
Pagi yang cerah secerah hati author.... Semoga hati para readers juga selalu ceria ya... peluk jauh dariku
🤗
Sesuai dengan perintah dari mertuanya. Arka bersiap untuk menghadiri meeting di kantor Pak Hendra, papa mertuanya.
"Tumben sudah rapi benget?" Sapa Caca kala melihat Arka sudah mengenakan setelan jas lengkap lebih pagi dari jam biasanya.
"Iya, mau meeting di kantor papa"
"Kok mendadak?" Tanya Caca lagi.
"Tadi malam sepulang belanja, papa nge-chat. Meminta tolong supaya aku menghadiri meeting di kantor papa" Jelas Arka.
"Kan ada papa, kenapa bukan papa saja yang meeting?" nada suara Caca terdengar ketus.
"Papa juga sudah ada jadwal meeting penting dengan klien dari Surabaya. Nah ini ada lagi meeting mendadak yang sama pentingnya. Makanya papa minta tolong sama aku"
"Kan ada sekretarisnya?"
"Iya sayang, nanti sekretaris papa ikut dampingi aku saat meeting. Karena ini meeting penting makanya tidak bisa di wakilkan ke sembarang orang. Memangnya kenapa sih, apa salahnya membantu papa?"
"Aku nggak suka. Klien papa itu banyak perempuan yang ganjen. Pasti nanti dia menggoda kamu" Caca berujar yang di sambut dengan tawa oleh Arka.
"Tenang saja sayangku, aku nggak akan tergoda. Siapa tahu saja klien papa kali ini laki-laki. Jadi jangan berpikir negatif ya" Arka tersenyum menanggapi istrinya yang tampak curiga dan cemburu padanya.
"Kalau klien nya perempuan kamu harus tutup mata, nggak boleh lihat dia. Ingat sama istri di rumah, istrimu ini sedang hamil, jadi jangan macam-macam di luar sana"
Caca benar-benar terbakar cemburu padahal dia hanya menduga-duga saja, kalau klien papanya perempuan, seperti yang sudah-sudah.
"Iya sayang iya, aku nggak akan macam-macam. Udah dong, nggak usah cemberut gitu. Kasih senyuman manis dong biar tambah semangat kerjanya"
Arka memeluk istrinya yang masih menyimpan rasa cemburu.
"Kita sarapan dulu yuk, soalnya aku mau berangkat lebih awal. Biar bisa mempelajari proposal untuk bahan meeting nanti"
Arka menuntun tangan istrinya untuk keluar kamar. Di meja makan sudah tersedia beberapa menu untuk sarapan. Dan mereka pun sarapan seperti biasa.
"Sayang, aku mau bawa bekal dong"
Arka yang baru saja menyelesaikan makannya meneguk air putih hingga tandas.
"Sama apa?"
"Capcay sama rendang ya, jangan lupa pisangnya" Arka berucap pada Caca.
"Tunggu sebentar ya, biar aku ambil Lunchbox nya dulu"
Caca segera berdiri menuju dapur dan tak lama kembali lagi dengan membawa Lunchbox di tangannya. Dengan cekatan Caca memasukkan nasi, capcay dan juga rendang ke dalam Lunchbox, tak lupa ia juga memasukkan pisang sesuai permintaan Arka.
Biasanya Arka akan pulang sekedar untuk makan siang bersama istrinya di rumah. Tetapi kalau jadwal padat, Arka akan meminta di bawakan bekal dari rumah. Arka sendiri tidak mau makan di kantin ataupun makan di luar apabila tidak ada kepentingan seperti bertemu klien.
__ADS_1
Kali ini Arka membawa bekal makan karena kantor papa mertuanya jaraknya cukup jauh di bandingkan pabrik yang dia kelola.
"Ini sayang bekalnya" Caca meletakkan Lunchbox di samping Arka, lengkap dengan botol yang berisi air mineral.
"Terimakasih sayang. Ya sudah aku langsung berangkat ya. Kalau ada apa-apa hubungi aku ya" Arka memberi pesan pada istrinya.
"Iya, hati-hati di jalan semoga lancar pekerjaan hari ini. Dan ingat jaga mata jaga hati. Jangan macam-macam"
Doa yang di sertai ancaman, Arka hanya bisa mengelus dada dengan ucapan istrinya.
***
Sesampainya di kantor Arka segera menemui sekretaris pak Hendra untuk meminta proposal.
"Pagi Santi" Sapa Arka ketika sudah sampai di depan meja Santi, sekretaris pak Hendra.
"Pagi pak Arka, Pagi sekali bapak datang. Kan meetingnya nanti jam sebelas"
Santi, wanita cantik berkulit putih mulus itu membalas sapaan Arka.
"Iya saya tahu, saya mau mempelajari proposalnya terlebih dahulu. Mana proposalnya?"
"Tunggu sebentar pak Arka, biar saya print dulu. Pak Arka duduk saja dulu biar saya suruh Ujang membuatkan kopi ya"
Santi sudah mengangkat gagang telepon, ia hendak menghubungi bagian pantry. Tapi Arka mencegahnya.
"Tidak perlu San, saya tidak minum kopi. Lebih baik cepat kamu print, biar saya bisa mempelajarinya terlebih dulu. Saya tunggu di sana" Arka menunjuk sofa kosong yang ada di samping ruangan pak Hendra.
