Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Saat sore tiba teman-temanku berpamitan pulang, karena mereka merasa malu kalau harus bertemu dengan Arka sepulang kerja, apalagi bertemu dengan mamah mertuaku. Meskipun suami dan mertuaku baik, tapi teman-temanku merasa sungkan berhadapan dengan mereka.


Aku lirik jam tanganku, hampir pukul lima sore, sepertinya sebentar lagi Arka pulang kerja. Aku harus bersiap mempercantik diri, agar lelahnya tergantikan saat melihatku sudah cantik, wangi, dan bersih. Aku terkekeh sendiri dengan ucapan dalam batinku. Sepertinya aku memang benar-benar jatuh cinta dengan suamiku.


Sebelum mandi aku rapikan kamar tidurku. Khusus untuk kamarku saja, aku tidak mau menyuruh asisten rumah tanggaku untuk membersihkannya ataupun merapikannya. Jadi aku harus merapikannya sendiri. Kalau dulu sebelum nikah, siapa saja bisa masuk kamarku, termasuk teman-temanku. Tapi setelah menikah aku tidak mengijinkan sembarang orang masuk ke kamarku.


Kamar sudah bersih dan rapi, tidak lupa aku nyalakan aromaterapi supaya pikiran menjadi tenang dan rileks. Dengan hati riang aku berjalan menuju kamar mandi, mulutku tak henti-hentinya menyanyikan lagu dari Jessi J yang berjudul Flashlight.


Sampai selesai mandi pun aku masih terus menyanyikan lagu itu berulang-ulang.


🎶When tomorrow comes,


I'll be on my own


Feeling frightened up


the things that I don't know


when tomorrow comes


tomorrow comes


tomorrow comes


🎶And *though the road is long


I look up to the sky


And in the dark I found


I stop and I won't fly


And I sing Along, I sing along


And I sing along.


🎶I got all I need when I got you and I


I look around me, and see sweet life


I"m stuck in the dark but you're my flashlight


you're gettin me, gettin me through the night*


Sambil tersenyum ceria di depan cermin, setelah selesai merias wajahku aku langsung berlari kecil menuruni tangga. Aku melihat mamah di ruang tengah sedang nonton TV acara kesukaannya.


Aku pun menghampiri mamah "Mamah, udah baikan?" Tanyaku.


"Alhamdulillah mamah udah baikan sayang, sepertinya ada yang lagi seneng nih, kok senyum-senyum sendiri ?"


"Iya mah, mamah tau nggak. Ternyata Arka menyukai masakanku. Bahkan sampai di bawa ke kantor. Besok ajarin masak yang lain ya mah"


"Iya sayang, pasti mamah ajarin. Kamu memang menantu mamah yang pinter, sekali belajar langsung bisa. Besok kita masak menu yang berbeda ya"


"Iya mah" Jawabku dengan girang.


Tiiinn

__ADS_1


Tiiinn


Terdengar suara klakson mobil Arka. Itu artinya Arka datang. "Mah, Arka datang. Caca mau ke depan dulu ya" Mamah pun mengangguk.


Aku berlari sampai teras rumah, Arka keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiriku. "Assalamualaikum" Ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Waalaikumsalam" Aku pun menyambut tangannya dan aku cium punggung tangan itu, seperti biasa setelah aku cium tangannya, aku mendapat balasan kecupan hangat di keningku.


"Hmmm udah cantik, udah wangi istriku ini. Membuatku tambah sayang sama kamu."


"Iihhh... kamu ini ya" Aku cubit lengannya. Tapi malah tangan itu melingkar di bahuku.


Kami pun berjalan berdampingan menghampiri mamah yang masih terduduk di sofa depan TV. Arka mencium tangan mamah, dan kemudian mengobrol ringan dengan mamah.


Aku buka tas kerja Arka untuk mencari kotak bekal. Tapi yang aku cari tidak ada "Sayang, mana kotaknya, kok nggak ada?" Tanyaku padanya.


"Aku lupa, ketinggalan di dashboard mobil. Nanti saja aku ambil" Jawab Arka.


"Sayang, mau minum teh atau kopi. Biar aku buatkan?"


"Air putih hangat saja ya" Jawab Arka.


