Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Menyadari kesalahan


__ADS_3

Setelah kepulangan Alda aku kembali ke kamarku. Aku melihat Arka sedang menonton TV di kamar. Aku menghampirinya perlahan.


Aku memberikan paper bag padanya " Nih, dari Alda" Ucapku.


"Oh iya aku lupa, aku pikir sudah hilang. untung saja di anterin kesini. " Kata Arka sumringah.


"Emang apa itu ?" Tanyaku penasaran.


Arka menarik tanganku agar aku ikut duduk di sampingnya. Aku menurut saja dengan perlakuan Arka. Arka membuka paper bag tadi dan mengeluarkan isinya. Kaos warna putih. Dan aku sangat terkejut saat tahu bahwa kaos itu kaos couple. Couple cewek dan cowok.


"Lihat deh, bagus kok, ini buat kamu. Dan yang ini buatku. Cobain dulu pas apa enggak" Arka memberikan kaos itu untukku. Arka segera melepas kemeja yang dikenakannya, menggantinya dengan kaos putih. Kaos itu sangat pas dan cocok di badan Arka.


Aku terus memandanginya, Arka tersenyum bahagia saat memakainya. "Pas, enak di pakainya. " Kemudian Arka menatapku yang sedari tadi tanpa di sadarinya aku memperhatikan tingkahnya. Arka menatapku dengan mengernyitkan dahinya.


"Kenapa kamu diam, kamu nggak suka dengan kaosnya, kalau nggak suka sama yang ini, kapan-kapan aku belikan baju yang kamu suka. Kamu bebas memilih baju yang kamu suka. Tapi nunggu aku kerja dulu ya " Seketika Arka melepas kembali kaos yang di kenakannya.


"Aku suka kok, ini bagus sekali. Tapi ini dari siapa?" Tanyaku penasaran.


"Pasti kamu berpikir ini dari Alda? Pantas saja dari tadi diam saja. Jangan salah paham dulu. Ini aku sendiri yang membelinya, Aku membelinya sebelum Alda datang. Tokonya sebelahan sama warung yang aku datangi. Setelah ngobrol sebentar aku langsung pamit pulang. Karena buru-buru mau pulang, akhirnya ketinggalan di warung. Tapi kalau kamu nggak suka , ya nggak papa, nanti aku ganti saja. " Ucap Arka sedikit kecewa.


"Aku suka kok sama kaos ini, sebentar ya aku cobain. " Aku langsung membuka baju di hadapan Arka tanpa malu lagi.


Biasanya kalau aku atau pun dia mau ganti baju, itu dilakukan di kamar ganti. Tapi sekarang aku berubah pikiran, Bagaimana pun juga dia adalah suamiku, suamiku yang sah. Yang berhak atas tubuhku.


"Pas banget, nyaman di pakainya. Besok kita pakai ke bandara ya, ngantar kak Bayu. " Pintaku. Dan Arka mengangguk menyetujui.


"Ca, barusan kamu ngelakuin di depanku dengan sadar, atau tanpa sadar?" Tiba-tiba Arka bertanya demikian.


"Aku sadar dengan apa yang aku lakuin. Sekarang aku sadar, bukan hanya hati ini yang akan aku berikan buatmu, tapi juga dengan tubuh ini. Kamu berhak mendapatkannya." Tanpa ragu lagi Arka langsung memeluk tubuhku, dan mengecup keningku.


"Terima kasih Ca, akhirnya kamu mau menerimaku sebagai suamimu."


"Aku yang seharusnya berterima kasih. Terima kasih atas kesabaranmu mengahadapi sifat dan sikap burukku selama ini. " Ucapku dalam pelukannya.


"Akhirnya Allah mengabulkan do'a-do'aku." Arka tersenyum, matanya berkaca-kaca, ada kumpulan air bening di sudut matanya yang siap menetes kapan saja.


"Kenapa kamu menangis jika do'amu terkabul.? " Tanyaku sambil menatap matanya.


"Aku terlalu bahagia, aku tidak tahu harus berkata apa lagi untuk mengungkapkannya. " Dan akhirnya air mata itu pun menetes dari sudut matanya. Aku mencoba mengusap air mata itu.


"Maafkan aku, selama ini banyak menyakiti perasaanmu" Arka menggenggam tanganku, meremas jari-jariku. Aku merasakan kehangatan tubuhnya mengalir ke tubuhku melalui jemarinya. Arka mengecup tanganku berkali-kali. Sangat terlihat jelas kebahagiaan Arka saat ini.


Arka melepaskan genggaman tangannya secara perlahan. Arka menangkupkan kedua tangannya di pipiku. Mengecup keningku lagi. Aku lingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Memeluknya erat. Begitu juga dengan Arka, dia membalas pelukanku.


