Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Menjelang malam Arka masih sibuk dengan pekerjaannya di temani dengan pisang goreng yang tadi sore dia beli. "Sayang, ini udah malam. Cepet istirahat" Bujukku


"Iya sebentar sayang. Nanggung nih dikit lagi. Kamu tidur duluan ya" Ucap Arka.


"Nggak mau, aku maunya di temenin ma kamu" Rengekku sambil bergelayut manja di lengannya.


"Kenapa manja gini sih. Aku temenin tapi aku sambil kerja ya" Ucap Arka.


"Nggak mau. Aku maunya kamu juga ikut tidur. Kamu kan juga capek sayang, seharian kerja, sekarang waktunya istirahat kamu malah masih kerja. Kalau kamu sakit gimana?"


"Jangan doain sakit dong. Doain aku selalu di beri nikmat sehat ya" Arka menangkupkan tangannya di sebelah pipiku.


"Aku nggak doain sakit. Aku cuma mau sekarang kamu istirahat biar nggak kecapekan." Tegasku.


"Iya sayang, bentar lagi. Nanggung nih, tiga puluh menit lagi ya. Kamu tidur sini aja. Nanti biar aku yang pindahin ke ranjang" Ucap Arka mencoba merayuku.


"Bener ya tiga puluh menit"


"Iya sayang. Sini deh." Arka menyuruhku tidur di pangkuannya. Aku nggak bisa nolak. Aku nurut saja. Aku rebahkan tubuhku dan paha Arka menjadi tumpuan kepalaku.


"Sayang, kepalaku sedikit pusing" Ucapku.


"Pasti kamu kecapekan karena seharian berada di luar. Biar aku pijitin ya" Ucapnya.


Tangan kanan Arka sibuk dengan laptopnya. Sedangkan tangan kirinya sibuk memijat lembut kepalaku. Mata yang semula sudah ngantuk sekarang sudah tidak lagi. Aku tatap wajah Arka yang serius menatap layar laptopnya. Sesekali wajah itu berubah serius, sesekali senyum juga menghiasi bibirnya.


Mataku terus menatap wajahnya tanpa Arka sadari. Matanya terlihat mulai lelah dan mulutnya beberapa kali menguap. Lalu dia menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Perlahan tangan yang memijat kepalaku mulai melemah. Sepertinya Arka tertidur karena kelelahan.


Aku bangun perlahan agar tidak membangunkannya. Layar laptop masih menyala, dan berkas-berkas masih berantakan di atas meja. Aku bereskan berkas-berkas itu dan mematikan layar laptop.


Kepalaku terasa pusing sekali. Apa mungkin karena kecapekan seharian ini berada di luar, seperti yang di katakan Arka.


"Sayang, pindah ke sana yuk. Sayang.." Aku mencoba membangunkan Arka perlahan, karena nggak tega melihatnya tidur dengan posisi duduk seperti ini.


" Ehm... iya sayang, tunggu bentar aku harus ..." Arka gelagapan dan terkejut melihat meja yang sudah rapi.


"Harus apa... Sudah sana istirahat. Jangan bantah lagi. Aku tau kamu kecapekan. Sekarang tidur disana dan nggak ada alasan lagi" Ucapku dengan tegas.


Arka tidak berkata-kata lagi. Kedua tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Dengan langkah yang lesu dia berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di kasur. Aku pun mengikutinya dan merebahkan tubuhku di sampingnya.


Dengan rasa gugup aku lingkarkan tanganku di atas dadanya. Arka memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku. Tangannya melingkar di pinggangku. Matanya tetap terpejam. Pasti dia benar-benar kelelahan. Tidak menunggu waktu lama kami sama-sama terlelap.


//"_"//


Menjelang subuh mataku terbuka sebelum alarm berdering. Kepalaku terasa semakin berat. Aku paksakan untuk bangun dan duduk. Aku perhatikan Arka yang masih tertidur pulas di sampingku. Dengan sekuat tenaga aku coba berjalan menuju kamar mandi. Sampai di kamar mandi aku lakukan niatku untuk buang air kecil setelah selesai aku coba berdiri dengan perlahan. Seketika semua terasa gelap. Aku hampir terjatuh untung saja tanganku berhasil berpegangan tembok yang ada di sampingku. Sehingga aku terjatuh di atas closet yang sudah aku tutup.


Aku terdiam sejenak, mengumpulkan tenaga untuk bangkit lagi.


