
Aku terus berlari dan Arka berhasil menangkapku. "Ampuuunn...ampuunn" Teriakku dengan mengatupkan kedua tanganku tanda minta ampun.
"Harus di kasih hukuman" Tegas Arka yang langsung mengangkat tubuhku dan menghempaskan nya di atas ranjang.
Aku mengambil guling dan memukulinya. Tapi Arka semakin mendekat dan melakukan perlawanan. Dia menaiki ranjang dan mendekatiku. Aku tutup wajahku dengan guling tapi tidak sampai menutupi mataku. Sehingga aku masih bisa melihatnya.
"Mau di hukum apa kamu hah" Ucap Arka sambil tertawa. Aku hanya menggelengkan kepalaku. Sebagai jawaban aku tidak mau menerima perlakuan apapun darinya.
Kemudian dia menjauhkan wajahnya dariku. Dengan cepat dia membalikkan badanku sampai posisiku tengkurap. Dengan cepat pula dia menduduki kakiku sehingga menyulitkan aku untuk bergerak.
Arka menduduki kedua kakiku, dan Arka juga menekuk kakiku agar dia bisa menjangkaunya untuk di dekap, menggelitiki kedua telapak kakiku secara bergantian. Aku pun berteriak histeris.
"Ampuuunnn .... sudah ... aku minta ampuuunnn..." Teriakku berulang-ulang. Aku tak tahan di gelitik seperti ini sampai aku menangis.
"Masih mau lagi?" Tanya Arka yang mulai berhenti menggelitik.
"Enggak... sudah cukup, aku minta ampun" Rengekku memelas.
Arka berpindah duduk di sebelahku lalu berbaring menghadapku. Terasa lemas badanku. Tenagaku habis terkuras, seperti orang yang habis lari maraton.
Arka membalikkan badanku. "Hei... kamu nangis beneran?" Arka sangat kaget saat melihatku yang masih menangis terisak.
Aku memang nggak kuat jika harus di gelitik seperti ini. Mungkin hampir semua orang tidak akan kuat.
Arka langsung mendekatkan tubuhnya dan mendekap tubuhku. Aku benamkan wajahku di dadanya, tercium aroma tubuhnya yang sangat aku suka. Seketika tenagaku kembali pulih.
"Maafkan aku, bercandaku sudah keterlaluan" Ucapnya sambil mengusap rambut kepalaku.
Aku mengangguk. Arka masih mendekap tubuhku dengan erat. Sedikit aku angkat kepalaku agar aku bisa melihat wajahnya. Aku perhatikan wajahnya. Kemudian dia menatap mataku. Aku pun balas menatap matanya.
"Apa kamu tidak mau berbagi cerita denganku? Apapun itu aku akan mendengarnya?" Lirihku.
Karna tidak mendapat jawaban, aku kembali menyandarkan kepalaku di tangannya. Aku peluk erat tubuhnya, Arka mencium keningku kilas. Menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kami saling membisu dalam beberapa detik.
"Aisyah... ini tentang Aisyah" Lirihnya. Aku hanya diam saat dia menyebut nama Aisyah. Menunggunya bercerita.
Sambil mengusap pelan rambut di kepalaku Arka mulai bercerita tentang Aisyah. Apa yang di ceritakan olehnya sama persis dengan cerita Rani. Hanya saja cerita Arka lebih lengkap dan jelas. Mungkin karena Arka sebagai aktornya dan Rani hanya sebagai penonton dan pendengar. Ibarat film saja.
"Kenapa kamu diam saja mendengar ceritaku, seolah kamu tidak peduli dengan suamimu ini" Dia mulai protes.
"Terus mau kamu apa, apa kamu mau aku bilang agar kamu menjemput dia?" Ucapku.
"Bukan itu yang aku mau" jawabnya
"Lalu..." Ucapku masih menggantung.
"Apa kamu tidak marah kalau suamimu masih dekat dengan masa lalunya?"
"Oohh.. maksud kamu aku harus cemburu gitu. Sayang... dengarkan aku baik-baik. aku diam bukan berarti aku membiarkan kamu dekat dengan masa lalu kamu. Mungkin kemaren aku masih bisa merelakan kamu untuknya. Tapi tidak untuk saat ini dan seterusnya. Aku tidak akan merelakan kamu untuk masa lalu kamu. Bahkan untuk perempuan manapun" Aku menegaskan pada Arka.
"Jadi..."
"Kamu milikku seutuhnya" Jelasku lagi.
