
Siang ini aku dan Arka sudah berada di ruangan dokter. Karna ingin memastikan diagnosa dokter yang sebenarnya. Bukan dokter yang tadi pagi ya, yang tadi pagi datang memeriksa itu dokter umum jadi hasilnya kurang pasti. Dan sekarang aku sudah berada di ruangan dokter kandungan.
Aku sudah melakukan beberapa pemeriksaan, dari cek urin, uji lab dan juga USG. Aku dan Arka sudah nggak sabar nunggu hasilnya. Semoga saja memang benar aku hamil. Arka terus menggenggam erat tanganku dan sesekali menciuminya.
Tak lama kemudian Dokter sudah kembali dengan membawa beberapa kertas di tangannya. Mungkin itu hasil pemeriksaan.
"Pak, Bu selamat ya kalian akan menjadi orang tua. Bu Natasya positif hamil, usia kandungannya sudah lima minggu." Ucap dokter itu.
Arka terdiam mendengar ucapan dokter sampai beberapa detik lalu dia berkata "Alhamdulillah ya Allah." Seru Arka. Seketika Arka langsung memelukku. Air mata haru keluar dari pelupuk mataku.
Arka melepas pelukanku dan menatap mataku "Kamu akan jadi mama dan aku akan jadi papa". Ucap Arka. Aku juga melihat bulir-bulir air mata keluar dari kedua matanya.
Kami luapkan kebahagiaan kami dengan air mata. Dokter yang memeriksaku hanya tersenyum melihat kami berdua.
"Saya berharap Bu Natasya menjaga dengan baik kandungannya. Jangan terlalu capek, hindari stres, dan sesering mungkin Bu Natasya memeriksakan kandungannya. Kandungan ibu Natasya sangat lemah. Jadi saya harap ibu benar-benar menjaganya dengan baik. Upayakan hidup sehat ya Bu, hindari alkohol, polusi dan selalu konsumsi makanan yang bergizi. Kalau ada gejala yang lain ibu bisa hubungi saya. Saya siap melayani anda." Jelas dokter itu sambil menyerahkan sebuah kartu nama padaku.
"Iya dok, saya akan menjaga dengan baik kandungan saya ini." Ucapku dengan bahagia.
"Saya buatkan resep vitamin ya Bu" Lalu dokter itu memberikan selembar resep padaku.
"Baik dok, kalau begitu kami permisi dulu. Terima kasih banyak ya dok" Ucap Arka.
Kami keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang luar biasa bahagianya. Arka tak berhenti tertawa. "Kita duduk dulu disana ya. Aku akan mengabari mamah" Ucap Arka.
Aku dan Arka duduk di kursi taman rumah sakit. Bibir Arka tak berhenti mengembangkan senyum dan tawa bahagia.
"Assalamualaikum mah..."
"Mah, Arka punya kabar gembira buat mamah. Caca hamil mah. Mamah akan segera jadi nenek..iya mah ... baik mah... Waalaikumsalam" Lalu Arka menutup panggilan teleponnya dengan mamah.
"Apa kata mamah?" Tanyaku.
"Mamah sangat bahagia. Dan akan membuat syukuran kecil-kecilan."
"Tapi ini kan usianya masih sebulan sayang" Ucapku.
"Nggak apa-apa. Mamah hanya mengucap rasa syukurnya dan berbagi dengan kaum duafa. Nanti kita juga gitu ya. Kita berbagi dengan anak yatim disini."
"Terserah kamu aja sayang"
Arka sedikit berjongkok dan mengusap perutku yang masih rata. "Baik-baik di dalam perut mama ya sayang" Lalu Arka mencium perutku. Membuatku sedikit geli.
"Sayang, jangan gini ah... di lihat orang. Malu"
"Nggak apa-apa biar mereka tahu kalau aku akan jadi seorang papa" Tawa Arka kembali terdengar.
"Kita pulang yuk, aku pengen tidur" Rengekku.
"Iya sayang kita pulang. Apa kamu nggak mau makan sesuatu." Tanya Arka
"Enggak sayang. Aku maunya pulang aja" Aku langsung berdiri di depannya.
"Maksudku apa kamu nggak punya keinginan yang kuat buat makan apa gitu"
"Ngidam maksud kamu?" Arka mengangguk.
