Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Arka membopong tubuhku dan membaringkanku di ranjang. "Sayang apa kamu lelah?" Tanya Arka, dan aku mengangguk.


"Tidurlah"


"Tapi aku mau pakai baju dulu" Ucapku.


"Kita cuma berdua disini, Luna di kamar mamah. Jadi nggak apa-apa kalau kamu nggak pakai baju juga" Ucap Arka dengan entengnya. Dan tangannya melepaskan handuk yang melilit di tubuhku. Menggantinya dengan selimut yang ada di ujung kakiku.


Arka menyelimutiku, lalu dia juga berbaring di sampingku, tentunya dalam satu selimut denganku. Salah satu tangannya memeluk tubuhku, dan satunya lagi membelai rambutku yang masih basah. Kami berdua tidur tanpa busana. Hanya selimut yang menutupi kepolosan tubuh kami.


Aku benamkan wajahku di dada bidangnya dan tanganku memeluk pinggangnya. Aku pejamkan mataku sampai benar-benar terlelap.


 


Keesokan paginya...


Saat aku terbangun, aku melihat Arka yang masih tertidur di sebelahku. Aku pandangi terus wajah teduhnya. Benar-benar tidak membosankan memandanginya meskipun dalam waktu yang lama.


Aku sentuh pipinya dengan telapak tanganku, bibirnya aku usap menggunakan ibu jariku. aku usap berulang-ulang sampai dia menggerakkan kepalanya. Kembali aku usik tidurnya yang pulas itu. Aku tutup kedua lubang hidungnya dengan kedua ujung jariku. Sehingga dia menggerakkan kepalanya lagi lebih kencang karena kesulitan nafas.


Aku terkekeh melihatnya seperti itu. "Hmmm... sayang, kamu usil banget ya" Gerutu Arka tetap dengan mata terpejam, tangannya bergerak mendekapku yang tanpa pakaian. "Jam berapa ini?" Tanya Arka.


Aku menoleh ke arah jam dinding "Jam empat dua puluh menit" Jawabku.


Setelah aku jawab bukannya bangun Arka malah memelukku dan menempelkan wajahnya di ceruk leherku.


"Sayang, jangan gini ah. Aku kan belum mandi" Rengekku berusaha menyingkirkan wajahnya dari leherku.


"Emang kenapa, biarpun belum mandi tapi tetap wangi" Arka tetap menempelkan wajahnya bahkan dia juga mengecup bahuku berulang-ulang.


"Iihhh kamu ini ya" Aku pun mencubit lengannya. Lalu aku membiarkan dia terus menciumi bahuku. Bahkan tangannya mulai meraba bagian dadaku. Meremas bukit yang aku tutupi dengan selimut.


"Sayang, aku mau lagi" bisik Arka.


"Hah, mau apa?" Tanyaku terkejut, sebenarnya aku sudah tahu apa maksudnya.


"Biar kita cepat punya anak" Jawabnya.


"Tadi malam sudah dua kali sayang, masa sekarang kita ulangi lagi" Lirihku sambil membelai rambut tipisnya.


"Bahkan aku ingin melakukan lebih dari lima kali" Ucap Arka kemudian dia tertawa.


"Ternyata kamu mesum juga ya" Ucapku.


"Ya nggak apa-apa dong. Kan sama istri sendiri." Jawabnya.


Aku biarkan tangannya terus meremas dua bukit kembarku secara bergantian di balik selimut. Sedangkan bibirnya mengecup leher dan telingaku berulang kali. Sehingga membuatku melenguh dan mendesah secara perlahan. Arka sudah memahami titik kelemahanku.


Arka menurunkan selimut yang aku pakai sampai batas perutku. Aku membiarkannya karena aku sedang menikmati ciumannya di daun telingaku. Lalu dia bangkit dan berpindah ke atas tubuhku. Menindihku diantara kedua kakinya. Kedua tangannya menggenggam tanganku dan kepalanya dia benamkan diantara kedua bukit kembarku. Lalu dengan lembut lidahnya memainkan ujung putingku. Menghisapnya perlahan sampai tubuhku menggelinjang menerima rangsangan darinya.


Tookk


Tookk


Tookk


Seketika Arka berhenti "Sial" Umpat Arka dengan nada kesal saat mendengar suara ketukan pintu.


"Mungkin Luna sayang" Jawabku.

__ADS_1


Arka langsung duduk di sebelahku. Mengambil celana sutra miliknya dan memakainya. Lalu tangannya juga meraih handuk yang dia letakkan di meja samping ranjang untuk menutupi barang miliknya. Karna terlihat jelas barang milik Arka masih tegang dan membesar. Apalagi tadi aku sempat melihat kalau dia tidak memakai celana dalam. Aku terkekeh melihatnya seperti ini.