"Apa kamu mencintaiku?" tanya Arka
__ADS_1
"Entahlah... Aku nggak tau apa aku cinta sama kamu atau enggak. Karna menurutku cinta nggak akan datang secepat ini. Tapi yang jelas aku tidak bisa melepasmu jauh dariku. Yang jelas aku ingin kamu jadi milikku seutuhnya. Itu aja"
"Maafkan aku, aku sempat meragukan mu. Tapi mendengar perkataanmu dan melihat sikapmu, aku yakin kamu sudah mulai membuka hatimu untukku. Aku nggak akan pernah menyakitimu. Aku akan berusaha untuk mencintai dan menyayangimu sepenuhnya" Ucapnya dengan penuh keyakinan
Aku kembali mengeratkan pelukanku. Ingin tertidur di dalam pelukannya. Tapi sejenak saja mataku terpejam Arka kembali bersuara.
"Sayang, gimana menurut kamu kalau mamah tinggal lebih lama disini, boleh nggak?" Tanya Arka dengan sangat berhati-hati seolah dia takut salah dalam berkata.
"Tentu saja boleh. Ngapain juga kamu harus nanya sama aku. Ini rumah kamu juga, rumah kita. Kemarin aku kan sudah minta agar mamah tidak pulang. Kalau bisa biar Rani pindah sekolah kesini, jadi bisa kumpul bareng , biar aku ada temannya. Aku serius loh berkata seperti itu. Kamu kira aku bercanda" Kataku dengan sedikit emosi.
"Aku kan hanya minta pendapat kamu aja, nggak usah cemberut gitu" Ucapnya yang tangannya pun tak mau diam, dia mencubit bibirku.
"Tapi kenapa mamah berubah pikiran, bukannya kemarin mamah sendiri yang maksa buat pulang" Tanyaku mulai penasaran.
"Besok ayah ngantar Rani ke kampung, Tapi ayah langsung balik lagi kesini karna lusa papa minta di temani ke luar kota. karna mamah nggak ada yang jagain, selama ayah pergi mamah akan tinggal disini" Arka menjelaskan padaku.
"Kata kamu kan kita ikut kesana" Kataku mencoba mengingatkan Arka tentang rencana tinggal untuk beberapa hari di kampungnya.
"Alasannya Aisyah. Mamah tidak mau kedatanganku disana akan membawa masalah baru buat keluargaku ataupun keluarganya."
Aku dapat memahami yang di katakan Arka. Tapi kalau mereka semua disini bagaimana dengan Rani yang tinggal disana sendiri.
"Sayang, kalau mamah dan kamu disini, ayah pergi sama papa, terus bagaimana dengan Rani disana?" Tanyaku
"Rani cukup mandiri. Lagipula disana banyak saudara itu tidak akan sulit baginya" Jawaban Arka mampu membuatku lega.
"Tapi aku khawatir dengan Rani."
"Sudahlah, Rani akan baik-baik saja. Dia sudah terbiasa seperti ini. Nggak perlu khawatir" Hibur Arka.
"Tapi Rani...." Kata-kataku terhenti karena dengan cepat Arka mencium bibirku, dan mengecapnya berulang kali.
Aku pun tak bisa berbuat apa-apa lagi,selain pasrah dan mengikuti permainan bibirnya itu. Saling cumbu, secara perlahan tapi mampu menghanyutkan perasaan masing-masing. Perlahan jari-jemarinya meraba tubuhku bagian depan, kancing bajuku di lepasnya satu persatu tanpa melepaskan bibirnya yang terus mencumbuku.
Dan Arka berhasil membuka bajuku secara perlahan. Di letakkannya baju itu di sisi tubuhku. Di tubuhku masih melekat bra yang menutupi bagian sensitifku.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Arka pun menghentikan ciumannya, tapi hanya sejenak saja, kemudian dia kembali melanjutkan menciumiku.
Terdengar lagi suara ketukan pintu. Arka benar-benar menghentikan ciumannya kali ini "Sial" Gerutunya.
"Aku buka pintunya dulu" Kata Arka sambil berlalu.
Aku masih terbaring di ranjang, mencoba meraih selimut untuk menutupi tubuhku yang tanpa baju. Aku menutupnya sampai batas leher.
"Lho sayang, kamu kenapa?" Aku terkejut, Tiba-tiba mamah datang menghampiriku yang masih terbaring di ranjang. Aku melongo melihatnya.
"Eh ini mah, ini.. nggak apa-apa kok." Jawabku gugup. Untung saja aku sudah menutupi tubuhku dengan selimut, kalau enggak aku pasti akan sangat malu. Arka tertawa mengejekku di balik punggung mamah.
