Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

"Sayang, bangun" Suara itu terdengar sayup-sayup di telingaku. Tapi mataku enggan terbuka.


"Sayang, bangun" Terdengar lagi suara itu. Suara yang begitu aku kenal. Siapa lagi kalau bukan suara suamiku, Arka.


"Sayang" Suara lembutnya semakin terdengar jelas berbisik di telingaku. Dan hembusan nafasnya menyentuh telingaku. Yang membuatku sedikit merinding. Dan saat bibirnya mengecup telingaku secara perlahan itu membuatku benar-benar merinding.


Masih dengan mata terpejam, aku sedikit melenguh. "Bangun sayang, sudah siang" ucapnya lagi. Dan tangannya memeluk tubuhku dari belakang. Membuatku begitu nyaman.


Aku paksa untuk membuka mata, tapi cahaya sekitarku menyilaukan sehingga mataku menyipit. Aku balikkan tubuhku untuk menghadap ke arah tubuhnya. Aku benamkan wajahku di dadanya. Wangi parfum dari pakaian Arka begitu menyegarkan.


Aku buka mataku untuk melihatnya. "Sayang pakaianmu sudah rapi. Mau berangkat kerja?" Tanyaku padanya.


"Iya sayang"Jawabnya.


Mataku melihat keadaan sekitar. Ternyata aku masih berada di dalam tenda. Aku baru ingat kalau tadi malam aku dan temanku memang sengaja tidur di dalam tenda. Sedangkan Arka tidur di luar tenda.


"Kemana yang lainnya?" Tanyaku saat menyadari kedua temanku tidak ada di sampingku.


"Mereka sedang mandi. Tadi mereka habis bantuin mamah masak juga" Jawab Arka.


"Oh ya?, kok aku nggak di bangunin sih" Gerutuku.


"Tidurmu nyenyak banget sayang, bahkan waktu di bangunin kamu nggak mau buka mata. Malah wajahmu kamu tutupi dengan selimut." Jelas Arka.


"Hmm.. masa sih aku gitu?"


"Kan kamu nggak sadar sayang, jadi kamu nggak bakal tau" Ucap Arka sambil mencubit pipiku.


"Ya udah kalau gitu aku mau ke kamar dulu ya, mau mandi" Pamitku pada Arka.


"Tunggu dulu. Aku bangunin kamu karna aku mau pamit berangkat kerja. Udah siang nih, kalau nunggu kamu mandi nanti aku malah lebih terlambat. Ini saja aku sudah terlambat satu jam. Nggak enak sama yang lainnya." Ucap Arka.


"Kan kamu bosnya sayang. Jadi nggak apa-apa dong kalau kamu terlambat, nggak ada yang bakal berani marahin kamu" Ucapku lagi.


"Nggak boleh kayak gitu dong sayang. Sebagai seorang pemimpin aku harus ngasih contoh yang baik pada bawahannya. Supaya mereka juga ikut disiplin." Ternyata benar juga yang di katakan Arka. Begitu bijaksana suamiku ini.


"Ya sudahlah kalau gitu. Cepat berangkat sana" Dan seperti biasanya saat Arka berpamitan selalu memberi kecupan kilas di keningku. Meskipun begitu aku merasa sangat bahagia.


Aku antar Arka sampai di garasi mobil. Disana ada ayah Luna yang sudah siap mengantar Arka ke kantor. Sebelum masuk mobil Arka kembali mengecup keningku dan membisikkan kata " I love you" Seketika wajahku merona. Baru kali ini aku mendengar kata itu dari mulut arka. Tentu saja membuatku merasa sangat bahagia. Aku lambaikan tanganku saat mobil mulai melaju keluar dari halaman rumah.


Bayangan mobilnya sudah tidak nampak lagi. Aku balik badan dan berlari kecil menuju rumah dengan senyum yang masih mengembang di bibirku.


"Cieee... sweet banget sih lu" Aku kaget saat mendengar suara Alda. Ternyata Alda dan Firna sudah berdiri di teras depan rumah.

__ADS_1


"Apaan sih, ngapain kalian berdiri disini?" Tanyaku sedikit malu.


"Ngeliatin kalian berdua. Jadi pengen deh punya suami. Nanti kalau suami gue berangkat kerja gue juga bakal kayak lu, cium tangan terus dia nyium jidat gue"Jawab Firna dengan mata yang menerawang ke atas seperti sedang menghayal.