Aku mengangguk dan mengambil gelas di dapur. Tapi saat aku di dapur aku mendengar suara orang yang sedang mengobrol. Tidak salah lagi itu suara buk Mar dan pak Hadi.


"Wong itu bukan aku yang masak, kok sampean itu ngomelnya sama aku. Aku ndak ngerti apa-apa" Suara medok buk Mar terdengar jelas.


Aku terus menguping pembicaraan mereka karena penasaran dengan apa yang mereka perbincangkan.


"padahal rasanya asin kayak gini, tapi malah di habiskan sama Den Arka" Deg... perkataan Pak Hadi serasa menusuk jantungku.


"Pak, itu punya Arka kan?" Pak Hadi dan buk Mar terkejut dengan kemunculanku di antara mereka.


"I..iya non" Jawab pak Hadi gugup.


Dengan cepat Buk Mar langsung merampas kotak itu dari tangan pak Hadi " Sini biar aku cuci, permisi non" Buk Mar berjalan dengan cepat di depanku, tapi ku berhasil menghentikannya.


"Buk Mar tunggu" Tegurku.


"Iya non, saya mau nyuci ini dulu"


"Buk Mar, bawa sini kotak itu" Aku ulurkan tanganku agar buk Mar memberikannya padaku.


"Ini kotor non, mau saya cuci"


"Buk Mar, bawa sini" Kataku pelan mengulangi ucapanku tadi


"Tapi non..."


Dengan terpaksa buk Mar meletakkan kotak itu ke tanganku. Perlahan aku buka kotak itu. Isinya memang sudah habis hanya tinggal beberapa tetes saja bumbu dan kuah yang masih menempel di dalam kotak itu. Aku usapkan ujung jari telunjukku ke dalam kotak itu, supaya bumbunya menempel di jariku. Lalu aku menjilat ujung jariku, untuk merasakan masakanku sendiri.


Aku terkejut saat tahu rasanya seperti apa, asin, bahkan asin banget menurutku. Aku tak bisa berkata-kata apa lagi tentang masakanku ini. Tapi kenapa Arka berbohong padaku.


"Pak, tadi Arka membuangnya kan pak?" Tanyaku


"Eng..enggak non, den Arka memakannya sampai habis" Jawab pak Hadi dengan sangat hati-hati, takut membuat kesalahan.


"Pak, tapi ini rasanya seperti ini kenapa tidak di buang saja" Air mata menggenang di pelupuk mataku. Tak bisa membayangkan dia memakan makanan yang rasanya tidak enak begini.

__ADS_1


Bagaimana bisa aku memberikan makanan yang rasanya tidak layak untuk di makan buat suamiku sendiri. Istri macam apa aku ini. Begitu bodohnya aku, dengan rasa percaya diri aku memberikan makanan yang aku masak sendiri. Tanpa aku tau rasanya seperti apa. Tak henti-hentinya aku mengatai diriku sendiri.


Buk Mar dan pak Hadi yang melihatku menangis, mereka jadi kebingungan. Sekian detik merek hanya menatapku, karena bingung harus berbuat apa. Aku terduduk lesu di gazebo pinggiran kolam.


Terlihat Arka datang menghampiriku, "Sayang, kamu disini. Mana air minumnya?" Suara Arka terdengar sangat lembut.


Aku mengabaikannya, tidak menjawab pertanyaannya. Aku tundukkan kepalaku. Mengetahui Arka datang, pak Hadi dan Buk Mar segera meninggalkanku berdua dengan Arka.


Karena merasa diabaikan, Arka mendekatiku dan mengangkat daguku menggunakan jarinya. "Sayang, kenapa diam saja?" Wajahku yang tadinya menunduk, kini terangkat menghadap wajahnya.


"Kamu kenapa?...sayang, kamu kenapa? jawab aku, kamu kenapa?" Arka mulai panik melihat aku menangis.


"Aku..aku minta maaf hiks...hiks..hiks." Suaraku putus-putus karena menahan Isak tangis.


"Maaf?? untuk apa kamu minta maaf?" Tanya Arka heran.


Aku menyodorkan kotak bekal itu pada Arka. Dia mengernyitkan alisnya.


"Aku tidak tahu kalau rasanya asin. Tadi aku lupa mencicipi saat menambahkan garam. Aku istri bodoh yang merasa pintar. Masakanku nggak enak. Maafkan aku, aku nggak mau lagi masak buat kamu,aku nggak mau membuat kamu sakit perut."


