Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Haris Melamar lagi


__ADS_3

POV Firna


Yang di katakan Alda ada benarnya juga. Kenapa aku menyia-nyiakan lelaki sebaik Haris. Daridulu dia selalu perhatian dan peduli sama aku. Meskipun aku bukanlah wanita baik-baik.


Meskipun aku mengabaikannya, Haris selalu berjuang dan menunjukkan kesungguhannya. Mungkin aku wanita bod*h yang mengabaikan ketulusannya demi mengejar uang.


Tak bisa di pungkiri, aku tidak terbiasa hidup sederhana ataupun kekurangan. Dari kecil aku sudah di manjakan oleh orangtuaku dengan kemewahan. Kebiasaan inilah yang terbawa sampai aku dewasa, bahkan sampai saat ini.


Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku menjadi miskin. Ya, sejak kedua orang tuaku mengalami kecelakaan pesawat dan meninggal, perlahan semua harta milik orangtuaku habis tak tersisa.


Demi mencukupi gaya hidupku yang mewah aku rela menjual diri, tidak hanya dengan satu atau dua lelaki, aku sudah melakukan dengan lebih dari sepuluh lelaki. Bahkan aku rela tidur dengan suami orang. Sampai-sampai ketahuan istri sahnya dan aku di labrak dengan sebutan pelakor. Bahkan istri sahnya mengucap sumpah serapah kepadaku.


Gaya hidupku yang tinggilah yang menjerumuskanku ke dalam lembah dosa. Demi uang aku tak peduli dengan dosa yang aku lakukan. Yang aku pikirkan hanya uang, uang, dan uang saja. Untuk itulah aku tidak peduli dengan Haris karena dia bukan berasal dari keluarga kaya. Aku tidak mau menghabiskan sisa umurku dengan hidup menderita.


Aku selalu mencari lelaki kaya untuk aku pacari. Tidak sulit bagiku untuk mendapatkannya. Karena aku juga punya wajah yang cukup cantik dan tubuh yang terawat.


Tetapi lelaki yang aku pacari tak satupun bersedia untuk menikahiku. Mereka hanya menjadikanku sebagai pemuas nafsu, meskipun mereka bersedia menggelontorkan uang yang tidak sedikit untukku. Tapi itu tidak masalah bagiku karena aku juga tidak mau memaksa mereka yang penting semua kebutuhanku terpenuhi.


Tapi semua kemewahan yang aku miliki dan aku nikmati kini sudah tidak ada gunanya. Saat ini aku terbaring lemah. Mungkin ini cara Allah menegurku karena aku sudah terlalu jauh terjerumus ke dalam lembah dosa.


Allah memberikan penyakit yang sungguh luar biasa. Mungkin ini karma dan doa-doa dari para wanita yang sudah aku sakiti hatinya.


Saat mengetahui aku terkena kanker serviks, pacarku meninggalkanku begitu saja. Sebenarnya ini sudah lama aku rasakan, hanya saja aku selalu menyembunyikannya dari orang terdekatku termasuk Haris, dan juga sahabat-sahabatku. Aku tidak punya nyali untuk menceritakan yang aku alami. Karena aku tidak mau mereka merasa terbebani olehku.


Sampai suatu hari, Haris mendatangiku dan menemukan hasil pemeriksaan ku. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku pun pasrah jika Haris juga akan menjauhiku. Tapi di luar dugaan, justru Haris dengan setia mengantarkan ku berobat. Dia juga setiap hari datang untuk membawakan makanan.


Haris selalu memberikan dukungan moril agar aku tidak down. Karena dari pemeriksaan terakhir dokter, aku di haruskan melakukan pengangkatan rahim. Dan ini berakibat ke depannya aku tidak akan bisa mempunyai anak.


Aku pun terpukul Dengan keadaanku. Namun lagi-lagi Haris selalu menenangkanku. Bahkan dia melamarku untuk di jadikan istrinya. Padahal kondisiku sungguh memprihatinkan.


Aku tidak tahu kenapa Haris begitu mencintaiku. Padahal selama ini aku selalu mengabaikannya, dia juga tahu apa yang selama ini aku lakukan. Bahkan untuk biaya operasi ku pun dia bersedia untuk menjual kebunnya.


Haris bersedia menerima bagaimana pun keadaanku. Bahkan jika nanti aku tidak bisa mempunyai anak sekalipun.


"Melamun saja, ayo makan dulu terus minum ini" Haris menyodorkan botol air mineral.

__ADS_1


"Air apa ini?" tanyaku.


