
Saat terbangun dari tidur, aku sudah tidak mendapati Luna tidur di sebelahku. Arka juga tidak ada. Aku lihat jam, masih pukul lima lewat sepuluh menit. Rasa khawatir memenuhi otakku, Aku bergegas turun dari ranjang. Mencoba mencari mereka. Tapi baru saja berjalan tiga langkah, kaki ku terhenti. Mataku menangkap kedua orang yang aku cari. Seketika kekhawatiran ku lenyap. Arka dan Luna ada di salah satu sudut kamar, mereka sedang sholat.
Pemandangan yang membuat pikiranku tenang. Aku terus menatap mereka berdua, senyum mengembang bebas di sudut bibirku, dan tanpa aku sadari mataku sudah memproduksi air mata bahagia. Hanya saja aku menahannya agar tidak menetes.
Aku kembali membayangkan Luna adalah anakku. Dan aku sebagai seorang ibu. Betapa bahagianya, jika bisa beribadah bersama, makan bersama, dan apapun yang dilakukan selalu bersama.
Aku tetap berdiri menyaksikan mereka berdua, hingga sholat mereka selesai. Air mata yang tertahan tak bisa aku bendung lagi. Aku usap pipiku untuk menghapus air mataku, lalu berjalan mendekati mereka.
"Assalamualaikum" Aku raih tangan Arka dan menciumnya.
"Waalaikumsalam" Jawab Arka seraya mencium puncak kepalaku.
Luna ikut serta mencium tangan Arka kemudian berpindah meraih tanganku. Lalu mencium kedua pipiku. Aku tangkupkan kedua tanganku di pipinya untuk mencium keningnya "Jadi anak Solehah ya sayang"
"Aamiin... tante maaf ya, Luna pakai mukenah Tante. Tadi om Arka yang ngasih. Habisnya Luna kan nggak bawa mukenah." Ucapnya dengan polos.
"Iya sayang nggak apa-apa. Tapi jadi lucu kamu pakai ini. Kegedean" Ucapku, dan kami pun tertawa. Aku peluk tubuhnya erat, bahkan sangat erat. Tanpa menunggu aba-aba lagi, air mataku kembali terjun bebas melewati pipiku.
Arka yang menyadarinya langsung mengusap air mataku menggunakan jarinya. Lalu dia ikut memelukku yang sedang memeluk Luna. Aku berpikir, andaikan saja kami ini sebuah keluarga kecil, pasti bahagia yang aku dapatkan melebihi ini semua.
"Aahh.. Luna nggak bisa nafas" Luna berusaha melepaskan pelukanku.
"Iya maaf" Ucapku yang langsung melepas pelukanku.
"Sayang, pagi ini aku mau ke pabrik. Mau ngontrol kendaraan yang ada di sana. Kamu mau ikut gak?" Tanya Arka yang sambil melipat sarungnya.
"Kenapa aku harus ikut, itu kan urusan kerjaan" Jawabku.
"Yakin nggak mau ikut? Kalau ada yang godain aku gimana?" Ucapan Arka seolah mengingatkanku pada dua perempuan yang hadir di acara pak Adam. Yang dengan jelas membicarakan Arka di depanku.
"Baiklah aku ikut tapi Luna juga ikut ya, boleh?" Tanyaku.
"Tentu saja, karena pulang dari pabrik aku mau ngajak kalian ke suatu tempat" Jawabnya
"Hah, kemana?" Tanyaku heran.
"Ada deh" Jawabnya penuh dengan tanda tanya.
"Horeee...Kita mau jalan-jalan lagi ya om?" Tanya Luna dengan girang.
"Iya sayang kita akan jalan-jalan , Tapi sekarang Luna mau nggak melakukan sesuatu untuk om?" Ucap Arka di dekat telinga Luna.
"Apa itu?"
"Suruh Tante Caca mandi" Arka pun mengatakan sambil tertawa.
"Aaahhh... sayang... kamu ini ya" Aku pun memukulnya menggunakan mukenah yang sudah aku lipat tadi. Dengan cepat Arka menghindar. Sedangkan Luna hanya tertawa melihatku.
"Iya, iya ini aku mau mandi" Gerutuku sambil berjalan menuju kamar mandi. Aku tinggalkan mereka yang masih menertawakanku.
Di dalam kamar mandi aku lakukan step by step ritual mandiku. Tidak terlalu lama hanya memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit. Setelah itu aku langsung mengganti pakaian dengan pakaian formal, stelan rok selutut dan atasan kemeja satin berwarna kuning yang press body. Karena aku nggak mau membuat suamiku malu di depan semua orang.
