Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Aku lanjutkan sarapanku saat Arka sudah pergi, sepiring nasi kuning lengkap dengan ayam kremesnya dan lauk lainnya. Terasa enak di lidah, tapi perutku tidak sependapat. Karena baru beberapa suap saja, perutku terasa mual. Langsung aku hentikan sarapanku dan meneguk segelas air putih hangat.


Aku tarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Aku lakukan sampai berulang-ulang. Lama-kelamaan rasa mual itu hilang dengan sendirinya.


Aku usap perlahan permukaan perutku "Kenapa sayang, kenapa nggak mau maem?" Gumamku sendiri.


Handphone ku berdering. Mamah yang menghubungiku.


"Halo mah....apa kabar?" Sapaku.


"Baik sayang, gimana kabar kamu sayang, kata Arka kamu masih sering mual ya?" Tanya mamah.


"Iya mah, barusan aja waktu sarapan mual lagi. Jadinya nggak habis makannya. Padahal pingin banget habisin makanannya."


"Sabar ya sayang, itu biasa terjadi saat hamil muda biasanya sampe tiga bulan. Waktu dulu mamah hamil Arka, mamah malah nggak mau makan nasi sama sekali sampai lahiran."


"Terus kalau mamah nggak makan nasi, selama hamil mamah makan apa?" Tanyaku penasaran.


"Mamah ganti nasi dengan singkong, ubi, kadang juga kentang. Tapi lebih sering makan singkong karna dulu ayah sama kakek Arka nanam singkong sendiri. Malah mamah yang biasanya nggak suka sama wortel jadi suka makan wortel sampai sekarang. Jadi kalau ada perubahan dengan makanan jangan terlalu di pikirkan ya. Itu hal biasa" Jelas mamah.


"Oh gitu ya mah. Apa calon anakku juga nggak mau makan nasi ya mah. Tadi pagi makan nasi kuning perutku langsung mual. Tapi tadi malam makan brownies habis satu kotak sekaligus nggak terasa mual sama sekali." Ucapku.


"Yang penting kamu tetap sabar ya sayang, jaga kesehatan dan juga kontrol emosi kamu biar kamu nggak gampang stress" Nasihat mamah.


"Iya mah. Caca akan menjaganya"


Aku dan mamah bercakap panjang lebar dari A sampai Z. Mamah mertuaku begitu peduli denganku. Berbagai cerita dan nasihat dia berikan sehingga membuatku lebih tenang. Sebelum menutup sambungan telepon mamah juga menceritakan tentang Firna dan juga Alda. mamah mengatakan kalau mereka udah nggak pernah keluar malam lagi. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, kalau nggak tidur ya bantuin mamah masak. Itu lebih baik daripada mereka keluyuran malam lagi.


Setelah mamah menutup panggilan teleponnya, aku searching di google tentang problema hamil muda. Ternyata banyak juga yang mengalami perubahan karena kehamilan. Salah satunya yang aku alami ini. Mual dan muntah adalah hal biasa di awal kehamilan. Meskipun ini hal biasa tapi bagiku rasanya sungguh luar biasa, karena aku belum pernah ngalamin hal seperti ini.


Selesai searching aku letakkan handphone ku di meja. Merasa bosan berada di kamar saja. Tidak ada kegiatan lain yang bisa aku lakukan di dalam kamar selain tidur dan duduk malas-malasan. Aku putuskan untuk pergi mencari angin segar.


Segera aku ganti pakaianku dengan pakaian yang bisa membuatku nyaman. Hotpant dari bahan katun dan juga kemeja putih yang berukuran jauh lebih besar dari badanku.


Aku keluar dari kamar dengan tujuan yang nggak tentu arah. Hanya mencari angin segar. Sambil berjalan menyusuri koridor, aku berpikir kalau aku akan minum secangkir espresso di resto hotel.


Sampailah di area resto, angin segar berhembus dengan bebas menerpa wajahku karena area resto memang terbuka. Cocok sekali untuk bersantai, apalagi ada juga kolam renang yang cukup besar di area resto.


Tidak banyak orang yang mandi di kolam, karena ini memang bukan weekend. Hanya ada beberapa orang saja yang berenang. Di resto juga hanya beberapa orang saja yang sedang berbincang dengan sajian minuman dan juga camilan di depan mereka, karena ini memang belum waktunya makan siang.


