Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Segala persiapan sudah aku siapkan. Aku segera mandi dan bersiap. Karna Arka bilang kalau pesawat akan terbang jam delapan malam. Meskipun waktu masih lama, tapi Arka mengajak segera berangkat agar tidak terjebak macet.


Aku juga sudah mengatakan sama Arka kalau Alda dan Firna akan menginap disini selama kami pergi. Alda sendiri mengatakan kalau dia rela bolak-balik dari rumahku ke tempat kerjanya. Awalnya Arka keberatan karna tidak mau menyusahkan orang lain. Tapi aku sudah menjelaskan padanya kalau mereka sama sekali tidak merasa di repotkan. Justru ini yang mereka mau.


Setelah cukup mengerti akhirnya Arka setuju dan berterimakasih karena mereka sudah bersedia melakukan semua itu.


Saat selesai mandi dan berganti pakaian aku melihat Arka duduk di sofa sedang menelpon seseorang. Sepertinya rekan kerjanya. Karena dari nada suaranya terdengar formal.


"Sayang, kapan teman-teman kamu datang? Tadi aku juga udah bilang sama mamah kalau mereka bakal disini selama kita pergi" Tanya Arka sesaat setelah menutup panggilan teleponnya.


"Mereka sedang di jalan sayang. Mungkin satu jam lagi mereka sampai" Jawabku sambil mengoleskan bedak ke wajahku.


"Oh ya sudah kalau gitu. Bentar lagi kita berangkat ya. Karena sekarang Monika dalam perjalanan. Nanti dia akan menunggu kita di bandara. Nggak enak kalau Monika menunggu kita terlalu lama. Karna kata papa Monika paling tidak suka kalau harus menunggu lama-lama" Ucap Arka yang kembali memeriksa barang bawaan yang sudah aku siapkan.


"Iya sayang, ini juga aku udah selesai kok. Aku tau kamu ngomong gitu, karena nggak suka aku dandan berlebihan kan?" Godaku.


Arka hanya tersenyum mendengar ucapanku yang bisa menebak isi dalam pikirannya. Arka memang tidak suka kalau aku dandan berlebihan. Dia lebih suka kalau aku dandan tipis yang tampak natural. Lebih suka lagi kalau aku nggak dandan. Katanya terlihat cantik alami. Kata-kata sederhana yang dia ucapkan mampu membuatku berbunga-bunga.


Meskipun sudah banyak lelaki yang mengatakan kalau aku memang cantik. Tapi pujian dari suamiku lah yang bisa membuat aku begitu bahagia. Dan terkadang aku tersenyum sendiri kalau mengingatnya.


"Sayang, kamu udah selesai kan?" Suara Arka mengagetkanku.


"Ah.. eh iya.. iya sudah kok" jawabku terbata.


"Kamu mikirin apa sampai kaget gitu?" Tanya Arka yang menyadari tingkahku.


"Nggak ada sayang."Jawabku bohong.


"Ya sudahlah ayo kita berangkat." Ajak Arka sambil menarik gagang koper.


Aku mengangguk dan meraih slingbag yang berwarna sepadan dengan bajuku. Segera aku susul langkah kaki Arka yang sudah melangkah keluar melewati pintu kamar.


Sampai di lantai bawah, mamah sudah menungguku. Aku dan Arka segera berpamitan sama mamah.


"Mah, kami pergi dulu ya. Bentar lagi Alda sama Firna datang kok. Kalau ada apa-apa mamah langsung hubungi kami ya" Ucapku sambil memeluk tubuh mamah.


"Iya sayang, kamu jangan khawatirkan mamah. Mamah disini akan baik-baik saja. Kamu jaga diri baik-baik disana ya. Jaga kesehatan ya." Pesan mamah padaku. Aku pun mengangguk.


"Mah, Arka pamit dulu ya. Mamah jangan telat makan. Jangan stres. Banyakin istirahat." Ucap Arka.


"Iya. Kamu juga jaga kesehatan, jangan lupakan sholatmu. Kamu juga harus jaga istrimu baik-baik disana. Jangan sampai istrimu kelelahan ya." Mamah melirik ke arahku dengan senyuman sayangnya. Bahagia rasanya punya mertua yang begitu perhatian.


"Iya mamah. Tenang aja. Aku akan jaga baik-baik menantu mamah ini" Kami pun tertawa.


Pak Hadi dengan cepat menghampiri kami saat kami keluar dari rumah. Pak Hadi mengambil alih membawakan koper dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.

__ADS_1


Arka berbicara sebentar dengan pak Hadi sebelum memasuki mobil. Setelah itu aku dan Arka bersama-sama memasuki mobil, kami duduk di bangku belakang. Karena yang mengemudi adalah ayah Luna. Tak lama kemudian mobil melaju dengan cepat.


