Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Sampai di sana, banyak sekali tamu undangan yang hadir. Semua berpakaian rapi, benar kata Arka, semua perempuan yang hadir disini memakai baju muslim. Untung saja aku tidak salah kostum.


Aku hanya melongo melihat banyaknya orang yang hadir disini. Aku sempat menjadi gugup. Tapi genggaman tangan Arka seolah memberi kekuatan padaku. Kemudian ada satu orang lelaki paruh baya yang menghampiri kami. Dan berjabat tangan dengan Arka.


"Terima kasih pak Arka atas kedatangannya, sebuah kehormatan besar karna bapak berkenan menghadiri undangan kami" Wajah bapak tadi terlihat sangat gembira saat menatap Arka.


"Saya yang seharusnya berterima kasih, baru masa perkenalan saya sudah mendapat undangan....Oh iya pak Adam, kenalkan ini istri saya. Sayang, kenalkan ini pak Adam staf bagian keuangan di pabrik tekstil. Beliau ini yang nantinya akan membantuku mengelola pabrik" Aku dan pak Adam berjabat tangan sebagai tanda perkenalan dan tak lupa juga aku hiasi wajahku dengan senyum terbaikku.


Pak Adam memanggil istri nya untuk di perkenalkan padaku dan juga pada Arka. Istri pak Adam menerimaku dengan sangat baik, bahkan dia memperlakukan ku layaknya seorang bintang tamu.


Kami pun berbincang-bincang. "Kita gabung disana saja yuk, biarkan bapak-bapak disini." Ajak istri pak Adam.


Usia istri pak Adam mungkin hanya selisih beberapa tahun lebih tua dariku. Tapi dia tampak cantik meskipun hanya memakai pakaian yang sederhana.


Aku di ajak bergabung dengan tamu undangan lainnya. Tentunya di dampingi dengan istri pak Adam. "Ma, adek nangis, sepertinya haus" Seorang anak kecil menghampiri istri pak Adam. Ternyata anak itu adalah anak pertama pak Adam.


"Saya tinggal sebentar ya, nggak apa-apa kan nunggu disini?" Aku mengangguk saat istri pak Adam berpamitan.


Tidak ada lagi orang yang ku kenal disini, semua saling berbincang dengan orang yg duduk bersebelahan. Aku mencari sosok Arka, ternyata dia duduk di seberang ku dengan arah saling menghadap. Hanya saja terhalang meja panjang yang penuh dengan makanan. Dia duduk di barisan paling depan. Sedangkan aku duduk di barisan kedua dari depan.


Aku terus menatapnya, dan matanya juga menatapku. Dia tersenyum padaku, sehingga membuatku malu sendiri. Saat aku sedang saling pandang, terdengar dua orang perempuan yang duduk di barisan paling depan, tepat di depanku. Seperti sedang membicarakan Arka.


"Coba liat deh cowok yang di sebelah pak Adam, cakep banget ya. Daritadi menghadap kesini sambil senyum-senyum. Siapa sih dia?" Tanya salah satu perempuan dari mereka.


"Mana ku tau, coba tanya sama Bu Adam." Yang satunya memberi saran.


Karna mendapat saran dari temannya, perempuan tadi menoleh ke belakang, tapi aku pura-pura sibuk dengan handphoneku.


"Mbak, kemana Bu Adam tadi?" Tanya perempuan itu padaku.


"Oh, tadi anaknya nangis jadi dia kesana" Jawabku dengan polosnya.


Tanpa bicara lagi perempuan itu kembali menghadap ke depan.


"Ya ampuuunn cakep banget sih cowok itu. Bikin aku klepek-klepek"


"Iya cakep banget, udah punya cewek belum ya"


Aku terkekeh geli mendengar pembicaraan mereka berdua. Tak lama kemudian Istri pak Adam kembali lagi dengan menggendong anaknya yang masih bayi. Belum juga duduk perempuan di depanku tadi langsung bertanya pada istri pak Adam.


"Bu Adam, itu siapa sih cowok yang duduk sebelahan sama pak Adam?"


"Oh itu, itu Pak Arka. Memangnya tadi pagi kalian nggak hadir di kantor. Tadi pagi kan di adakan perkenalan." Jawab Bu adam.

__ADS_1


"Enggak, soalnya tadi pagi kita berdua di pabrik, kita kira pimpinan barunya bapak-bapak yang udah berumur. kita nggak tau kalau yang namanya pak Arka cakep banget, tau gitu kan tadi kita ikut aja kekantor" Terdengar seperti penyesalan dengan kalimatnya. Ya ampun dasar sinting nih perempuan, pikirku.


