
Berada di dalam dekapan Arka adalah hal yang sangat membahagiakan bagiku. Seolah tidak ingin melepas pelukan ini.
"Sayang, kita ke kamar ya. Disini anginnya kencang, nanti kamu masuk angin kalau kelamaan disini" Bisik Arka dan akan melepas dekapan tangannya. Tapi aku semakin mengeratkan pelukanku.
"Nggak mau, aku masih mau di peluk" Rengekku dengan manja.
"Tapi jangan disini. Aku nggak mau kamu sakit. Angin malam tidak baik buat kamu dan juga calon anak kita. Kita masuk ya" Bujuk Arka.
Aku pasrah aku mengangguk padanya "Tapi gendong ya" Ucapku manja.
Tanpa berkata Arka langsung mengangkat tubuhku, ala bridal style. Senyum indah mengulas bibirnya. Lalu aku kalungkan tanganku di lehernya.
Saat akan membuka pintu sliding Arka mengalami sedikit kesulitan. "Aku aja yang buka" Ucapku.
Aku geser pintu sliding yang sedikit berat itu. Berhasil terbuka dan...
Jedaagg
"Aw" Aku merintih kesakitan saat kepalaku membentur pinggiran pintu sliding. Dengan cepat Arka langsung menurunkan tubuhku di sofa yang ada di samping pintu sliding.
"Sayang, maaf aku nggak sengaja" Ucapnya panik dan merasa bersalah. Tidak berhenti Arka mengusap kepalaku, mencari titik pusat yang sakit.
"Aw" Teriakan kecil keluar saat Arka memijit bagian yang sakit.
"Sakit?" Tanya Arka.
"Kalau nggak sakit ngapain aku merintih" Gerutuku kesal. Bukan karna kepalaku terbentur. Tapi karena pertanyaannya yang konyol. Susah jelas aku kesakitan tapi masih di tanya lagi.
"Aku minta maaf. Aku nggak sengaja. Kamu tunggu disini sebentar ya. Aku akan membelikanmu obat dulu" Arka langsung berdiri, tapi tanganku meraih tangannya.
"Ini udah malam. Nggak usah pergi. Aku udah nggak apa-apa" Ucapku lirih sambil menunjuk jam yang ternyata sudah hampir pukul sebelas malam. Belum terlalu malam sih sebenarnya untuk di daerah kota yang padat dan ramai. Karena di waktu seperti ini masih banyak orang yang berlalu lalang di jalanan. Hanya saja aku kasihan sama Arka. Dia cukup panik karena merasa bersalah. Padahal yang salah aku juga. Aku mengira pintunya selebar pintu sliding yang ada di kamarku. Ternyata aku salah.
"Tapi kamu..."
"Aku baik-baik aja" Jawabku meyakinkannya.
"Aku kompres pakai air hangat aja ya?" Ucap Arka yang aku jawab dengan sekali anggukan. Sementara menunggu Arka menyiapkan air hangat, aku rebahkan tubuhku di sofa, rasa kantuk mulai menyerangku. Perlahan pandangan mataku mulai redup dan aku pun tertidur.
//*//
"Tanteeee...." Suara mungil Luna terdengar berulang kali di telingaku. Tapi mataku enggan terbuka. "Tanteee"
Aku gerakkan tubuhku dan tersenyum tapi masih dengan mata terpejam. " Iiihhh Tante ayo bangun, kita sholat subuh dulu"
"Ehhhmmm" Aku menggeliat untuk merilekskan tubuhku.
"Tante malas sekali" Gerutu Luna. Aku buka mataku untuk melihat nya. Bibirnya di buat sedikit maju dan itu membuatku tertawa.
"Cium dulu dong, biar Tante langsung bangun" Ucapku.
"Engga ah, kan Tante belum mandi"
"Ya udah kalau nggak mau cium, Tante bobo lagi ya." Aku tarik selimut supaya menutupi wajahku keseluruhan.
Dengan cepat Luna menarik selimutku dan dia menciumi wajahku. Dari pipi, kening, hidung dan kembali ke pipi lagi. Aku tertawa karena di buat geli olehnya. Aku balas dia dengan menggelitiki perutnya. Sekarang giliran dia yang tertawa kegelian.
__ADS_1
"Ampuunn tante, oomm tolooongg, tolongin Luna ooomm" Luna berteriak memanggil Arka karena tidak tahan di gelitiki. Arka yang memperhatikan tingkah kami berdua hanya tersenyum dari kejauhan.
