Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Membeli oleh-oleh


__ADS_3

Setelah acara di Kebun Binatang Surabaya selesai kami tak langsung kembali ke hotel. Arka mengajakku ke pusat perbelanjaan, di bagian kota Surabaya. Dan tentunya tempat ini saran dari Monika karena hanya Monika yang tahu seluk beluk kota Surabaya.


Mobil terus melaju membelah jalanan Surabaya yang cukup terik.


"Pasar Kapasan" Gumamku membaca plat hijau yang ada di sisi jalan raya.


"Iya Cha, kita akan ke Kapasan. Arka bilang mau cari oleh-oleh buat di bawa ke Jakarta" Tanpa aku minta Monika menjelaskan terlebih dahulu.


"Lucu ya namanya, memangnya buat apa beli kapas?" Tanyaku, karena namanya ada unsur kata kapas.


"Hehehe... Kamu ini ada-ada saja. Namanya Kapasan bukan berarti jual kapas. Tapi di situ banyak menjual berbagai model baju-baju dengan harga murah, grosiran gitu. Dari ukuran orok sampai ukuran kakek nenek semua ada. Fashion apa Korea atau India juga ada" Jelas Monika


"Oohh, mungkin kalau di Jakarta seperti Tanah Abang gitu ya?" Tanyaku.


"Yups, betul sekali" Monika menjentikkan jarinya.


"Tapi seumur-umur aku belum pernah masuk ke Tanah Abang, cuman lewat doang. Soalnya dari luar aja sudah full banget. Nggak kebayang di dalamnya seperti apa. Kata temenku juga banyak copetnya. Emang bener ya?" Tanyaku penasaran


"Memang bener banget di sana tuh ruame. Kadang mau nyari tempat parkir aja susah. Kalau soal copet sih nggak usah di tanya lagi. Jangankan di tempat rame gitu. Kemaren aja waktu aku ke pasar dekat rumah, ada juga orang yang kecopetan. Tapi untungnya copetnya langsung ketangkep. Padahal pasarnya pasar biasa gitu"


"Namanya juga kejahatan bisikan setan, di mana-mana bisa terjadi selama ada kesempatan" Arka menimpali, ternyata dia menyimak obrolanku dengan Monika.


Mobil melaju menuju parkiran yang ada di lantai atas. Entah lantai berapa aku nggak tahu, karena daritadi mataku jelalatan mengedarkan pandangan melihat orang-orang yang sibuk berlalu lalang dengan memikul karung besar.


"Emangnya nggak berat apa, dia memikul karung segede itu?" Gumamku


"Ya berat dong sayang. Tapi kan mereka sudah terbiasa, dan itu juga demi tuntutan menafkahi keluarga di rumah" Sahut Arka.


Setelah beberapa saat mencari tempat parkir yg kosong, akhirnya ketemu juga .Aku guncang perlahan tubuh mungil Luna saat mobil sudah terparkir sempurna. Dalam hitungan detik Luna terbangun.


"Ini dimana?" Tanya Luna yang masih duduk, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri kebingungan.


"Ini di pasar sayang, ayo turun" Jawabku


Aku, Arka, Monika ,dan Luna turun dari mobil. Kami tidak membawa sopir, karena Monika tidak menggunakan jasa sopir, dia mengendarai mobilnya sendiri kemana pun dia pergi. Bahkan saat ini pun Monika juga mengendarai nya sendiri. Dia menolak saat Arka meminta untuk menyetir. Alasannya karena Arka tidak paham jalan di kota Surabaya.


Monika dan Arka berjalan di depan. Sedangkan aku dan Luna mengikuti dari belakang. Sepertinya Monika sering kesini, karena dia begitu hapal letak toko-toko yang berderet dengan ukuran sama. Namun sama sekali dia tidak tampak kebingungan.


Jalanan begitu sesak karena gang yang kurang dari dua meter ini di lalui banyak orang. Belum lagi baju-baju yang di pajang di depan masing-masing toko, menambah sesaknya jalanan. Toko-toko yang berjejer dan berhadapan, sama-sama memajang dagangannya di depan tokonya, mungkin bertujuan untuk memikat pembeli.


"Aduuhh" Aku mengaduh karena bahuku tersenggol cukup keras. Ternyata karung besar yang di pikul itu berhasil menyenggolku. Dan orangnya pun tetap berjalan lurus dengan sedikit berlari, pasti karena yang dipikul cukup berat makanya orang itu nggak mau berhenti.


