Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

'Jika kamu terjatuh, bangkitlah meskipun tanpa uluran tangan orang lain' - Ria iyos


"Sayang, kamu nggak ke kantor ? Jam segini kok masih santai. Malah ngajakin makan di luar" Tanyaku saat sarapan di restoran hotel.


"Hari ini nggak ke kantor. Cuman nanti mau pamit sama staf yang lain, di luar kantor" Seketika aku menatap mata Arka, arti tatapanku seolah meminta penjelasan padanya.


Dengan bibir yang tersenyum tipis tapi sangat menawan Arka menatapku dengan sangat lembut "Sayang, pekerjaan disini sudah beres, kita akan kembali ke Jakarta lagi. Jadi nanti kita bisa berkemas." Ucap Arka.


Rona bahagia terpancar dari wajahku, betapa aku tidak bahagia aku akan kembali ke rumahku dan kembali dengan orang-orang yang sangat menyayangiku.


Tapi berbeda dengan Luna. "Yaaahhh om, kita kan belum jalan-jalan kenapa harus pulang dulu" Sahut Luna merasa kecewa.


Arka terkekeh mendengar celoteh Luna "Habiskan sarapanmu sayang, sebentar lagi kita jalan-jalan" Tangan Arka mengusap lembut puncak kepala Luna.


"Beneran om?" Tanya Luna girang, Arka mengangguk sebagai jawabannya "Yeeeeee kita jalan-jalan" Lanjut Luna.


"Cepat habiskan sarapannya biar kita segera pergi" Dengan sigap Luna langsung menyendok kan makanan nya ke dalam mulut mungilnya. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lucunya.


Selama perjalanan Arka sangat sibuk dengan ponselnya. Tapi aku tak mempermasalahkan hal itu. Di kursi belakang aku dan Luna terus saja bercanda sampai mobil berhenti di suatu tempat yang belum pernah aku kunjungi.


Sebelum turun mataku melihat ke sekitar untuk memastikan kami berada di mana. Dari arah yang tidak terlalu jauh aku melihat patung ikan dan buaya yang seperti melilit. Yang aku tahu sebagai simbol kota Surabaya.


"ke-bun- bi-na-tang Su-ra-ba-ya" Luna mengeja tulisan yang dia lihat. Mataku mengikuti mata Luna memandang. Dan ternyata kami berada di area parkir kebun binatang Surabaya .


"Ayo turun" Ucap Arka.


Secepat kilat Luna langsung membuka pintu taksi yang membawa kami. "Pelan-pelan sayang" Seruku saat melihat Luna yang hampir terjungkal saat akan keluar dari mobil.


"Kamu dimana?" terdengar suara Arka berbicara dengan ponselnya. Matanya menoleh ke berbagai penjuru. Dari arah kejauhan terlihat seorang perempuan melambaikan tangan. Monika, ya itu Monika. Apa ada pekerjaan yang mendadak sampai Monika menyusul kesini, batinku.


Arka kembali mengantongi ponselnya. "Pak, bapak yakin nggak mau ikut kami?" Tanya Arka pada sopir taksi langgananku.


"Iya mas, makasih banyak. Tapi maaf saya Ndak bisa ikut" Tolaknya dengan lembut dengan di sertai senyum.


"Baiklah pak." Arka mengeluarkan dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang ke pak sopir, sebelum pak sopir berkata Arka sudah memberikan isyarat agar tidak melakukan protes. Karna bapak itu selalu melakukan penolakan saat menerima kebaikan orang lain.


"Makasih banyak ya mas, neng. Semoga kalian selalu bahagia dan banyak rejeki" Tatapan haru tampak di wajahnya. Aku dan Arka mengangguk bersamaan.


"Hati-hati ya pak. Setelah ini bapak pulang istirahat ya." Ucap Arka.


Monika menghampiri kami yang masih berdiri melihat pak sopir masuk ke dalam taksinya.

__ADS_1


"Pagi pak" Sapa Monika.


"Ini di luar kantor jangan menganggap ku lebih tua" Seru Arka.


"Hehehe.. iya maaf. Hai Ca gimana kabarnya... masih sering mual?" Tanya Monika saat menyapaku.


"Masih, tapi sudah tidak terlalu sering" Jawabku.


"Yang lain dimana?" Tanya Arka pada Monika.


"Sudah di dalam pak. Eh Arka" Monika kembali terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Memang ada siapa lagi?" Akhirnya aku bersuara karena sedari tadi aku hanya bertanya-tanya dengan rencana Arka membawaku kemari.