"Makanya cepetan nikah" Ledekku.


"Cepetan nikah? Iya kalau dapat laki kayak laki lu. Kalau ternyata dapat laki yang nggak baik gimana dong" Jawab Alda.


"Kan Firna bisa pilih mana yang baik menurut dia. Lagi pula Firna kan banyak cowoknya usah pasti tau dong karakter cowok yang baik dan sesuai dengan keinginannya" Ucapku lagi.


"Eh ca, gue ma mereka itu cuma love one night. Jadi nggak ada cinta dari hati gue. Kalau pun gue bertahan agak lama itu semua karena gue ngejar uang mereka doang. Nggak ada cinta tulus dari gue" Protes Firna.


"Lagian lu gonta ganti cowok kayak ganti baju aja. Gampang banget" Ledek Alda.


"Tapi tunggu deh, seingatku dulu kamu pernah cerita kan kalau ada cowok yang selalu ngejar kamu. Kalau nggak salah dulu dia teman sekolahmu waktu SMA" Ucapku sambil sedikit berpikir.


"Siapa?" Tanya Alda.


"Siapa sih yang lu maksud?" Firna juga bertanya padaku.


"Aku sih lupa siapa namanya. Tapi yang jelas dia selalu ngejar kamu dan bersedia nerima kamu apa adanya." Ucapku lagi.


Firna mencoba mengingat-ingat lelaki yang aku bicarakan. " Maksud lu Haris?" Tanya Firna dengan mantap.


"Ah enggak lah. Dia nggak tajir. Kalau gue milih bikah ma dia nanti gue malah serba kekurangan. Nggak bisa ke salon, shopping, makan di restoran dan yang lainnya. Yang ada gue malah di suruh diam di rumah, masak, nyuci baju, nyuci piring. Enggak ah" Tolak Firna.


"Oh maksud kalian Haris yang dulu pernah ngantar Firna ke apartemen gue. Gue baru ingat. Setau gue sih dia cowok yang penyayang juga dan lemah lembut" Ucap Alda.


"Sok tau lu. Emang lu tau darimana. Ketemu cuma sekali doang, bilang dia penyayang dan lembut" Protes Firna.


"Waktu itu lu mabuk berat. Lu nggak kan apa yang terjadi. Gue merhatiin dia waktu dia ngurusin lu. Dia bersihin semua muntahan lu, ngompres lu, udah gitu dia nyuruh gue gantiin baju lu. Malah gue ledekin dia. Gue suruh dia ganti baju lu sendiri. Tapi dia nolak. Dia bilang nggak mau zina. Waktu itu gue cuma ketawa aja sih. Di jaman kayak gini masih ada cowok kayak gitu. Kan gue merasa lucu aja. Gue pikir dia munafik. Ternyata gue salah gue baru menyadari saat paginya gue lihat dia duduk di kursi tapi matanya merem, sedangkan lu dengan nyenyak tidur di ranjang gue. Dia nggak mau tidur seranjang ma lu. Begitu lu sadar lu marah ngusir dia. Makanya waktu itu gue marah banget ma lu Fir." Alda menjelaskan kejadian yang dulu.


"Iya lu marah ma gue, bahkan lu nampar gue dan juga ngusir gue gara-gara lu belain Haris" Gerutu Firna.


"Menurutku memang Haris lelaki yang tulus sama kamu Fir, dia memang nggak tajir tapi dia cinta banget sama kamu Fir" Lirihku sambil menggenggam tangannya.


"Udah deh, kenapa jadi bahas Haris sih. Mungkin aja dia udah hidup bahagia dengan pasangannya." Ucap Firna dengan santai.


"Kalian nggak pernah ketemu lagi?" Tanya Alda.


"Pernah sih. Setelah kejadian itu gue masih sempat ketemu sama dia. Dia minta maaf, bahkan dia mau ngajak gue untuk berkenalan dengan orang tuanya. Tapi gue nolak, gue bilang kalau dia bukan level gue" Ucapan Firna mulai melembut, dan seperti ada nada sedikit penyesalan.


"Keterlaluan banget sih lu Fir. Kalau pun dia tajir dan punya segalanya. Level dia juga bukan lu. Pasti cewek yang lebih cantik, baik, atau mungkin berhijab yang baru keluar dari pesantren" Alda merasa kesal dengan ucapan Firna.

