
"Sayang, hari ini aku mau ke kantor papa. Tolong siapkan bekal makan siang ya"
"Kok kesana lagi, emangnya ada meeting dengan siapa lagi?" Tanyaku sedikit kesal.
"Aku nggak tahu, papa hanya menyuruh supaya aku datang ke kantornya hari ini"
"Kalau papa nyuruh menggantikan meeting, mending kamu tanya dulu, dengan siapa kamu akan meeting. Biar nggak kejadian lagi yang kayak kemaren. Lagian papa juga ngapain sih nyuruh-nyuruh mewakili. Papa kan punya sekretaris di kantor. Kenapa bukan sekretaris nya saja yang gantiin meeting?" Kekesalan masih menyelimuti hati.
Meskipun aku sudah tahu kalau Arka tidak mungkin akan berbuat macam-macam. Tapi merasa kesal saja kalau ada perempuan di luar sana melihat suamiku dengan nafsu.
"Ya nggak apa-apa sayang, kan papa cuman minta tolong"
Arka menjawab dengan santainya.
"Iya minta tolong, tapi awas saja kalau sampai kejadian kemarin terulang lagi. Aku cincang perempuan itu. Dan kalau sampai kamu menanggapi, pusaka lahirmu akan aku cincang, terus aku kasih ke kucing"
"Sudah dong sayang jangan marah-marah saja. Kejadian seperti kemarin nggak akan terulang kok. Aku janji. Kamu jangan khawatir kalau papa minta tolong di wakili waktu meeting, nanti aku cek dulu dengan siapa meetingnya. Daripada marah-marah terus, mending kita sarapan yuk. Lapar?"
Tanpa banyak kata lagi Arka menggandeng tanganku keluar kamar. Aku hanya menurut saja.
"Sayang, nanti kamu pulang cepat kan?"Tanyaku sambil duduk bersiap untuk sarapan.
"Sepertinya sih begitu. Kenapa?"
"Antarin periksa ke dokter kandungan ya" Pintaku
Arka melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Bukannya masih seminggu lagi jadwal kontrolnya?"
"Iya sih, tapi udah tiga hari ini aku sering buang air kecil. Bentar-bentar ke kamar mandi, baru juga buang air kecil, sudah kebelet lagi. Cuma mau nanya bahaya apa enggak?" Jelasku pada Arka.
"Itu wajar sayang, itu tandanya bayinya berkembang, mendorong kantong kemih. Makanya pengennya buang air kecil terus"
"Ah sok tahu. Udah kayak dokter aja" aku mendecih mendengar penjelasan Arka.
"Di kasih tahu kok nggak percaya. Kalau di kampung ku biasanya di urut di paraji yang sudah profesional. Di naikin sedikit, ada yang bilang peranakannya turun. Ya mungkin karena terdorong sama pertumbuhan bayinya itu"
"Di urut? enggak ah, ngeri. Aku nggak berani. Mending ke dokter saja" Aku bergidik ngeri membayangkannya.
__ADS_1
"Iya sayang. Nanti aku antar periksa ke dokter kandungan. Nanti aku kabari kalau aku sudah on the way ya"
Arka telah menyelesaikan sarapannya. Begitu juga denganku, dan aku langsung menyiapkan bekal makan siang untuknya.
Sejak hamil Arka menyarankan agar aku selalu sarapan dan tidak boleh telat makan. Meskipun aku tidak menginginkannya, tapi aku harus tetap makan demi janin yang ada dalam kandunganku.
***
POV Arka
Papa kembali memintaku untuk datang ke kantornya. Entah untuk apa tujuannya kali ini. Karena saat papa menghubungiku tadi pagi, papa tidak menyampaikan tujuannya. Hanya meminta agar aku hadir di kantor papa.
Aku lajukan mobil dengan kecepatan sedang, karena kondisi jalan sudah mulai padat merayap. Tidak sampai dua jam, mobil sudah memasuki area parkir kantor.
Aku langkahkan kaki menuju ruangan papa. Sebelum sampai di ruangan papa, aku bertemu dengan sekertaris papa yang menurutku terlalu kecentilan.
"Pagi pak Arka" Santi berdiri dan sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menyapaku.
"Pagi San, Pak Hendra ada di dalam?" Tanyaku.
"Ada pak. Kebetulan juga Pak Hendra sedang tidak ada tamu. Silahkan pak" Santi mempersilahkan aku menuju ruangan papa.
