
Dalam perjalanan pulang, aku memilih duduk di belakang karena aku tahu Luna sudah sangat kelelahan. Aku membiarkan Luna menyandarkan kepalanya di pangkuanku. Aku usap-usap rambutnya perlahan agar Luna cepat terlelap. Dan benar saja, beberapa menit kemudian Luna benar-benar terlelap.
"Sayang, kita lihat adik Luna sebentar ya" pinta Arka.
"Iya sayang, jangan lupa nanti belikan makanan ya" Ucapku. Arka mengangguk.
Mobil terus melaju menuju klinik. Sebelum tiba di klinik, Arka mampir di warung Padang, memesan beberapa bungkus makanan dan minuman. Setelah itu mobil memasuki area parkir klinik.
"Sayang kamu saja yang turun ya, aku sama Luna di sini saja, kasihan kalau dia harus di bangunin" Pintaku
Arka mengangguk, dan melepas safety belt nya. "Aku tinggal dulu ya" Pamit Arka.
"Salam sama ibu Dina" Ucapku. Arka menjawab dengan anggukan kepala dan senyumannya yang begitu menawan.
Aku perhatikan langkah kaki dan postur tubuh Arka yang tegak. Di mataku Arka adalah lelaki yang sempurna tak heran jika banyak pasang mata yang memperhatikannya. Termasuk para wanita di luaran sana.
Aku ambil handphone yang aku simpan di dalam handbag. Aku geser layarnya, aku buka pesan WhatsApp dari teman-temanku. Termasuk dari Joy. Dia mengatakan kalau dia akan berangkat ke Itali untuk perjalanan bisnis keluarga . Dan besok akan diadakan pesta perpisahan di tempat biasa. Aku katakan padanya kalau aku tidak bisa datang, kecuali di adakan di tempat lain. Karna aku tau kalau Arka tidak akan mengijinkan. Tapi Joy tetap meminta agar aku hadir untuk yg terakhir kali sebelum dia berangkat.
Aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. Otakku berpikir keras bagaimana caranya bicara sama Arka. Bagaimana kalau Arka tidak mengijinkan, lalu bagaimana dengan Joy.
Aku sandarkan kepalaku di sandaran kursi. Lalu aku pejamkan mataku berharap menemukan cara yang tepat.
Sedikit terkejut saat tiba-tiba Arka menutup pintu mobil dan kembali duduk di belakang kemudi.
"Sayang , kamu ngagetin aku lho" Ucapku spontan.
"Maaf sayang, padahal aku dah pelan nutupnya"
"Gimana adiknya Luna?" Tanyaku sebelum dia menginjak pedal gas.
"Sore ini sudah di ijinkan pulang. Tadi aku juga sudah membayar semua tagihannya. Ini notanya." Arka menyerahkan beberapa lembar struk nota biaya perawatan adik Luna. Aku baca sekilas saja dan kembali melipatnya.
"Oh iya sayang, hampir lupa. Tadi di dalam ada ayah Luna juga. Dia mengucapkan terima kasih atas bantuan kita. Tadi dia juga sempat nangis, karna disaat seperti ini dia nggak bisa jaga keluarganya. Aku menawarkan pekerjaan untuknya, sebagai sopir pribadiku"
"Apa dia setuju?"
"Awalnya dia menolak, tapi setelah aku berbicara dan membujuknya akhirnya dia setuju dan bersedia bekerja untuk kita"
"Syukurlah kalau gitu, jadi setiap hari bisa kumpul keluarga" Merasa lega dengan keputusan Arka.
"Kita pulang sekarang ya, sudah sore" Ucap Arka. Aku pun mengiyakan.
Arka mulai menginjak pedal gas dan melajukan mobil secara perlahan. Menyusuri jalanan kota yang mulai agak padat.
"Sayang, tadi aku sudah bicara sama orang tua Luna, lusa kita akan mengantar Luna pulang" Ucap Arka.
"Mereka mengijinkan?" Tanyaku dengan penasaran.
"Tentu saja. Mereka juga mengijinkan kalau setiap Sabtu Minggu, Luna akan bersama kita"
"Kamu serius?" Ucapku dengan tidak percaya.
"Serius, kalau kamu tidak percaya besok tanyakan langsung pada mereka" Arka kembali menegaskan.
Senyum sumringah menghiasi bibirku saat ini, rasa bahagia dan lega karena aku masih bisa bermain dengan Luna meskipun hanya weekend.
"Makasih ya sayang, kamu memang suamiku yang terbaik" Ucapku.