"Udah punya cewek belum sih dia?" Tanya perempuan itu lagi.


Mendengar pertanyaan itu dengan cepat aku mencolek paha Bu Adam. Semoga dia paham dengan maksudku.


"Kalau cewek sih dia nggak punya" Jawaban Bu Adam membuatku lega.


"Yess dia nggak punya cewek" Terdengar girang banget tuh perempuan.


"Mau punya cewek kek, mau punya istri kek, kalau dah liat kecantikan ku pasti dia akan terpesona" Suara tawa pun terdengar dari mulut kedua perempuan itu.


Untung aja ini di tempat orang hajatan, coba aja di cafe atau outdoor dah habis tuh muka perempuan aku acak-acak. Istri pak Adam menatapku dengan raut wajah memerah karena malu. Aku hanya tersenyum pada istri pak Adam saat melihat tingkah perempuan di depanku ini.


Acara di mulai dengan bacaan-bacaan doa yang di pimpin oleh seorang ustadz. Acara berjalan dengan khidmat. Sebelum di lanjutkan ke acara berikutnya yaitu acara makan-makan. Pak Adam kembali memperkenalkan Arka sebagai kepala pimpinan pabrik, yang sekaligus sebagai pemilik pabrik. Perkenalan tadi pagi hanya melibatkan orang-orang kantor dan para perwakilan dari pabrik. Sehingga banyak karyawan pabrik yang belum mengenal Arka.


Tanpa aku ketahui ternyata pabrik milik papa sudah sah menjadi milik Arka. Dan itu baru aku ketahui saat pak Adam menceritakannya padaku. Aku sendiri tidak tahu menahu dengan apa yang sudah papa berikan pada Arka. Meskipun aku adalah anak kandung papa, dan Arka sebagai menantu. Tapi papa lebih mempercayakan semuanya pada Arka. Itu tidak masalah buatku. Karena papa telah percaya pada orang yang tepat. Arka pantas mendapat semua itu. Dan itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri buatku. Aku sendiri sadar karena aku nggak akan sanggup untuk mengurus usaha papa.


Tepuk tangan riuh terdengar sehingga membuyarkan lamunanku. Aku melihat Arka sedang berbicara menggunakan mikrofon di tangannya. "Dan saya akan memperkenalkan istri saya pada kalian semua, tapi saya harap semua laki-laki yang hadir disini, terutama yang masih single jangan terlalu menatap wajah istri saya" suara yang terdengar menggema di ruangan yang cukup besar ini, dan semua orang hanya diam mendengarkan pembicaraan Arka.


"Kenapa pak?" Tanya seorang lelaki yang hadir disini.


"Karena kalian akan jatuh cinta padanya" Seketika suara tawa terdengar keras membahana memenuhi ruangan ini bahkan lebih keras dari mikrofon.


"Bu Adam , mana istrinya pak Arka" Suara itu seperti tertahan agar tidak terdengar dengan orang lain.


Istri pak Adam memberi jawaban hanya dengan mengangkat alisnya yang menunjuk ke arahku. "Sialan, mampus kita" Gumam mereka berdua.


"Silahkan ke depan Bu Arka" Istri pak Adam memberi jalan untukku. Dan sekilas aku melirik Bu adam, dia seperti sedang tertawa mengejek ke arah dua perempuan itu.


Puluhan pasang mata menatap ke arahku. Tak ada suara lagi saat aku berjalan menghampiri Arka. Hanya terdengar beberapa orang sedang berbisik saat aku melewatinya.


Arka mengulurkan tangannya, aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku raih tangan itu. Suara tawa dan tepuk tangan terdengar jelas saat Arka mencium punggung tanganku, bahkan suara itu lebih keras dari sebelumnya.


"Waahh so sweet sekali"


"Pasangan serasi"


"Bikin iri"


"Yang jomblo tetap jomblo"


Dan masih banyak lagi suara-suara teriakan dari mereka yang saling bersahutan. Aku pun tertunduk malu, karena belum pernah menjadi sorotan utama di sebuah acara seperti ini.

__ADS_1


Sedikit aku tarik baju Arka agar dia sedikit menundukkan kepalanya. "Aku malu" Bisikku di telinganya.


