
Apa yang di katakan papa sangat benar sekali. Aku tidak boleh mempercayai sebuah berita yang belum tentu kebenarannya.
Seperti yang di sampaikan papa pada awalnya, papa mengatakan kalau Arka berbuat asusila terhadap klien nya. Tanpa bertanya dan tanpa berpikir panjang aku mempercayainya, darahku terasa mendidih, panas sekali mendengarnya.
Sungguh sakit rasanya di khianati, apalagi oleh suami sendiri. Tidak menyangka kalau Arka berbuat Setega itu terhadapku. Itulah yang ada dalam pikiranku saat mendengar perkataan papa.
Ternyata yang aku dengar sangat salah. Bodohnya aku yang langsung percaya begitu saja. Seharusnya aku bisa bersikap lebih dewasa menghadapi setiap masalah.
Tak bisa aku bayangkan apabila aku mendapat hasutan dari orang lain. Pasti aku akan langsung percaya begitu saja, tanpa bertanya dan mencari tahu kebenarannya terlebih dulu.
Bahkan papaku saja tidak percaya jika ada yang mengatakan keburukan suamiku. Malah aku yang sebagai istrinya meragukan kesetiaan suamiku sendiri. Bodohnya aku...
Penasaran dengan apa yang di lakukan klien papa terhadap Arka. Tanpa sepengetahuan Arka aku meminta rekaman cctv pada papa.
"Buat apa?" Tanya papa saat aku meminta rekaman cctv.
"Mau membuktikan kalau ucapan papa memang benar" Jawabku.
"Apa yang membuatmu ragu dengan kesetiaan suamimu sendiri. Berhenti kamu mencurigai Arka. Dia itu suami yang setia, tidak mungkin dia berbuat macam-macam di belakang kamu"
"Iya pa, aku percaya dengan suamiku. Aku hanya ingin tahu saja apa yang di lakukan klien papa terhadap Arka"
Beberapa saat setelah panggilan berakhir. Papa mengirimkan rekaman cctv melalui aplikasi hijau. Tapi saat aku akan memutarnya, rasa ngantuk mulai mendera.Aku urungkan niatku. Aku lebih memilih untuk tidur.
Sedangkan Arka dia sedang menyaksikan acara bola favoritnya. Dia milih nonton di pos jaga bersama security. Karena kata dia nggak seru kalau nonton bola hanya sendiri. Apalagi kalau nonton di kamar sendirian dia tidak bisa berteriak. Kalau di pos jaga dia bebas berteriak ataupun berjingkrak.
Mataku ngantuk, tapi sulit sekali untuk terlelap. Dua jam berlalu hanya kegelisahan yang aku dapat. Miring ke kiri, ke kanan, balik lagi telentang. Tapi tidak bisa membuatku nyaman.
Aku langsung bangkit dari tidurku. Menuruni ranjang dan mencari keberadaan Arka. Sampai di pos jaga, Arka tidak menyadari kedatanganku. Dia sedang asyik main catur.
"Ehem" Aku berdehem,tapi tidak ada yang menoleh
"Ehem ehem" Aku ulangi lagi,dan berhasil membuat mereka bertiga menoleh ke arahku.
"Sayang, kok kamu belum tidur? Ngapain kesini? Mau ikutan mereka jaga di pos?" Ucapan Arka disambut tawa.
"Iihh kamu. Aku nggak bisa tidur sendiri" Rengek ku.
"Mau di temenin?" Aku pun mengangguk. Lalu Arka bangkit dari duduknya dan mendekati ku.
"Ya udah ayok" Arka mengandeng tanganku setelah dia berpamitan.
__ADS_1
"Sayang, aku lapar. Aku pengen makan" Ucapku kala kami memasuki rumah dan mengunci pintunya.
"Mau makan apa?"
"Mau bakso bakar" Aku meringis memperlihatkan deretan gigiku.
"Bakso bakar? dimana ada jam segini sayang. Liat ini sudah jam berapa? Sudah hampir jam satu" Aeka terlihat frustasi.
"Di kulkas kan ada stok bakso sama sosis jumbo. Bisa tuh bikin bakso bakar"
"Sebentar aku lihat dulu" Arka membuka kulkas dan mencari keberadaan bakso.
"Ada nggak?" Tanyaku.
