Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Kesedihan Aisyah


__ADS_3

"Kalau bukan karna laki lu, ogah deh gua pake ginian" Firna terus saja ngomel.


"Bentar deh, karna Arka? Emang dia nyuruh kalian tobat?'" Tanyaku


"Bukan gitu Ca, Tadi malam dia nelpon gue, nyuruh gue datang ke acara syukuran rumah lu. Awalnya gue nolak karna gue masih canggung ma lu. Tapi dia terus mendesak gue. Dia bilang lu kangen ma gue dan temen-temen yang laen. Ya sudah gue setuju. Tapi dia pesan kalau mau ikut acara syukuran harus pakai beginian." Alda bicara panjang lebar sambil menjinjing paper bag yang ada di depannya.


"Emang acaranya ngapain aja sih kok pakai beginian" Tanyaku heran.


"Astaga" Firna menepuk jidatnya dengan telapak tangannya sendiri.


"Jadi lu nggak tau, acaranya apaan? Gila lu" Joy berkata dengan suara yang sedikit kesal.


"Sumpah deh gue nggak tau" Rasa heran dan bingungku semakin bertambah.


"Gimana sih lu ini. Lu yang punya acara, tapi nggak tau acaranya apaan" Seru Alda.


"Aku tau acaranya, acara pindahan rumah kan. Di rayain bareng temen,keluarga. Kita makan-makan iya kan" Jelasku pada mereka.


"Wah, bener-bener nggak waras nih bocah. Caca gue kira setelah lu nikah berubah jadi pinter. Ternyata lu oon juga ya." Alda sedikit meninggikan nada suaranya.


"Kok gitu sih, kan bener apa yang aku bilang, kita kumpul-kumpul terus makan-makan. Sudah beres" Jawabku enteng.


"Ada apa sih kok ribut banget?" Aku menoleh tiba-tiba Arka muncul di belakangku, menghampiriku dan memegang kedua bahuku.


"Bang, bini lu parah banget. Masa dia nggak tau bakal ada acara apaan di rumah sendiri." Firna mengadu pada Arka, seperti seorang anak yang mengadu pada bapaknya karna di jahilin temannya.


"Masa sih nggak tau?" Tanya Arka mendekatkan wajahnya ke samping telingaku.


Aku pun menoleh ke arahnya sehingga hidungku bertabrakan dengan dagunya. Aku kembali memalingkan wajahku darinya, menghadap ke depan seperti semula.


"Beneran nggak tau, yang aku tau cuma kalau acara pindah rumah baru, pasti bakal ada party kecil-kecilan seperti makan-makan gitu. Tapi kenapa kalian bawa jilbab juga sih" Aku terus saja membela diri.


Arka semakin mendekatkan wajahnya di samping wajahku. sehingga kedua wajah kami terlihat sejajar.


"Sayang, acara nya memang makan-makan, tapi sebelum itu ada pengajian juga" lirih Arka.


"Hah, pengajian ?" Sontak membuatku terkejut.


Arka mengangguk memastikan. Aku langsung berdiri dan menghadap ke Arka.


"Kenapa kamu nggak bilang, dan satu orang pun nggak ada yang bilang padaku. Jahat semua" Aku mendorong tubuh Arka. Dan pergi meninggalkannya. Arka terus memanggil ku. Aku abaikan panggilannya.


Aku terus berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarku. Sampai di tangga aku berpapasan dengan Aisyah yang akan menuruni tangga. Dia melihatku, tapi aku hanya meliriknya. Mungkin dia merasa bahagia kalau tau aku marah sama Arka.


Begitu sampai di kamar, aku hempaskan tubuhku tengkurap di tengah-tengah ranjang. Lalu menangis terisak.


Nggak habis pikir, kenapa Arka nggak bilang kalau akan di adakan pengajian. Bahkan papa dan mama ku juga nggak ada yang memberitahuku. Sedangkan teman-temanku di beritahu semua.


Aku lirik jam yang menempel di dinding kamarku, sudah hampir jam sebelas siang. Sedangkan acaranya di mulai jam satu siang. Nggak mungkin jika aku harus pergi membeli baju untuk acara pengajian. Jujur, aku nggak punya satupun baju buat acara seperti itu.


Aku masih membenamkan wajahku di bantal. Merasa jengkel yang teramat sangat. Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan menyentuh punggungku. Aku tau itu Arka. Saat aku lirik ternyata dia sudah menaiki ranjang dan duduk di samping tubuhku yang tengkurap.


"Sayang, aku minta maaf" Ucapnya lirih.