"Sayang, kamu kenapa?" Tiba-tiba Arka masuk ke dalam kamar mandi yang memang tidak aku tutup pintunya dan menghampiriku yang masih terduduk lemas di atas closet.


"Aku nggak apa-apa, hanya pusing" Jawabku dengan mata terpejam.


"Tadi aku mendengar suara berisik, apa kamu jatuh?" Tanya Arka dengan panik.


Aku mengangguk" Tapi nggak apa-apa aku jatuhnya disini"

__ADS_1


"Kenapa kamu nggak bangunkan aku kalau kamu sedang sakit gini" Ucap Arka yang berusaha membantuku bangun.


Seperti tenaga yang sudah terkuras habis untuk berdiri pun aku mengalami kesulitan. Tanpa pikir panjang Arka langsung membopong tubuhku dan merebahkan ku di ranjang.


Arka melepas pakaian tidurnya dan menggantinya dengan kemeja. "Sayang kamu mau kemana?" Tanyaku.


"Aku akan bawa kamu ke dokter" Ucap Arka.


"Nggak usah sayang, aku hanya pusing. Di pake tidur juga nanti hilang pusingnya." Tolakku.


"Tapi kamu sampai lemas kayak gini. Kita ke dokter sekarang" Arka kembali menegaskan.


"Kamu saja yang ke dokter. aku nggak mau"


"Sayang, kamu lagi sakit. Ayo lah jangan membantah" Bujuk Arka.


"Pokoknya aku nggak mau"


Arka menghela nafas panjang dan membuangnya dengan kasar. Lalu dia duduk di tepi ranjang tepat di sampingku.


"Terus kamu maunya apa?" Ucap Arka sedikit kesal.


"Aku mau tiduran aja. Mungkin aku memang kecapekan karena kemarin berada di luar. Jangan marah lagi ya. Aku cuma nggak mau ngerepotin kamu" Aku raih tangan Arka dan mengusapnya.


"Sama sekali aku nggak merasa di repotkan. Kamu tanggung jawabku aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu. Aku nggak bisa lihat kamu sakit" Ucap Arka lirih.


"Aku nggak apa-apa sayang. Udah subuh tuh mandi sana aku mau tidur lagi" Sedikit aku dorong tubuh Arka agar segera mandi.


Arka menatapku, tanpa berkata lagi Arka berdiri dan melepas kemeja yang baru saja dia pakai dan menggantungnya kembali.


//"//


Arka membawa nampan yang berisi semangkok bubur ayam dan segelas air putih hangat.


"Sayang jam berapa ini?" Tanyaku sambil berusaha duduk.


"Jam delapan. Aku nggak tega bangunin kamu, kamu tidurnya pulas banget. Tapi aku juga nggak mau kamu telat makan." Ucap Arka.


"Kok kamu nggak ke kantor?" Tanyaku


"Bagaimana mungkin aku tinggalin kamu dalam keadaan sakit begini. Aku sudah bicara sama Monika aku nggak masuk kerja hari ini" Ucap Arka


"Sayang, udah aku bilang aku nggak apa-apa. Kalau kayak gini aku jadi benar-benar ngerepotin kamu" Gerutuku.


"Aku sudah bilang sama sekali aku nggak merasa di repotkan."


"Tapi aku ganggu kerjaan kamu" Ucapku.


"Kamu lebih penting daripada pekerjaanku"


"Sayang, sudahlah aku bukan anak kecil. Aku bisa jaga diri. Sekarang kamu pergi ke kantor, bukannya hari ini kamu ada janji sama klien penting?" Bujukku.


"Sudah aku cancel semua pertemuan hari ini. Yang nggak bisa aku cancel sudah aku serahkan pada Monika"


"Kenapa kamu menyerahkan tanggung jawabmu pada orang lain"

__ADS_1


"Sayang, sudahlah. Aku nggak mau berdebat denganmu. Sekarang kamu makan ya?" Arka menyodorkan bubur di hadapanku.


"Aku nggak mau makan" Aku palingkan wajahku.


"Jangan kayak anak kecil. Ayo makan" Bujuk Arka lagi.


"Nggak mau. Sudah aku bilang aku nggak mau makan. Kamu aja yang makan." Aku kembali merebahkan tubuhku. Dan menutup wajahku dengan selimut.


"Terus mau kamu apa?" Tanya Arka.


Aku buka selimut yang menutupi wajahku. "Aku akan makan kalau kamu berangkat kerja hari ini" Ucapku.


"Baiklah kalau itu mau kamu" Arka segera berdiri dan mengambil pakaian kerjanya.