"Kamu nggak apa-apa sayang. Hati-hati ya, jalannya rame banget. Maaf ya, aku nggak bisa jagain kamu" Arka mengusap punggungku dans sedikit memberikan pijatan lembut.


"Nggak apa-apa kok, aku hanya kaget aja. Karna tadi aku nggak fokus ke jalan, jadinya nggak lihat ada karung gede lewat" Aku meringis meskipun ini cukup sakit sekali.


"Beneran nggak apa-apa?"


"Iya. Ya udah ayok lanjut jalan lagi" Ajakku. Tangan kananku mengapit tangannya sedangkan tangan kiriku menggandeng tangan Luna.


Kami kembali melanjutkan jalan. Dan tak lama kemudian sampailah di tempat yang di cari.

__ADS_1


"Nah itu tokonya" Monika menunjuk toko yang lebih besar di bandingkan toko lainnya.


Monika berjalan mendahului kami, dan memasuki toko yang sepertinya sudah sering dia kunjungi ini. "Koh, apa kabar?" Sapa Monika kepada bapak-bapak tua yang duduk di meja kasir.


Bapak tua itu menurunkan sedikit kacamatanya lalu menaikkannya kembali. Berusaha mengenali perempuan yang menyapanya.


"Momon ?? " Bapak tua itu tertawa.


"Iya koh. Ini sama bos aku, dan itu istrinya" Monika tampak menunjuk Arka dan juga menunjukku. Aku balas


"Wah.. ya ya ya... mari masuk. Mau cari apa?" Bapak tua itu menyambut dengan ramah.


"Mau nyari buat oleh-oleh Koh" Sahut Arka yang mengikuti panggilan nya seperti Monika.


"Bambaangg... Surtiiii..." Dua orang yang di panggil itu datang menghampiri "Ini ada Momon datang. Temani dia cari barang" Perintah bapak tua yang di panggil Koh itu.


"Siap Koh" Jawab mereka serempak.


Monika dan Arka menyebutkan apa saja yang di akan di carinya.


"Tunggu saja disini, saya ambilkan dasternya" Perempuan yang mungkin namanya Surti itu mempersilahkan kami duduk lesehan. Kemudian meninggalkan kami untuk mengambil barang yang di mau sama Arka.


"Daster buat siapa sih?" Bisikku pada Arka.


"Buat ibu sama buat kamu sayang" Jawab Arka.


Hah... aku hanya melongo mendengar jawaban Arka. Daster? bagaimana mungkin aku pakai daster. Berbagai model pakaian sudah aku miliki, kecuali daster. Aku memang tidak memilikinya, karena menurutku itu pakaian khusus emak-emak rumpi, yang kerjanya di dapur, sumur, kasur.


"Iya Cha, di jamin nyaman kalau udah pakai daster. Percaya deh" Sagita Monika.


"Hmm"


Aku menurut saja apa kata Arka. Arka dan Monika sibuk memilih baju-baju itu. Kemeja batik, kemeja kotak-kotak, daster buat ibu, dan masih banyak lagi. Aku hanya diam memperhatikan mereka. Sesekali Arka bertanya meminta pendapatku, aku hanya mengangguk tanda setuju dengan pilihannya.


Hampir dua jam kami berada di dalam toko ini, rasanya kepalaku mau pecah, dadaku terasa sesak dan tubuhku mulai nggak nyaman.


"Sayang, masih lama?" Tanyaku


"Iya ini udah kok. Capek ya? Maaf ya" Arka segera menumpuk semua baju yang akan di pilihnya dan memberikan pada Bambang dan Surti untuk di hitung di meja kasir.


Dengan cekatan lelaki tua itu menghitung menggunakan kalkulator. "Totalnya tiga juta empat ratus enam puluh ribu"


"Hah" Mataku membulat sempurna mendengar nominal yang di sebutkan.


"Tenang saja nona cantik, saya kasih diskon enam puluh ribu, jadi totalnya tiga juta empat ratus ribu saja, gimana?"


"Bukan, maksud saya bukan itu. Baju sebanyak ini bayar cuman segitu? Apa nggak salah hitung, coba hitung lagi deh, daripada nanti rugi lho" Jawabku cepat. Yang benar saja masa baju sekarung bayar cuman tiga juta empat ratus ribu.


"Maaf Koh maksudnya itu, kenapa murah sekali gitu lho. Ini istri bosku kan nggak pernah belanja di pasar, biasanya kalau beli baju di mall atau di butik. Dan harganya yang super mehong.Makanya dia kaget, baju sebanyak ini kok cuman bayar segitu. Biasanya dia itu uang segitu cuman pake beli Daleman saja" Monika menjelaskan sambil cekikikan.