Setelah Arka membuka pintu, Luna berlari masuk kedalam kamar. Seperti mengambil sesuatu lalu kembali pergi lagi. Arka mengunci pintu lalu menghampiriku.


"Luna kenapa?" Tanyaku.


"Cuma ambil mukenah, dia mau ikut mamah sholat subuh di masjid" Jawab Arka sambil merebahkan tubuhnya di sampingku.


Aku miringkan tubuhku menghadap ke arahnya, satu tanganku aku gunakan untuk menjadi tumpuan kepalaku, sedangkan satu lagi aku gunakan untuk memeluk tubuhnya.


"Sayang"


"Hmm" Jawabnya dengan deheman.


"Orang hamil itu sudah nggak sih?" Tanyaku.


Lalu Arka juga memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku dengan posisi yang sama. Hanya saja salah satu tangannya Arka tempelkan di pipiku.


"Kenapa kamu tanyakan hal itu sama suamimu ini, apa kamu kira suamimu ini pernah hamil?" Mendengar perkataannya membuatku tertawa terpingkal.


"Bukan itu maksudku, siapa tau saja kamu lebih tau dariku. Karna ada yang bilang hamil itu menyiksa dan itu membuatku takut" Jawabku penuh dengan rasa was-was.


"Sayang, kehamilan itu sama sekali tidak menyiksa. Semua tergantung dari orang yang menjalani antara rasa bersyukur dan mengeluh. Kalau orang itu lebih bersyukur, maka rasa sakit itu akan menjadi nikmat tersendiri. Dan sebaliknya apabila orang itu selalu mengeluh, maka rasa sakit itu akan menjadi siksaan baginya." Arka menjelaskan padaku.


"Aku jadi takut" Ucapku


"Kenapa? Kamu jangan takut dengan apapun. Nikmati semuanya. Apalagi ada aku disini jadi kamu nggak perlu takut ya. Kita berdoa saja semoga kelak jika kamu hamil, kamu bisa melewati masa-masa sulit" Aku mengangguk karena merasa tenang mendengar ucapan Arka.


Arka kembali merebahkan tubuhku dan menindihnya. Kami pun melakukan pergulatan di pagi hari sampai mencapai kepuasan masing-masing secara bersamaan. Arka tersenyum puas sambil mengecup keningku.


"Makasih sayang, kamu sudah mau melayaniku. Meskipun aku tau kamu sangat lelah." Aku tersenyum menjawabnya.


"Sayang, kita olahraga yuk. Kita jogging keliling kompleks" Ajak Arka saat aku menggantung mukenah.


"hah.. jogging, boleh juga. Ayo kalau gitu" Sahutku penuh semangat.


 


Keadaan di luar masih belum terlalu terang. Dan saat aku keluar dari gerbang, aku melihat Luna dan mamah yang baru pulang dari masjid. Mamah masih berbincang dengan seorang wanita yang seumuran dengannya.


Mamah menunjuk ke arahku "Nah itu anak dan mantu saya"


Aku berjalan mendekati mamah untuk menyalami ibu itu.


"Ternyata memang benar ya yang di bicarakan ibu-ibu waktu arisan kemarin. Kata mereka, tetangga baru di kompleks ini orangnya cantik banget. Ternyata jauh lebih cantik dari yang saya bayangkan. Soalnya saya kan nggak tahu. Waktu ada undangan pengajian saya nggak hadir karena sedang keluar kota." Ucap ibu itu yang mampu membuat pipiku merona.


"Tante bisa aja" Jawabku.


"Ya sudah kalau gitu. Saya pamit dulu ya, main-main ke rumah ya, rumah saya itu yang pagar coklat" Kata ibu itu sambil menunjuk ke ujung gang.


"Iya Tante, kapan-kapan saya main kesana" Jawabku dengan ramah.


Aku dan Arka segera pergi jogging dan sebelumnya sudah pamit sama mamah. Luna menolak ajakanku karna dia lebih memilih bantuin mamah masak di dapur.


Aku dan Arka keliling kompleks sekalian untuk melihat-lihat keadaan sekitar dan mencoba menghafal nama jalan dan gangnya. Karna sejak tinggal di kompleks ini, sama sekali aku belum tahu keadaan sekitar.


Arka menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya baik itu orang muda ataupun orang tua. Ternyata kalau pagi gini lumayan rame orang berolahraga, meskipun sebagian orang hanya cukup dengan jalan biasa sambil menggerak-gerakkan kedua tangannya.


