
Seorang karyawan lelaki, melayani kami dengan ramah dan sabar. Dia juga membantu memilihkan hadiah yang cocok buat bayi yang masih berusia kurang lebih dua bulan. Satu set perlengkapan bayi, aku tidak tau persis isinya apa saja, sekilas aku lihat ada pakaian bayi, mainan bayi dengan musik, dan nggak tau apalagi isinya. Karna aku percayakan semuanya sama Arka dan juga karyawan itu. Kemudian semua barang itu di kemas rapi dalam satu box besar.
Saat Arka melakukan pembayaran di kasir, aku sempat berbincang dengan salah satu karyawan toko, yang kebetulan ternyata dia adalah manager toko. Aku tanyakan perihal karyawan yang melayaniku tadi. Manager itu bilang, dia memang karyawan yang paling sabar dan ramah. Tapi sayangnya di toko ini tidak di perbolehkan memberikan uang tips kepada karyawan. Padahal tadinya ingin sekali memberinya tips. Karena sudah melayaniku dengan baik.
Aku lambaikan tanganku pada manager itu saat Arka sudah selesai dengan urusan pembayaran. Ada dua karyawan lagi yang membantu membawakan barang dan memasukkannya ke bagasi mobil.
"Sayang kamu kenapa? Sepertinya kamu kurang senang". Tanya Arka saat aku sudah duduk di bangku mobil.
Aku menoleh pada Arka "Kamu tau karyawan yang melayani kita?" Tanyaku padanya.
"Hmm... kenapa?"
"Dia baik banget, ramah, sopan, dan sabar. Padahal tadi aku nyuruh dia gini, nyuruh gitu. Tapi dia tetap sabar gitu"
"Kan dia memang pramuniaga, itu sudah jadi tugas dan tanggung jawab dia melayani konsumen. Supaya konsumen itu puas sama kinerja dia." Jelas Arka.
"Aku pingin ngasih dia tips gitu sama dia. Tapi nggak di perbolehkan" Gerutuku kesal.
"Belikan saja camilan atau makanan apa saja, biar bisa mereka nikmati bersama" Ternyata ide Arka sangat cemerlang.
Tanpa menjawab lagi, aku langsung keluar dari mobil dan kembali masuk ke dalam toko.
"Maaf mbak, apa ada yang kurang?" Tanya manager tadi yang sempat ngobrol denganku.
"Enggak kok, saya mau nanya. Disini kan tidak di izinkan memberikan uang tips pada karyawan, tapi apa boleh kalau saya traktir semua karyawan disini. Traktir makanan?"
"Oh kalau soal itu tidak apa-apa asalkan di jam makan atau jam istirahat." Jawab manager tadi dengan ramah.
"Baiklah kalau gitu, disini ada berapa orang?"
"Sekarang yang jaga, ada dua belas orang mbak."
"Oke tunggu sebentar ya" Aku keluar toko dan menghampiri Arka.
Aku ketuk kaca mobil bagian depan agar Arka menurunkan kaca mobil "Sayang, kita beli makanan aja yuk buat mereka" Ajakku pada Arka setelah kaca mobil terbuka.
"Dimana?"
Aku pun mengedarkan pandanganku kesana kemari mencari tempat makan. Dan bola mataku berhenti saat melihat tempat makan yang yang ada di seberang jalan.
"Disana" Jari telunjukku menunjuk ke arah sebuah restoran yang cukup besar di seberang jalan.
"Ya sudah biar aku saja yang kesana. Kamu tunggu saja di mobil." Arka pun keluar dari mobil dan menyuruhku masuk. Tapi aku menolaknya.
"Aku ikut, aku akan pilihkan makanan untuk mereka." Protesku.
"Di luar panas, kamu tunggu di dalam saja."
"Nggak mau, pokoknya aku ikut" Aku palingkan wajahku dengan tangan bersedekap di depan dada, layaknya anak kecil yang sedang merajuk.
Tanpa bicara lagi tiba-tiba tangan Arka menarik tanganku dan terus menggandengnya. Mungkin dia merasa malu dengan sebagian orang yang berlalu lalang di dekat kami, mereka menatap kami seolah ingin tahu apa yang terjadi dengan kami berdua.
Sampai menyeberang jalan pun Arka tidak melepaskan tangannya. Bahkan saat memasuki restoran pun tanganku masih dalam genggamannya.
__ADS_1
Seorang pelayan menghampiri kami, dengan buku menu di tangannya. Dia menunjukkan beberapa menu utama yang ada di restoran ini.