"Ya ampun sayang, kehamilanku masih sebulan. Dan aku juga berharap agar aku tidak ngidam yang aneh-aneh" Tegasku.
"Tapi kalau kamu mau sesuatu ngomong ya. Aku nggak mau kamu nahan keinginan kamu"
"Iya sayang, Ayuk kita pulang. Aku capek" Rengekku lagi.
__ADS_1
"iya sayang. Mau di gendong?"
"Apaan sih, nggak usah lebay deh" Aku tepis tangan Arka yang menyentuh pundakku.
Dalam perjalanan pulang Arka terus menggenggam erat tanganku. Sesekali menoleh ke arahku dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya. Bahkan di dalam taksi pun seolah Arka tidak mau melepaskan tanganku. Sesekali di ciumnya punggung tanganku.
Terima kasih ya Allah engkau telah memberikan kepercayaan pada kami menjadi orang tua. Aku akan jaga dengan baik titipan-Mu ini. -batinku.
"Pak kita berhenti di swalayan depan ya" Ucap Arka pada pak sopir.
"Baik mas. Sepertinya sedang bahagia sekali" Kata pak sopir.
"Iya pak. Istri saya sedang hamil. Sebentar lagi kami akan jadi orang tua" Ucap Arka sambil mengusap perutku.
"Waaahhh.. selamat ya mas. Bapak ikut seneng" Ucap pak sopir.
"Makasih banyak pak"
Taksi memasuki area parkir swalayan. "Sayang, kamu tunggu sini aja ya. Aku nggak lama kok." Ucap Arka yang bersiap turun.
"Aku ikut"
"Jangan, aku hanya sebentar aja kok. Kamu sini aja ya."
"Baiklah." Jawabku dengan lesu.
Arka berlari memasuki swalayan karena cuaca di luar memang sangat panas. Sambil menunggu Arka aku habiskan waktuku dengan bermain game dari handphone ku.
Tidak lama kemudian Arka kembali dengan membawa belanjaan sangat banyak sekali.
"Sayang, kamu belanja apa sampai banyak kayak gitu?" Tanyaku.
"Itu buat kamu sayang. Aku beli buah-buahan, susu ibu hamil dan juga makanan kecil lainnya"
"Iya sayang, kata dokter kamu kan harus banyak makan makanan yang bergizi. Nanti aku juga akan bilang sama pihak hotel agar menyajikan makanan yang sehat khusus buat kamu. Seperti sayuran" Ucap Arka.
"Ya ampun sayang, nggak usah berlebihan gini. Yang penting aku nggak makan racun, pasti aku baik-baik saja" Ucapku.
"Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu ataupun calon anak kita. Aku akan lakukan apapun agar kamu dan calon anak kita selalu sehat." Ucap Arka.
"Nggak apa-apa neng. Itu tandanya suami neng sayang dan perhatian sama eneng" Pak sopir menimpali.
Aku terdiam karena Arka mendapat pembelaan. Taksi terus melaju sampai di hotel. Pak sopir membantu membawakan barang belanjaan.
"Pak terima kasih banyak ya sudah mengantar dan membantu saya. Ini ongkos taksinya pak" Arka memberikan uang tanpa di hitung dulu. Pak sopir tampak kaget dengan yang di lihatnya.
"Maaf mas, ini terlalu banyak. Ongkosnya nggak sampek tiga ratus ribu" Pak sopir menolak pemberian Arka.
"Sudah pak terima aja. ambil sisanya. Hari ini saya sangat bahagia. Saya hanya mau berbagi bahagia dengan keluarga bapak. Terima ya" Arka memohon pada pak sopir.
"Tapi ini terlalu banyak"
"Ini tidak sebanding dengan kebahagiaan saya. Bukannya saya sombong pak. Saya hanya mau berbagi" Ucap Arka.
"Udah pak ambil aja." Ucapku.
Akhirnya bapak sopir mau menerima pemberian Arka. Berkali-kali mengucap terima kasih dan matanya berkaca-kaca.
Setelah pak sopir pamit pulang aku segera masuk kamar dan membersihkan diri. Sementara Arka masih sibuk dengan barang belanjaannya. Udah kayak emak-emak aja tuh suamiku.
