
Pagi menjelang, setelah menunaikan kewajiban dua rakaat, aku dan Arka mulai berkemas. Karna jadwal penerbangan nanti pukul sembilan pagi.
"Sayang, kamu masih capek kan, kamu istirahat saja ya, biar aku yang berkemas. Kamu kembali tidur saja temani Luna" Ucap Arka.
"Enggak apa-apa kok, kalau cuma berkemas gini masih sanggup. Asal jangan menyuruhku lari keliling lapangan. Aku angkat tangan duluan" Jawabku terkekeh.
"Ya sudah, aku nggak bisa melarang kamu. Tapi kalau memang terasa capek, istirahat saja ya"
"Iya bawel" Aku tarik hidung mancung Arka, dan dia meringis kesakitan.
Semakin hari perhatian Arka begitu besar. Dia memang tidak pandai mengucapkan kata "Aku cinta kamu" Tapi semua sikap dan tingkahnya sudah melebihi tiga kata itu, bahkan tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata lagi.
Ya Allah, kenapa tidak daridulu aku mengenalnya. Kalau bukan karena papa yang menjodohkan aku dengan Arka mana mungkin aku akan hidup sebahagia ini. Bahkan di awal pernikahan aku sangat membencinya.
Justru lelaki yang aku cinta begitu dalam ternyata membuat luka di hati yang teramat dalam pula. Manusia hanya bisa berencana, tapi hanya Allah yang menentukan. Bahkan rencana Allah jauh lebih indah di bandingkan umatnya.
***
"Arka, terima kasih atas kerjasamanya selama di Surabaya. Nggak nyangka ternyata kerjasama dengan kamu sangat menyenangkan. Aku kira bocah ingusan sepertimu hanya bisa memerintah dan membantah. Ternyata aku salah. Justru kamu si bocah ingusan, sudah berhasil menyelamatkan perusahaan papa mertua kamu yang hampir gulung tikar. Aku minta maaf sudah meragukan kemampuan kamu" Monika tergelak saat bercerita. Dia adalah wanita yang tidak suka berbasa basi, dia selalu to the point dalam mengungkapkan perasaannya.
"Hahaha... asal jangan kapok setelah hadirnya diriku disini" Arka tertawa menanggapi ucapan Monika.
"Ya enggaklah, justru aku sudah bilang ke papa mertuamu supaya kamu yang handle disini. Kamu tahu apa jawaban nya?"
Arka menggeleng "Apa?"
"Bocah ingusan itu akan memimpin di kantor pusat" Tawa Monika kembali pecah saat menirukan ucapan papa. "Mertua kamu nggak terima aku nyebut kamu bocah ingusan. Karena dari awal aku sudah menolakmu mentah-mentah. Dan endingnya saat aku yang memintamu, sekarang giliran permintaanku yang di tolak mentah-mentah sama big bos"
Terdengar dari pengeras suara bahwa pesawat yang akan kami tumpangi segera berangkat.
"Baiklah Monika, kami pamit ya. Sehat selalu buat kamu dan keluargamu" Arka berpamitan begitu juga dengan ku
"Jaga baik-baik calon penerus ini ya. Jangan kecapekan, sering-seringlah beristirahat dan makan makanan sehat" Monika mengusap pelan perutku.
"Iya, terima kasih banyak ya. Selama disini, selalu merepotkan mu" ucapku
"Itu sudah menjadi tugasku. Biar dapat bonus besar hahaha" jawaban Monika membuat kami tertawa.
Lambaian tangan Monika mengiringi kepergian kami.
***
Begitu sampai di rumah papa dan mama menyambut kedatangan kami.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Papa menjawab salamku.
__ADS_1
"Papa" Aku menghambur ke pelukan papa dan juga mama secara bergantian.
"Gimana di sana, seneng?" Tanya papa.
"Lumayan lah pa, daripada di rumah suntuk" Jawabku seadanya.
"Arka, titipan papa ada kan?"
"Ada pa" Jawab Arka.