__ADS_1


"Sudah nggak ada gunanya kita ribut disini, sekarang gini aja Fir. Seandainya Haris datang dan minta kamu nikah dengannya apa kamu mau?" Tanyaku dengan lembut.


"Gue nggak tau ca, gue nggak tau perasaan gue kayak gimana. Yang jelas gue nggak cinta sama dia." Jawab Firna.


"Itu karna dia nggak kaya kan. Kamu tau kan bagaimana pernikahanku dengan Arka. Sama sekali aku nggak mencintainya bahkan nggak mengenalinya. Dan yang lebih parah lagi Arka masih mencintai pacarnya. Tapi dia selalu berusaha untuk mencintaiku. Kami sama-sama berusaha untuk saling mencintai.


Dan sekarang kan kamu tau bagaimana hubunganku dengannya. Bahkan sampai membuat kamu iri. Semua butuh waktu Fir. Aku yakin suatu saat kamu bisa mencintainya. Apalagi dia sangat mencintaimu" Firna terdiam mendengar kata-kataku.


"Yang di katakan Caca benar juga Fir. Mau sampai kapan lu kayak gini. Kalau lu mau, gue bisa antar lu nyari dia. Lu tau rumahnya kan?" Ucap Alda.


"Iya gue tau rumahnya. Tapi entahlah, gue masih ragu buat ketemu ma dia." Lirih Firna.


"Kamu pikirkan aja baik-baik ya saran dariku dan juga Alda. Kita semua pingin yang terbaik buat kamu" Kami bertiga berpelukan secara bersamaan.


"Makasih ya, kalian memang teman yang baik" Ucap Firna.


"Waaahh ada apa ini sampai berpelukan kayak gini" Suara mamah mengejutkanku, dan kami melepas pelukan bersamaan.


"Mamah, bikin kaget aja. Nggak ada apa-apa mah. Hanya saling curhat aja kok" jawabku.


"Ya udah kalau gitu. Ayo masuk, kalian semua belum sarapan kan. Mamah udah siapkan semuanya di meja makan" Mamah menghampiri dan merangkul pundakku.


Aku berjalan memasuki rumah di ikuti Alda dan Firna di belakangku. "Mamah masak apa? Maaf ya mah, Caca nggak bisa bantuin mamah. Bangunnya kesiangan" Rengekku.


"Nggak apa-apa, lagipula ada buk Mar. Tadi juga teman-teman kamu ikut bantuin mamah di dapur." Suara mamah begitu lembut, di tambah lagi senyuman mamah yang selalu saja menghiasi bibirnya, tak heran jika orang akan merasakan ketenangan saat melihat wajah teduhnya .


Kami berempat sarapan bersama, meskipun ini sudah lewat jam sarapan. Kami tetap menikmati setiap makanan yang tersaji di hadapan kami. Kami juga memperbincangkan hal-hal kecil mengenai kegiatan kami sehari-sehari. Terlebih mamah yang selalu menanyai tentang Alda dan juga Firna. Mamah juga memberikan nasihat yang baik buat mereka.


Setelah selesai sarapan teman-temanku berpamitan pulang karna Alda harus kerja.


"Kalian sering-sering datang kesini ya" Ucapku.


"Siap bos" Jawab Alda lalu menginjak pedal gas mobil dan keluar dari halaman rumahku.


Rumahku kembali sepi, nggak ada lagi suara celoteh Luna, nggak ada lagi candaan dari teman-temanku. Benar-benar sepi. Aku tarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Melihat keadaan sekitar rumahku.


Lalu aku kembali memasuki rumah. "Buk Mar, minta tolong ya. Nanti kalau kerjaan buk Mar sudah beres, minta tolong bereskan tenda yang di halaman ya. Soalnya aku capek banget mau istirahat." Ucapku.


"Iya non nanti biar saya bereskan. Apa non mau di buatkan minuman hangat?" Tanya buk Mar.


"Nggak usah buk Mar. Aku mau tiduran aja di kamar soalnya masih ngantuk juga" Ucapku. Lalu aku berjalan menaiki tangga menuju kamarku.


Sampai di kamar aku langsung menuju kamar mand untuk membersihkan tubuhku. Aku isi bathup dengan air hangat sampai terisi setengahnya. Aku tuangkan beberapa cairan ke dalamnya. Lalu aku aduk menggunakan tanganku. Paduan aromanya sangat menyejukkan pikiranku sehingga pikiranku lebih rileks.

__ADS_1


__ADS_2