Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Ting tong...


Aku tersentak begitu mendengar suara bel dari luar. Seketika rasa takutku menyeruak dan membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku masih terdiam duduk di sofa menghadap TV yang masih menyala. Suara bel itu kembali terdengar berulang-ulang.


Ting tong... Ting tong...


Dalam fikiranku, muncul bayangan wajah Farhan yang menyeramkan. Aku enggan untuk membuka pintu.


"Sayaaanggg, kamu sedang apa? Kenapa tidak di buka pintunya." Teriak Arka dari celah pintu kamar mandi yang dia buka sedikit.


"I ...iya .. iya .. aku buka" Jawabku gugup.


Dengan perasaan takut aku berjalan ke arah pintu. Dan melihat siapa yang datang dari lubang intip yang ada di pintu itu. Aku bernafas dengan lega setelah aku melihat ada seorang perempuan yang sangat aku kenal wajahnya itu. Dengan cepat aku membuka pintu.


"Monika" Seruku.


"Maaf Bu, apa kedatangan saya mengganggu?" Tanya Monika.


"Oh.. tidak. Tidak sama sekali" Jawabku dengan senyum ramah.


"Soalnya daritadi saya pencet bel tapi tidak juga di buka"


"Oh.. itu.. tadiiii... saya lagi asik nonton TV jadi nggak dengar dengan suara bel" Bohongku.


"Oh gitu" Monika manggut-manggut


Aku tepuk jidatku. " Aduuhh.. sampai lupa. Ayo silahkan masuk. Masa kita ngobrol di depan pintu gini" Ucapku merasa bersalah.


"Iya Bu. Makasih. Ini juga saya bawakan makanan buat makan malam. Tadi sore ibu saya masak sangat banyak saat saya bilang mau bertemu istri pak Arka. Dan saya minta maaf kalau tadi tidak bisa membalas chat dari ibu" Jelas Monika.


"Waahhh... sampai di bawain makanan segala. Sampaikan ucapan terima kasih saya sama ibu ya. Btw, jangan panggil ibu dong. Nggak enak di dengarnya. Panggil aja Caca" Ucapku sambil menerima rantang makanan yang dia berikan dan mempersilahkan duduk di sofa.


"Tapi nggak enak juga, ibu kan istri bos saya"


"Kalau di kantor nggak apa-apa panggil ibu. Tapi kalau di luar gini ya jangan. Lagipula saya juga nggak ada di kantor tiap hari kan. Apa lagi sekarang, Arka melarang saya pergi kemana-mana, jadi nggak mungkin saya ke kantor Arka. Panggil Caca aja, saya lebih senang. Karena terdengar lebih akrab" Ucapku lagi.


"Baik Bu, maksud saya .. Caca" Dengan canggung Monika menyebut namaku.


"Oh ada Monika, ada apa. Apa ada pekerjaan yang penting?" Tanya Arka yang sudah berpakaian santai tapi tetap membuatnya terlihat tampan.


"Tidak ada pak. Saya kesini hanya membawa makanan ini untuk makan malam pak Arka dan istri" Jawab Monika.


"Repot-repot segala. Tapi ya nggak apa-apalah. Kebetulan kami juga belum makan" Arka terkekeh dan meletakkan bokongnya di sampingku.


"Sayang, bisa nggak kamu belikan camilan atau makanan ringan lainnya?" Pintaku supaya aku bisa ngobrol bebas dengan Monika.


"Itu kan masih ada camilan sayang. Bentar ya aku ambilkan" Arka bangkit dari duduknya, aku melupakan bahwa Arka sudah membelikanku berbagai jenis makanan.


Arka meletakkan camilan itu di hadapan kami, lengkap dengan minumannya. "Makasih sayang" Ucapku. Arka mengangguk dan tersenyum manis .


"Pak, saya mau minta ijin. Apa boleh saya mengajak istri bapak keluar sebentar?" Tanya Monika tanpa ragu.


"Keluar? Kemana?" Tanya Arka.

__ADS_1


"Saya mau membeli sesuatu"


"Apa itu?" Tanya Arka menyelidik.


"Hanya urusan perempuan" Jawab Monika lagi yang tidak bisa di bantah Arka.


"Berarti lelaki nggak boleh ikut?" Tanya Arka


"Bapak lelaki apa perempuan?"


"Ya jelas lelaki"


"Sudah tau jawabannya kan pak?" Jawab Monika yang membuat Arka tersenyum kecut.