Aku memesan espresso dan juga makanan ringan. Benar-benar merindukan hangout bareng temanku, sudah lama sekali aku tidak hangout bareng mereka, tidak lagi nongkrong di cafe meski hanya sekedar memesan kopi ataupun bir.


Aku tersenyum sendiri memikirkan hal itu. Karena merasa begitu konyolnya hidupku sebelum nikah.


Aku seruput espresso yang ada di depanku "Boleh duduk disini?" Suara lelaki yang tak asing di telingaku. Belum juga aku lihat wajahnya tapi aku benar-benar mengenalinya. Terdiam dalam sekian detik. Sampai akhirnya aku beranikan diri mengangkat wajahku ke arahnya.


"Farhan???" Gumamku tak percaya.

__ADS_1


Farhan menarik kursi dan duduk berhadapan denganku "Iya, ini aku. aku harap kamu belum lupa denganku" Ucapnya.


Terdiam, hanya itu yang bisa aku lakukan. Ini nyata tapi seperti mimpi, aku tidak percaya bisa bertemu dengannya lagi. Lelaki yang dulu sangat aku cintai tapi juga aku benci.


"Kenapa kamu kaget seperti itu, ini aku, Farhan. Lelaki yang sangat kamu cintai" Ucapnya lagi mencoba menjelaskan. Aku masih terdiam tidak mampu berkata-kata.


Dengan cepat aku ambil handphone yang aku letakkan di samping cangkir espresso lalu aku berdiri, ingin meninggalkannya. Tapi secepat kilat dia berdiri dan menarik tanganku dengan kencang. Bruukk.... Sehingga aku menabrak dadanya.


"Kamu mau kemana, aku disini. Aku sangat merindukanmu sayang." Bisiknya di samping telingaku.


Aku dorong tubuhnya "Biarkan aku pergi. Lepaskan tanganmu" Ucapku dengan sedikit geram.


"Aku tidak akan melepaskanmu. Aku benar-benar merindukanmu. Aku ingin menatap wajahmu lebih lama lagi. Karna sudah lama aku tidak menatapmu." Ucapnya.


"Hubungan kita sudah berakhir, jadi jangan ganggu aku lagi. Lepas atau aku akan berteriak." Ancamku.


"Kenapa harus berteriak, apa kamu mau semua orang tau kalau kita pernah bertunangan?" Ucap Farhan menunjukkan jari manisnya. Aku terkejut kenapa cincin tunangan itu masih melingkar di jarinya.


"Lepaskan tanganku" Ucapku lagi


Mata Farhan melihat sekeliling, sebagian orang menatap kami dengan tatapan tajam. Perlahan farhan melepas cengkeraman tangannya. Tanpa bicara lagi aku pun berlari pergi meninggalkannya. Saat berlari di koridor sesering mungkin aku menoleh ke belakang, takut kalau dia mengikutiku. Untung saja dia tidak ada di belakangku. Aku berhenti sejenak. Nafasku memburu, aku tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Sekali lagi aku menoleh ke belakang. Benar-benar tidak ada, aku bernafas dengan lega. Lalu aku kembali berjalan lebih cepat menuju kamarku.


Segera aku buka pintu kamar dan aku tutup kembali. Di balik pintu aku sandarkan tubuhku, tetes demi tetes air mataku terjatuh. Terduduk lesu di balik pintu, aku dekap kedua kakiku di depan dada. Aku benamkan wajahku diantara kedua lututku. Aku pun menangis sejadi-jadinya.


"Sayang, kamu... kamu sudah pulang?" Aku terkejut saat melihat Arka sudah berada di depanku.


"Iya, aku sudah pulang. Bukannya kita akan konsultasi ke dokter hari ini?" Ucap Arka datar.


Cara bicara Arka tampak berbeda saat ini. Kenapa dia tidak menanyakan kenapa aku menangis, kenapa juga dia tidak menanyakan aku darimana, kenapa dia juga tidak meneleponku saat dia pulang aku tidak ada di kamar.


"Sayang, aku...aku.." ucapanku terputus.


"Mandilah, setelah itu istirahat. Karena aku juga lelah" Ucap Arka dengan lirih.


Arka berdiri dan meninggalkanku yang masih terduduk di lantai. Dalam pikiranku terdapat tanda tanya besar atas sikap Arka.


Aku berjalan melewatinya yang sudah terbaring di ranjang dengan mata yang sudah tertutup. Tapi aku tau kalau dia belum tidur.


