Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Kedatangan mertua


__ADS_3

Setelah berganti pakaian Arka mengajakku untuk segera turun karna katanya mamah dan keluarganya sudah datang.


Saat menuruni tangga Arka merangkulkan tangannya ke pundakku sedangkan aku melingkarkan tanganku ke belakang pinggangnya.


Di ruang tamu sangat ramai sekali. Ada Ayahnya Arka dan juga tiga wanita berhijab yang sama sekali aku tidak mengenalnya , mungkin wanita yang setengah baya itu mamah Arka, alias mertuaku. Karna yang aku kenal hanya Ayahnya saja.


Arka menyalami wanita yang paling tua diantara mereka bertiga, mencium tangannya dan memeluknya. Arka juga menyalami kedua wanita itu, tapi kali ini tangan Arka yang mereka cium.


"Sayang kenalin ini mamahku, adikku, dan ini Aisyah?" Arka memperkenalkan satu persatu wanita itu.


"Halo Tante" Ucapku sambil melambaikan tangan. Semua orang yang ada menatapku sampai tercengang.


"Sayang, cium tangan mamahku" Bisik Arka lirih di telingaku.


Aku pun mendekati mamah Arka, mengulurkan tangan kananku dan mencium punggung tangannya.


"Maaf ya Tante" Ucapku setelah mencium tangannya.


"Jangan panggil Tante, panggil saja mamah, sama seperti Arka" Mamah Arka berkata dengan sangat lembut .


"Eh iya Tante, eh mamah" semua orang tertawa mendengar perkataan ku.


"Ini pasti Rani ya" Tebakku pada gadis manis di sebelah mamah Arka.


"Iya teteh, ini adik Aa' Arka"Jawabnya dengan senyum yang menambah kecantikannya.


"Kalau ini siapa tadi namanya, Aisyah ya?" Tanyaku. Sebuah nama yang tidak asing di telingaku.


"Iya teh, saya Aisyah, saya teman Aa' Arka."


"Aisyah ini seorang perawat di Rumah Sakit, tapi dia juga jadi perawat mamah. Kalau ada waktu senggang, Aisyah ini yang mengurus mamah. Saat ini dia libur makanya mamah ajak kesini. Biar bisa merawat mamah juga. Nggak papa kan sayang?" Arka menjelaskannya padaku.


"It's Ok sayang." Aku menatap mata Arka.


Mama dan papaku hanya terdiam dengan tingkahku.


Mereka pun bercerita panjang lebar. Begitu juga papa dan mama, seolah mereka sedang bernostalgia menceritakan masa lalu yang pernah dijalani bersama. Aku hanya terdiam mendengarkan obrolan mereka.


Sesekali aku melihat mereka satu persatu, dan tak sengaja mataku menatap Aisyah yang tertangkap mataku sedang memandang Arka dengan tatapan yang berbeda.


Aku baru ingat sekarang, Kak Bayu pernah menceritakan pacar Arka, yang namanya juga Aisyah. Apa ini Aisyah pacar Arka. Cantik juga sih. meskipun tanpa make up tapi dia tampak begitu cantik secara natural. Wajar saja jika Arka menyukainya.


"Sayang aku mau ke belakang dulu ya, mau menyiapkan camilan" Mama yang mendengar ucapanku, seketika menatap tajam ke arahku.


"Aku ikut ya? Biar aku bantu" Tawar Arka sambil menggenggam lenganku.


"Nggak perlu sayang, kamu disini saja, kan lagi ada orang tua kamu" Tolakku secara halus. Dia pun tersenyum dan duduk kembali.


"Kalau begitu biar saya saja yang bantu ya teh?" Aku pun menoleh ke arahnya, Aisyah langsung berdiri dari duduknya.


"Boleh" Jawabku dengan tersenyum.


Aku berjalan menuju ruang tengah di ikuti Aisyah si belakangku. Di dalam sudah ada mbok Imah yang daritadi sibuk menata aneka kue kering ke dalam box.


"Mbok, ngapain?" Tanyaku.


"Ini non" jawaban mbok Imah menggantung tapi aku paham apa yang di maksud, tangannya sibuk memasukkan kue-kue itu ke dalam box.


"Mbok, aku minta dong buat di bawa kedepan. Soalnya di depan nggak ada makanan" Dengan cepat Mbok Imah mengambil beberapa jenis kue kering dan juga bolu yang ada.


"Sebentar ya mbok, aku ambil piring dulu" Aku melangkahkan kaki ke dapur, mencari piring buat hidangan. Cukup lama mencarinya aku tidak menemukan dimana letak piring itu. Jujur saja aku nggak pernah masuk dapur. Jadi nggak tau dimana letak alat-alat dapur tersimpan.


"Mana piringnya teh?" Suara Aisyah mengagetkanku yang masih sibuk mencari.