"Rame juga ya kalau pagi gini" Ucapku.

__ADS_1


"Ya kan hari Minggu sayang, makanya rame. Kan banyak yang libur kerja." Jawab Arka.


"Oh iya aku lupa kalau sekarang hari Minggu" Ucapku sambil tertawa.


Arka ikut tertawa sambil melingkarkan tangannya ke pundakku.


"Sayang aku haus" Rengekku dengan manja.


"Sebentar, aku cari pedangang minuman" Arka menoleh ke kanan dan ke kiri mencari pedagang minuman.


"Emang kamu bawa uang?" Tanyaku.


"Bawa dong, aku sudah siap sedia. Tapi cuma ini saja" Arka menunjukkan selembar uang dua puluh ribu dari kantong jaketnya.


"Ya ampun sayang. Masukin lagi ah. Bawa uang segitu pake di liatin segala. Malu di lihat orang"


"Ya nggak apa-apa daripada nggak bawa sama sekali. Lagi pula aku bawa uang cuma buat beli air mineral dua botol. Masih sisa kok" Protes Arka.


"Ya udah nggak usah ngomong lagi. Cepat cari minum. Haus banget" Rengekku.


"Tunggu sini ya, aku cari dulu kesana" Tanpa nunggu jawabanku Arka langsung berlari meninggalkanku.


Aku hempaskan bokongku di atas rumput. Ya, saat ini aku ada di lapangan. Eh bukan sih, bukan lapangan. Apa ya namanya... Yang jelas ini tempatnya seperti lapangan tapi tidak terlalu luas. Ada tempat buat olahraga juga. Sebut aja taman ya. Karna tempat nya juga di kelilingi pohon-pohon hijau gitu. Ada tempat bermain juga buat anak-anak.


"Hai, kamu orang baru ya di kompleks ini" Tegur seorang perempuan yang tiba-tiba duduk di sebelahku.


"Iya, aku baru disini" Jawabku menoleh ke arahnya.


"Hai kenalin, aku Via" Perempuan itu mengulurkan tangannya.


Aku balas uluran tangan itu untuk berkenalan dengannya. Perempuan muda, cantik, tinggi dan berkulit putih mulus.


"Ehm ca, cowok yang sama kamu tadi siapa? Kakak kamu atau pacar kamu?" Tanya Via yang tiba-tiba menanyakan Arka.


Oh jadi dia mendekatiku karna dia mau tahu tentang Arka, batinku. "Oh itu. Dia..."


"Sayang ini minumnya" Tiba-tiba Arka datang dan memberikan sebotol air minum padaku. Sehingga aku tidak melanjutkan kata-kataku.


"Oh iya Via, kenalin ini Arka" Ucapku. Dengan cepat Via mengulurkan tangannya. Arka membalasnya sekilas.


"Ini suamiku" Tambahku lagi. Dan aku lihat dengan jelas raut wajahnya berubah drastis yang awalnya penuh dengan senyum manis langsung berubah tersenyum kecut.


"Oh jadi kalian suami istri. Maaf aku nggak tahu" Ucapnya.


"Ya udah kalau gitu, aku permisi dulu ya Vi,ay pulang" Pamitku. Aku pun segera menggandeng tangan Arka. Berjalan meninggalkan dia.


"Sayang, kita kan belum selesai olahraga. Kenapa pulang buru-buru?" Tanya Arka merasa heran.


"Aku nggak mau kesini lagi. Besok kita olahraga di rumah saja. Kalau mau jogging keliling halaman rumah saja. Kalau mau fitnes nanti aku belikan alatnya, asalkan jangan kesini lagi" Aku terus mengomel padanya.


Arka menghentikan langkahnya dan menahan tanganku"Sayang, kamu kenapa sih tiba-tiba kayak gini"


"Kamu tau cewek tadi. Dia ngajak kenalan denganku karna punya maksud. Dia bermaksud mendekatimu" Gerutuku.


"Ya ampun gitu aja kamu jadi kayak gini. Sayang, dengarkan aku. Aku nggak akan tertarik sama perempuan cantik manapun. Karna kamu adalah istriku yang paling cantik" Bujuknya.


"Nggak usah ngegombal" Ucapku.


"Beneran sayang aku nggak gombal. Oke aku akan menuruti semua mau kamu, olahraga di rumah saja. Dan nggak kesini lagi. Jangan ngambek lagi dong" Arka terus membujukku sampai aku kembali tersenyum.

__ADS_1


Padahal ini bukan salah Arka. Aku saja yang terlalu cemburu. Karna aku nggak mau aja ada perempuan lain yang berusaha mendekati Arka.


__ADS_2