Di dalam kamar mandi aku hanya membasuh wajahku. Lalu kembali ke kamar menemui Arka. Ingin rasanya menanyakan semuanya padanya. Tapi aku rasa ini bukan waktu yang tepat. Aku rasa dia sedang ada masalah sulit di kantor. Lebih baik aku menanyakan tentang pekerjaannya saja.


"Sayang" Panggilku, tapi tidak ada jawaban.


Aku berusaha mendekatinya. Aku peluk tubuh kekarnya.


"Sayang, kamu belum tidur kan?" Tanyaku

__ADS_1


"Hmm" Jawabnya dengan menggumam.


"Apa masih ada masalah di kantor?" Tanyaku lagi


"Nggak ada, semua masalah kantor sudah beres" Jawabnya.


"Terus kenapa kamu kayak gini. Kamu capek ya. Apa mau aku pijitin?" Aku berusaha merayunya.


"Nggak usah." Jawabnya dingin.


"Sayang, kalau kamu tidak ada masalah di kantor terus kenapa kamu diam kayak gini. Apa ada masalah lain? Terus kenapa kamu pulang cepet nggak ngabarin aku, bahkan saat kamu masuk kamar aku nggak ada pun kamu nggak mau nyari aku, nggak ada rasa khawatir"


"Buat apa nyari kamu, kalau aku tau kemana kamu pergi" Perkataan Arka perlahan tapi terasa mencekik leherku seakan aku kehabisan udara untuk bernafas.


"Jadi....."


Arka menyingkirkan tanganku dari atas dadanya. Arka duduk di sisi ranjang "Iya aku tau kamu pergi kemana, aku juga tahu wajah lelaki yang menggenggam tanganmu bahkan dia juga memeluk tubuhmu. Suami mana yang tahan melihat istrinya di peluk lelaki lain" Arka meremas rambutnya dengan kasar. Kedua sikunya bertumpu pada kedua pahanya.


Secepat kilat aku turun dari ranjang dan duduk bersimpuh di hadapannya.


Aku tatap wajah Arka yang masih menunduk. Wajahnya memerah kedua matanya sembab, karena ternyata dia menangis. Aku tau betapa sakit hatinya dia melihatku di peluk lelaki lain, dia benar-benar merasa di khianati.


Dengan perlahan aku jelaskan pada Arka. "Sayang, dengarkan aku, aku akan jelaskan semuanya. Aku minta maaf, aku bener-bener minta maaf sama kamu. Tadi aku nggak sengaja bertemu dengannya. Pelukan itu bukan aku yang mau. Tapi dia sendiri yang memaksaku. Bahkan dia juga nggak mau melepaskan cengkeraman tangannya. Aku sudah nggak punya perasaan apapun dengannya. Apa kamu nggak percaya denganku?" Jelasku dengan isak tangis.


Arka masih terdiam. Aku pun berdiri sehingga posisiku lebih tinggi darinya. Aku angkat tangan kanannya. Aku letakkan di perutku.


"Aku nggak berkhianat dari kamu. Apa kamu masih meragukanku?"


Arka mengangkat kepalanya, dengan posisi duduk Arka memeluk tubuhku dan menciumi perutku.


"Maafkan aku sayang, betapa bodohnya aku ini yang tidak mempercayai istriku sendiri" Ucapnya dalam tangis.


Aku usap kepalanya dengan sangat lembut. Air mataku masih saja menetes.


"Sayang, sudah jangan kayak gini. Aku tahu kamu hanya salah paham. Kamu sendiri kan yang bilang kalau ada apa-apa di bicarakan dengan baik-baik. Tapi kenapa kamu nggak bisa melakukannya?"


"Maafkan aku sayang, aku sudah di butakan rasa cemburu. Itu semua karena aku nggak mau kamu di sentuh lelaki lain selain aku."Ucap Arka.


"Iya aku tau, tapi itu bukan mauku. Katanya kamu lelah, sekarang kita istirahat aja dulu ya. Nanti sore aja ke dokternya" Ucapku.


"Kamu juga istirahat ya" Ucap Arka. Aku mengangguk.


Lalu Arka mengangkat tubuhku dan merebahkannya di ranjang. Dia juga ikut berbaring di sampingku. Kami saling peluk.


"Jangan pernah khianati kepercayaanku" Ucapnya lirih.


"Iya sayang, aku nggak akan pernah khianati kamu. Karna aku nggak mau kehilangan kamu" Bisikku. Lalu mata kami sama-sama terpejam dan kemudian kami juga sama-sama terlelap.

__ADS_1


__ADS_2