"Hahaha... nona cantik bikin saya kaget. Saya kira kemahalan.bIni sudah saya hitung dua kali dan totalnya tetap sama. Jangan heran kalau disini harga bajunya memang murah, tapi kualitasnya tidak murahan" Lelaki tua itu menertawakan ku.

__ADS_1


Aku ambil salah satu baju yang masih terbungkus plastik, yang berisi 3 baju dengan warna yang berbeda " Kalau ini berapa harganya?" Tanyaku masih penasaran dengan harga bajunya.


"Ini tujuh puluh lima ribu" Jawabnya


"Nah, ini saja tujuh puluh lima ribu, sedangkan isinya ada tiga. berarti kan dua ratus dua puluh lima ribu" Aku masih bersikeras menjelaskan agar tidak salah hitung.


"Hah.. nona cantik. tujuh puluh lima ribu itu satu ikat ini. isinya tiga. kalau satu biji harganya dua puluh lima ribu" kembali dia menjelaskan padaku.


"Hah... gila bener harganya. Sumpah" Aku tepuk keningku dengan telapak tanganku. Bisa-bisanya daster bagus dan bahannya juga nggak nerawang di jual hanya dua puluh lima ribu.


"Sayang, kalau di pasar itu memang harganya murah, apalagi ini tempat grosir pasti jauh lebih murah. Makanya besok-besok kalau mau beli baju atau lainnya mending ke pasar saja ya, selain harganya murah kualitasnya juga nggak jelek-jelek amat. Kalau sudah robek tinggal di jahit lagi, atau mau ganti baru juga nggak apa-apa" Arka berucap.


Aku masih terdiam memikirkan harga di pasar ini. Kemaren saja aku beli dress seharga tujuh juta, itu saja sudah di diskon dua puluh persen. Kalau uang tujuh juta buat beli di toko ini, bisa-bisa dapat baju seratus potong, bisa-bisa malah lebih.


"Sayang, kamu nggak mau nambah beli baju apalagi gitu. Mumpung masih disini, biar sekalian"


"Eh... Enggak usah deh. Itu tadi udah kamu pilihin buat aku kan? Itu saja sudah cukup" Jawabku.


"Ya sudah kalau gitu" Lalu Arka mengeluarkan uang untuk membayar di kasir.


Semua baju yang di beli di masukkan ke dalam karung besar. Lalu kami berpamitan kepada pemilik toko. Sedangkan karung tadi sudah ada di samping Bambang yang sudah siap memikulnya.


"Dimana parkir nya?" Tanya Bambang


"Di dekat warung Mbok Jum. Mobil CRV putih ya" Jawab Monika.


Dengan sekali hentakan, karung itu sudah berpindah ke punggung Bambang. Lalu dia berjalan dengan cepat melewati jalanan yang ramai.


Kami pun berpamitan kepada pemilik toko. Lalu pergi menuju parkiran. Sampai disana sudah ada Bambang yang berdiri di belakang mobil sambil menghembuskan asap rokoknya.


"Mas" Arka mendekati Bambang dan menyelipkan sesuatu ke tangan Bambang.


Bambang tampak heran dan membuka genggaman tangannya, terlihat uang merah di telapak tangannya.


"Wah, bos. Makasih banyak bos. Semoga banyak rejeki ya bos" Wajah Bambang tampak sumringah.


"Aamiin" Aku dan arka serempak meng-Aamin-i doanya.


***


Suasana Cafe tampak rame. Sepertinya mereka sudah datang semua, dan menunggu kedatangan Arka. Cafe ini sudah di booking sama Arka. Jadi tidak ada pengunjung lain selain para staf Arka.


Acara berjalan dengan lancar. Dan di akhiri dengan makan bersama. Meskipun hanya acara sederhana tapi mampu membuat wajah mereka nampak sumringah.


"Sayang, setelah dari sini kita pulang ke hotel ya. Aku sudah sangat lelah, Luna juga kecapekan kayaknya. Lihat tuh Luna. Dia sudah tertidur saat acara baru mulai. Nanti kamu gendong saja ya sampai di mobil" Ucapku saat Arka duduk di sampingku.


"Iya sayangku. Bentar lagi kita langsung pulang kok. Tapi pulang ke Jakarta besok saja ya. Malam ini kita istirahat dulu." Aku pun mengangguk dengan jawabannya.


"Monika, siapkan tiket untuk ke Jakarta besok ya"


"Siap bos"

__ADS_1


__ADS_2