Sedangkan aku mengambil nampan yang berisi bubur ayam. Kelihatannya enak banget lengkap dengan taburan ayamnya banyak di tambah lagi ada sate usus dan hati ayam kesukaanku.


Aku makan dengan lahap, karena rasanya memang enak. Tapi baru suapan ketiga tiba-tiba perutku terasa mual dan ingin muntah. Aku letakkan nampan tadi di atas kasur. Aku segera turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Tapi benar-benar sial belum sampai di kamar mandi aku sudah memuntahkan makanan yang ada di perutku.


"Sayang, kamu kenapa ?" Arka menghampiriku.


Aku abaikan dia karena perutku terasa seperti di aduk-aduk. Aku berlari ke kamar mandi dan Arka seperti mengikutiku. Sampai di wastafel aku mengeluarkan semua yang ada di dalam perutku. Arka mengurut lembut tengkuk leherku. Sehingga membuatku sedikit rileks.


Setelah mulai mereda "Kamu kenapa sayang, kita ke dokter ya" Arka menyeka keringat dingin yang ada di keningku dengan tangannya.


Aku tak menjawab pertanyaan Arka. Rasa lega bercampur lemas setelah mengeluarkan isi perutku. Aku basuh wajahku dengan air dan membiarkan air itu menetes dengan sendirinya.


"Aku ambil handuk dulu" Arka mengambil handuk yang ada di gantungan dan menyeka wajahku.


Setelah itu Arka membopong tubuhku dan merebahkanku di ranjang. Lalu Arka pergi tak lama kemudian aku melihatnya membersihkan muntahanku yang ada di dekat kamar mandi.


Mulutku terasa mencekat tak bisa bicara. Antara enggan dan tak punya tenaga. Aku mendengar Arka berbicara dengan seseorang di telepon. Tapi tidak terdengar dengan jelas.


Arka duduk di sampingku, tangannya menggenggam erat tanganku. Aku hanya membalasnya dengan senyum. Dalam hati aku hanya berkata. Maafkan aku yang menjadi bebanmu.


"Jangan paksa aku untuk pergi ke kantor. Karna aku akan menolaknya. Aku akan tetap disini nunggu kamu sampai kamu sembuh." Tak ada kata yang aku ucapkan. Aku hanya mengangguk mengiyakan.


Untuk beberapa waktu kami saling diam, hanya mata kami yang saling beradu. Sampai terdengar pintu kamar di ketuk.


Arka membukakan pintu dan seseorang ikut masuk ke dalam kamar. Seorang perempuan berhijab yang berpakaian rapi dengan sebuah tas di tangannya.


"Mari silahkan, ini istri saya sedang sakit. Mulai tadi malam mengeluh pusing. Tadi pagi sempat mau pingsan. Barusan makan bubur beberapa suap tapi langsung muntah-muntah. Kira-kira kenapa ya dok?" Tanya Arka pada wanita itu yang ternyata dokter.


"Sebentar ya pak, saya periksa dulu." Dokter itu mengeluarkan beberapa alat dari dalam tasnya, mulai dari termometer, stetoskop, dan juga tensimeter. Dengan sangat lembut dokter itu memeriksaku bagian demi bagian.


Saat memeriksa bagian perutku, dahi dokter itu mengerut dan membuatku cemas. Kemudian dokter itu tampak tersenyum, sehingga membuatku bingung.


"Semuanya bagus, tekanan darah normal, suhu tubuh normal, dan perutnya juga tidak ada masalah. Kalau boleh saya tahu kapan anda terakhir menstruasi?" Tanya dokter itu.


"Saya nggak ingat dok." Jawabku.


"Terakhir kamu menstruasi bukannya waktu kita ke dokter itu kan sayang. Waktu kamu sakit perut" Arka menimpali.


"Iya"


"Itu sudah sebulan lebih."Jawab Arka.

__ADS_1


"Begini pak, Bu. Setelah saya periksa tidak ada tanda sakit lambung ataupun mag. Kemungkinan besar anda sedang hamil. Tapi saya juga tidak bisa memastikan. Lebih baik anda periksa ke rumah sakit supaya tahu pasti tentang kehamilan anda. Nanti di sana akan di lakukan uji lab ataupun USG jadi akan tahu pasti anda hamil atau tidaknya" Jelas Dokter itu.


Mendengar penjelasan dokter wajah Arka seketika berubah. Wajah yang tadinya tampak panik sekarang berubah seolah dia mau tertawa dengan sangat keras.


__ADS_2