Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Mataku mengerjap berkali-kali saat merasa tubuhku terangkat. "Sayang, kita dimana" Aku sadar bahwa Arka yang mangangkat tubuhku, tapi aku enggan membuka mata.


"Kita sudah di rumah" Mendengar jawaban Arka, mataku langsung terbuka. Dan kami sudah berada di ruang tengah.


Sebelum menaiki tangga aku menyuruh Arka menurunkanku. "Turun disini aja" Pintaku.


"Tidurlah, biar aku yang menggendongmu" Tolaknya.


"Aku turun disini aja, aku tau kamu pasti capek" Pintaku dengan lembut.


Dengan terpaksa Arka menurunkanku. Aku berjalan menaiki anak tangga satu persatu, tapi dengan tangan bergelayut pada lengannya.


"Kalian baru pulang?" Tegur mamah dari ujung tangga paling atas.


"Mamah... mamah belum tidur?" Tanya Arka tampak terkejut.


"Mamah nunggu kalian, mamah nggak bisa tidur sebelum kalian pulang"


"Maaf ya mah, gara-gara kami mamah jadi nggak bisa tidur" Aku pun memeluk mamah dan mencium pipinya.


"Kamu tampak kelelahan, cepat istirahat ya sayang" Mamah pun mengusap pundakku perlahan.


Aku segera memasuki kamar, langsung menuju kamar mandi dan mengganti pakaianku dengan pakaian tidur.


"Udah mau tidur?" Tegur Arka saat keluar dari kamar mandi.


"Iya"


"Kita sholat isya' dulu ya, sebentar aja" Bujuk Arka.


Tanpa menjawab aku kembali masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu kami melakukan sholat bersama.


"Kamu istirahat saja ya, aku masih mau ngaji" Arka pun mengecup keningku.


"Aku mau disini, sambil nunggu kamu" Ucapku dengan manja.


"Baiklah, aku ambilkan bantal dulu" Aku tarik baju Arka saat dia akan berdiri.


"Nggak usah, aku tidur sini nggak papa kan?" Aku tepuk paha Arka yang tertutup sarung.


"Tantu saja boleh" Arka langsung membenarkan posisi duduknya, duduk bersila, dan menyuruhku untuk menyandarkan kepalaku di pahanya.


Suara Arka terdengar merdu saat melantunkan ayat-ayat Alquran. Aku pejamkan mataku menikmati suara merdunya. Lama kelamaan suara itu terdengar sayup-sayup dan tidak terdengar lagi.


Paginya.....


Suara alarm dari handphone-ku berbunyi. Ini artinya sudah waktunya subuh. Tanganku meraba-raba handphone yang aku letakkan di atas meja samping ranjang. Aku letakkan kembali setelah mematikannya. Alarm nya sengaja aku pasang satu jam lebih awal. Agar aku bisa bersantai. Aku duduk bersila dengan selimut yang masih menutupi kakiku. Berpikir sejenak, pasti Arka yang memindahkan tidurku semalam, pikirku. Aku menoleh ke arah Arka yang masih tertidur pulas.


"Sayaaanggg.... ayo banguuunn.. udah subuh nih" Aku goyang-goyang kan kakinya. Tidak ada respon sama sekali.


Kembali aku rebahkan tubuhku di sebelahnya, menatap wajahnya dalam cahaya yang minim. Tapi wajah itu terlihat dengan jelas ketampanannya, bahkan raut wajah yang teduh dan menenangkan itu sangat mempesona meskipun dalam gelap. Wajar saja jika banyak wanita yang terpesona dengan ketampanannya.


Aku kecup bibirnya yang sensual itu. Sebelah tanganku aku tangkupkan di satu pipinya. Dan bibirku kembali mengecup bibirnya. Aku lakukan berulang-ulang sampai dia melenguh pelan.

__ADS_1


"Jam berapa ini?" Tanya Arka tapi masih dengan mata tertutup. Tangannya mulai menyelinap ke belakang punggungku dan memelukku dengan erat.


"Jam empat, ayo banguunn. Sudah subuh" Aku angkat tangannya yang memeluk tubuhku, tapi tangan itu terasa sangat berat.


"Sebentar sayang, aku masih ingin meluk kamu" Arka mencoba menggodaku. Wajahnya menelusup ke leher jenjangku. dan mengecupnya berulang-ulang yang membuatku merasa geli.


"Jangan gini ah, ayo bangun. Kenapa sekarang kamu yang malas bangun" Aku coba menarik rambut belakangnya agar dia berhenti menciumi leherku. Tapi semakin aku memaksa, dia semakin bergairah.