Dengan penampilannya yang seperti itu, aku tidak lagi memalingkan wajahku saat berhadapan dengannya. Memang tidak sopan jika kita berbicara tapi lawan bicara memalingkan wajah. Aku hanya menjaga pandangan agar terhindar dari dosa.
tok tok tok
Aku ketuk pintu ruangan papa.
"Masuk" Terdengar suara papa menyahut. " Oh kamu susah datang, ayo sini. Duduk dulu. Kamu mau minum apa, Nanti biar OB yang membawakanmu minum"
"Air putih saja pa" Aku pun duduk di kursi yang berhadapan dengan papa.
"Baiklah" Papa pun mengubungi bagian pantry melalui telepon yang ada.
"Maaf pa, kalau boleh tahu papa menyuruh Arka kesini untuk apa ? " Tanyaku tanpa basa basi.
"Oh iya Arka. Papa belum sempat menjelaskan, ini tentang kejadian kemarin"
__ADS_1
"Maksud papa?"
"Jadi gini, Bu Sarah mengira kamu adalah karyawan utusan. Dia tidak mengetahui kalau ternyata kamu adalah menantu papa. Makanya dia berani merayumu bahkan memfitnahmu karena keinginannya tidak tercapai. Dia sempat terkejut saat papa menjelaskan siapa kamu sebenarnya. Maka dari itu, hari ini dia mau kesini untuk meminta maaf sama kamu. Dan meminta agar kerjasama tetap berlanjut. Bagaimana menurut kamu, mau lanjut atau kita stop saja?"
Papa menjelaskan tujuan dan maksud memintaku datang ke kantor hari ini.
"Pa, keputusan ada ditangan papa. Saya tidak berhak untuk memutuskan tindakan apa yang harus diambil"
Merasa bingung harus memberi jawaban apa kepada papa. Kenapa juga papa bertanya padaku, ini perusahaan milik papa, jadi keputusan ya ada di tangannya bukan di tanganku.
"Arka, saat ini papa sudah malas untuk berpikir yang terlalu rumit. Kamu menantu papa, kepercayaan papa, jadi apapun keputusan yang kamu ambil papa yakin itu adalah keputusan yang terbaik. Papa percayakan keputusan ada di tanganmu"
Papa terus saja mendesak. Entah apa yang membuat papa sangat mempercayaiku. Bahkan saat ada orang yang berusaha memfitnahku, papa tetap mempercayaiku.
"Baiklah pa, kalau memang itu mau papa. Tapi saya harap Papa tidak kecewa dengan jawaban yang saya berikan" Aku pun menarik nafas dan menghembuskannya dengan kuat.
"Jadi apa jawabanmu?"
"Berhenti melakukan kerjasama dengan Bu Sarah" jawabku dengan mantap.
"Alasannya?"
"Bukankah awal yang tidak baik akan berakhir tidak baik pula" Papa hanya mengangguk-angguk saja. Mencoba memahami perkataanku.
"Baiklah. Papa paham apa yang kamu maksud. Papa akan menghentikan kerjasama apapun dengan Bu Sarah. Mulai sekarang sampai ke depannya lagi. Papa yakin kita akan mendapatkan jalan keluar atas masalah ini"
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu. Lalu masuklah OB yang mengantar minuman untukku. Di belakang OB tadi berdiri seorang perempuan cantik dan elegan. Siapa lagi kalau bukan Bu Sarah, perempuan yang daritadi menjadi bahan obrolan antara aku dan papa mertua.
"Terimakasih mas" Ucapku kala dia meletakkan botol air mineral di depanku.
"Silahkan masuk Bu Sarah" Ucap papa saat menyadari ada Bu Sarah berdiri diambang pintu.
"Terima kasih pak Hendra"
Bu Sarah melenggang masuk dan duduk di kursi kosong Yang ada di sampingku.
__ADS_1
Obrolan demi obrolan terus berlanjut. Dan benar, bu Sarah meminta maaf atas tindakan yang telah di lakukannya terhadapku.
Papa telah menyampaikan bahwa papa sudah tidak mau lagi melakukan kerjasama apapun dengannya. Bu Sarah merasa kecewa, dia terus memohon agar papa merubah keputusannya. Papa tetap pada pendiriannya, tidak mau lagi terlibat kerjasama dengannya.