"Memangnya papa nitip apa sama Arka?" Tanyaku penasaran, karna arka tidak ada cerita soal itu.
"Urusan lelaki" papa menjawab dengan singkat.
Kami pun duduk di sofa yang ada di ruang tengah. Sedangkan Luna sudah tertidur saat di perjalanan dari bandara tadi.
"Sayang, aku bawa Luna ke kamar dulu ya?" Aku mengangguk saat Arka berpamitan. Lalu dia menaiki tangga menuju kamar yang ada di lantai atas.
"Kalian bawa apa sih dari sana, tuh lihat gede banget?" Mama menunjuk bungkusan kardus besar yang ada di pojok ruangan. Karungnya sudah berubah menjadi kardus sehingga terlihat rapi.
"Oh, itu. Itu Arka yang beli ma. Dia belanja pakaian sebanyak itu. Nggak tahu buat siapa saja, kayaknya buat di bagi-bagi deh soalnya modelnya campur-campur gitu"
"Banyak banget beli nya. Berapa duit yang di habisin? belanja udah kayak mau jualan aja " Tanya mama dengan nada yang agak sinis.
"Ma, itu murah tahu. Mama nggak bakalan percaya berapa uang yang sudah di habisin buat belanja, Nggak sampai tiga juta"
"Serius mama, buat apa bohong" ucapku meyakinkan mama.
"Kalau pun iya, palingan juga bajunya sekali pake udah robek sana sini" Mama masih belum yakin dengan yang aku ucapkan.
"Ya sudah nanti saja kita lihat bajunya seperti apa, tunggu Arka turun dulu"
Arka terlihat berjalan mendekat "Lho ini sudah sampai paketnya, kapan sampainya?" Tanya Arka saat mendekati kardus paketnya.
"Tadi jam sepuluh. Ayo cepet buka dong Arka, penasaran sama yang kamu beli" Mama sangat antusias melihat isinya "Sebentar mama ambil cutter dulu, kayaknya ada di laci sini deh" Mama membuka laci yang ada di bawah TV untuk mencari cutter. Saat sudah ketemu mama memberikannya pada Arka.
Papa tampak sibuk dengan ponselnya, sesekali papa menyimak obrolan kami.
Kardus besar itu berhasil di buka dan Arka mengeluarkan semua isinya, sebelum itu memilah satu persatu.
"Nah, ini pesanan papa. Sarung sama baju Koko" Arka memberikan beberapa bungkus plastik kepada papa. "Dan yang ini buat mama, semoga mama suka ya" Giliran mama yang menerima bungkusan plastik. .
Mama membuka plastik pembungkus dan membuka lembaran baju dan merentangkan di hadapannya.
"Waaahhh bagus gamisnya, seperti punya Bu Sonya. Punya Bu Sonya warna hitam. Punya mama warna Kuning, Pink, sama hijau. Warna yang cocok sama kulit mama yang putih. Ini lho pa yang mama pengen dari bulan kemaren. Papa di ajak beli nggak mau" Mama tampak mengerucutkan bibirnya.
"Ya jelas nggak mau ma, papa sibuk sama pekerjaan, tapi mama malah ngajak ke Dubai cuma mau beli gamis" Jawab papa.
__ADS_1
"Hah Dubai?" Tanyaku heran.
"Iya Cha, waktu itu kan mama nanya ke Bu Sonya beli di mana , Bu Sonya bilang dapat oleh-oleh dari anaknya waktu liburan ke Dubai, makanya mama ngajakin papa ke sana. Untungnya papa nggak mau, Eehh sekarang mama dapat oleh-oleh juga dari menantu mama, oleh-oleh dinas ke Surabaya, hehehe nggak perlu ke Dubai. Ini dapat tiga lagi gamisnya" Mama tampak girang sampai di cium-cium itu baju.
"Alhamdulillah, kalau mama suka" wajah Arka begitu sumringah kala pemberiannya di terima dengan sangat baik.
