Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Pengajian lagi


__ADS_3

Selesai sarapan aku membantu mbok Imah membereskan peralatan makan dan juga makanan yang ada di meja makan. Sedangkan papa, mama, dan Arka setelah sarapan mereka pergi ke halaman belakang untuk berbincang.


"Non, biar mbok saja yang bereskan. Non duduk aja disana, biar nggak kecapekan"


Mbok Imah mengambil piring kotor yang ada di tanganku. Tapi dengan cepat aku menarik tanganku agar dia tidak mengambilnya.


"Nggak apa-apa mbok, cuma gini doang nggak mungkin capek. Mbok yang cuci piring aja ya. Biar aku yang beres-beres meja makan" Titahku.


"Tapi non..."


"Mbok, nggak usah membantah, mentang-mentang aku sudah tidak tinggal disini, terus sekarang mbok nggak nganggap aku sebagai majikan lagi"


Mataku sedikit melotot supaya mbok Imah takut dan membiarkan aku membantunya.


"Ma-maaf non. I-iya silahkan non beres-beres biar mbok yang nyuci "


"Nah gitu dong" Senyum pun tercipta di bibirku.


Mungkin mbok Imah berpikir aku akan kesulitan melakukan pekerjaan rumah ini. Mengingat dulunya aku adalah seorang gadis yang sama sekali tidak mengerti pekerjaan rumah, yang aku tahu hanya clubing dan hangout.


Tapi semenjak aku mulai menerima Arka, perlahan aku mulai belajar melakukan pekerjaan yang seharusnya seorang istri lakukan.


Awalnya memang merasa kesulitan tapi perlahan aku bisa melakukannya, apalagi waktu awal pernikahan ada mamah mertua yang sangat sabar dan mengerti dengan keadaanku.


"Mbok, ini mau di simpan dimana?"


Tanyaku sambil menunjukkan sisa sambal dan juga tempe bacem.


"Sini non, biar mbok yang simpan"


Mbok Imah yang sedang mencuci piring segera membilas tangannya dan mengusapkan pada celemek yang ia kenakan. Lalu mengambil piring yang ada di tanganku.


"Jangan di buang ya mbok" Ucapku.


"Enggak non, nanti biar mbok saja yang makan"


Mbok Imah memasukkan sisa makanan itu ke dalam rak khusus penyimpan makanan.


"Mbok" Aku mendekati mbok Imah yang sedang menutup rak makanan.


"Iya non"


"Ini buat mbok ya, jangan nolak , jangan banyak tanya. Ambil saja."

__ADS_1


Aku selipkan uang lima ratus ribu ke tangan mbok Imah yang sudah keriput itu. Mbok Imah membuka telapak tangannya, dan seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Tapi ia mengurungkannya.


Seperti yang aku minta, mbok Imah tidak bertanya juga tidak menolak. Mata tuanya menatapku dengan sendu, dan mata tuanya mulai mengembun.


"Non, terima kasih banyak ya non. Semoga non banyak rejekinya, semoga non di beri kesehatan yang barakah dan juga di berikan kehidupan yang bahagia. Aamiin"


Doa tulus terucap dari bibir mbok Imah, asisten rumah tangga yang merawatku sedari kecil ini. Aku sungguh menyayanginya, karena dari dulu dia lah tempatku mengadu, tempat berkeluh kesah.


"Sudah ya mbok, aku tinggal dulu. Mau gabung sama papa mama"


Aku pun meninggalkan mbok Imah yang masih berdiri di dapur. Dia menyeka sisa air matanya menggunakan lengan baju yang dia pakai.


***


"Sayang, kamu pulangnya sore saja ya?" Ucap mama.


"Memangnya kenapa ma?" Tanyaku


"Mama mau ajak kamu ke pengajian kompleks, nanti jam dua"


Mama menatapku penuh harap.


"Beneran pengajian?" Tanyaku lagi


"Arisan lagi arisan lagi. Udah deh ma, nggak usah ikut arisan-arisan, mending ikuti kegiatan yang positif saja"


Aku pun menunjukkan kekesalanku pada mama.