"Jadi gini ca, karena tugas Arka disini sudah selesai, Arka akan berpamitan pada seluruh staf. Tapi Arka memilih konsep di luar agar ada kesan yang berbeda. Bagi yang sudah berkeluarga kita meet up disini, yaahhh itung-itung liburan keluarga karena mereka juga membawa anak dan istri bahkan ada yang membawa ibu bapaknya. Mereka bilang mau memperkenalkan Arka pada keluarga. Kalau mereka punya bos yang super Top. Dan nanti bagian yang single kita akan ada acara di cafe. Acaranya sore sampe malem" Monika menjelaskan semuanya.


"Kok kamu nggak cerita sih sayang, kalau ada acara gini?" Ucapku menuntut penjelasan.


"Aku lupa" Jawab Arka dengan santai.


"Mereka sudah kumpul disana" Tunjuk Monika setelah melewati pintu masuk.


"Berarti hanya aku yang terlambat?" Tanya Arka.


Arka hanya tertawa mendengar ucapan Monika. Aku yang tidak terlalu paham hanya mampu mendengarkan dengan sesekali menanggapi celoteh Luna yang tampak kagum dengan keberadaan burung-burung yang di kurung dengan kurungan besar.


Tepuk tangan riuh menyambut kedatangan Arka. Di hadapan kami sudah berkumpul puluhan staf lengkap dengan anak dan istri. Ada juga yang membawa orang tuanya, seperti yang di ceritakan Monika di awal pertemuan tadi. Dan satu lagi, semua memakai kaos yang sama. Kaos warna hijau dengan simbol Kota Surabaya. Memang sederhana tapi semua terlihat benar-benar kompak.


Dan sepertinya mereka juga membawa bekal makanan dan juga tikar dari rumah. Benar-benar seperti liburan keluarga. Aku hanya merasa heran tetapi sangat bangga dengan pemikiran Arka.


Monika menyediakan tempat duduk untukku dan Luna. "Ca, ini ibuku dan anakku. Kalian ngobrol ya. Aku mau buka acara dulu" Ucap Monika. Aku menurut dengan yang di katakan Monika. Aku duduk di samping seorang wanita berhijab yang usianya sudah tidak muda lagi namun senyum di wajahnya tidak menghilangkan wajah cantiknya. Aku pun mulai berkenalan dan berbicara dengan membahas segala hal.


Sepertinya Monika menceritakan banyak hal tentangku pada ibunya.


"Oke guys, karena kita sudah kumpul, kita mulai acaranya ya" Monika membuka suara. Cara bicara Monika membuatku kagum dia bicara dengan bahasa non formal tapi tetap dengan gayanya yang elegan. Tidak salah kalau papa mempekerjakannya dan memperlakukannya dengan sangat baik.


Acara terus berlanjut dan saat sesi tanya jawab, ada seorang staf yang memintaku untuk mendampingi Arka. Aku pun di minta Arka agar mendampinginya.


Arka memperkenalkanku di hadapan semua orang, meskipun ada beberapa yang sudah mengenalku. Begitu banyak pujian yang terdengar saat aku berdiri di samping Arka. Mungkin saat ini wajahku memerah seperti tomat. terlebih lagi saat Arka mencium keningku di hadapan semua orang, tepuk tangan riuh dan suara siul menggema di ruang terbuka ini.


"Ini lah istri yang menjadi penyemangat dan juga obat di saat lelah. Melihat senyumnya semua rasa lelah, semua rasa gelisah akan lenyap seketika. Tetapi sebaliknya, disaat melihat dia sakit, melihat dia menangis itu akan membuatku sebagai suaminya benar-benar merasa sakit, bahkan sakitnyaig .? akan melebihi sakit yang dia rasa. Jadi pesanku pada kalian semua, jangan sia-siakan istri yang selalu ada buat kalian para suami. Dan juga buat istri, hargailah suamimu, jadilah penghibur hatinya sehingga dia tak akan bisa menjauh darimu. Intinya harus saling melengkapi. Dan jangan menuntut agar pasangan kalian sempurna. Kekurangan istri, suami lah yang melengkapi, kekurangan suami, istrilah yang melengkapi. Jadi harus ada kerja sama di dalam rumah tangga supaya rumah tangga kalian bahagia" Arka berkata dengan suara lembut seolah menghipnotis semua yang ada disini.

__ADS_1


"Bang mau tanya?" Seseorang mengangkat tangannya.


"Iya silahkan"


"Menurut Abang, apa sih yang buat istri bahagia ?"


"Kok tanya sama aku? emangnya aku ini istrimu. Tanyakan sama istrimu dong" Jawaban Arka mampu membuat semua orang tertawa.