Sampai di jalanan kota mobil mulai melambat karena jalanan macet, sudah hal biasa kalau jam pulang kerja jalanan kota jadi padat pengendara.


Pandanganku melihat keadaan jalanan dari balik kaca. Sedangkan Arka sedang menerima panggilan telepon dari rekan kerjanya. Dengan panggilan yang masih aktif tangan Arka sibuk membuka tas kerjanya dan mengeluarkan laptop miliknya.


Arka tampak sibuk dengan laptop yang ada di pangkuannya. Aku lirik ke arahnya. Matanya terus saja menatap layar laptop. Sesekali dia berbicara dengan orang di seberang sana. Tak lama kemudian Arka mematikan panggilan teleponnya.


Melihat Arka tampak sibuk begini, aku tidak berani mengganggunya. Aku sandarkan kepalaku di sandaran kursi. Aku pejamkan mataku yang tidak mengantuk. Hanya untuk melepas rasa bosanku.


Aku merasakan tangan Arka menyentuh pipiku dengan lembut. Dengan cepat aku buka mataku. "Sayang, aku nggak apa-apa kok, lanjutkan saja pekerjaanmu" Lirihku.


"Maaf ya sayang, aku mengabaikanmu. Tadi aku hanya ngecek laporan masuk yang dikirim lewat email." Jelas Arka.


"Aku paham kok." Jawabku dengan penuh senyum.


"Makasih ya sayang atas pengertiannya." Ucap Arka. Lalu dia kembali dengan pandangan mata menghadap ke depan.


Lebih dari satu jam kami melakukan perjalanan menuju bandara. Sampai akhirnya mobil memasuki area parkir bandara.


Aku dan Arka turun dari mobil. Dengan cepat ayah Luna membuka bagasi dan mengeluarkan dua koper bawaan kami. Tidak lama kemudian Arka menyuruhnya untuk segera pulang.


Arka segera menghubungi Monika, sekretaris papa. Setelah itu Arka mengajakku mencari Monika yang sudah menunggunya.


"Sayang, memangnya kamu sudah pernah ketemu sama Monika?" Tanyaku.


Karna sama-sama tidak tahu bagaimana sosok Monika, Aku dan Arka terus mencarinya. Aku pun turut mengedarkan pandanganku mencoba mencari sosok Monika. Aku terus mencari sosok perempuan cantik, putih mulus dengan pakaian yang cukup seksi. Karena dalam pikiranku seperti itulah sosok Monika.


Aku dan Arka tidak dapat menemukan Sosok Monika, tapi justru aku melihat papa sedang berbicara dengan beberapa orang di ruang tunggu.


"Sayang, itu ada papa" Ucapku. Arah pandangan Arka mengikuti arah mataku.


"Kita tanya papa aja kalau gitu" Jawab Arka.


Aku dan Arka segera menghampiri papa. "Papa, kenapa ada disini?" Tanyaku sambil mencium tangan papa.


"Oh kalian sudah datang, Kamu ikut ke Surabaya juga?" Tanya papa.


"Iya pa. Arka minta di temenin" Jawabku.


"Maklumlah pengantin baru, jadi nggak bisa jauh" Jawaban papa mampu membuat orang-orang yang ada tertawa. Sedangkan aku hanya menahan rasa malu.


"Oke baiklah kalau gitu. Arka nanti kamu urus semua masalah disana, papa serahkan semuanya sama kamu. Nanti biar kamu di temani sama Monika, karena dia yang paham kondisi disana. Monika, nanti kamu bantu Arka selama disana ya" Papa menunjuk pada seorang wanita yang duduk di sebelahnya. Mungkin usianya lebih tua dari Arka sedikit. Tapi dia terlihat begitu cantik.


Aku terkejut ketika papa menyebut nama Monika pada wanita itu. Bagaimana tidak yang ada dalam pikiranku Monika adalah sosok wanita muda, cantik, berkulit putih mulus, pakaian menarik dan juga seksi. Tapi nyatanya yang aku lihat Monika adalah wanita yang usianya di atas Arka. Dia memang berpenampilan menarik tapi cara berpakaiannya begitu sopan. Berbeda dengan penampilan sekretaris pada umumnya.

__ADS_1


Aku melirik ke arah Arka, yang seperti menertawakanku. Tapi tawanya tidak bersuara. Bagaimana tidak, perempuan yang aku cemburui ternyata jauh dari perkiraan ku. Dan itu membuatku malu sendiri.


Setelah menjelaskan tentang pekerjaan, papa pamit untuk pulang. Tidak lama kemudian dari bagian informasi terdengar pemberitahuan bahwa pesawat yang akan kami tumpangi segera berangkat. Kami pun segera bersiap.