Sedikit aku mengangkat kepalaku "Untuk apa? Untuk kebodohanku" Teriakku.


"Bukan itu maksudku. Dengarkan aku, aku kira kamu sudah tau kalau akan ada acara pengajian di rumah kita. Makanya buat apa aku harus bilang lagi. Maafkan aku ya" Arka mencoba memegang tanganku. Tapi aku menepisnya.


"Kamu sengaja kan nggak bilang sama aku. Mana aku tau kalau bakal ada pengajian. Nggak ada satu orang pun yang bilang sama aku." Aku masih terus berbicara dengan nada yang tinggi. Arka mencoba menenangkanku dengan mengelus kepalaku.


"Sekarang kan sudah tau kalau bakal ada pengajian terus masalahnya dimana, kenapa sampai marah kayak gini. Coba bilang sama aku" Ucap Arka masih dengan suara yang lembut.


Aku terdiam. Lalu duduk bersila menghadap ke arahnya.


"Aku kan nggak punya baju buat acara pengajian. Jadi aku nggak bisa ikut". Jawabku lirih.


"Jadi itu masalahnya. Gitu aja sampai marah kayak gini, sampai nangis pula, kan jadi jelek" Ledek Arka sambil mencubit pipiku.


"Aahh biarin aja jelek" Aku singkirkan tangan Arka yang masih mencubit pipiku. Aku monyongkan bibirku biar dia tau kalau aku masih ngambek sama dia. Maksudku sih biar lebih di manja.

__ADS_1


"Ya sudah nggak usah ngambek lagi, ayo kita keluar beli baju sebentar. Mumpung masih ada waktu satu jam" Ajak Arka


Aku pun mengangguk. Muncul ide nakalku untuk membalas menjahilinya.


Arka turun dari ranjang, sedangkan aku masih diam tidak mengikutinya turun.


Arka menoleh ke arahku "Kok malah diem?"


Aku ulurkan tanganku ke arahnya "Gendong"


Arka menghampiriku "Mau gendong depan apa belakang?"


"eemmm... belakang aja"


Arka memutar badannya membelakangiku, aku langsung naik ke punggungnya dan mengalungkan tanganku ke lehernya. Tangannya di lilitkan di belakang lutut ku agar bisa menahan berat tubuhku.


Arka langsung melangkahkan kakinya. Aku tersenyum puas di belakang tengkuknya.


"Hemm, senyum-senyum gitu, merasa puas ya" ucapnya.


Aku pun terdiam. Bagaimana dia bisa tau kalau aku senyum-senyum.


"Iya. Habisnya bikin jengkel saja. Pokonya harus gendong sampai mobil" Jawabku sambil tertawa.


"Siap tuan putri" Arka pun ikut tertawa.


Arka terus melangkahkan kakinya keluar kamar, saat akan menuruni tangga. Aku meminta untuk di turunkan tapi Arka menolak.


"Udah turun sini saja. Aku takut kalau di tangga" Ucapku


"Katanya mau sampai mobil" Arka mencoba mengingatkan ucapanku tadi.


"Nggak ah nanti jatuh" Jawabku


"Nggak mungkin dong. Jangankan turun tangga, naik pun bisa kok kalau cuma gendong kamu"


Arka hanya tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuruni tangga perlahan.


"Kamu ingat nggak waktu kamu tidur di sofa sama kakakmu. Terus saat bangun sudah ada di kamar. Siapa coba yang mindahin kamu ke kamar?" Tanya Arka.


"Siapa?"


"Aku lah" Jawab Arka penuh kebanggaan.


Aku pun tertawa cekikikan begitu juga dengan Arka.


Semua yang ada di ruang tengah mendongakkan kepala karena mendengar tawa kami, melihat kami yang sedang menuruni tangga.


Senyum menghiasi bibir semua orang yang melihat kami. Tapi hanya satu orang saja yang tidak menampakkan senyum di bibirnya, bahkan dia malah memalingkan wajahnya. Siapa lagi kalau bukan Aisyah, mantan pacar Arka.


"Cieee... udah akur nih" Goda Alda.


"Apaan sih" Jawabku.


"Arka, disini kamu rupanya" Ucap papa menghampiri kami.


"iya pa, ada apa?"


"Di luar ada Pak RT sedang nunggu kamu"


Seketika Arka langsung menurunkan ku.


"Sayang aku mau menemui pak RT dulu ya, kamu tunggu disini" Ucap Arka.


"Terus bajunya gimana?" rengekku


"Sebentar kok, kalau lima menit aku belum kembali, kamu bisa minta tolong anterin Alda atau Firna. Nggak apa-apa kan?" Arka terus membujukku.