"Oke kalian para wanita boleh keluar semau kalian. Tapi apa boleh saya minta sesuatu juga dari kalian?"


"Hah.. apa sayang?" Sahutku.


"Sebelum kalian pergi, kita makan dulu. Aku lapar" Arka menepuk perutnya pelan. Aku dan Monika tertawa bersamaan.


"Siap pak" Jawab Monika.


Bagaimana tidak lapar, mungkin Arka terakhir makan waktu sarapan aja. Itu pun kalau dia sempat sarapan. Sedangkan tadi siang saat pulang kerja arka belum makan sama sekali. Lunchbox nya masih ada di atas meja. Pasti sudah basi.


Kami langsung menikmati makan malam dan tentunya bertiga. Awalnya Monika menolak karena dia sudah makan di rumah bersama keluarganya. Tapi karena paksaan dari Arka akhirnya dia bersedia meskipun makan hanya beberapa suap saja.


"Aku pergi dulu ya sayang" Pamitku beberapa saat setelah makan malam dan tentunya juga setelah mengganti pakaianku.


"Hati-hati ya, pulangnya jangan terlalu malam. Aku nggak mau kamu kecapekan" Ucap Arka.


Monika mengajakku ke cafe kecil yang tempatnya cukup nyaman buat bersantai.


"Bagus banget tempatnya" Pujiku.


"Iya dong, biarpun usiaku nggak muda lagi. Tapi aku tau selera anak muda kayak gimana. Lagi pula aku juga nggak mau di katakan tua. Malah di usiaku yang sekarang ini aku sering banget hangout bareng temen kantor. Tepatnya bawahan lah ya. Karna nggak mungkin aku pergi dengan atasan. Awalnya sih mereka merasa canggung pergi denganku. Tapi lama kelamaan justru mereka yang mengajakku pergi "


Aku dan Monika memilih tempat duduk di lantai atas, biar bisa lebih nyaman. "Lalu bagaimana dengan suamimu apa dia nggak melarang?" Tanyaku


"Suamiku nggak pernah melarang ku melakukan apapun selama aku bisa menjaga diri. Kami saling percaya, hanya itu yang bisa menguatkan kami. Aku juga nggak pernah melarang suamiku pergi kemana pun dan dengan siapa pun asalkan tau batasannya" Seorang pelayan menyodorkan buku menu pada kami.


"Dengan perempuan sekalipun??" Lanjutku lagi.


"Hmm" jawab Monika sambil menunjuk menu dan pelayan tadi mencatat pesanannya dan juga pesananku.


"Apa kalian tidak punya rasa cemburu?"


"Cemburu?? Tentu saja punya. kami manusia normal. Tapi perlu kamu tau, usia kami bukan ABG yang bisa gonta ganti pasangan karena melihat kekasihnya jalan dengan perempuan lain. Justru rasa cemburu itu yang membuat kami lebih memahami berapa besar rasa sayang di antara kami. Tapi kami tidak pernah berpikir jika diantara kami ada pengkhianatan. Karna kami saling percaya" Jelas Monika.


"Oohh.. jadi gitu."


"Oke cukup... kita kesini untuk membahas tentang pak Arka kan. Bukan tentang aku. Tidak cukup waktunya jika membahas rumah tanggaku." Monika dan aku sudah mulai akrab.


"Oke.. tapi lain kali ceritakan lagi ya. Aku masih penasaran dengan kelanjutannya." aku tersenyum nyengir.

__ADS_1


"Iya gampang" Monika menggeser cangkir minumannya saat pelayan cafe datang membawa pesanan kami.


"Jadi, apa Arka ada masalah di kantor?" Tanyaku tak sabar.


"Ehm.. ada. Arka bekerja cukup baik, bahkan sangat baik bagi pemula seperti dia. Dia bisa menyesuaikan diri dengan tempat baru, orang-orang baru. Bahkan dia juga bisa menyelesaikan masalah besar di perusahaan dalam waktu singkat"


Monika terdiam sejenak. sebelum dia melanjutkannya lagi. Dia menyeruput minuman yang dia pesan tadi.


"Beberapa hari lalu kami meeting dengan salah satu investor terbesar di perusahaan. Arka memberikan pelayanan terbaiknya. Investor itu memperkenalkan pewaris tunggal mereka. Tapi masalah justru timbul dari sana"


"Kenapa bisa begitu?" Tanyaku penasaran.