Lalu Arka melanjutkan lagi pendapatnya "Jadi gini ya, sebenarnya kalian nggak pantas tanya hal itu sama aku, aku ini masih pengantin baru, masih beberapa bulan menikah. Kalian itu seniorku. Masa iya senior tanya sama junior hahaha" Arka tertawa di tengah candaanya.


Lalu Arka kembali dengan keseriusannya "Tapi sedikit gambaran dariku ya, jangan pernah berpikir kalau istrimu akan bahagia kalau di kasih uang banyak. Masalah uang bukan hanya istri yang bahagia, para lelaki juga bahagia kalau di kasih uang. iya kan... Sebenarnya ada hal sederhana yang membuat istrimu bahagia. Cium keningnya. Setiap dia habis melakukan sesuatu puji dia, lalu kecup keningnya. Itu hal sederhana yang membahagiakan istrimu. Nah sekarang giliranku yang tanya. Apa kamu sering melakukan itu?" Tanya Arka pada stafnya.


"Nggak sering sih bang, tapi pernah"


"Huuuu"


Jawabnya yang di iringi dengan suara ejekan dari yang lain.


"Tapi pernah, berarti udah lama kamu nggak memanjakan istrimu"


"Manjakan lah bang, aku selalu kasih apa yang dia minta, mau jalan-jalan aku turuti, mau ke salon kasih uang, mau apa aja aku turutin pokonya"


"Jadi gini ya kita balik kata-kata yang sering kita dengar biasanya kita mendengar uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang. Bagaimana kalau sekarang kita balik segalanya memang butuh uang, tapi uang bukan segalanya. Seperti yang aku bilang tadi. sering puji dia, peluk dia, kecup keningnya. Pasti hatinya meleleh. Sekali saja kamu kecup dia dalam waktu tiga detik saja. Senyumnya akan tahan lima jam. bayangkan aja kalau kamu sering kecup dia. Sepanjang hari dia akan tersenyum, bahkan tidurpun dia akan tetap tersenyum. Coba tanya pada istri kalian, seneng nggak kalau di cium keningnya?"


"Pasti seneng dong" Jawaban saling menyahut dari perempuan yang ada di depanku.


"Ini hanya hiburan ya itu hanya menurut pendapatku saja. Lagipula seharusnya aku yang belajar dari kehidupan kalian. Kalian lebih berpengalaman daripada aku. Mengenai kebahagiaan keluarga itu semua kembali pada pribadi masing-masing. Untuk lebih jelasnya kalian tanyakan saja pada pasangan kalian, mau nya apa? Gitu saja ya. Simple kok" Arka menyudahi pembicaraannya.


"Makasih bang" Arka mengacungkan jempolnya. Dan tepuk tangan riuh menutup perbincangan.


Kami pun berlanjut dengan mengobrol satu sama lain. Dan tentunya dengan sajian makanan yang mereka bawa dari rumah.


"Maaf ya, saya nggak bawa apa-apa. Saya nggak tahu kalau ada acara begini. Ini mendadak sekali" Merasa tidak enak dengan yang lain.


"Nggak apa-apa Bu. Lagipula ini lebih dari cukup buat kita semua. Ayo cicipin ini makanannya. Ini saya bawa rujak juga. Biasanya kalau orang hamil muda itu pengennya makan begini" Seorang staf perempuan menyodorkan rujak buah yang membuat air ludah ku bergelenyar. Tapi malu untuk menerimanya.


"Ambil aja Bu, kalau pengen sesuatu jangan di tahan. katanya anaknya bisa ileran hehheehe" semua terkekeh.


Akhirnya aku terima pemberiannya " Makasih ya"Staf dan keluarganya begitu ramah. Semua menceritakan tentang kebaikan Arka selama memimpin mereka. Dan lagi kata mereka sesibuk apapun pekerjaan di kantor dan pabrik, para stafnya tidak boleh meninggalkan ibadah baik yang muslim maupun non muslim.


Dalam hati hanya berucap, terima kasih Tuhan telah mengirim malaikat dalam wujud suamiku. Senyum bahagia mengulas di bibirku. Begitu sempurnanya suamiku di mataku, meskipun kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.

__ADS_1


Kami terus bercengkerama hingga tak terasa telah menghabiskan waktu hampir empat jam. Saat akan berpisah, raut wajah kecewa dan sedih terpancar dari wajah para staf.


Bahkan saat bersalaman dengan mereka, ada beberapa ibu- ibu yang memberikan bingkisan sebagai kenang-kenangan. aku sangat terharu dengan apa yang mereka lakukan. Mereka sangat baik, padahal mereka belum mengenalku secara dekat.


__ADS_2