"Ini dari Umi. Ini air zamzam yang Umi bawa waktu umroh kemaren, Ini juga sudah di doain di sana. Kamu minum ya, Insya Allah bisa mengurangi rasa sakitnya. Dan maaf umi masih belum bisa nengokin kamu. Di rumah masih banyak tamu. Umi titip salam buat kamu"


"Oh Umi sudah datang?" Tanyaku sedikit terkejut. Aku pun menghentikan sendok yang sudah berada di depan mulutku.


"Iya, kenapa kamu kaget gitu?"


"Eh, nggak apa-apa. Aku, aku belum siap kalau harus ketemu sama Umi dan Abi kamu"


"Umi dan Abi orang baik kok. Kamu tenang aja"


Tiba-tiba saja perasaanku merasa nggak enak saat Haris berkata kedua orangtuanya akan datang menjengukku. Sehingga aku menyudahi makanku.


"Kok nggak di habisin?"


"Enggak ah, sudah kenyang" Aku pun meneguk minuman yang di berikan Haris.


"Fir, kamu harus yakin kalau kamu akan sembuh setelah operasi. Kalau kamu menolak operasi, nyawa kamu bisa terancam" Ucap Haris dengan lembut.


"Apa yang kamu takutkan, ada aku yang selalu di samping kamu"


"Aku takut tidak akan ada lagi lelaki yang mau menikahiku. Kalau pun ada , suatu saat dia akan menuntut untuk mempunyai anak"


"Sudah aku bilang, aku akan menikahimu. Aku akan menerima bagaimana pun keadaan kamu. Aku juga nggak akan pernah nuntut kita punya anak. Aku akan berusaha membahagiakan kamu. Aku akan kerja keras untuk mencukupi semua kebutuhan kamu. Jadi aku minta kamu jangan bicara seperti itu lagi" Haris kembali meyakinkanku.


"Apa kamu yakin dengan keputusanmu?"


"Aku yakin, bahkan sangat sangat yakin. Selama ini aku sudah berjuang mengambil hatimu. Kalau pun nantinya kita menikah,tetapi hanya aku saja yang mencintai. Itu tidak masalah. Aku akan terus berusaha membuatmu mencintaiku."


Air mataku luruh juga. Aku pun menangis tergugu di hadapan Haris. Betapa bod*hnya aku selama ini. Kalau saja daridulu aku bisa menerima Haris, pasti hidupku bahagia meskipun tanpa kemewahan.


Haris memeluk dan mengusap lembut kepalaku.


"Maafkan aku Ris, selama ini aku buta. Mataku tertutup dengan kemewahan sehingga tidak menyadari kehadiran lelaki sebaik kamu"

__ADS_1


"Apa kamu bersedia menjadi istriku kelak?" Tanya Haris yang masih memelukku.


Aku pun mengangguk " Aku bersedia Ris"


"Terima kasih Fir, akhirnya kamu mau menerima lamaran ku" Aku lepaskan pelukan Haris dan aku tatap matanya. Ternyata Haris menangis. Bulir bening itu menetes di pipinya.


"Kamu nangis?" Tangisku yang tadinya tergugu seketika berhenti saat melihat lelaki di depanku ini menangis.


" Aku bahagia" Sahut Haris. Kami pun kembali berpelukan.


"Horeeeee, akhirnya kalian akan menikah juga" Sebuah teriakan mampu membuatku kaget.


Ternyata Alda dan Caca sudah ada di ruangan tempatku di rawat.


"Kalian?"


"Kenapa? " Tanya Alda dengan senyum mengejek.


"Sejak kapan kalian ada disini?"


"Sejak Haris kembali melamarmu" Jawab Caca.


"Ah kamu salah dengar kali ca, aku nggak di lamar kok" Aku pun mengelak.


"Eits, jangan mengelak gue punya bukti ya, nih" Alda Menunjukkan video rekaman saat Haris memelukku. Ada-ada saja Alda ini, sampai-sampai di video-in sama dia.


"Astaga Alda. Hapus nggak?" Aku pun melotot ke arahnya.


"Nggak mau. Ini buat kenang-kenangan yang tak bisa terlupakan"


Haris tersenyum malu-malu melihat kekonyolan sahabat-sahabatku ini.


"Nanti ya, kalau kalian menikah. Gue pasangin layar tancap, terus gue puter nih filmnya biar semua tamu undangan tahu momen saat Haris melamarmu yang ke seribu kalinya" Mereka pun tertawa.


"Kalian ini benar-benar ya, biang rusuh" Aku pun jadi terkekeh membayangkan kalau Alda berbuat seperti itu nantinya.

__ADS_1


__ADS_2