Merasa lelah aku hentikan menggelitikinya. Kedua tanganku menarik tubuh kecilnya ke dalam dekapanku dan menciumi puncak kepalanya.
"Luna sayang nggak sama Tante?" Tanyaku di sela ciumanku. Dengan cepat Luna menganggukkan kepalanya.
"Kok cuma ngangguk aja?"
.
"Luna sayang banget sama Tante. Tante sudah seperti ibu kedua bagi Luna." Mendengar ucapan itu aku merasa sangat terharu saking bahagianya. Air mataku menggenang dan tidak menunggu waktu lama untuk menetes.
Luna yang mengetahui ada buliran air yang menetes tangan mungilnya segera mengusap lembut pipiku.
"Kenapa Tante nangis, Tante nggak suka ya kalau Luna anggap Tante seperti ibu sendiri. Maaf Tante sudah buat Tante sedih." Luna pun kini menangis dalam dekapan yang aku eratkan.
Arka yang daritadi memperhatikan kami perlahan mulai mendekat dan memeluk kami berdua. Mendudukkan dirinya di sisi ranjang. Tangannya dengan lembut membelai puncak kepala Luna.
"Sayang, Tante menangis bukan karena sedih. Tapi Tante sangat bahagia karena Luna sangat menyayangi Tante. Tante dan om pun sama, sangat sayang sama Luna. Luna susah di anggap seperti anak sendiri." Arka menjelaskan pada Luna.
Mendengar ucapan Arka, Luna melepas dekapanku dan menghadap ke arah Arka.
"Kalau Tante bahagia, kenapa Tante menangis?"
"Sayang, seseorang menangis itu bukan karena hatinya sedih saja. Orang menangis bisa juga karena dia sangat terharu karena merasa hatinya sangat bahagia" Jelas Arka lagi.
Luna tampak berpikir lalu dia mengangguk berulang-ulang. "Oohh..jadi begitu"
"Nah Luna susah paham kan. Sekarang kita sholat dulu. Keburu habis waktunya" Ajak Arka.
"Oke, Luna mau wudhu dulu" Luna langsung turun dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi.
"Makasih sayang, kamu sudah jelaskan semuanya sama Luna" Ucapku. Dan di balas dengan anggukan dan senyuman.
Setelah melakukan sholat berjamaah Arka mengajakku beserta Luna ke luar kamar. Sekedar untuk jalan-jalan pagi karena kebetulan hari ini weekend jadi Arka tidak pergi ke kantor.
"Kita mau kemana sih om?" Luna mulai bertanya karena daritadi kami bertiga hanya menyusuri trotoar dengan berjalan kaki.
"Kita jalan-jalan aja gini, anggap aja olahraga" Jawab Arka.
"Ya ampuuunn, Luna kira mau ke taman bermain" Luna menepuk keningnya yang kemudian kami susul dengan suara tawa.
"Hahaha... kita olahraga dulu sayang, udara pagi baik untuk kesehatan. Apalagi di hari libur begini hanya sedikit kendaraan yang lewat. Jadi udaranya lebih bersih. Nanti kita main ke taman yang disana ya." Arka menunjuk ke arah yang tidak jauh dari tempat kami berdiri. Di sana nampak beberapa orang sedang jalan kaki, lari, naik sepeda bahkan anak-anak yang sedang asik bermain bola.
"Horeeeee.... kita main kesana" Luna bersorak karena dia tau itu adalah tempat bermain untuk anak-anak.
Sekian menit kami sampai di tempat yang di tuju. Seseorang datang menghampiri kami dia menawarkan barang dagangannya.
"Luna mau yang warna apa sayang?" Tanya Arka saat pedagang itu berjongkok meletakkan barang dagangannya. Seorang pria tua yang berjualan bola plastik dan juga bola karet.
"Berapa pak?" Tanya Arka.
"Dua puluh ribu mas"
Arka mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dompetnya. "Ambil aja kembaliannya pak" Ucap Arka saat menyerahkan uang itu.
__ADS_1
"Tapi mas..."
"Udah pak nggak apa-apa" Arka tersenyum pada bapak penjual bola itu.
"Makasih banyak ya mas. Semoga rejeki mas lancar dan keluarganya mas di berikan kesehatan dan di jauhkan dari segala musibah." Tangan bapak itu menyentuh pundak Arka saat mengucapkan doa.
"Aamiin" Aku dan Arka serempak menjawab.