Tangannya mendekap erat tubuhku, dan bibirnya terus saja menciumi leherku. Perlahan tangannya berpindah ke depan dadaku. Dan membuka kancing baju tidurku satu persatu. Setelah terbuka semua, tangannya berhasil menyingkap baju tidurku, sehingga dua gunung kembarku menyembul tanpa tutup apapun. Karena di saat tidur aku memang tidak pernah mengenakan bra, untuk memberi jalan peredaran darah. Aku pun mulai terangsang saat bibirnya menyentuh ujung gunung kembar ku.


Di hisapnya secara perlahan, sehingga membuat desahan-desahan lembut keluar dari bibirku. Dengan terampil tangan itu meremas gunung kembar ku yang satunya lagi. Aku gigit bibir bagian bawahku, sebagai tanda bahwa aku benar-benar terangsang dengan perlakuannya. Bibirnya masih belum berhenti menghisap gunung kembarku.


Arka masih sempat bertanya padaku, apa aku mau melakukannya di waktu subuh gini. Tentu saja aku tidak menolaknya. Dengan cepat aku mengangguk memberi jawaban.


"Sekarang ya?" Tanya Arka lagi. Aku pun mengangguk memberi jawaban untuknya.


Arka pun langsung membuka pakaian tidurku sehingga aku menjadi telanjang bulat, hanya selimut yang menempel di tubuhku saat ini. Kami pun melakukan pergumulan di dalam selimut. Ciuman demi ciuman lembutnya mampu menghanyutkan seluruh pikiranku.


Tangannya tidak berhenti meremas dua gunung kembarku. Sehingga aku kembali melenguh dan mengeluarkan desahan yang lembut. Semakin aku mengeluarkan desahan, Arka semakin bergairah melakukan aksinya. Tidak ada lagi pemanasan, Arka segera menancapkan benda tumpul miliknya ke liang kenikmatanku. Kami mendesah bersama. Desahan itu seolah berirama dengan gerakan tubuhnya, sampai Akhirnya kami melepaskan puncak kenikmatan secara bersama.


Arka merebahkan tubuhnya di sampingku. Tangannya menggenggam tanganku. "Makasih sayang" Di ciumnya tanganku yang daritadi di genggamnya.


Aku mengangguk. Dan suasana hening sejenak sebelum aku berkata lagi.


"Sayang, kalau kita sudah melakukan hubungan badan kan nggak boleh untuk melakukan sholat. Terus kita harus gimana?"


"Aku ajarin cara mensucikan diri ya. Ayo?" Arka segera bangun dan mengajakku ke kamar mandi.


Di sana Arka mengajariku cara mandi yang benar setelah melakukan hubungan badan. Dan tak lupa juga doanya dia ajarkan padaku. Aku mengikuti semua yang di ajarkan olehnya. Dengan serius aku menghafal doa-doa itu.


Dan sebelum berangkat kerja, Arka mengajakku untuk ikut sarapan bersama. Aku pun menyanggupinya.


"Saat makan siang aku akan pulang untuk makan bersama kamu" Ucap Arka saat dia telah selesai dengan sarapannya.


"Sayang, kalau kamu nggak sempat pulang biar aku yang membawa makan siangmu ke kantor. Gimana?" tawarku. Aku ingin melihat keadaan kantornya. Selain itu aku juga ingin tahu apakah di kantornya ada pekerja wanita yang ganjen seperti perempuan yang semalam.


"Nggak usah sayang nanti kamu kecapekan. Lagi pula cuaca di luar sangat panas. Biar aku aja yang pulang" Tolak Arka.


"Baiklah.." Jawabku dengan lemas.


"Kamu nggak usah khawatirkan aku, secantik apapun perempuan di luar sana. Suamimu ini akan tetap setia" Aku tercengang dengan ucapan Arka, dia berkata seolah tau yang ada dalam pikiranku.


"Sayang, kamu harus percaya sama Arka. Dia suamimu. Percayalah kalau dia tidak akan mengkhianatimu" Mamah ikut menimpali.


Memang sudah seharusnya aku percaya sama suamiku. Sikap Arka tadi malam sudah membuktikan bahwa dia tidak ingin menyembunyikan status pribadinya di depan umum.


"Ya sudah aku berangkat kerja dulu ya, kalau ada apa-apa kamu langsung kabarin aku" Arka segera berpamitan pada mamah, di ciumnya punggung tangan mamah.


Aku mengantar Arka sampai di teras rumah. Kemudian dia mengulurkan tangannya padaku. Segera aku raih tangan itu, aku cium punggung tangannya. Dan kecupan ringan mendarat di keningku.


"Assalamualaikum..." Pamitnya.


"Waalaikumsalam... " Aku lambaikan tangan ku saat dia memasuki mobilnya. Aku terus menatap mobil itu sampai menghilang di balik pintu gerbang.