"Iya sayang. Asal kamu bahagia"
__ADS_1
"Hmmmm... so sweet banget" Arka tertawa mendengar ucapanku.
Kami terus bercanda sampai mobil memasuki halaman rumah. Arka memarkir mobil di garasi. Lalu dia membuka pintu belakang.
"Biar Luna aku gendong saja" Ucapnya.
"Pelan-pelan ya biar nggak bangun"
Padahal Arka sudah sangat hati-hati saat mengangkat tubuh Luna. Tapi tetap saja membuatnya terbangun.
"Udah sampai rumah ya om" Luna menyadarinya saat matanya terbuka dan melihat keadaan sekitar.
"Iya sayang, kita sudah sampai. Tuh liat Oma udah nungguin" Tunjuk Arka pada mamah yang sudah berdiri di teras rumah.
Luna segera turun dari mobil dan berlari menghampiri mamah "Omaaaa.." Teriak Luna.
Mamah pun memeluk Luna, dan menciumi pipi Luna. "Gimana hari ini jalan-jalannya. Seneng gak?" Tanya mamah pada Luna.
"Seneng banget Oma. Tadi Oma nggak mau ikut, padahal tempatnya bagus Oma, ada kolam renang yang ada ombaknya, terus ada lagi kolam yang banyak busanya, pokoknya banyak banget deh Oma. Nanti Luna liatin fotonya ya, ada di handphone om Arka sama di handphone Tante Caca" Luna berceloteh di depan mamah, menceritakan pengalamannya hari ini.
Arka memberikan handphonenya pada Luna. Begitu juga dengan handphone-ku. Karena Luna ingin menunjukkan foto-foto petualangannya hari ini pada mamah.
"Cerita di dalam yuk, oma juga sudah siapin cemilan buat kamu"
"Yeeehhh... asik...makasih Oma" Tawa Luna sungguh membuatku merasa bahagia.
Kami berjalan bersama memasuki rumah. Aku lingkarkan tanganku di lengannya, bergelayut manja "Sayang, ada yang mau aku omongin sama kamu" Ucapku penuh keraguan.
Arka menoleh ke arahku "Ada apa?"
"Sayang, kamu tahu Joy kan? temanku yang pernah kesini?"
"Iya tahu, kenapa?"
"Dimana?" Nada suara Arka terdengar sangat dingin.
"Di... di cafe ... di cafe yang biasanya" Jawabku gugup.
"Kalau aku melarang, apa kamu akan tetap kesana?"
"Tapi ini yang terakhir sebelum dia berangkat. Setelah itu aku nggak akan kesana lagi" Bujukku.
"Aku nggak mengijinkan" Arka langsung berjalan meninggalkanku.
Padahal aku sudah bicara baik-baik tapi tetap saja nggak di kasih ijin. Aku berjalan menyusulnya. "Sayang dengerin dulu" Aku menarik tangannya. Tapi Arka menepis tanganku.
"Dengerin dulu aku mau bicara"
"Bicara di kamar, aku nggak mau perdebatan kita di dengar orang" Arka segera masuk ke kamar dan aku menyusulnya.
"Sayang aku mohon sekali ini saja" Aku katupkan kedua tanganku memohon padanya.
"Sekali? kalau sudah sekali, pasti bakal ada yang kedua kali, ketiga kali, bahkan seterusnya" Suara Arka mulai meninggi
"Aku janji sekali aja, ini yang terakhir"
Arka terdiam sejenak sebelum dia mulai berbicara lagi. Arka menatapku tajam, dia menyentuh kedua pipiku dengan kedua tangannya. Matanya memerah karena menahan amarah.
"Sayang, kamu harus tahu status kamu sekarang seperti apa, kamu bukan Caca yang dulu, bukan Caca yang masih single, yang suka dugem, suka ngerokok, suka mabuk. Sekarang kamu seorang istri yang harus nurut semua ucapan suami" Suara Arka tidak lagi meninggi
__ADS_1
"Di ijinkan atau enggak, aku tetap kesana" Ucapku dengan tegas.
Aku tinggalkan Arka yang masih menatapku dengan tajam. Aku menuju kamar mandi dan menutup pintunya dengan sangat keras. Biar dia tau rasa kesalku. Di dalam kamar mandi aku luapkan rasa kesalku dengan melempar semua yang ada di depanku. Berteriak sekencang-kencangnya dan menangis.