"Sayang, siapa bilang masakan kamu nggak enak. Masakan kamu itu enak banget. Buktinya habis kok, semuanya aku makan. Malah aku mau di masakin lagi sama kamu" Arka berusaha untuk menghiburku.


"Kamu nggak perlu berbohong agar aku bisa tersenyum. Aku tahu masakanku nggak enak. Buat apa kamu menghabiskannya, harusnya kamu buang saja, kamu bisa sakit perut kalau memakannya" Lirihku.


"Sayang sudah, kamu nggak usah kayak gini dong. Jangan merasa bersalah. Oke, masakannya memang asin, kamu tahu kenapa aku memakannya? Itu karena kamu memasaknya dengan sepenuh hati, dengan penuh cinta, iya kan? aku bisa merasakannya, rasa asin itu tidak terasa karena ada cinta di dalamnya." Ucapan Arka mampu membuatku terdiam, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku melihat senyuman tulus mengembang di bibirnya.


Aku menghambur ke pelukannya, merasakan kehangatan darinya. Seketika semua rasa yang bercampuk aduk hilang lenyap entah kemana. Arka membalas pelukanku begitu erat dan berkali-kali mengecup keningku.


"Terima kasih kamu sudah berusaha menjadi istri yang baik untukku" Lirih Arka, tapi tetap terdengar jelas di telingaku.


"Maafkan aku jika aku nggak bisa jadi istri yang sempurna. Aku membuatmu kecewa" Ucapku dengan sesenggukan.


"Enggak sayang, kamu nggak mengecewakan aku. Jika kamu tidak sempurna, aku yang akan menyempurnakan mu. Segala kekuranganmu akan aku terima. Kamu jangan sedih lagi. Karna itu akan membuatku semakin sedih"


"Aku janji, aku akan terus berusaha menjadi yang terbaik buat kamu" Ucapku penuh kepastian.


"Nah gitu dong, nggak usah sedih lagi ya, lagipula aku nggak apa-apa kok." Arka memberikan senyumnya yang mengembang dengan sempurna. Tangannya mulai jahil menarik sudut bibirku "Senyum dong" Aku pun tersenyum meskipun sedikit terpaksa.


"Ayo kita masuk. Sebentar lagi waktunya Maghrib." Di gandengnya tanganku melewati ruang tengah, dan menaiki beberapa anak tangga sebelum masuk kamarku.


Sampai di kamar barulah dia melepaskan tanganku yang dari tadi di genggamnya.


"Sayang, aku mau mandi dulu ya, habis itu kita sholat Maghrib." Aku mengangguk mengiyakan. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi.


Aku ambil handphone yang aku letakkan di atas buffet. Aku geser layar ponselku. Begitu banyak chat yang masuk. Dan juga beberapa panggilan telpon dari teman-temanku. Memang beberapa hari ini aku sering mengabaikan notifikasi chat yang masuk.


Kali ini aku sempatkan membalas chat satu persatu dari temanku. Termasuk chat di grupku. Begitu aku masuk di grup, seketika grup langsung rame. Semua menanyakan tentang kabarku. Candaan mereka mampu membuatku tertawa saat mbacanya. Selain itu mereka juga mengajak hangout bareng lagi. Tapi dengan halus aku menolaknya, semua merasa kecewa, ada juga yang melontarkan kata kasar, Alda dan Firna yang bergabung di grup ikut membelaku, dan memberi pengertian pada teman-temanku yang lain. Akhirnya mereka semua bisa mengerti.


"Serius amat sih melototin layarnya" Tanpa aku sadari Arka sudah berdiri di sampingku.


Benar yang dikatakannya, aku terlalu serius dengan handphoneku sampai-sampai tidak sadar kalau Arka sudah berada di dekatku.


"Maaf, ini aku lagi chat sama teman-temanku" Aku letakkan handphone tadi di meja. Tanpa nunggu perintah lagi aku langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu.


Setelah itu aku dan Arka segera melakukan sholat Maghrib. Tidak berhenti di situ saja, selesai sholat Arka pun mengajariku mengenal huruf-huruf Arab lebih banyak lagi dan juga mengajariku untuk menghafal surat-surat pendek.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2