
Pukul delapan malam Arka kembali datang, kali ini bersama mamah. Mamah menangis melihat putrinya terbaring di atas tempat tidurnya. Padahal keadaanya sedikit membaik daripada waktu di rumah.
"Sudah mah, Rani nggak apa-apa kok. Rani hanya butuh istirahat untuk memulihkan tenaga. Besok juga pasti sehat kembali" Aku usap punggung mamah supaya tidak bersedih lagi.
"Iya mah, aku nggak apa-apa kok, udah enakan. Mamah jangan sedih kayak gini" Rani mengiyakan ucapanku.
"Gimana nggak sedih, kalau mamah lihat anak mamah sakit seperti ini. Di tusuk jarum infus pula" Mamah masih terisak.
"Udah mah, lebih baik mamah berdoa buat kesembuhan Rani." Arka menimpali.
"Biar mamah yang menjaga Rani disini. Kalian pulang saja"
"Mah, biar Arka yang menjaga Rani. Mamah pulang sama Caca ya" Rayuku.
"Iya mah, mamah pulang saja. Biar Arka yang disini" Arka kembali berbicara
***
Setelah berdebat dengan mamah, dan mengeluarkan segala bujuk rayu, Akhirnya mamah mau di ajak pulang bersamaku. Sedangkan Arka menemani Rani di Rumah sakit.
Setelah sampai di rumah mamah langsung pamit untuk istirahat di kamarnya. Sama halnya denganku, aku pun memasuki kamar. Tapi saat aku akan istirahat, aku teringat kembali dengan dokter Vilia.
Aku pun mencoba menghubungi mama. Tapi panggilanku tidak juga di terima. Mungkin mama sudah tidur. Karena sekarang sudah jam sepuluh malam.
Tiba-tiba aku teringat dengan Firna. Aku pun mencoba untuk menghubunginya.
"Hallo Fir, belum tidur? Tanyaku saat panggilanku di terima.
"hai Ca, aku belum tidur. Masih ngobrol sama temanku. Ada temanku datang menemui ku" Jawabnya .
"Teman? Siapa?" Merasa aneh dengan Alda.
Teman Alda adalah temanku juga. Tapi kenapa dia tidak menyebutkan namanya. Atau mungkin memang dia punya teman baru, yang tidak aku ketahui. Karena Semenjak menikah dengan Arka aku sudah jarang bersama teman-temanku.
"Oh ini, temanku. Namanya Haris. Kapan-kapan aku kenalin sama kamu ya" Ucap Alda sedikit kaku.
Nama yang tidak asing di telingaku. Apa mungkin itu Haris lelaki yang mau menerima Firna apapun keadaanya.
"Haris? Kayaknya aku kenal deh, tapi aku lupa." Jawabku.
"Masa sih kamu kenal sama dia. Ini Haris teman lamaku. Kayaknya aku belum ngenalin dia ke kamu deh" Ucap Firna merasa heran.
"Oh mungkin kamu benar. Aku tidak mengenalinya"
"Btw ada apa nih kok tumben malam-malam nelpon. Apa kamu ada masalah?" Tanya Firna.
__ADS_1
"Nggak ada Fir, aku cuma... cuma..." Merasa nggak enak ingin melanjutkan ucapanku.
"Cuma apa? Kangen ya sama aku" Ledeknya dengan rasa percaya diri, lalu dia terkekeh.
"Iya Fir, aku kangen sama kamu, Sama Alda, apalagi sama Joy. Gimana kalau besok kita hangout?"
"Aduh maaf Ca, aku nggak bisa. Sekarang aku ada di luar kota" Firna menolak ajakan ku.
Biasanya dia yang paling antusias untuk bertemu. Tapi dia mengatakan kalau sedang di luar kota, padahal tadi sore aku melihatnya di rumah sakit. Apa mungkin sepulang dari Rumah Sakit dia langsung berangkat ke luar kota.
"Di luar kota? sejak kapan?" Tanyaku penasaran.
"Sepulang dari rumah mertuamu, besoknya aku langsung pergi. Maaf ya, aku pergi sebelum kamu datang dari Surabaya." Ucap Firna lembut mencoba meyakinkan aku.
"Iya Fir, nggak apa-apa, nggak masalah kok. Justru aku ucapkan terimakasih sama kamu, sama Alda juga bersedia menemani mamah mertuaku. Tapi apa sekarang kamu sedang Baik-baik saja? Atau kamu ada masalah?" Tanyaku.
"Iya aku baik-baik saja. Oh ya gimana kabar Rani, apa dia sudah sehat?"
Firna mencoba mengalihkan pembicaraan. Mungkin supaya aku tidak bertanya-tanya lebih jauh lagi.