Di dalam pesawat , Monika memberikan tempat duduknya padaku. Karna awalnya Monika hanya memesan dua tiket, untuknya dan juga untuk Arka. Sedangkan tiket untukku di pesannya dengan waktu yang berbeda. Itu di karenakan aku masih melakukan banyak pertimbangan sebelum ikut. Dan tentunya aku ikut karena merasa cemburu dengan Monika. Maka dari itu aku mendapat kursi yang berjarak beberapa kursi dari tempat Arka. Tapi dengan ramah Monika memintaku agar aku bertukar kursi dengannya. Dengan senang hati aku menyetujuinya.


Setelah melakukan penerbangan kurang lebih sembilan puluh menit, pesawat mulai mendarat di bandara Juanda. Sampai di bandara ternyata sudah ada driver yang siap menjemput kami.


"Masukkan semua dalam bagasi ya. Layani mereka dengan baik. Karena mereka adalah anak dan menantu bigboss" Ucap Monika pada driver sambil menunjuk koper yang kami bawa. Driver itu mengangguk pada Monika, dan memberi salam padaku dan juga pada Arka.


Driver itu membawa kami menuju hotel yang sudah di pesan oleh pihak kantor. Aku dan Arka menerima kunci yang di berikan Monika. Dan seorang room boy membantu membawakan koper kami sampai kamar yang akan aku tempati bersama Arka.


"Baiklah Pak Arka silahkan beristirahat, dan jangan lupa besok pagi ada meeting di loby hotel tepat pukul delapan pagi" Ucap Monika ketika sampai di depan pintu kamar.


"Kamar kamu nomer berapa?" Tanya Arka pada Monika.


"Oh saya tidak menginap di hotel pak Arka, saya lebih memilih untuk menginap di rumah bersama ibu saya. Kebetulan saya memang asli orang Surabaya. Jadi kalau ada tugas di sini, saya sangat senang sekali karena selain kerja saya juga bisa bertemu ibu saya. Jika Pak Arka dan istri butuh sesuatu bapak bisa hubungi saya atau hubungi driver yang tadi. Ini kartu namanya" Monika memberikan kartu nama pada Arka.


"Oohh jadi begitu. Baiklah karena sekarang sudah malam kita lanjutkan ngobrolnya besok saja. Makasih banyak Monika" Ucap Arka. Lalu Monika segera berpamitan pada Arka dan juga padaku.


Setelah menyiapkan air panas untuk mandi, seorang room boy tadi juga pergi berpamitan dan sebelum dia pergi aku memberikannya dua lembar uang seratus ribuan sebagai tips. Tersungging senyum bahagia dari bibirnya, dia sangat senang sekali menerimanya.


"Sayang, kamu mandi duluan ya air hangatnya sudah di siapkan" Ucapku.


"Kamu nggak mandi ?" Tanya Arka.


"Mandi dong, tapi nanti dulu. Aku masih mau mindahin pakaian ke lemari dulu. Kamu duluan aja. Ini perlengkapan mandinya" Aku berikan sebuah tas kecil yang berisi peralatan mandi. Biarpun di hotel tersedia peralatan mandi. Tapi aku lebih memilih memakai punyaku sendiri.


"Ya sudah" Arka pun bergegas menuju kamar mandi. Sementara aku masih melanjutkan pekerjaanku mengeluarkan semua isi koper dan memindahkannya ke dalam lemari. Termasuk menata peralatan kerja Arka. Aku letakkan Laptopnya di atas meja yang ada di dekat jendela. Supaya dia lebih nyaman kalau bekerja.


"Sayaanggg" Terdengar teriakan Arka dari dalam kamar mandi.


"Iya sayang, ada apa?" Jawabku ikut teriak.


"Tolong ambilkan handuk sayang" Tiba-tiba kepala Arka keluar dari balik pintu kamar mandi.


"Iya, sebentar" Aku berjalan sambil meraih handuk yang ada di samping lemari.


"Nih" Aku berikan handuk itu padanya.


"Sayang, kita mandi bareng ya" Ucapnya saat aku mendekatinya.


"Enggak ah, nanti malah nggak mandi. Lagian aku masih belum selesai beres-beres" Tolakku sambil meledeknya.


"Awas kamu ya" Arka merasa kesal karena aku menolaknya sambil tertawa.

__ADS_1


"Udah sana cepetan mandinya. Aku udah siapin baju ganti" Aku dorong kepala Arka agar kembali masuk dari celah pintu yang terbuka sedikit. Tanpa membantah pintu pun kembali di tutup olehnya.


__ADS_2