"Baiklah mbak, saya minta menu seafoodnya kepiting asam manis, cumi bakar, sama sate tuna ya. Minumnya es kelapa muda, Masing-masing dua belas porsi take away ya. Tapi bisa nggak nanti di antar ke baby shop di seberang sana?" Tanyaku pada pelayan tadi.
"Bisa..bisa.." Jawab pelayan itu dengan senang.
"Sayang kenapa seafood semua, takutnya ada yang alergi seafood lho." Benar juga yang di katakan Arka, tidak semua orang bisa makan seafood.
"Ya udah gini aja mbak, yang tadi nggak apa-apa dua belas porsi. Tambahin aja sate ayam sama ikan mas bakar masing-masing lima porsi ya. Take away semua" Jelasku.
"Baiklah mbak" Dan pelayan tadi segera menuju ke dalam. Aku sempat melihat beberapa pasang mata mengintip dari pembatas kayu yang ada di ruangan tadi, tempat pelayan itu masuk. Mereka menatapku, tapi aku segera memalingkan pandanganku ke arah lain.
Sedangkan Arka sedang berjalan mendekati beberapa aquarium di samping restoran ini.
"Permisi" Aku menoleh ke arah sumber suara. Suara seorang perempuan yang belum aku kenali. Dia berdiri di sampingku dengan nampan di tangannya. Di nampan itu terdapat dua buah kelapa hijau yang sudah di buka bagian atasnya. Lalu di letakkan di meja depanku.
"Maaf mbak, saya nggak pesan kelapa hijau. Saya disini hanya menunggu." Tolakku dengan rasa heran tapi masih dengan nada sopan.
"Mohon maaf sebelumnya, tapi bapak itu yang memesan" Pelayan itu menunjuk ke arah sebuah ruangan yang tak jauh dari tempatku duduk.
Aku mengenali lelaki yang di maksud pelayan tadi. Ya, lelaki yang saat ini sangat aku benci. Siapa lagi kalau bukan Farhan.
"Maaf mbak, tolong kembalikan sama orang yang disana ya. Dan tolong bilang sama dia, tidak perlu repot-repot" Aku selipkan selembar uang kertas seratus ribu di bawah kelapa hijau. Sebagai tanda ongkos jalan dan penyampai pesan pada Farhan.
"Baik mbak" Pelayan itu segera pergi. Dengan waktu yang hampir bersamaan Arka datang menghampiriku. Dan menarik kursi berseberangan denganku.
"Kenapa di bawa lagi sama pelayannya?" Tanya Arka.
"Eh itu, tadi dia salah naruh pesanan. Pesanan orang di antar kesini" Aku mencoba menutupi Farhan dari Arka. Arka mengangguk singkat.
"Tadi kan aku dah bilang, mending di mobil aja. Kamu sih terlalu memaksa." Tangan jahil Arka mencubit pipiku.
"Bayar aja dulu, biar nanti mereka yang antar kesana." Ucapku.
"Aku ke kasir dulu ya" Arka segera ke kasir untuk membayar semua pesanan. Setelah bertransaksi kami pun meninggalkan restoran dan kembali ke baby shop.
Arka menunggu di mobil sedangkan aku masuk ke baby shop untuk memberitahu kalau nanti akan ada yang mengantar makanan untuk mereka. Mereka tersenyum bahagia dan berkali-kali mengucapkan terima kasih padaku. Dan salah satu dari mereka tadi sempat menanyakan hubunganku dengan Arka. Aku pun tak sungkan menceritakan bahwa aku dan Arka baru saja menikah. Mereka juga mendoakan agar aku dan Arka segera mempunyai momongan.
Aku pun pamit pulang setelah mobil box dari restoran tempat aku pesan makanan terparkir di depan babyshop. Mereka kembali mengucapkan terima kasih, dan semua melambaikan tangan padaku. Aku merasa bahagia karena bisa berbagi dengan mereka.
Arka menginjak pedal gas setelah aku memasang safety belt. Mobil pun berjalan lamban karena sudah waktunya jam pulang kerja.
"Sayang" Arka memulai untuk bicara.
"Hm" jawabku dengan deheman.
"Kamu suka berbuat sosial?" Tanya Arka yang menoleh ke arahku kilas, kemudian tatapannya kembali Mengahadap ke depan.
"Enggak. Kenapa emangnya?" Tanyaku heran pada Arka.
"Tapi tadi kamu berbuat sosial lho sayang" Tanya Arka heran.
Aku tarik nafasku dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar "Selama ini aku tidak pernah peduli sama orang lain, aku hanya peduli dengan orang terdekatku itu pun tidak semuanya. Tapi entah kenapa saat aku melihat cowok itu aku merasa ingin sekali untuk melakukan itu. Di balik senyumnya yang ramah, aku melihat seperti menyimpan beban yang berat. Padahal usianya masih terbilang muda" Mataku menerawang jauh ke depan jalanan yang ada di hadapanku.