"Sekarang dia di rawat di Rumah Sakit Permata. Tadi sore aku membawanya kesana" Jawabku, seakan ingin memancing ucapannya. Namun Firna terdiam tak ada lagi ucapan darinya untuk beberapa saat.
"Semoga lekas sembuh ya buat Rani"
"Iya Fir, terima kasih. Oh ya Fir aku mau tanya sesuatu, tapi kamu jangan marah ya, tadi sore aku melihat kamu....."
Tanpa menunggu jawabanku, Firna memutuskan panggilannya sepihak. Ada yang aneh dengan Firna. Tadi di awal pembicaraan dia bilang sedang ada temannya datang, saat diajak hangout dia bilang sedang ada di luar kota, saat di tanya mengenai tadi sore, tiba-tiba dia buru-buru memutuskan sambungan telepon.
Tidak biasanya Firna bersikap seperti ini. Biasanya dia selalu terbuka apapun dan dengan siapapun masalahnya. Tapi kali ini aku seperti sedang tidak berbicara dengan Firna. Aku merasa dia sudah berubah menjadi orang lain.
Bahkan cara bicara Firna kini sudah berubah, dia sudah tidak menyebut loe - gue lagi. Tapi menggunakan kata aku-kamu.
Karena masih penasaran dengan perubahan Firna, aku coba mencari tahu dari Alda.
"Halo"
"Heemm" Sahutnya lemas, khas orang tidur.
"Kamu sudah tidur?" Tanyaku, karena sepertinya Alda malas untuk berbicara.
"Heemm. Ini siapa?" Dia malah bertanya, apa dia tidak membaca nama yang tertulis di layar ponselnya.
"Ini Caca. Ya sudah kalau kamu ngantuk. Aku matiin" Aku berniat memutuskan panggilan telepon.
"Eh tunggu tunggu. Jangan di matiin" Sahutnya dengan cepat.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih?" Tanyaku heran.
"Sorry ca, gue nggak lihat siapa yang nelpon. Gue asal angkat aja. Makanya nggak tahu kalau itu elo"
Alda berusaha menjelaskan.
"Lagian tumben, jam segini kamu udah tidur?" Karena tidak biasanya dia sudah tidur lebih awal.
"Habis gimana lagi, mau clubing juga nggak ada temen. Mau nongkrong juga temen gue lagi pada touring. Pulang lembur, ya ngerem aja di kamar. Bertelur bertelur dah gue" Selorohnya lalu di iringi tawa.
"Alda, ada yang mau aku tanyain sama kamu, pengennya sih ketemu langsung. Tapi udah nggak sabar kalau masih nunggu hari besok. Mending sekarang aja" Ucapku.
"Emang loe mau nanya apaan, kayak penting banget"
"Soal Firna " Sahutku.
"Emangnya kenapa, sekarang kan dia di rumah bibinya yang di Semarang. Emangnya loe nggak tahu?"
"Dia bilang gitu sama kamu? Sejak kapan dia di Semarang?" Tanyaku.
"Kayaknya udah semingguan ini deh"
"Barusan aku juga nelpon Firna, aku menanyakan...."
Aku ceritakan semuanya pada Alda mulai dari saat di rumah sakit sampai aku menghubungi Firna.
"Hah, kamu serius?" Alda terdengar kaget dengan apa yang aku sampaikan.
"Iya aku serius. Gimana kalau besok kita nyamperin dia, kamu ada waktu kan?"
"Bisa kok. Besok tinggal minta ijin saja sama bang Jul. Pasti di kasih. Soalnya belakangan ini gue lembur terus"
"Jangan terlalu diforsir kalau kerja Al. Ingat kesehatan kamu. Kalau kamu sakit, siapa yang akan jagain kamu. Sedangkan aku sudah nggak bisa nemenin kamu kayak dulu lagi. Jadi kamu harus bisa jaga diri kamu sendiri" Ucapku dengan lembut.
"Iya Ca, makasih loe masih peduli sama gue. Cuma loe yang bisa ngertiin keadaan gue. Bahkan orang tua gue sendiri gak mau tahu apa yang terjadi sama gue. Mereka hanya besarin gue dengan uang, uang, dan uang. Bukan kasih sayang"
Aku tahu di balik sifatnya yang terlihat kuat, sebenarnya dia memendam kesedihan yang teramat dalam.
Sebenarnya dia tidak perlu bekerja keras demi mendapatkan uang. Karena setiap bulan, kedua orang tuanya sudah mentransfer sejumlah uang yang cukup besar.
Dia bekerja hanya untuk menghibur dirinya sendiri.
"Yang sabar ya, semua akan indah pada waktunya. Oh ya Besok kamu jemputan aku ya" Pintaku
"Oke"
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu, sekarang kamu istirahat ya" Ucapku dan mengakhiri panggilan telepon setelah dia mengiyakan.