__ADS_1


Aku tidak langsung masuk ke dalam rumah. Mataku tertuju ke taman kecil, taman bunga buatan mamah. Harum bunga anggrek menyeruak masuk ke hidungku saat aku berada di tengah-tengah taman anggrek ini. Aku bersihkan daun-daun kering yang menempel di bagian batangnya.


"Permisi non" Suara pak Hadi, security di rumahku ini mengagetkanku.


"Iya, ada apa pak"


"Di luar ada orang yang mengaku sebagai teman non Caca"


"Siapa namanya?" tanyaku merasa heran, pagi-pagi gini ada yang bertamu.


"Namanya non Firna, nggak cuma sendiri non, mereka bertiga" Jawab pak Hadi.


"Iya pak, mereka teman-temanku. Suruh masuk aja ya" perintahku pada pak Hadi. Aku hentikan kegiatanku di taman bunga ini. Aku pergi untuk menyambut mereka.


"Hai Caaaa...." Alda keluar dari mobil dan berlari menghampiriku. Dia memelukku dengan sangat erat sampai aku susah bernafas. Aroma alkohol keluar dari mulutnya, baunya sangat menyengat.


"Lepas...lepasin... aku nggak bisa nafas" Aku mencoba mendorong tubuhnya agar sedikit menjauh dariku.


"Ups..maaf. Aku kangen banget. Udah berapa hari nggak ketemu rasanya seperti bertahun-tahun." Alda pun melepas pelukannya.


"Halah lebay banget loe" Sahut Firna yang juga datang menghampiriku. Firna memelukku juga, tapi pelukannya sangat santai.


"Ini kenapa kalian masih pagi udah disini? Kalian darimana?" Tanyaku heran melihat mereka.


"Biasalah habis dugem, di deket sini. Mau pulang tapi mata dah nggak kuat. Boleh kan kita numpang tidur disini, pliiissss" Alda memasang tampang mengiba dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Nggak usah di jelekin gitu mukanya. Kalau mau tidur, ya tidur aja. Aku nggak larang kok" Sahutku.


"Thanks Ca, tadinya gue mau nginep di hotel. Tapi mereka nggak mau. Mereka ngajakin kesini" Ucap Alda.


"Bukannya nggak mau, kan gue dah bilang. Uang gue nipis. Laki gue yang sekarang kere" Protes Firna.


"Tunggu deh, bukannya kalian bertiga, ini mana yang satu lagi kenapa cuma berdua aja" Tanyaku pada mereka.


"Tuh, Joy tidur di mobil" Alda menunjuk dengan bibir di monyongkan mengarah ke mobil.


"Sudahlah, biarin aja dia disana gue dah ngantuk banget. Mana kasurnya gue mau tidur." Gerutu Firna.


"Ya udah ayo masuk" Aku berjalan mendahului mereka, menuju kamar tamu yang terletak di bawah tangga.


Saat di ruang tengah mamah menghampiriku dan menanyai tentang teman-temanku. Aku menceritakan sama mamah kalau mereka hanya numpang tidur karena habis melakukan perjalanan jauh. Nggak mungkin kalau aku harus bicara jujur sama mamah, tentang mereka yang habis pulang dugem.


Mamah menyambut teman-temanku dengan baik, malah mamah menyuruh mereka untuk sarapan. Tapi niat baik mamah di tolak secara halus sama mereka. Dengan alasan baru selesai makan. Padahal ya karena mereka habis minum sampai mabuk. Kalau sudah mabuk pasti malas untuk makan, karena bawaannya selalu mual.


"Ya sudah sana tidur, nanti kalau kalian lapar kalian ambil saja sendiri ya. Atau minta bantuan sama buk Mar ,asisten rumah tanggaku" Aku mendorong tubuh Alda agar segera masuk ke kamar tamu. Aku nggak mau mamah berhadapan lama-lama dengan mereka, takut tercium aroma alkohol dari mulut mereka.


Mereka berdua masuk ke kamar dan aku menutup kembali pintu kamar itu membiarkan mereka istirahat.


Aku berjalan mendekati mamah "Mah, Arka bilang nanti siang dia mau makan di rumah. Caca mau masak buat dia ya mah. Tapi Caca minta di ajarin sama mamah" Bujukku pada mamah.


"Baiklah, mamah akan mengajarimu memasak. Kita masak makanan kesukaan Arka ya" Mamah juga memberikan ide padaku. Aku mengangguk menyetujui ide mamah.


Aku dan mamah mulai berkutat di dapur. Buk Mar sama Mbak Susi sekedar membantu memotong sayur dan menyiapkan bumbu. Selebihnya aku sendiri yang meminta untuk melakukannya. Termasuk menghaluskan bumbu, meskipun itu menggunakan blender. Step by step aku lakukan dengan hati-hati. Karna takut kalau rasanya tidak enak.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2