__ADS_1


"Eh ini, nggak tau dimana di simpannya. Atau mungkin belum beli kali piringnya." Ucapku, dan Aisyah menghampiriku. Dia membuka lemari kaca yang ada di sebelahku, dan mengambil piring di dalamnya. Bagaimana dia bisa tau tempatnya, kan baru pertama kali dia kesini.


"Ini piringnya teh, pakai ini saja" Dia mengambil beberapa piring dan memberikannya padaku.


"Oh makasih ya." Aku menerimanya,Aisyah tersenyum melihatku.


Kemudian aku keluar dari dapur dan menghampiri mbok Imah. Menata kue satu persatu di piring.


"Aisyah nanti kamu bawa keluar ya, soalnya aku mau istirahat dulu." Ucapku pada Aisyah.


"Iya teh, nanti saya bawa keluar. Teteh istirahat saja dulu. Apa teteh mau di buatin minum?" Tawar Aisyah.


"Boleh deh, buatin lemon tea ya tanpa gula." Jawabku.


Tak lama kemudian Aisyah kembali dengan membawakan minuman yang aku minta.


"Makasih ya" Ucapku kemudian meneguk minuman itu.


Aku merebahkan tubuhku di sofa yang ada di ruang tengah. Aku rebahan sambil memainkan ponselku. Sudah lama aku tidak pernah chat sama teman-temanku. Terutama sama Alda, rasanya kangen banget.


Dulu dia selalu ada menemaniku kemanapun aku pergi. Bahkan dia selalu memberikan apa yang aku inginkan. Tapi karena keegoisanku Alda menjauhiku, bahkan dia juga tidak pernah mengirimkan chat padaku, meskipun hanya sekedar say hello.


Aku membuka foto-foto yang ada di ponselku. Foto saat bersama dengan Alda. Aku tersenyum saat melihat video kejahilannya di hari ulang tahunku. Aku benar-benar merindukannya.


Ingin menceritakan semua yang aku rasakan saat ini. Bercerita tentang kebahagiaanku setelah menikah. Tak terasa air mata kerinduanku menetes.


"Hayo lagi mikirin apa?" Suara Arka membuatku terkejut. Dengan cepat aku mengusap air mataku, agar Arka tidak melihatnya.


Arka melihat layar ponselku yang masih menyala. Terpampang fotoku bersama Alda. Aku segera mematikan layar ponselku.


"Kamu kenapa, apa kamu merindukan sahabatmu itu?" Arka mencoba menebak apa yang aku pikirkan.


"Enggak kok, aku hanya liat-liat doang. Tadi nggak sengaja aja pas kamu kesini foto itu yang terlihat" aku mencoba mengelak perkataan Arka.


"Kok kamu disini ?" Tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Papa dan mama sudah pulang" Jawab Arka.


"Terus mamah kamu?" Tanyaku lagi.


"Ada masih ambil barang di mobil, nanti biar mereka tidur di kamar atas ya" Pinta Arka, aku pun mengangguk menyetujuinya.


"Aku mau bantu mereka bawain barang dulu ya" Tanpa menunggu jawabanku Arka langsung pergi meninggalkanku.


"Aisyah, sini tasnya aku saja yang bawa" Aku mendengar Arka bicara pada Aisyah. Aku langsung duduk melihat ke arahnya.


Arka mengambil tas yang di bawa Aisyah. Dan mereka berjalan berdampingan. Bahkan Arka tidak menoleh ke arahku, ketika mereka berjalan melewatiku. Aku terus memperhatikannya sampai mereka menaiki tangga.


"Non, saya permisi ke atas dulu ya" Tegur Ayah Arka.


" Eh iya, silahkan. Biar Arka yang menunjukkannya, Arka ada di atas." Jawabku.


Rani tersenyum menyapaku saat akan menaiki tangga. Aku pun membalas senyumannya.


Semua orang sudah pergi ke lantai atas. Tinggal aku saja yang masih terdiam di sini. Aku beranjak dari dudukku dan berlari kecil menaiki tangga.


Sesampainya di ujung tangga langkah kakiku terhenti. Aku melihat Arka sedang bercanda dengan adiknya. Lalu Arka meletakkan kepalanya perlahan di pangkuan mamahnya. Tangan kiri mamahnya membelai lembut kepalanya. Arka meraih tangan kanan wanita itu, sesekali Arka menciumi tangan itu.


Terlihat jelas kedekatan antara Arka dengan mamahnya. Sedangkan Rani begitu dekat dengan Ayahnya. Dia duduk di sebelah ayahnya. Tangan lelaki yang seumuran dengan papaku itu merangkul pundak putrinya. Begitu tergambar jelas keharmonisan keluarga ini. Mereka tampak bahagia meskipun hidupnya jauh dari kata mewah.


Air mataku menetes melihat pemandangan ini. Mengapa aku tak bisa seperti mereka. Hidupku penuh dengan kemewahan, bisa membeli semua barang mahal yang aku inginkan, tapi aku tidak bisa membeli kehangatan keluarga dengan uang.