__ADS_1
Berlanjut ke meja rias, aku poleskan beberapa make up ke wajahku. Agar wajahku tampak berbeda dari biasanya. Tidak lupa aku poleskan lipstik ke bibirku, agar terlihat lebih fress. Semoga Arka menyukai hasil riasanku ini, aku tau dia tidak menyukai dandanan yang menor. Maka dari itu aku hanya merias wajahku dengan riasan natural.
Aku susul Arka dan Luna yang sudah ada di meja makan. Mamah pun juga sudah berada disana.
"Maaf ya, jadi nunggu lama" Ucapku sambil menarik kursiku.
Arka menatapku begitu tajam, tatapannya tidak berpaling sama sekali. Aku jentikkan jariku di depan matanya sehingga matanya langsung berkedip.
"Ada apa sih sayang sama kamu?" Tanyaku sambil menyentuh tangannya yang ada di atas meja.
"Nggak apa-apa" Jawabnya tampak gelagapan. Dan dia segera menyodorkan piringnya ke depanku.
Kami pun sarapan seperti biasa. Tanpa ada perbincangan yang serius. Hanya celoteh dari Luna yang mampu membuat kami tertawa. Sesekali aku melirik ke arah Arka yang terus menatapku. Sampai sarapan selesai pun dia masih melakukan hal yang sama.
Merasa malu dengan tatapannya aku berusaha menghindarinya dengan cara membereskan peralatan makan untuk di bawa ke dapur, meskipun aku tau ini adalah tugas asisten rumah tanggaku.
"Mamah duluan ya sayang, soalnya mamah mau kasih pupuk buat bunga anggrekmu" Ucap mamah.
"Iya mah" Jawabku
"Oma...Luna ikut" Luna pun turun dari kursinya.
Begitu mamah berlalu, Arka menarik tanganku yang sedang mengambil piring bekas makan Luna.
"Sayang lepasin, aku mau beresin ini dulu." Aku mencoba melepas tanganku yang di genggamnya.
Bukannya di lepaskan, tanganku malah di ciumnya berulang-ulang. "Kamu ini kenapa sih?" Aku mencoba untuk menarik tanganku dari genggamannya.
"Aaisshhh... masih terlalu pagi buat ngegombal" Bisikku di telinganya.
"Aku nggak ngegombal, aku bicara jujur, aku nggak rela ya kalau sampai ada orang lain yang memperhatikanmu" Ucapnya. Aku letakkan kembali piring Luna yang sempat aku angkat.
"Ngomong apa sih. Udahlah ayo kita berangkat. Nanti kamu telat" Langsung aku raih hand bag yang aku letakkan di atas meja makan, dan pergi meninggalkan dia.
Aku hampiri Luna yang ada di taman bersama mamah. "Sayang ayo kita pergi, pamit dulu sama Oma" Ucapku.
Aku pun juga berpamitan sama mamah, mencium punggung tangannya. Arka menyusulku dia juga berpamitan sama mamah.
"Kalian hati-hati ya"Pesan mamah sambil melambaikan tangannya.
Sesampainya di pabrik, Arka di sambut pak Adam. Lalu menyapaku dengan anggukan kepala dan juga senyuman terbaiknya. Banyak pasang mata yang memperhatikan kedatangan kami. Bahkan ada yang seperti sedang berbisik. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku nggak bisa mendengarnya, karena suara di pabrik cukup bising.
Pak Adam menunjukkan bagian-bagian pabrik, dan juga ruang kerja para staf. Pak Adam juga memberikan beberapa arahan pada Arka, sebelum menunjukkan beberapa kendaraan operasional pabrik. Aku perhatikan Arka yang dengan serius menerima semua arahan pak adam dan dengan mudah dia memahaminya.
"Maaf pak Adam, dimana ruang kerja saya biar istri saya istirahat dulu" Tanya Arka menyela perbincangan nya dengan pak Adam. mungkin dia mengetahui kalau aku dan Luna mulai capek mengikutinya.
"Oh iya pak Arka, mari sini saya tunjukkan ruangan pak Arka" Pak Adam mempersilahkan Arka untuk mengikutinya.
"Sayang, kamu gendong Luna gak apa-apa kan, kasihan dia" Bisikku, karna aku nggak mau ucapanku di dengar pak Adam, takut di bilang lebay. Arka pun tersenyum menyetujuinya.
"Ayo sini princes cantikku" Dengan cepat Arka menggendong tubuh kecil Luna. Hal itu membuat Luna senang dan tertawa.
