Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Lebih sabar lagi


__ADS_3

POV Arka


Senang sekali melihat banyak perubahan pada istriku. Berubah menjadi lebih baik tentunya. Alhamdulillah rasa syukur yang berkali-kali aku ucapkan.


Awalnya, memang tidak mudah merubah karakter seorang Caca. Rasa sakit hati tentu aku rasakan di awal pernikahan. Tetapi aku tidak boleh menyerah begitu saja. Karena aku yakin hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati manusia. Begitu juga dengan hati istriku.


Doa di setiap sujudku tak pernah berhenti, bahkan saat dia terlelap pun, doa pelembut hati selalu aku panjatkan. Berharap agar hatinya luluh. Dan Alhamdulillah, hasilnya tidak sia-sia. Istriku luluh dan mau berubah tanpa paksaan yang menyakitinya.


Kini dia tengah mengandung benih cinta antara kami. Sikapnya yang sering berubah-ubah terkadang membuat hati teriris. Tetapi mengingat itu semua bukan kemauan dari hatinya, dengan ikhlas aku harus menerimanya. Entah itu berupa makian, kemarahan, atau pun keinginan yang tidak jelas. Aku harus bisa memakluminya. Bagaimanapun juga itu demi calon anak kami.


"Sayang, kita mampir beli buah dulu ya, stok di kulkas kayaknya sudah mau habis deh. Sekalian nanti beli baju kerja buat kamu, sepatunya juga"


Tiba-tiba istriku mengajak belanja. Kalau tidak di turuti nanti dia bakalan marah, tapi kalau di turuti nambah lagi baju kerjaku yang masih belum terpakai.


"Kok malah bengong sih?"


Aku mengerjat saat tepukan tangannya mendarat di pundakku. Aku yang masih fokus menyetir dan pikiranku berkelana merasa kaget.


"Iya sayang, lagi fokus nyetir nih. Jalanannya rame, takut nyenggol kendaraan lain"


Aku pun memberi alasan, padahal jalanan tidak begitu rame.


"Mau apa nggak ngantar belanja?"


Dia bertanya dengan nada ketus. Mungkin kalau di film kartun di atas kepalanya sudah muncul tanduk berwarna merah. Hanya bisa terkekeh dalam hati.


"Iya sayang, tapi belanja buah sama keperluan dapur saja ya. Bajunya kapan-kapan saja. Lagipula ini masih tanggal tua. Belum gajian"


Alasan yang cukup masuk akal. Padahal bukan itu alasannya.


"Tenang aja, aku ada uang kok. Aku mau traktir kamu makan, beli baju, sepatu, atau mungkin kamu mau beli jam tangan"


Istriku tersenyum penuh arti.


"Sayang, kita kan udah makan di rumah mama. Masa mau makan lagi. Nanti kalau perutku mengembang gimana, kata kamu perutku harus rata. Mending Uangnya di simpan dulu, gajianku masih lama lho, masih seminggu lagi. Takutnya nanti habis sebelum gajian"


"Udah deh nggak usah banyak protes. Lagian ini bukan uang belanja dari kamu kok, jadi nggak usah khawatir uang belanja habis. Pokoknya antar aku belanja, dan nanti disana kamu nggak boleh protes dengan apa yang akan aku beli. Kamu hanya boleh protes tentang warna atau motifnya. Selain itu nggak boleh protes lagi. Paham kan, awas aja kalau sudah nyampe sana nggak beli apa-apa"


Ucapan istriku begitu ketus, apalagi mengandung ancaman. Harus lebih sabar lagi menghadapinya.


"Iya sayang iya, aku nurut kok"


Aku cubit kecil pipinya supaya dia tidak marah lagi.


"Nah gitu dong. Daritadi kek kayak gitu, biar nggak buang-buang energi"

__ADS_1


Mobil pun terus melaju ke pelataran mall yang di minta istriku. Setelah mobil terparkir rapi, kami pun turun dan berjalan memasuki mall.


"Enaknya kemana dulu, belanja buah apa baju dulu?"


Istriku bertanya sambil tangannya bergelayut manja di lenganku.