Entah di dengar atau tidak bisikanku tadi, Arka malah melingkarkan tangannya ke pundakku. Dan kembali dia mengatakan candaan-candaan yang berhasil membuat semua orang tertawa dan merasa iri dengan perlakuan Arka. Awalnya aku merasa malu, tapi hati kecilku berkata bahwa ini adalah sebuah kebanggaan karena Arka berani memperkenalkanku secara terbuka.


Setelah itu kami pun melanjutkan dengan makan-makan. Saat makan pun banyak yang menghampiri Arka untuk sekedar menyapa dan berkenalan. Daritadi aku memperhatikan sikap Arka, ternyata dia adalah orang yang mudah akrab bahkan dengan orang yang baru dia kenal. Tanpa memandang status atau pun jabatan mereka. Aku benar-benar kagum pada sosok lelaki yang sekarang menjadi suamiku ini.


Saat aku sedang menikmati cake coklat, tiba-tiba ada yang menyentuh lenganku. Aku pun menoleh, dan ternyata ada dua perempuan di sebelahku. Perempuan yang daritadi membicarakan Arka di depanku.


"Ada apa mbak?" Tanyaku dengan senyum khasku.


"emm... kami.. kami mau minta maaf. Minta maaf atas sikap kami tadi" Jawab salah satu dari mereka.


"Minta maaf?? Untuk apa?" Aku pura-pura tidak mengerti di depan mereka.


"Minta maaf atas ucapan dan sikap kami yang tadi"


"Oh itu, sudahlah jangan di pikirkan. Berarti kalian wanita normal. Saya paham betul dengan sikap wanita yang memandang suami saya. Pasti akan tergila-gila dengan ketampanannya. Tapi sayangnya suamiku terlalu setia denganku, sehingga dia tidak akan jatuh hati pada wanita di luar sana meskipun kecantikannya melebihi istrinya" Ucapanku hanya sekedar untuk menyadarkan perempuan tadi.


Tanpa berkata lagi aku meninggalkan dua perempuan itu dan menghampiri Arka. Merasa muak dengan mereka. Untung saja aku masih bisa kontrol diri.


"Sayang, aku capek daritadi berdiri terus. Rasanya kakiku sudah kelelahan" Bisikku di telinga Arka.


"Mau pulang sekarang?" Aku pun mengangguk dan memasang wajah melas di depannya.


"Tunggu sebentar ya, aku pamit dulu sama pak Adam" Arka meninggalkan ku sebentar dan menghampiri pak Adam. Mereka berbincang sebentar sebelum menghampiriku.


"Bu Arka, terima kasih banyak ya atas kehadirannya. Maaf ya hanya ini yang bisa saya sajikan. Saya dan suami mohon maaf ya atas ketidaknyamanannya di acara kami"


"Saya senang kok Bu Adam, sudah di undang ke acara ini. Terima kasih banyak ya atas undangannya. Semoga baby-nya sehat terus ya." Kami pun saling peluk dan saling cium pipi.


"Aamiin... semoga Bu Arka dan Pak Arka segera di beri momongan ya, biar lengkap"


"Aamiin" Sahutku tanpa menunggu lama. Aku melirik Arka kilas, Arka hanya menatapku.


"Oh iya pak Adam, hampir lupa. Saya dan istri punya hadiah kecil buat baby-nya. Jangan di lihat isinya ya. Harap maklum saya dan istri belum paham tentang baby" Arka pun tertawa malu dengan ucapannya sendiri.


"Pak Arka nggak perlu repot-repot pakai di bawain hadiah segala" Sahut pak Adam.


"Kalau pak Adam nggak mau, ya nggak apa-apa. saya bawa pulang lagi buat persiapan anak saya nantinya."


"Aduuuhh... Pak Arka ini ternyata suka sekali bercanda ya..." Pak Adam dan istrinya tertawa.


Sebelum pulang Arka meminta Pak Adam mengambil hadiah yang masih tersimpan di dalam mobil. Istri pak Adam membelalakkan mata saat mengetahui hadiah itu sangat besar. Ucapan terimakasih dari pak Adam dan istrinya tak henti-hentinya terucap. Mereka berterima kasih dan mengucapkan doa-doa yang baik untukku dan Arka.

__ADS_1


Kami pun segera berpamitan dan melajukan mobil ke jalanan yang sudah mulai sepi. Aku lirik jam di tanganku. Sudah hampir pukul sebelas malam. Pantas saja jalanan sudah sepi. Tapi biarpun jalanan sepi, Arka melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Karna dia lebih mementingkan keselamatan dalam berkendara.


__ADS_2