Santi menghampiri Arka yang sedang berkutat dengan layar ponselnya. Sebelum menghampiri Arka, dengan sengaja Santi membuka salah satu kancing kemeja bagian atas. Sehingga memperlihatkan belahan bukit kembar miliknya.
Lelaki normal manapun akan tergoda jika melihat Santi. Rambut panjangnya yang hitam lurus di biarkan bebas tergerai. Rok span selutut berwarna merah di padukan dengan kemeja satin berwarna pink. Sangat cocok dengan kulitnya yang putih.
Warna make up yang mencolok, terkesan menggoda seperti wanita penghibur saja. Padahal dengan make up yang tipis saja tidak akan mengurangi kecantikannya. Karena pada dasarnya Santi memiliki kecantikan seperti aktris India.
"Pak Arka, ini proposalnya" Santi meletakkan proposal itu di meja yang ada di depan Arka.
Arka yang menyadari tingkah Santi sedikit terkejut
"Astaghfirullah" Arka segera membuang pandangan, berkali-kali Arka mengucap istighfar dalam hati.
"Pak Arka kenapa kaget lihat saya, seperti lihat setan saja" Bibir Santi sedikit mengerucut.
"Maaf Santi" Arka merasa tak enak hati karena membuat Santi tersinggung.
"Iya nggak apa-apa kok pak Arka. Pak, kenapa tidak di ruangan pak Hendra saja. Kalau Pak Arka duduk disini, pak Arka nggak akan bisa konsentrasi. Lebih baik di dalam ruangan saja, biar lebih fokus. Mari saya antar pak"
Suara Santi di buat sedikit manja.
"Kamu benar juga, baiklah kalau begitu saya ke ruangan pak Hendra saja. Tapi maaf, tidak perlu mengantar saya, saya bisa sendiri"
Arka berdiri dan berjalan meninggalkan Santi yang masih diam terpaku.
__ADS_1
"Sialan, udah dandan seksi kayak gini dia malah menghindar. Beda sekali dengan si tua Bangka itu. Di bukain paha sedikit saja cuan langsung masuk ke rekening. Pokoknya aku harus dapat mangsa baru. Sekarang si tua Bangka tidak bisa di andalkan lagi. Bahkan sekarang dia seperti menghindariku"
Santi masih diam di tempat hanya mulutnya saja yang mengeluarkan umpatan-umpatan kekesalannya. Karena sekarang pak Hendra memang menghindarinya. Dulu pak Hendra memang sering dekat dengan sekretaris atau bawahannya yang terlihat cantik dan terawat. Kecuali dengan Monika. Hanya dengan Monika pak Hendra tidak berani macam-macam.
Tapi sekarang ini pak Hendra sudah menyadari kesalahannya. Dia sadar apa yang di lakukannya adalah dosa besar. Maka dari itu sebisa mungkin dia menghindari Santi atau bawahannya yang pernah dekat dengannya.
Pak Hendra bisa saja memecat atau memindahtugaskan mereka, tapi itu tidak bisa di lakukannya tanpa alasan yang kuat. Apalagi kinerja mereka sungguh baik dan memuaskan.
Di dalam ruangan Arka sudah duduk di sofa mempelajari proposal yang akan di gunakan untuk bahan meeting. Di bacanya berulang kali proposal itu. Tidak butuh waktu lama Arka sudah memahami semuanya.
Di liriknya jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih menunjukkan pukul sepuluh, masih ada waktu satu jam lagi untuk meeting.
Arka tidak mau membuang waktunya, dia merogoh ponsel yang ada di kantong jasnya. Lalu melakukan video call dengan istrinya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Lagi ngapain sayang?" Arka memperhatikan wajah istrinya yang tetap cantik meskipun sedang berkeringat.
"Ini, mau mindahin anggrek ke pot yang baru" Layar ponselnya dia arahkan ke bunga anggrek yang akan ia pindahkan.
"Jangan angkat berat-berat lho, bahaya. Suruh orang saja, jangan di kerjakan sendiri. Nanti kamu kecapekan, Kalau terasa capek cepat istirahat ya"
"Iya bawel" Caca terkekeh mendengar ocehan suaminya.
"Sebentar lagi aku meeting mau di mulai, doakan lancar ya"
"Iya sayang, doa istrimu selalu menyertaimu"
tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Hmm sayang, sudah dulu ya, aku mau siap-siap dulu. Nanti kalau meeting nya sudah selesai kita lanjut lagi video call nya"
"Oke sayang, Assalamualaikum "
"Waalaikumsalam " Arka mengakhiri video call dengan istrinya.
Suara ketukan pintu masih terdengar.
"Iya masuk"
Pintu terbuka, dan muncullah Santi dari balik pintu dan masuk ke dalam ruangan, sebelum melangkahkan kakinya, tak lupa dia menutup kembali pintu yang masih dia pegang.
"Tunggu Santi, biarkan pintunya terbuka saja. Udara disini cukup pengap" Arka berseru setelah Santi menutup pintu.
Sedangkan Santi wajahnya berubah masam setelah mendengar perintah Arka. "Baik pak" Dengan terpaksa dia membuka kembali pintu yang susah di tutupnya.
Itu hanya alasan Arka saja. Padahal ada jendela kaca yang cukup lebar yang bisa di buka untuk mengatur sirkulasi udara di dalam ruangan. Hanya saja Arka tidak mau terjebak dalam ruangan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Arka juga tidak ingin menimbulkan fitnah apabila ada orang yang melihatnya.
__ADS_1