Rani tak sengaja melihatku berdiri di ujung tangga. Dia mengangkat alisnya memberitahu Arka, agar melihat ke arahku.

__ADS_1


Lalu Arka duduk dan menoleh ke arahku. Buru-buru aku memalingkan wajahku. Aku usap air mataku. Arka berjalan menghampiriku.


"Kenapa berdiri disini?" Tanya Arka saat dekat denganku.


"Nggak apa-apa, aku hanya melupakan sesuatu" Aku pun berbohong padanya.


"Ya sudah ayo sini, kumpul bareng." Ajak Arka seraya menggandeng tanganku untuk gabung bersama keluarganya.


Aku menurutinya, Arka mendudukkanku diantara dirinya dan mamahnya.


Jemari wanita tua ini dengan lembut membelai rambutku, dan menyelipkannya di belakang telingaku. Aku hanya diam merasakan kelembutan belaian tangannya.


"Kamu cantik sekali" Ucap mamahnya perlahan. Aku tersenyum mendengarnya.


"Iya dong mah, Aa' kan kan cakep, jadi cocok kalau dapet istri yang cantik" Celetuk Rani yang dilanjutkan dengan suara tawanya. Ayahnya pun mencubit hidungnya yang kecil dan mancung itu. Aku pun ikut tertawa.


"Dimana Aisyah, kok nggak kelihatan?" Tanyaku


"Dia masih di kamar sedang menerima telpon dari ibunya" Jawab Mamah Arka. Aku pun mengangguk.


Rasa kantuk mulai menyerang ku, tapi aku coba untuk menguatkan mataku. Biarpun mulutku tidak sinkron dengan otakku, hingga berkali-kali mulutku ini menguap dan mataku sampai berair. Mau meninggalkan mereka aku merasa nggak enak.


"Non, kalau non capek, istirahat saja di kamar. Kami masih ingin berbincang dulu melepas rindu sama Arka, bolehkan?" Tanya ayah Arka.


"Tentu saja boleh. Tapi dengan satu syarat" Ucapku.


"Hah syarat, apa itu teh syaratnya?" Ucap Rani.


"Jangan panggil saya non, bagaimana pun juga saya kan menantu" Ucapku, yang membuat semua bengong, dan akhirnya tersenyum semua.


Arka meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Aku pun membisikkan kata di telinganya "Aku ngantuk"


Berharap agar Arka mengantarku ke kamar, karna nggak sopan jika aku harus pergi sendiri.


Tak lama kemudian Aisyah keluar dari kamar. Yang membuatku mengurungkan niat untuk masuk kamar. Karna aku tidak akan membiarkan Arka dekat dengannya. Bagaimanapun juga mereka pernah saling mencintai. Dan rasa itu nggak mungkin hilang begitu saja.


Aisyah berjalan mendekati mamah Arka, dan memberikan segelas air.


"Waktunya minum obat, maaf ya Aisyah lama nelponnya." Ucap Aisyah dengan suara yang ramah sekali.


"iya nggak apa-apa, lagipula ini juga masih ngobrol-ngobrol." Jawab mamah Arka sambil menerima beberapa obat dari tangan Aisyah dan meminumnya.


"Katanya ngantuk, ayo aku temani ke kamar" Ajak Arka.


"Nggak mau, aku mau disini saja" Jawabku.


"Ya sudah sini, sambil tiduran" Ucapnya sambil menepuk pahanya, agar aku tidur di pangkuannya.


"Kalau ngantuk, tidur saja duluan nggak apa-apa kok." Mamah Arka menyentuh pundakku.


"Enggak mah disini saja, nggak apa-apa kok. Masih kuat melek" Ucapku lirih.


Arka menggandeng tanganku agar pindah duduk ke sofa satunya. Arka duduk di ujung sofa.


"Sudah tidur disini saja. Aku tau kok pasti kamu takut ya di kamar sendirian" ledek Arka.


"Hehehe iya" Jawabku. Padahal bukan itu alasan sebenarnya.


"Kalau masih baru pindah ya gini, pasti ada rasa takut. Tapi kalau nanti sudah terbiasa pasti nggak takut lagi" Ayah Arka pun ikut menimpali.


Akhirnya aku pun menyandarkan kepalaku di paha Arka. Aku naikkan kakiku ke atas sofa. Aku ambil posisi miring membelakangi Arka. Arka mengusap-usap samping kepalaku, yang sekarang berada di posisi atas. Aku memejamkan mataku yang memang sudah menahan kantuk dari tadi.


Mereka masih terus berbincang membahas keseharian mereka masing-masing. Sesekali mereka tertawa bersama. Dan lama-lama suara dan tawa itu terdengar sayup-sayup dan menghilang.

__ADS_1


__ADS_2