"Sayang dengerin mama dulu. Ini tuh arisannya berbeda dengan arisan yang lain. Jadi setiap pengajian di hari minggu, ada arisan yang bayar cuma lima puluh ribu saja, terus ada juga sejenis uang duka gitu. Bayar lima ribu saja. Nanti tuh setiap pengajian di kocok, pengajian berikutnya di rumah anggota yang namanya sesuai dengan hasil kocokan itu. Dan untuk arisan ini, uangnya bisa buat pakai beli konsumsi kan. gitu loh "


Mama menjelaskan panjang lebar. Tapi aku masih ragu dengan penjelasan mama. Masa iya ada arisan yang bayar hanya lima puluh ribu saja. Sedangkan di kompleks ini termasuk kalangan orang-orang berduit.


"Kalau di pengajian memang biasanya seperti itu sayang, jadi kamu nggak usah heran. Besok deh kalau kamu sudah ikut di pengajian lingkungan kita. Kamu akan tahu sendiri. Atau biar kamu tahu, kamu boleh ikut mama pengajian. Jadi arisan di pengajian itu berbeda dengan arisan-arisan seperti yang kamu tahu"


Arka ikut berkomentar. Baiklah aku akan ikut dengan mama, aku akan buktikan bahwa apa yang aku pikirkan sama sekali tidak benar.


"Memangnya pengajiannya di rumah siapa ma?"


Papa yang daritadi hanya diam menyimak akhirnya buka suara.


"Di rumah Bu Risma, yang rumahnya di blok C. Sekalian acara tujuh bulanan anaknya, anaknya hamil gede pa. Katanya calon cucunya itu kembar. Wah seneng ya sekali brojol langsung dobel"


Mama pun merasa senang saat menceritakan tentang kehamilan bayi kembar. Benar juga yang di katakan mama. Sekali brojol, dapat nya langsung dobel.

__ADS_1


Aku usap perutku dengan lembut. 'Sehat terus sayangku, baik-baik di perut mama ya' batinku.


"Baiklah ma, nanti aku ikut. Sekalian pengen tahu hamil kembar Segede apa".


"Makasih sayang, tapi sebelum berangkat kita beli hadiah dulu ya"


"Hadiah buat siapa ma?" Tanyaku


"Buat anaknya Bu Risma."


***


"Assalamualaikum" Aku dan mama mengucap salam bersamaan.


"Waalaikumsalam, Eh Bu Hendra sudah datang. Mari masuk Bu"


Pemilik rumah yang bernama Bu Risma ini terlihat sangat ramah menyambut kedatangan kami.


Di dalam sudah ada beberapa ibu-ibu yang sudah datang lebih dulu, mereka tersenyum ramah ketika melihat kedatangan kami.


"Sini Bu, kita ngobrol-ngobrol dulu" Salah satu dari mereka memanggil mama untuk duduk disampingnya.


Tidak ada yang mencolok disini, duduk di lantai beralaskan karpet, ada beberapa buah dan kue kering yang tersaji.


"Iya Bu, sebentar ya" Mama mendekati Bu Risma untuk memberikan hadiah yang sudah di beli sebelum datang ke sini.


"Bu Risma, tolong ini di terima. Buat anak Bu Risma" Ucap mama.


"Bu Hendra, kenapa bawa oleh-oleh segala sih? "


"Enggak apa-apa"


Lalu Mama mengajak duduk lesehan di atas karpet.


Dalam waktu singkat ibu-ibu yang lain pun datang. Dan sebelum acara di mulai terlihat perempuan yang masih muda, mungkin usianya masih di bawahku. Berjalan dengan sangat berhati-hati. Dia duduk di kursi yang sudah di sediakan. Kami saling tersenyum kala mata kami saling bertatap.


Perutnya terlihat sangat besar, padahal mama bilang baru menginjakkan tujuh bulan. Apa mungkin karena mengandung anak kembar, jadi ukuran perutnya lebih besar pada kehamilan pada umumnya.


Acara pengajian pun segera di mulai. Di awali dengan bacaan doa-doa dan surah pendek Alquran. Semua orang mengikuti dengan khusyuk begitu juga denganku.


Setelah pembacaan doa, berlanjut dengan praktek memandikan jenazah. Terdapat sebuah manekin berbentuk manusia yang akan di gunakan untuk praktek memandikan jenazah.


Ternyata memang benar, dengan menghadiri pengajian seperti ini akan mendapatkan ilmu baru yang belum pernah di dapatkan sebelumnya. Jadi lebih bersemangat untuk mengikuti pengajian lagi.

__ADS_1


__ADS_2