"Semoga dagangan bapak cepat habis ya pak" Arka pun juga memberikan doa untuk bapak itu.
Setelah bapak itu pergi Arka menemani Luna bermain bola. Sedangkan aku berjalan perlahan sambil menggerak-gerakkan tanganku ke atas dan ke samping. Badanku memang terasa kaku karena sudah lama tidak pernah melakukan zumba, jogging ataupun aerobic.
Sesekali aku tersenyum memperhatikan tingkah Luna yang menggemaskan. Apalagi saat dia merasa kesal karena tidak dapat menendang bola tepat sasaran dan Arka menertawakannya. Bibirnya langsung mengerucut.
Tapi kekesalan Luna tidak bertahan lama karena Arka selalu menggodanya dan membuat Luna kembali tertawa.
Setelah puas bermain Luna berlari menghampiriku yang tengah duduk santai di atas rumput. "Udah ah.. capek. Luna mau minum" Nafas Luna ngos-ngosan dan baju yang di kenakannya basah karena keringat.
"Capek ya?"Tanyaku sambil mengusap peluh di dahinya dan juga merapikan rambutnya yang mulai berantakan.
Arka juga duduk di sebelahku dan meneguk minuman yang sudah aku siapkan.
"Mau pulang sekarang?" Tanyaku
"Nanti dulu ya tante. Istirahat dulu Luna masih capek" Luna merebahkan dirinya di atas rerumputan yang hijau.
Aku hanya tersenyum melihatnya. Beberapa kali aku usap keringat di wajahnya yang tak kunjung surut menggunakan telapak tanganku. Ya, karena aku tidak membawa handuk kecil. Karena sebelumnya Arka tidak mengatakan kemana kami akan pergi.
"Usap juga dong keringatku" Arka mendekatkan kepalanya di samping pahaku.
"Iiihhh.. kamu ini manja banget" Omelku.
"Ya nggak apa-apa kan sayang. Wajar dong kalau manja sama istri sendiri. Emangnya mau kalau aku manja sama orang lain?" Protes Arka.
Seketika tanganku mencubit lengannya "Aaww sakit sayang" Arka mengusap tangannya.
"Coba saja kalau berani macam-macam" Ancamku dengan kesal.
"Aku kan cuma bercanda sayang, jangan marah dong. Lagipula aku juga nggak bakalan seperti itu" Arka mengusap pelan tanganku dan menciumnya. Membuatku merasa malu.
"Aku nggak suka kamu bicara seperti itu lagi" Ucapku dengan nada kesal.
"Iya sayang iya"
"Pulang yuk, aku capek" pintaku. Arka dan Luna menurut saja. Kami kembali berjalan menuju hotel.
Sepulang dari taman, aku langsung memandikan Luna karena kami juga akan mengajak Luna jalan-jalan.
Di dalam kamar mandi, Luna tidak berhenti berceloteh. "Tante, habis mandi kita pergi kemana lagi?" Tanya Luna.
"Luna pengennya kemana sayang?" Aku malah melontarkan pertanyaan balik padanya.
"Ehm.. kemana ya..." Luna tampak berpikir. "Luna bingung, nanti tanya sama om Arka dulu ya"
"Iya, sayang. Tapi pakai baju dulu ya. Ambil baju di lemari paling bawah ya. Tapi ingat, nggak boleh pakai baju di depan om Arka." Ucapku sambil melilitkan handuk di tubuhnya.
__ADS_1
"Iya Tante. Nanti kalau ada om Arka di kamar Luna balik lagi kesini ya buat ganti baju" Luna berbicara dengan nada polosnya. Lalu dia berjalan keluar dari kamar mandi. dan menutup kembali pintunya.
Aku lucuti semua pakaianku dan berlanjut dengan ritual mandi. Perlahan aku gosokkan sabun ke seluruh tubuhku. Aku usap perlahan di bagian perutku yang masih rata dan bergumam "Cepatlah tumbuh sayangku, mama tidak sabar melihat perkembanganmu" Senyumku melebar saat membayangkan jika suatu hari nanti perut rataku akan mulai membuncit seiring dengan pertumbuhan calon anakku. Aku juga membayangkan jika suatu hari nanti akan ada gerakan-gerakan menggemaskan di perutku. Sudah tidak sabar akan datang masa seperti itu. Betapa bodohnya diriku yang sempat ingin menunda kehadiran nyawa di dalam rahimku. Tapi kini aku benar-benar menantikan kehadirannya.