
Kami masih sibuk untuk menyiapkan makan malam. Sate udang dan Beef steak sudah siap di hidangkan. Hanya menunggu kentang goreng dan juga makanan pelengkap lainnya. Aku suruh Alda dan juga Firna untuk melanjutkannya.
Aku hampiri Luna yang sedang duduk sendirian dengan sepiring sate udang di tanganku "Sayang, nih makanan kesukaan kamu sudah siap. Biasanya sudah ludes duluan. Kok tumben nih nggak mau cicipin"
Luna hanya menggeleng dan membuatku menjadi serba salah mungkin dia marah karena aku abaikan dia. " Luna marah sama tante ya, karena daritadi Tante mengabaikan Luna, Tante minta maaf ya sayang" Aku letakkan piring yang aku pegang tadi.
"Tante nggak salah kok. Bukan itu yang buat Luna sedih. Luna sedih karena harus pulang malam ini. Luna nggak mau Tante kesepian. Kalau Luna pulang, om Arka kerja, terus Tante sama siapa?"
"Ya ampun sayang, kamu nggak perlu pikirkan itu, kan masih ada Oma. Tante akan menyibukkan diri dengan belajar masak, belajar membuat kue, Tante juga bisa pergi jalan-jalan biar nggak bosan di rumah. Lagipula nanti kan setiap weekend om Arka akan jemput Luna kesini. Kita bisa main lagi. Jadi sekarang Luna nggak usah sedih ya. Tante aja nggak apa-apa kok" Jelasku.
Anak sekecil itu sudah bisa memikirkan kebahagiaan orang lain. Dia nggak mau kalau aku merasa kesepian. Sampai sedih kayak gini.
"Tapi beneran kan Tante nggak apa-apa kalau Luna pulang?" Tanya Luna memastikan.
Aku pun mengangguk. "Iya sayang" Lalu aku memeluknya.
Setelah melepas pelukanku, Luna berdiri dan mengambil piring yang tadi aku letakkan di sampingku. "Kalau gitu Luna jadi lega dan sekarang Luna mau makan"
Aku pun tertawa melihat tingkahnya, begitu juga dengan Alda dan Firna yang ternyata mereka memperhatikan percakapan kami berdua.
"Udah ca, cepetan lu punya anak biar ada yang di ajak bercanda kayak gini" Sahut Firna.
"Tunggu waktu Fir. emang kamu nggak pingin juga?" Aku pun balik tanya sambil menyenggolnya.
"Sebenernya pingin sih. Tapi gue nanti aja, nunggu ada yang sreg" Jawabnya.
"Keburu peot lu" Alda menimpali.
"Enak aja lu ngomong" protes Firna.
"Eh ca, tuh laki lu datang" Alda menunjuk dengan isyarat mata yang di tujukan ke arah belakangku. Aku pun menoleh mengikuti arah pandang matanya. Memang benar Arka berjalan ke arahku.
Arka mendekatiku dan mengucapkan kata maaf. "Sayang maaf ya, aku pulangnya agak telat. Tadi aku mau ngabarin tapi handphone ku lowbatt. Maaf ya" Ucapnya.
"Iya sayang nggak apa-apa, lagipula masaknya juga baru selesai kok. Tinggal menatanya saja." Jawabku dengan senyuman termanisku.
"Syukurlah kalau gitu. Biar aku bantu menyiapkan ya?" Arka mencoba menawarkan diri. Aku pun hanya mengangguk.
Satu persatu makanan di hidangkan di atas karpet yang sudah di persiapkan. Setelah semua sudah tersaji, aku menyuruh Arka memanggil ayah Luna agar ikut bergabung. Tapi sayangnya ayah Luna nggak mau.
Kami menikmati makan malam bersama ini dengan canda dan tawa yang sudah lama tidak aku lakukan bersama temanku. Setelah menikah memang aku nggak pernah hangout lagi. Karna Arka selalu melarangku. Tapi aku tahu, dia melakukan ini semua demi kebaikanku juga. Arka tidak mau kalau aku kembali terjerumus ke dunia malam yang tidak ada manfaatnya. Sedangkan Arka selalu memberi dukungan untuk hal-hal yang positif.
