih memakai cincin pertunangan kita?"


"Iya"


Dengan ragu aku raih tangannya yang tadi ingin meraih tanganku. Perlahan aku genggam tangan itu.


"Apa kamu menyesal?" Tanyaku lembut. Farhan


Perlahan dia mengangkat wajahnya menghadap ke arahku. Aku terkejut saat melihat kedua matanya yang memerah dan berkaca-kaca. 'Apa ini Farhan, batinku.


"Aku sangat menyesali semua perbuatanku. Aku disini menunggumu karna aku ingin mengatakan semuanya padamu" Ucapnya lagi.


"Maksud kamu?" tanyaku penasaran.


"Sebenarnya aku disini karna ada meeting dengan klien. Tanpa sengaja aku melihatmu. Tapi di awal pertemuan kita, aku sudah membuat kesalahan, aku membuatmu takut. Aku ingin menemuimu lagi untuk meminta maaf. Jadi aku putuskan untuk tetap disini. Aku nggak ingin pulang sebelum bertemu denganmu. Mungkin Tuhan mendengar permintaanku" Jelasnya.


"Maafkan aku karena aku berburuk sangka terhadapmu." ucapku.


Aku lepaskan genggaman tanganku yang masih di balas dengan genggaman erat olehnya. "Maaf" Ucapku saat menarik tanganku. Sejenak suasana berubah menjadi hening. Sebelum Farhan mulai berkata lagi.


"Boleh aku meminta sesuatu darimu?" Tanya Farhan.


"Maaf, tapi apapun itu aku berhak menolaknya" Jawabku.


"Permintaanku tidaklah sulit. Hanya butuh waktu satu menit saja." Ucapnya.


Keningku mengernyit penasaran "Apa itu?"


"Aku ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya, semenit saja" Ucap Farhan, mataku kembali membulat melotot ke arahnya.


"Maaf karena aku menolaknya. Aku sadar , siapa aku sekarang ini. Aku seorang istri, dan tidak seharusnya aku mengabulkan permintaanmu" Jawabku kembali tegas.


"Ini lah sifatmu yang sangat aku sesali. Kamu tetap menjaga kehormatanmu" Ucap Farhan lagi.


"Karena gadis malam tidak semuanya berkelakuan buruk" Sahutku. Suasana kembali hening.


Luna berlari ke arahku, bibirnya mulai membiru dan sedikit menggigil karena kedinginan. Aku ambil handuk yang sudah aku persiapkan untuk menutupi tubuh mungilnya.


"Sudah berenangnya?" Tanyaku


"Belum, masih mau renang lagi. Adik kecil jangan rewel, tunggu kakak disini ya" Setelah minum jus jeruk miliknya, Luna mengusap perutku dan menciumnya. Lalu dia kembali berlari menuju kolam renang.

__ADS_1


"Siapa anak kecil itu? Apa dia anak tiri kamu? Lalu apa maksudnya dengan mengucap adek kecil? Apa kamu sedang hamil? " Tanya Farhan yang masih memperhatikan Luna. Aku terkekeh mendengar pertanyaannya.


"Anak? Kamu pikir papaku akan menikahkan ku dengan seorang duda beranak satu?"


"Lalu?"


"Luna itu anak orang. Aku dan suamiku sangat menyayanginya, sudah seperti anak sendiri. Dan mengenai hamil, iya aku memang sedang hamil anak pertama kami" Jawabku penuh senyum bahagia. Tapi tidak dengan Farhan, wajahnya menunjukkan raut yang sulit di tebak.


"Selamat ya, sebentar lagi kamu akan jadi orang tua" Ucapnya.


"Makasih. Apa kamu tidak ada pekerjaan lain?" Tanyaku


"Pekerjaan? Sudah aku katakan aku disini karena menunggu kamu. Jadi tidak ada pekerjaan apapun. Bagaimana dengan suamimu, apa dia baik terhadapmu?"


"Sangat baik" Jawabku singkat.


//*//


"Sayang, kamu kenapa diam saja. Nggak nafsu makan?" Tanya Arka yang ternyata dia memperhatikanku yang sedari tadi hanya mengaduk makanan di piringku.


"Eh, ini.. enggak, aku sedikit kecapekan kayaknya" Ucapku dan tentunya itu adalah sebuah kebohongan. Aku hanya memikirkan bagaimana aku harus menceritakan pertemuanku dengan Farhan. Karna aku nggak mau kalau sampai Arka mendengar dari orang lain. Apalagi ada Luna juga yang bersamaku. Anak yang masih polos seperti itu sudah pasti akan bercerita sejujurnya dengan apa yang dia lihat. Untung saja saat ini Luna susah tertidur pulas setelah bermain seharian. Jadi aku masih punya kesempatan untuk mengatakannya langsung.


"Kamu melamun saja daritadi, apa ada masalah?" Tanya Arka lagi.


"Kita makan aja dulu, ada sesuatu yang ingin aku katakan" Ucapku tanpa ekspresi.


"Baiklah... Habiskan makananmu ya. Karena punyaku sudah habis" Arka menunjukkan piring yang hanya menampilkan beberapa tulang ayam yang tersisa. Selama itu kah aku melamun? batinku.


"Ya sudah aku makan dulu" Ucapku.


Arka berjalan menuju balkon dan menutup kembali pintu sliding penghubung kamar dengan balkon. sepertinya dia sedang menikmati hembusan angin malam.


Aku menyudahi makananku yang masih tersisa banyak di piring. Nafsu makanku hilang saat aku memikirkan cara bicara dengan Arka nantinya.


Aku menyusul Arka yang masih di balkon. Kedua tangannya memegang pagar besi pembatas balkon, matanya menerawang jauh.


Perlahan tanganku menelusup ke pinggangnya. Memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalaku di belakang punggungnya. Tangan Arka bergerak mendekap tanganku yang ada di depan perutnya. Mengusap tanganku perlahan.


"Aku minta maaf" Ucapku lirih membuka pembicaraan. Arka melepaskan genggaman tanganku, lalu dia membalikkan badannya menghadap ke arahku.


Aku hanya bisa menunduk di hadapannya. Tangan Arka membelai rambutku yang tergerai bebas di hembus angin dan menyelipkan di balik telingaku. Jemarinya mengangkat daguku agar matanya bisa menatap mataku secara langsung.


"Maaf ? maaf untuk apa?" Tanya Arka.


"Aku...aku...tadi aku bertemu dengan Farhan" Jawabku terbata. Arka mengernyitkan dahinya. Tapi masih terdiam menungguku melanjutkan ucapanku.


"Tadi secara tidak sengaja aku bertemu dengannya. Tapi kamu jangan khawatir dia tidak menyakiti aku. Aku baik-baik saja" Ucapku lagi. Arka masih menatapku dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Dia hanya menyampaikan permintaan maaf terhadapku. Karena selama ini dia selalu menyakitiku." ucapku lagi.


"Apa kamu masih mencintainya?" Tanya Arka.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku "Tidak sedikitpun" Arka langsung menarik tubuhku ke dalam pelukannya dan mencium keningku cukup lama. Aku pejamkan mataku merasakan hangatnya pelukan Arka.


__ADS_2