//_//
__ADS_1
Sore harinya
"Sayang, aku mau ke kantor bentar ya, ada urusan penting. Kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal." Ucap Arka dengan terburu-buru.
"Iya sayang, kamu pergi aja. Aku nggak apa-apa kok" Jawabku.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku langsung ya"
"Iya bawel. Udah pergi sana"
Setelah mencium tangannya Arka segera pergi. Entah ada masalah apa di kantor sampai dia terburu-buru begini.
Aku kembali masuk ke dalam kamar. Dan memakan potongan buah yang Arka siapkan. Arka memang suami yang sangat perhatian. Dia sudah menyiapkan buah, cake dan juga segelas susu. Apa karna ini anak pertama makanya dia bersikap seperti ini.
Handphone ku berdering. Dilayar tertulis nama mama. Tumben mama nelpon, batinku. Segera aku geser tombol hijau untuk menerima panggilannya.
"Halo ma..." Sapaku.
"Sayang... Mama dengar kabar kalau sekarang kamu sedang hamil. Apa itu benar?" Tanya mama.
"Mama dengar kabar dari siapa?"
"Dari papa kamu. Papa di kasih tahu sama ayah Arka. Mama senang dengarnya. Kenapa kamu nggak ngasih tau mama?"
"Iya ma, aku hamil. Maaf ya ma bukannya Caca nggak mau ngasih kabar ke mama. Tapi memang Caca berencana sepulang dari Surabaya caca akan ngasih tau mama secara langsung." Jelasku.
"Oohh.. gitu. Ya udah nggak masalah. Yang penting sekarang mama benar-benar senang. Sebentar lagi mama akan dipanggil Oma. Kamu jaga baik-baik ya sayang kandungannya."
"Iya ma, pasti aku jaga dengan baik"
"Terus Arka gimana saat tau kalau kamu hamil?" Tanya mama.
"Arka seneng banget ma, sampai-sampai Arka nangis saat dokter menyatakan Caca positif hamil"
"Sudah mama duga karena Arka benar-benar mengharapkan kehadiran seorang anak. Meskipun kalian baru aja nikah."
"Iya ma. Bersyukur banget punya suami seperti Arka. Begitu perhatian dan penyayang"
"Ternyata papa memang nggak salah pilih ya. Meskipun awalnya mama tidak setuju dengan keputusan papa. Tapi sekarang mama tambah yakin kalau Arka memang suami yang tepat buat kamu." Ucap mama.
"Iya ma. Caca juga kan terpaksa nikah sama dia. Tapi sekarang Caca benar-benar bersyukur banget karena udah dapat suami yang sabar, penyayang, perhatian, dan mampu jadi imam yang baik" Pujiku.
"Semoga kalian menjadi jodoh sampai maut yang memisahkan ya sayang."
"Aamiin... makasih ya ma doanya"
"Iya sayang. Ya udah kalau gitu. Mama tutup dulu ya telponnya. Mama mau pulang kantor nih"
"Iya ma. Mama hati-hati di jalan ya. Mama juga harus jaga kesehatan."
"Iya sayang" Lalu mama menutup panggilannya.
Aku tersenyum sendiri karena hubunganku dengan mama semakin dekat. Terima kasih ya Allah, gumamku.
Aku lanjutkan makan buah yang ada di depanku kemudian minum susu. Setelah minum susu. Perutku langsung terasa mual. Dan aku kembali muntah-muntah. Untung saja saat awal terasa mual aku langsung berlari ke kamar mandi. Jadi muntahnya nggak bercecer.
Terasa lega saat semua isi yang ada di dalam perutku keluar semua. Tapi badanku terasa lemas. Aku keluar dari kamar mandi dengan mendekap perutku.
Kalau aku terus-terusan muntah setelah makan, kasihan calon anakku. Apa memang gini ya kalau lagi hamil muda. Tapi kan kasian juga, kalau calon anakku lapar gimana...
Udah hampir Maghrib Arka juga belum pulang. Nggak ngasih kabar juga. Apa dia benar-benar sibuk di kantor. Tapi kan sesibuk apapun harus tetap kasih kabar.
__ADS_1
Aku coba hubungi ke nomornya juga nggak diangkat-angkat. Panggilanku di abaikan. Benar-benar bikin orang kesal aja, gerutuku.