"Kamu kenapa ?" Suara mamah membuyarkan pikiranku. Aku melihat ke arah mamah yang sedang memegang bahu Alda. Mataku berpindah ke arah Alda. Wajahnya menunduk. Tapi terlihat jelas kalau dia sedang terisak. Aku sangat terkejut melihatnya tiba-tiba terisak.
Aku letakkan sendok dan garpu di piringku. aku pun mendekatinya. "Kamu kenapa?" Tanyaku sambil mengusap punggungnya.
Aku melirik ke arah Firna mencoba bertanya dengan kedipan mata. Firna mengangkat kedua bahunya bersamaan. Yang artinya dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan Alda.
"Gue nggak apa-apa. Gue hanya kangen keluarga gue" Alda mengusap pipinya secara bergantian.
"Kenapa tiba-tiba kamu mengingat keluarga kamu" Tanyaku.
"Gue kangen ca sama mereka. Gue pingin banget makan bersama keluarga gue, biarpun hanya sekali saja. Gue juga pingin di peluk sama mereka." Alda berbicara dengan lirih. Mataku pun ikut berkaca-kaca melihat Alda seperti ini.
Selama berteman dengannya baru kali ini aku melihat air matanya. Diantara banyaknya temanku, Alda lah yang paling kuat menghadapi segala hal. Tak ku sangka ternyata dia juga mempunyai sisi yang lemah.
"Ca, gue minta satu hal sama lu." Ucap Alda.
"Apa?" Tanyaku.
"Boleh nggak gue minta peluk sama mertua lu?"
"Ya ampun, kamu ini ada-ada aja. Tentu saja boleh. Kirain mau minta apaan"
Mamah memeluk Alda dan mengusap rambutnya. "Anggap saja Tante ini sebagai mamamu. Kamu juga boleh sesering mungkin kesini. Mau makan bareng, mau nginap sini juga boleh. Kalian semua, teman-teman Caca, Tante anggap sebagai anak Tante". Alda mengangguk.
"Udah nggak usah sedih-sedih lagi. Ayo lanjut makan lagi" Ucap Arka. Dan kami pun kembali melanjutkan makan masing-masing.
Setelah selesai makan malam Luna dan ayahnya pamit untuk pulang. Sedih rasanya seperti di tinggal jauh. Padahal rumahku dan rumah Luna hanya di tempuh dengan waktu kurang dari satu jam. Dan juga hanya berpisah untuk waktu kurang dari seminggu. Tapi rasanya seperti benar-benar di tinggal lama. Tapi untung saja aku masih bisa menyembunyikan kesedihanku di depan Luna. Mencoba tetap tersenyum di hadapannya.
Aku mengantar Luna sampai di depan garasi "Hati-hati ya sayang" Ucapku saat dia sudah berada di atas motor. Luna melambaikan tangannya. Aku terus menatapnya sampai bayangannya menghilang di balik pintu gerbang.
"Itu motor yang tadi kamu beli?" Tanyaku pada Arka.
__ADS_1
"Iya, itu ada lagi satu di garasi" Tunjuk Arka.
"Bagus ya motornya" Ucapku.
"Iya kan motor baru sayang. makanya bagus. Tadinya aku mau kredit. Tapi setelah aku pikir, mending beli cash aja." Ucap Arka.
"Iya nggak apa-apa, lebih bagus kan kalau gitu" Jawabku.
Mamah masih duduk berbincang dengan teman-temanku. Bahkan aku melihat Alda begitu dekat dengan mamah.
"Eh Ca, maaf ya gue nempel terus sama mertua lu" Ucap Alda begitu menyadari aku duduk dan bergabung dengan mereka.
"Ya nggak apa-apa, aku malah seneng liat kamu kayak gini. Aku mau kok berbagi mamah dengan kalian. Tapi aku nggak mau berbagi suami ya" Ledekku.
"Ya enggaklah. Gila banget kalau sampai gue atau pun Firna sampai ngerebut laki lu. Emang kita cewek apaan. Iya nggak fir?" Alda menatap tajam ke arah Firna. Sedangkan Firna hanya mengangguk sambil mengunyah camilan yang ada di depannya.
"Makasih ya, kalian memang sahabatku yang is the best." Ucapku.
"Mah, mamah istirahat aja ya. Sudah malam, udara di luar juga lumayan dingin" Pinta Arka pada mamah.
"Ya sudah kalau gitu mamah tinggal ya" Ucap mamah. Lalu mamah berpamitan untuk istirahat.