"Ada nih?" Arka mengeluarkan beberapa bungkus bakso kemasan siap saji. " Biar aku saja yang bikin kamu duduk saja disana menunggu baksonya matang"
Aku hanya menurut. Aku duduk bersandar di sofa menunggu pesananku di buat. Tidak lama kemudian aroma bumbu yang terbakar menguar menusuk hidungku. Terasa nikmat meskipun hanya aromanya saja yang masuk ke hidung.
Tak perlu menunggu waktu lama. Bakso bakar sudah tersedia di hadapanku.
"Hmmm aromanya nikmat sekali" Pujiku.
"Hmmm enak sekali. Aku yang habisin ya. Kamu nggak boleh minta. Kalau pengen, bikin sendiri"
"Iya sayang, kamu habisin juga boleh kok. Aku nggak akan minta. Nanti kalau kurang biar aku yang membuatnya lagi"
Arka mengusap rambutku. "Kalau kamu mau sesuatu, kamu tinggal bilang saja. Meskipun aku nggak punya kantong ajaib. Tapi aku bisa kok memberikan apa yang kamu minta?"
"Emangnya Doraemon?" Arka pun tertawa.
Tak terasa bakso bakar yang Arka buat sudah ludes termakan.
"Mau lagi?"
"Sebenarnya masih mau lagi, tapi aku sudah ngantuk sekali. Sudah nggak kuat."
"Mau ke kamar sekarang?" Aku pun mengangguk . Arka sudah bersiap untuk mengangkat tubuhku.
***
"Sayang, aku minta maaf ya sudah meragukan kesetiaan kamu. Tidak seharusnya aku bersikap kekanak-kanakan"
__ADS_1
Aku berucap kala kami sama-sama sedang terbaring di ranjang. Karena menurutku, disaat seperti inilah kita bisa bicara dari hati ke hati.
"Kan tadi kamu sudah minta maaf di depan papa"
"Tapi aku benar-benar merasa bersalah. Aku merasa berdosa karena sudah meragukan kamu"
"Iya sayang, aku maafin kamu. Aku minta hal seperti ini tidak terjadi lagi. Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, kamu tanyakan langsung padaku, jangan bertanya kepada orang lain. Mengerti kan?"
"Iya sayang aku mengerti. Aku janji nggak akan mengulanginya lagi"
Arka menarik tubuhku agar lebih mendekat lagi. Di peluknya tubuhku dan di kecup keningku.
"Aku boleh nanya?"
"Mau tanya apa?"
"Sayang, kenapa kamu menolak Bu Sarah. Dia kan wanita cantik, kaya, modis, single dan masih banyak lagi kelebihannya. Kenapa nggak kamu terima aja?"
Kenapa aku ini, kenapa aku malah bertanya dengan pertanyaan yang konyol.
"Menurut kamu, aku tertarik dengan kelebihannya?" Bukannya menjawab Arka malah balik bertanya.
"Ya Aku nggak tahu"
"Jawabanmu sudah jelas kalau kamu memang meragukan kesetiaanku. Sekarang aku mau tanya sama kamu, menurutmu apa aku harus menerima kemauan Bu Sarah? Rasa curigamu seolah memaksaku untuk berbuat yang sebenarnya tidak kamu inginkan"
"Apa maksudmu?"
"Kamu menginginkan, supaya aku menjual rasa setiaku. Kamu mau aku menukar rasa setiaku dengan kelebihan yang dia miliki, padahal kamu sendiri tidak mau aku melakukannya kan? perlu kamu ingat, setia itu mahal tidak bisa di tukar dengan apapun"
Suara Arka terdengar seperti emosi yang tertahan.
"Bukan begitu maksudku sayang. Aku...." Ucapanku terhenti kala Arka kembali berbicara.
"Sudahlah, lebih baik sekarang kamu tidur. Kamu butuh istirahat, begitu juga denganku"
Arka memeluk tubuhku, dan dia langsung memejamkan matanya. Mungkin hari ini hari yang melelahkan bagi Arka. Tapi sedikitpun dia tidak pernah mengeluh. Justru aku yang tidak banyak melakukan pekerjaan sering mengeluh padanya.
Sebenarnya aku sudah tidak meragukan lagi kesetiaan Arka. Hanya saja aku akan lebih merasa puas jika Arka menjawab semua pertanyaanku.
Mungkin caraku bertanya yang salah, sehingga membuat Arka sedikit tersinggung dengan ucapanku.
__ADS_1