Mungkin karena kelelahan aku tertidur. Entah berapa lama aku tertidur memeluk pinggiran bathup. Baju yang aku pakai setengah basah. Aku lepaskan satu persatu pakaianku. Dan mulai mandi. Setelah itu aku keluar dan mengganti pakaianku dengan baju tidur.
Aku beranjak menaiki ranjang menarik selimut sampai batas leherku. Mencoba untuk memejamkan mata kembali. Tapi rasa kantukku sudah pergi. Terdengar pintu kamar terbuka. Aku biarkan mataku tetap terpejam berpura-pura tidur.
Sebuah tangan menyentuh pipiku, aku tahu ini adalah tangan Arka. Tapi aku enggan untuk membuka mataku.
"Sayang, Aku tahu kamu belum tidur. Ayo makan malam dulu" Ucapnya dengan sangat lembut.
Aku singkirkan tangannya dari wajahku. Aku geser tubuhku dan berbalik membelakanginya. "Kalau mau makan, makan saja. Aku nggak lapar" Ucapku penuh kekesalan.
"Baiklah"
Arka kembali keluar kamar. Setelah pintu tertutup aku beranjak dari ranjang menuju balkon. Hembusan angin menerpa tubuhku saat pintu menuju balkon terbuka. Rasa dingin menyelimuti tubuhku, begitu dingin, dan hampir membuatku menggigil. Aku duduk di kursi rotan, mengabaikan rasa dingin yang menusuk sampai ke tulangku. Aku tatap langit yang mulai gelap. Aku pandangi bintang-bintang yang mulai bermunculan.
"Tante, lagi apa? Disini dingin" Suara Luna mengagetkanku.
"Eh sayang, kenapa kesini. Disini dingin. Masuk sana"
"Kalau Tante nggak masuk, aku nggak mau masuk juga" Luna duduk di kursi yang ada di sebelahku.
"Baiklah, ayo kita masuk" Ajakku, karna aku nggak tega kalau tubuh mungilnya harus menggigil kedinginan disini.
Aku tutup kembali pintu balkon. Di meja, aku melihat nampan yang berisi dengan makanan. "Sayang, siapa yang bawa ini?" Tanyaku pada Luna.
"Tante kan belum makan, kata om Arka Tante lagi nggak enak badan. Makanya Luna bawain kesini biar Tante makan" Ucapnya.
"Tapi Tante nggak lapar" Ucapku.
"Kalau Tante nggak makan, Luna juga nggak makan" Protesnya.
"Jadi Luna juga belum makan?" Tanyaku. Dia menggeleng.
"Luna mau makan bareng Tante."
Karena tidak mau membuatnya kecewa maka aku turuti kemauan Luna. " Baiklah ayo kita makan" Ajakku.
"Sepiring berdua ya, kita gantian makannya" Kataku. Luna pun tertawa.
Tidak sampai lama, makanan yang di piring pun ludes tak bersisa. "Uuhhh kenyangnya" Luna mengusap-usap perutnya yang sudah kekenyangan. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya.
Tak lama kemudian Arka memasuki kamar dan Berjalan menghampiri kami.
"Om coba lihat, habis kan makanannya?" Tunjuk Luna pada piring yang aku pegang.
"Iya pinter" Arka mengelus rambut Luna.
"Habis ini kita sholat isya' ya?" Ucap Arka mengingatkan pada Luna.
"Iya om"
"Luna sholat dulu ya. Biar Tante yang bereskan ini semua" Ucapku.
Luna mengangguk. Aku meninggalkan mereka yang masih terduduk di sofa. Aku beranjak membawa nampan beserta semua peralatan makan yang tadi aku gunakan untuk makan. Aku letakkan nampan itu di luar kamarku.
Setelah mereka sholat, aku pun bersiap untuk tidur. Disusul Luna dan juga Arka. Luna berbaring di tengah. Sedangkan aku dan Arka berada di sisi kanan kirinya. Aku peluk tubuh mungil Luna. Bersamaan dengan tangan Arka yang juga memeluknya. Aku tarik tanganku begitu tanganku menyentuh tangan Arka.
__ADS_1
Tiba-tiba Luna menarik tanganku lagi dan meletakkannya di atas tangan Arka.
"Kalian jangan marahan ya" Ucapan polosnya begitu menyentuh hatiku. Aku tatap mata Arka yang juga menatapku. Aku biarkan tanganku berada di atas tangannya, tidak ada niatan untuk menarik tanganku lagi. Aku pejamkan mataku setelah melihat mata Luna terpejam. Dan kami pun melayang di alam mimpi.