__ADS_1
"Waahhh.. ternyata pak Arka ini seorang ayah yang sangat sayang sama anaknya ya" Celetuk pak Adam. Aku terkejut mendengar ucapannya. Tapi Arka menanggapinya dengan tawa yang tak kalah kerasnya dengan pak Adam. Padahal pak Adam sendiri tahu kalau aku dan Arka baru saja menikah. Jadi mana mungkin dia mengira kalau Luna adalah anakku.
"Ini pak Arka ruangannya. Kalau pak Arka tidak suka dengan tatanan ruangannya pak Arka tinggal bilang saja. biar nanti kami atur ulang" Pak Adam membuka pintu sebuah ruangan yang hanya berdinding kaca di dua sisinya.
"Itu urusan belakangan pak Adam, lagipula saya juga jarang disini kan" Ucap Arka.
"Baik pak Arka" Pak Adam pun mengangguk.
"Sayang, kamu tunggu disini saja ya. Biar aku kesana dulu. Kamu disini, temani Luna istirahat" Ucap Arka. Aku pun mengangguk. Arka dan pak Adam meninggalkan ruangan ini.
Aku perhatikan seisi ruangan ini. Di atas meja kerja terdapat fotoku bersama kak Bayu. Mungkin ruangan ini dulunya adalah ruang kerja papa. Karna masih terdapat barang-barang milik papa. Di sebuah rak buku ada lagi sebuah foto berbingkai yang membuatku sungguh terharu. Foto masa kecilku dan kak bayu bersama papa dan mama.
Pikiranku langsung flashback, foto itu diambil waktu kami sedang liburan di Jogja, dulu setiap libur sekolah papa dan mama selalu mengajakku untuk liburan. Masih jelas teringat waktu itu aku masih SD. Semua keadaan berubah saat mama dan papa mulai sibuk mengembangkan bisnisnya. Papa dan mama tidak lagi mengajakku untuk berlibur. Saat liburan sekolah tiba, aku hanya bermain di halaman rumah, bersama kak Bayu. Terkadang sering menangis merengek minta liburan, tapi tidak pernah terkabul. Kesepian, yah itu lah yang aku rasakan.
Masih teringat jelas kalau foto ini kenangan kebersamaan dengan kak Bayu, papa dan mama. Karena sudah tidak ada lagi kebersamaan-kebersamaan yang lain.
"Tante kenapa nangis" Suara Luna membuyarkan lamunanku. Dan dengan cepat aku langsung mengusap air mataku. Aku letakkan kembali foto itu di tempatnya semula.
"Nggak apa-apa sayang, Tante hanya merindukan masa kecil Tante" Jawabku.
"Jadi itu foto Tante waktu kecil" Tanya Luna.
"Iya sayang"
"Boleh Luna melihatnya?"
"Tentu saja boleh" Aku ambil lagi foto itu untuk di perlihatkan pada Luna. Dia pandangi satu persatu yang ada di foto itu.
"Ini siapa Tante?" Tanya Luna sambil menunjuk foto kak Bayu.
"Ini om Bayu, kakaknya Tante, dan ini kedua orang tua Tante." Jelasku.
"Oohh... Tante kangen ya sama keluarga Tante?" Tanya Luna dengan polosnya. Aku mengangguk, Seketika air mataku kembali menetes. Dan suaraku terasa sulit untuk dikeluarkan.
"Tante jangan sedih, kan ada Luna sama om Arka disini. Jangan nangis lagi ya" Luna mengusap pipiku dengan jari jemarinya yang mungil.
Aku tidak bisa menahan rasa yang ada di dadaku, terasa sesak jika tidak aku keluarkan. Aku pun langsung memeluk tubuh mungil Luna , dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya. Lama.
Tookk
Tookk
Tookk
Terdengar suara ketukan pintu. Segera aku usap air mataku, dan melihat siapa yang mengetuk pintu. Terlihat dengan jelas seorang perempuan dengan nampan di tangannya berdiri di depan pintu. Dia tersenyum saat aku melihatnya. Kami bisa saling menatap karna pintu ini terbuat dari kaca transparant.
Segera aku buka pintu yang memisahkan kami "Maaf, saya mau antar minuman ini" Ucap perempuan itu.
Tanpa bicara lagi aku memberinya isyarat agar dia masuk, dan meletakkan minuman di atas meja.
"Kalau butuh sesuatu, ibu bisa panggil saya" Ucap perempuan itu dengan sopan. Aku pun mengangguk. Sepertinya dia punya kedudukan khusus dipabrik ini. Itu terlihat dari cara dia berdandan yang cukup formal dan elegan. Sehingga menambah aura kecantikan di wajahnya.
__ADS_1