"Jangan lama-lama" Sahutku ketus.

__ADS_1


Arka tersenyum dan mengelus puncak kepalaku. Lalu dia berjalan beriringan dengan papa.


Aku hempaskan tubuhku di sofa. Merasa kesal karena di abaikan.


"Emang lu mau beli baju?" Tanya Alda


Aku mengangguk "heem" menjawab dengan deheman.


"Udah tau pengajian mau mulai, lu malah ribut minta beli baju" Gerutu Firna.


"Justru itu, aku mau beli baju buat acara pengajian. Aku nggak punya baju begituan" Jawabku lirih.


"Ya udah buruan kita pergi, ada motor nggak, biar cepet?" Tanya Alda. Seketika aku melotot padanya.


"Nggak ah, nggak mau kalau harus naik motor sama kamu. Bisa-bisa aku mati jantungan" Tolakku.


Alda meneldwngus kesal menerima penolakanku. "Ya udah ayo" Ajak Alda.


Aku pun segera berdiri. Tiba-tiba Aisyah mendekatiku.


"Teh, kalau teteh mau, teteh bisa pakai baju gamis punyaku" Tawar Aisyah.


"Bajumu?" Aku terdiam memikirkan tawaran Aisyah.


"Iya teh, tapi tenang saja, bajunya masih baru kok, belum pernah di pakai" Lontar Aisyah seolah mengerti yang ada di otakku.


"Udah terima aja, daripada pergi keluar" Bisik Alda sambil menyenggol lenganku.


"Baiklah" Jawabku menyetujui.


"Bajunya ada di atas,biar saya ambilkan dulu ya" Ucapnya


"Nggak usah, aku mau ke atas sekalian saja ganti baju." Ucapku.


"Gue ikut ya, gue juga mau ganti baju" Seru Joy.


"Kalau mau ganti di kamar tamu juga bisa, bawa masuk semua barang-barang kalian ke kamar. Biar nggak bikin berantakan rumahku" Ucapku


"Ya elah tuan rumahnya galak amat" Gerutu Firna. Semua pun tertawa.


Aku berjalan menaiki tangga bersama Aisyah. Aku mengikutinya yang akan memasuki kamar.


"Boleh ikut masuk?" Tanyaku . Biarpun ini rumahku sendiri tapi aku masih punya etika, karna selama dia disini, dia yang memakai kamar ini.


"Silahkan teh" Senyum itu tersungging di bibirnya.


Aku pun mengikutinya masuk kamar. Duduk di depan meja rias, menunggunya mengambil baju. Aku tatap wajahku di depan cermin. Rambutku tampak berantakan, kemudian aku ambil sisir untuk merapikan rambutku.


"Teh, ini bajunya" Aisya menyodorkan sebuah bingkisan yang masih terbungkus rapi seperti kado. Aku tidak langsung menerimanya. Aku masih tercengang dengan yang dia berikan.


Aisyah menatapku, dan meraih tanganku agar menerima pemberiannya.


"Aisyah, ini sebuah hadiah kan. Kenapa kamu memberikannya padaku? Pasti ini hadiah istimewa buat kamu dari seseorang? Iya kan?" Tanyaku random.


Aisyah menatapku dan tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca. Terlihat jelas kesedihan di dalam matanya.


"Iya teh, ini memang sebuah hadiah dari seseorang, seseorang yang pernah berarti dalam hidupku. Tapi itu dulu. Sekarang sudah enggak lagi. Karena sudah ada seseorang yang lebih pantas mendampinginya. Teteh terima ini ya" Terdengar suaranya yang bergetar, seperti menahan tangisan. Aisyah menundukkan wajahnya.


Aku terima bingkisan itu dari tangannya.


"Aisyah, apa ini dari Arka?" Tanyaku tanpa basa basi. Aisyah mengangguk perlahan.


Aku pegang bahunya. "Aisyah, kenapa kamu memberikannya padaku?"


"Karena teteh lebih pantas menerimanya" Dia mengangkat wajahnya. Aku terkejut saat melihat pipinya sudah basah dengan air mata.


Aku letakkan bingkisan itu di meja rias. Tanpa ragu lagi aku langsung memeluknya.


"Aisyah...Maafkan aku. Gara-gara aku, kamu terpaksa kehilangan Arka. Lelaki yang sangat kamu cintai" Ucapku lirih di samping telinganya. Tangis lirih Aisyah terdengar jelas di telingaku.

__ADS_1


__ADS_2