"Cari baju saja dulu, biar nggak repot bawa belanjaan"


"Oke"


***


"Mbak, Yang merk ini ada warna putih nggak?"


Istriku mengambil kemeja yang di gantung dan memberikannya kepada pelayan toko.


"Ada, mau ukuran apa?"


Istriku sibuk memilihkan baju kerja untukku. Sedangkan aku hanya diam menunggu di sofa yang tersedia untuk pelanggan.


"Sayang cobain dulu yang ini, ini ada yang warna putih. Selain putih kamu mau warna apa?"


"Yang ini saja, warnanya lebih kalem"


"Ini celana nya mau warna sama apa beda. Ini ada warna hitam, navy, dan juga ada warna coklat susu"


Ya ampun istriku ini, paling sibuk soal urusan baju. Sudah kayak mau belanja buat baju lebaran saja. Padahal di rumah masih ada empat setel yang belum di pakai. Belum lagi kemeja yang baru beli waktu di Surabaya.


"Di tanyain malah bengong saja sih"


Lagi tepukan tangan istriku mendarat di punggung.


"Hitam sama navy saja. Ya sudah aku mau cobain dulu"


Aku pun pergi meninggalkannya menuju kamar ganti. Aku lepaskan pakaianku dan menggantinya dengan yang baru. Setelah selesai aku pun keluar untuk memperlihatkan pada istriku.


"Sayang, gimana? Bagus nggak?" Tanyaku.


"Iya bagus. Pas ukurannya" Dia memperhatikanku dari ujung kaki sampai ujung rambutku "Mbak, aku ambil yang ini semua ya, yang itu nggak usah" Dia menunjuk baju yang akan kami beli, dan menyingkirkan baju yang tidak di beli.


"Baik mbak, silahkan tunggu sebentar ya. Biar saya buatkan nota dulu. Silahkan duduk mbak"


Pelayan toko itu mempersilahkan istriku untuk duduk lagi. Dan dia pun menurut.


Aku kembali ke kamar ganti untuk mengganti pakaian yang semula. Setelah itu aku menghampiri istriku yang sedang melakukan pembayaran.

__ADS_1


"Sudah selesai?" Tanyaku.


"Sudah. Sekarang kita belanja buah dulu ya. Setelah itu kita cari minum. Haus"


"Siap sayangku"


Aku ambil tas belanja yang ada di tangan istriku. Lalu berjalan dengan menggenggam erat tangannya.


"Kamu capek? Lalu capek kamu duduk aja di situ. Biar aku yang belanja buah, kamu mau buah apa saja?"


Istriku terlihat kelelahan, tapi dia masih merasa kuat.


"Aku nggak apa-apa"


"Apa mau di gendong?"


Aku berjongkok di depannya.


"Nggak usah lebay deh, malu di liatin banyak orang"


Dia malah berjalan melewatiku. Apa perhatianku ini terlalu berlebihan ya...


***


Sesampainya di rumah waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sebelum tidur tidak lupa membersihkan diri dan sholat Isya'.


Triingg...


Ponselku berbunyi tanda ada notifikasi pesan masuk.


(Arka, papa minta tolong, besok pagi kamu pergi ke kantor papa. Karena besok ada meeting dengan klien penting. Sedangkan papa sudah terlanjur janji meeting sama klien dari Surabaya)


Aku pun segera mengetik balasan untuk papa mertuaku.


(Iya pa, Insya Allah besok Arka akan hadiri meeting di kantor papa. Kebetulan juga di pabrik masih proses pengepakan jadi bisa saya tinggal)


Pesan balasan pun terkirim . Tak perlu menunggu lama, pesan langsung centang biru.


(Terima kasih Arka. Kamu memang menantu yang bisa di andalkan)


Tak lagi aku balas pesan dari papa mertuaku. Aku letakkan ponselku di atas nakas. Lalu aku menyusul istriku yang sudah berbaring.


"Selamat tidur sayang, mimpi yang indah ya"


Aku cium kening istriku. Dan menyelimutinya dengan selimut supaya tidurnya terasa hangat.

__ADS_1


__ADS_2