Alda dan Firna memutuskan untuk menginap di rumahku. Tapi mereka menolak untuk tidur di kamar. Mereka ingin tidur di dalam tenda. Dan tentunya aku ikut menemani mereka.
"Lu kan bawa gitar Al. Ambil sana, kita nyanyi bareng yuk" Seru Firna.
"Oh iya gue lupa. Bentar ya gue ambil dulu" Alda segera berdiri dan mengambil gitar yang masih tersimpan di dalam mobil. Tak lama kemudian Alda kembali dengan gitar di tangannya.
"Kamu bisa main gitar?" Tanya Arka.
"Dia jago banget main gitarnya. Kamu tau nggak kalau aku lagi sedih, Alda ajak main gitar dan aku yang nyanyi" Jawabku sambil tertawa.
"Apaan sih lu. Biasa aja kali" Protes Alda.
"Aku mau request lagu ya, boleh kan?" Tanyaku pada Alda.
"Mau lagi apa ?" Tanya Alda.
"Oke, tapi lu yang nyanyi ya. soalnya gue kurang hafal" Alda mulai memainkan gitarnya dan aku mengikutinya dengan lagu pilihanku. Firna juga mengikuti ku bernyanyi. Sedangkan Arka hanya menyaksikan aja.
🎶***Lost in your mind
I wanna know
Am I losing my mind?
Never let me go🎶
🎶If this night is not forever
At least we are together
I know I'm not alone
I know I'm not alone
Anywhere, whenever
Apart, but still together
I know I'm not alone
I know I'm not alone🎶
🎶I know I'm not alone
I know I'm not alone🎶
🎶Unconscious mind
I'm wide awake
Wanna feel one last time
__ADS_1
Take my pain away🎶
🎶If this night is not forever
At least we are together
I know I'm not alone
I know I'm not alone
Anywhere, whenever
Apart, but still…🎶***
"Wah ternyata kalian berbakat ya, apalagi kamu sayang, suaranya bagus banget" Arka tertawa dan bertepuk tangan setelah lagunya selesai.
"Sayang, jangan gitu dong aku jadi malu" Ucapku.
"Boleh nggak aku ikutan main gitar?" Tanya Arka.
"Sayang, emang kamu bisa main gitar?" Tanyaku sedikit terkejut.
"Masih belajar sayang, jangan di ketawain ya kalau salah" Ucap Arka. Alda memberikan gitarnya pada Arka.
"Kalau kalian mau ikutan nyanyi boleh kok, tapi ini lagu nya agak lama dari band Indonesia. Soalnya Aku nggak bisa nyanyi lagu barat." Ucap Arka
*🎶Biarkan waktu teruslah berputar
Mencintai kamu penuh rasa sabar
Meski sakit hati ini kau tinggalkan
Ku ikhlas tuk bertahan🎶
🎶Cintaku padamu begitu besar
Namun kau tak pernah bisa merasakan
Meski sakit hati ini kau tinggalkan
Ku ikhlas tuk bertahan🎶
🎶Kau meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga ku jatuhkan airmata
Kekecewaan ku sungguh tak berarah
Biarkan ku harus bertahan🎶
🎶Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah🎶***
Kami terlarut dengan lagu yang dinyanyikan Arka. Lagunya dia mainkan dengan nada yang lebih slow. Dan juga petikan gitarnya yang sesuai dengan lagunya. Aku begitu terkejut mendengarnya. Ternyata Arka bisa bermain gitar bahkan suaranya begitu lembut sekali.
"Kenapa jadi bengong semua nih" Tegur Arka ketika melihat kami bertiga diam terbawa suasana.
"Sayang, kenapa kamu nggak bilang kalau kamu bisa main gitar?" Tanyaku.
"Kamu kan nggak nanya sayang" Jawab Arka begitu enteng.
"Bang, ternyata benar ya, kata orang kalau cowok bisa main gitar kebanyakan cowok itu romantis dengan pasangannya" Ucap Firna.
"Masa sih, tapi aku nggak romantis kok" Jawab Arka.
"Lagi pula aku kurang suka yang terlalu romantis" Protesku.
Kami melanjutkan barnyanyi dan main gitar yang di mainkan Alda dan Arka secara bergantian. Menghabiskan malam bersama dengan penuh rasa suka cita.
__ADS_1