"Kamu nggak sakit kan?" Pertanyaan mamah jelas terdengar kalau dia sangat khawatir denganku.
"Enggak mah, nggak sakit kok. Cuma pengen. baringan aja" Jawabku sambil mengembangkan senyumku padanya. Tanganku masih menggenggam erat ujung selimut yang menutupi tubuhku.
"Arka, beneran istrimu nggak sakit?" Mamah menoleh pada Arka yang ada di belakangnya.
"Tadi sih bilangnya pusing mah, katanya badannya sakit semua" Mendengar jawaban Arka, aku pun langsung melotot padanya.
__ADS_1
Mamah langsung menghampiriku dan berdiri di samping ranjang. Menyentuh keningku dengan telapak tangannya.
"Tapi nggak panas" Jawab mamah setelah tahu suhu tubuhku normal.
"Aku nggak apa-apa mah" Ucapku lagi kembali menegaskan.
"Biar mamah pijit ya" Ucap mamah berusaha membuka selimutku. Untung saja aku memegangnya dengan kuat.
"Nggak usah mah, nanti biar di pijit sama Arka" Tolakku dengan lembut.
Aku melirik pada Arka. Arka mengerti maksudku. Dan dia pun langsung berkata.
"Iya mah, biar aku aja, mamah istirahat aja" Bujuk Arka.
"Beneran nggak papa nih?" Tanya mamah lagi.
"Iya mah" jawab Arka.
"Ya udah kalau gitu, jaga istrimu baik-baik jangan kecapekan biar mamah cepat dapat cucu. Kalian nggak menunda momongan kan?" Mamah berkata dengan santai tapi mampu menusuk ulu hatiku.
Aku dan Arka saling pandang hanya diam membisu. Aku dan Arka memang tidak pernah membicarakan tentang anak. Aku pun tidak pernah berpikir tentang anak. Mau punya anak dulu atau di tunda. Bingung nggak tau harus jawab apa.
"Kenapa kalian diam saja, apa kalian menunda punya momongan?" Mamah kembali menegaskan ucapannya.
"Mah, kami nggak menunda. Bahkan kami pun tidak pernah berpikir tentang punya anak. Sekarang kami baru sadar, karna mamah yang mengingatkan" Arka yang memberi jawaban atas pertanyaan mamah.
Aku masih bingung dengan ucapan Arka, apa dia mau punya anak dulu atau menundanya.
"Ya sudah kalau gitu kalian dengarkan baik-baik, pesan mamah jangan menunda untuk punya momongan." Mamah menasihati kami.
"Iya mah iya. kami nggak nunda kok. kalau istriku belum hamil, berarti belum rejeki." Ucap Arka mencoba untuk membujuk mamahnya.
"Ya udah kalau gitu. Keasyikan ngobrol sampai lupa, Tadi mamah kesini mau nanya mau di masakin apa buat makan malam kalian?" Tanya mamah.
"Mamah nggak usah masak deh mah, mamah istirahat aja. Biar nanti caca pesenin gofood" Ucapku.
"Nggak perlu, Biar mamah masak aja. Mamah nggak ada kegiatan disini, biar nggak jenuh." Tolak mamah.
"Mah, Caca ikut bantuin ya, sekalian ajarin masak" Pintaku dengan nada manja.
Mamah menyentuh tanganku yang ada di ujung selimut.
"Kamu kan lagi nggak enak badan. Biar mamah yang masak sendiri. kamu stirahat aja, nanti biar Arka yang mijitin ya, kalau butuh apa-apa bilang sama mamah"
"Tapi Caca pengen belajar masak mah" Aku semakin merengek.
"Nggak sekarang ya, besok kalau sudah enakan mamah akan ajari memasak. Sekarang mau di masakin apa buat makan malam? Biar mamah yang masakin" Bujuk mamah. Dan akhirnya aku menyerah.
"Terserah mamah aja, pasti aku akan memakannya. Karna masakan mamah sangat enak" Pujiku. Memang benar mamah pandai sekali memasaknya.
"Ya udah kalau gitu, mamah mau masak dulu ya. Kamu istirahat ya sayang." Ucap mamah lalu berdiri untuk meninggalkanku.
Sampai di dekat Arka mamah masih sempat berkata. "Jaga istrimu baik-baik"
"Iya mah" Jawab Arka.
__ADS_1
Mamah pun meninggalkan kamarku. Dan pintu kamar kembali tertutup.
Bersambung....