__ADS_1
"Masa sih, tadi aku nggak terlalu memperhatikannya jadi nggak tau. Tapi bagus dong kalau kamu masih punya jiwa sosial untuk orang lain." Arka menoleh ke arahku kemudian dia kembali fokus menyetir.
Aku memikirkan kalimat terakhir Arka aku punya jiwa sosial. Perlu di garis bawahi kalimat ini karna ternyata aku bisa berbuat kebaikan. Selama ini aku tidak pernah peduli dengan kehidupan orang lain, yang aku pedulikan hanya diri sendiri.
Bisa di bilang aku anak orang kaya, tanpa bekerja uangku sudah banyak. Bisa membeli barang mahal sesukaku tanpa memikirkan manfaatnya. Tiba-tiba aku perhatikan jam tangan yang melingkar di tanganku, sebuah jam dengan merk ternama dengan harga lebih dari seratus juta.
Tiba-tiba sebuah rasa penyesalan muncul di otakku. Apa yang aku dapat dari barang ini... hanya sebuah senyum kecil yang mengembang di bibirku waktu itu. Tapi setelah melihat senyum para karyawan tadi aku benar-benar bisa tersenyum bahkan tertawa puas. Hanya dengan memberi mereka makanan yang tidak seberapa harganya, itu sudah membuat mereka bahagia bahkan sampai mereka mendoakan banyak rejeki, selalu sehat, bahagia, dan ada juga yang mendoakanku agar segera di beri momongan.
Mengingat itu semua, senyuman mengembang di bibirku, bahkan air mata bahagia memenuhi ruang penglihatan ku.
"Sayang, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" Tegur Arka yang tanpa aku sadari dia memperhatikanku.
"Nggak apa-apa, aku hanya senang aja" Aku ambil tisu di dalam dashboard dan mengusap ujung mataku.
"Tapi beneran kan, kamu nggak apa-apa?" Tanya Arka lagi mencoba memastikan.
Aku menoleh ke arahnya dan aku kembangkan senyuman manis ku. "Iya aku nggak apa-apa"
Kemudian kami saling diam sampai mobil memasuki halaman rumah.
"Apa barangnya mau di keluarkan den?" Tanya security yang menghampiri Arka saat keluar dari mobil.
"Nggak usah pak, soalnya sebentar lagi kita mau pergi antar barang itu" Jawab Arka dengan ramah.
"Apa mau diantar den?"
"Nggak perlu, bapak istirahat saja ya" Arka menepuk pundak security itu.
Lalu security itu kembali lagi ke pos jaga. Aku dan Arka memasuki rumah.
"Kamu langsung bersiap saja, aku mau bicara sama mamah" Arka menyuruhku segera bersiap sedangkan dia menghampiri mamah yang sedang duduk di ruang tengah sambil nonton TV.
Aku segera mandi dan berganti pakaian sesuai dengan yang Arka minta. Sempat mendapat kesulitan saat aku memakai jilbabnya. Aku putar-putar, aku lilit, dan aku ikat tapi hasilnya malah tidak karuan. Tanpa pikir panjang lagi aku berlari kecil keluar kamar dengan jilbab di tanganku. Sampai di tangga aku berpapasan dengan Arka.
"Mau kemana?"
"Niihh." Jawabku sambil menunjukkan benda yang ada di tanganku.
Tanpa menunggu jawaban aku melanjutkan jalanku menuruni anak tangga. Mencari siapa saja yang bisa membantuku. Aku melihat buk Mar sedang menata makanan di meja makan.
"Buk Mar, bisa minta tolong?" Tanyaku sedikit manja.
"Ada apa non?"
"Bisa bantu pasang ini nggak?" Aku tunjukkan jilbab yang ada di tanganku.
Buk Mar tersenyum. "Bisa" Jawaban buk Mar mampu membuatku mengembangkan senyum.
Ternyata buk Mar cukup lihai juga memasangnya, sama halnya dengan Aisyah yang waktu itu mendandaniku.
"Buk Mar, besok ajarin aku ya" Pintaku padanya.
"Siap non" Kami pun tertawa.
__ADS_1
Setelah bersiap diri, Aku dan Arka segera berangkat menuju tempat undangan. Sesekali Arka melirik ke arahku yang membuatku salah tingkah. Apalagi saat mendengar pujian singkat darinya " Kamu cantik" Seketika membuat wajahku bersemu merah.
Bersambung....