Mama mengambil tiga gamisnya dan segera beranjak dari duduknya "Mama mau kemana?" Tanyaku
"Sssttt..." Jari telunjuk mama tempelkan di bibirnya lalu berbisik "Mau bawa ke belakang, biar di cuci karena lusa mau Mama pake arisan" Mama tertawa cekikan begitu juga denganku.
"Papa tumben beli baju Koko?"
"Iya, buat menghadiri kalau ada undangan di kompleks. Atau ada acara di masjid. Biar papa nggak selalu pakai kemeja, kalau baju Koko gini kan lebih pantas buat ke masjid"
Semenjak ada Arka, papa sering datang ke masjid buat sholat berjamaah kalau Maghrib, Isya' dan kadang subuh juga. Kata papa kalau sholat di rumah sering bolong. Apalagi waktu di kantor papa juga nggak pernah sholat. Bisa di bilang keluargaku itu Islam KTP.
Di KTP saja agamanya tertulis Islam, tapi nggak pernah melakukan kewajiban sholat. Tapi sekarang sudah banyak perubahan di keluargaku. Papa yang tidak pernah bersosialisasi dengan warga, sekarang lebih sering hadir saat ada undangan, meskipun hanya sekedar undangan rapat RT. Papa juga tiap hari datang ke masjid. Begitu juga dengan mama, mama juga ikut pergi ke masjid bareng papa.
Sungguh perubahan yang sangat baik bukan. Semua ini tak luput dari peran penting hadirnya Arka dalam keluargaku. Melalui dia lah keluargaku mengalami banyak kemajuan yang positif.
"Ini punya kamu sayang" Arka menyodorkan beberapa bungkus plastik ke arahku dan aku menerimanya.
"Banyak banget sih punyaku" Setelah aku hitung Ada enam jenis pakaian dan masing-masing ada tiga motif yang sama tapi warna yang berbeda. Berarti aku sendiri mendapatkan delapan belas potong baju. Waaahhh banyak juga ternyata.
"Iya itu khusus buat kamu sayang. Itu ada daster tiga macam. Yang ini model Tunik bermotif, yang ini tunik tapi polos, dan ini juga ada leging khusus buat ibu hamil" Arka menjelaskan satu persatu bungkusan yang ada di depanku.
"Kok kamu bisa tahu sih keperluan wanita hamil. Jangan-jangan kamu....." Aku menggantungkan perkataanku.
"Jangan-jangan apa, kamu lupa kalau kita belanja tidak hanya berdua. Ada Monika yang jadi pemandu" Arka terkekeh saat menyebut Monika.
"Oh iya ya.. aku lupa hehehe... maaf" Aku nyengir malu.
"Kalau yang tunik meskipun tidak sedang hamil bisa di pakai juga kok sayang. Adikku juga suka beli baju model begini. Dia kan berhijab jadi kalau pakai baju model gini tidak terlalu ngetat di badannya, masih longgar. Aku juga beli model gini buat dia" Arka menunjukkan padaku baju buat adiknya, warna yang kalem sesuai dengan karakter adiknya yang lembut.
Mama kembali hadir melihat tumpukan baju yang masih menumpuk di lantai.
"Buat mama nggak ada lagi nih?"
"Ada kok ma, sebentar ya saya cari dulu blouse nya" Arka kembali mencari baju punya mama. "Nah ini dia" Arka memberikannya kepada mama.
Tanpa mengunggu lama tangan mama membuka plastik pembungkus dengan cekatan.
"Waaahhh bagus sekali sih Arka. Mama suka banget. Apalagi warnanya cerah seperti ini" Mata Mama tampak berbinar. Padahal mama sering beli baju bahkan dengan harga yang cukup mahal di bandingkan dengan baju-baju dari Arka. Tapi raut wajahnya biasa saja, berbeda dengan sekarang ini.
"Itu Caca yang punya ide ma, dia juga yang milihin warna yang cocok buat mama" Aku melongo mendengar ucapan Arka. Padahal bukan aku yang memilih baju itu, Arka sendiri yang berinisiatif membelikan buat mama.
"Makasih ya sayang, kamu perhatian banget sama mama" Mama memelukku dari arah samping. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
__ADS_1