"Pewaris itu bernama Aira, seorang perempuan yang memiliki wajah cantik, kulit putih mulus tanpa cela, rambut panjang, dan tingginya pun seperti peragawati. Caranya berjalan sangat sempurna. Lelaki mana yang tidak akan tergoda melihat wanita seperti itu. Apalagi dia juga memiliki buah dada yang sangat besar." Kata-kata Monika belum bisa aku pahami.


"Aira baru saja datang dari London karena sudah menyelesaikan study nya disana. Sebelum dia mulai bekerja dia ingin berlibur terlebih dahulu ke Bali. Dan Aira meminta sama pak Arka agar menemaninya selama di Bali . Secara halus pak Arka menolaknya dan memberitahunya kalau dia sudah punya istri bahkan tengah hamil. Tapi Aira tidak peduli. Tadi Aira kembali datang dan menemui pak Arka di ruangannya. Dia terus saja merayu pak Arka. Akhirnya kemarahan pak Arka sampai di puncaknya. Dengan nada keras dan menggebrak meja pak Arka mengusir Aira agar keluar dari ruangannya. Saat itu juga Aira memutuskan hubungan kerjasama perusahaan. Dan berhenti menjadi investor di perusahaan." Monika kembali meneguk espresso dari cangkirnya.


"Maaf Monika, kamu tau ini semua dari siapa?" Tanyaku karna aku nggak akan percaya begitu saja. Aku takut itu hanya cerita dari Arka.


"Tau sendiri. Tadi saat Aira datang, kami berempat sedang membahas pengerjaan proyek baru di ruangan Pak Arka. Tanpa permisi dia langsung masuk dan mendekati pak Arka. Dan ini untuk pertama kalinya kami melihat pak Arka marah" Lanjut Monika.


"Jadi kamu dan rekan lainnya melihat langsung?"


"he em" Jawab Monika dengan anggukan.


Aku masih belum percaya jika Arka berbuat demikian. Tapi semua perkataan Monika mampu membuat hatiku berbunga-bunga. Bagaimana tidak, suamiku menolak ajakan wanita cantik. Dan itu sangat membuat hatiku bahagia.


"Jadi masalahnya hanya soal investor?" Tanyaku.


"Iya, Pak Arka menerima tawaran menangani proyek baru. Dan itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kami sudah mengajukan beberapa proposal ke beberapa investor. Tapi banyak yang menolak. Hanya ada satu investor yang mau di ajak kerja sama dengan perusahaan kami. Setelah mendapat persetujuan dari pihak investor, kami langsung bergerak mengerjakan proyek itu. Proyek masih berjalan tiga hari. Dan sekarang terjadi masalah. Jika proyek terhenti maka perusahaan akan membayar ganti rugi yang cukup besar"


"Aku akan membayar ganti ruginya" Ucapku


"Ca, ini bukan masalah kecil. Ini bukan soal uang puluhan juta atau ratusan juta. Tapi ini milyaran. apa kamu punya uang sebanyak itu?" Tanya Monika yang begitu serius.


Aku menggeleng pelan. Aku sadar pantas aja Arka begitu kalut saat pulang dari kantor. Ternyata dia tengah menghadapi masalah yang begitu berat.


"Ca, kamu mau janji sama aku nggak? Aku minta kamu jangan cerita kalau mengetahui permasalahan pak Arka di kantor. Karna dia sendiri tidak mau kamu terlibat dengan urusan kantor. Aku cerita gini, karna aku berharap kamu terus memberi semangat pada pak Arka. Dan jangan menambah beban masalahnya" pinta Monika.


"Iya, aku akan pura-pura tidak tau. Makasih ya" Ucapku.


Tiba-tiba perutku terasa kram dan nyeri di perut bagian bawah. Aku meringis menahannya. "Ca, kamu kenapa?" Tanya Monika.


"Perutku sakit" Jawabku.


Monika langsung bangkit dari duduknya dan membantuku berdiri "Kita ke dokter ya." Ucapnya.


"Nggak perlu. Aku mau pulang saja" Sahutku.


"Tapi kamu..."


"Aku nggak mau Arka khawatir" Ucapku memotong pembicaraan Monika.


"Baiklah. Aku antar kamu pulang"

__ADS_1


Kami berdua meninggalkan cafe dan menuju ke hotel tempatku menginap. Di dalam mobil aku coba untuk rileks agar lebih tenang. Sesekali Monika menoleh ke arahku karena dia sangat khawatir dengan keadaanku.


__ADS_2