Lama kami terdiam dengan posisi saling memeluk. Kemudian Arka melepaskan pelukannya perlahan.

__ADS_1


"Aku mau sholat isya' dulu. Apa kamu mau sholat bareng sama aku ? " Tiba-tiba Arka menawariku untuk sholat bareng.


"Eh.. aku, aku, beesok saja ya aku sholatnya. Sekarang masih belum siap. Aku juga nggak punya mukenah besok mau beli dulu. " Tolakku dengan gelagapan , betapa malunya diriku, apalagi jika dia tahu aku tidak bisa sholat.


"Kan ada mas kawin yang dari ku, taruh mana ?" Gawat Arka menanyakan mas kawin yang dia berikan.


"Eh itu, eh dimana ya, aku lupa naruhnya dimana, besok aku tanya mbok Imah mungkin saja dia yang menyimpannya." Jawabku asal, padahal waktu selesai ijab kabul, benda itu sudah aku buang ke tong sampah.


Arka berjalan menuju lemari pakaiannya membuka sebuah kotak dan mengeluarkan isinya. Aku terkejut melihat isi kotak itu. Masih terbungkus dengan rapi. Isinya adalah mas kawin yang dulu dia berikan padaku dan aku membuangnya ke tong sampah.


"Ini, aku memungutnya kembali saat kamu membuangnya di tempat sampah." Arka memberikan bungkusan itu. Tapi tak sedikitpun aku melihat kemarahan di wajahnya. Dia tetap dengan wajah tersenyum.


"Maafkan aku Arka, aku sudah membuang barang pemberian dari kamu. Karena aku merasa barang itu nggak penting" Aku pun menangis menyesali perbuatanku yang dulu.


"Sudahlah, itu sudah terlewati. Sekarang kita memulai langkah baru. Tidak perlu mengungkit masa lalu. Kita sholat sekarang ya. " Bujuk Arka.


"Aku belum siap, besok aja ya.." tolakku. Arka tampak kecewa tapi dengan cepat rasa kecewa itu di tepisnya.


"Baiklah, aku nggak akan memaksa, tapi janji ya mulai besok harus rajin sholat. " Aku pun mengangguk menyetujuinya.


Arka segera menuju ke kamar mandi. Aku melepas kembali kaos yang dari Arka. Dan memakai bajuku sendiri. Lalu aku keluar kamar untuk mengambil air minum.


Di ruang tengah terlihat papa masih berbincang dengan Kak Bayu. Setelah mengambil air minum, aku menghampiri kak Bayu dan duduk di sebelahnya.


"Kok belum tidur ?" Tegur kak Bayu


"Eh ada apa ini, kenapa tiba-tiba manja kayak gini " kak Bayu menarik hidungku.


"Kak, aku tidur sama kakak ya... kan besok kakak sudah berangkat." Rengekku seperti anak kecil yang merengek pada bapaknya.


"Nggak boleh, sekarang kan kamu bukan anak kecil lagi, nggak boleh tidur bareng kakak. " kak Bayu menolak permintaanku.


"huuhhh... kakak... kali ini saja kak, ya kak ya... please..." pintaku lagi


" Tidak boleh." Kak Bayu kembali menegaskan. Papa tertawa melihat tingkah konyol kami berdua.


"Caca, nggak boleh maksa gitu sama kakak kamu. Sekarang kan Caca juga sudah punya suami, masa iya mau tidur sama kakaknya. " Ledek papa.


"Kan bentar lagi di tinggalin ma kakak, dan lama nggak ketemu lagi, nanti ketemu kakak sudah bawa pasangannya. Kan Caca nggak bisa manja-manja lagi sama kakak" Aku langsung memasang wajah cemberut.


"Ya sudah tidur saja disini, kakak temani kamu. " Kak Bayu mengusap lembut kepalaku.


Aku pun kegirangan, aku posisikan tubuhku miring kesamping dan memejamkan mata, agar bisa tertidur di pangkuannya. Kak Bayu terus mengelus rambutku. Seperti seorang ayah yang menidurkan anaknya.


Beginilah aku sama kak Bayu jika bertemu, melepaskan rindu yang lama terpendam. Aku merasakan kenyamanan saat tidur di pangkuannya. Sampai aku benar-benar terlelap.

__ADS_1


Saat aku terbangun, Aku melirik jam di dinding di kamarku. Jam tiga dini hari. Aku menggeliat dan kembali diam.


Aku baru ingat tadi kan aku tidur di bawah sama kak Bayu. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba aku ada di kamarku sendiri.


Aku turun dari ranjang, mau ke kamar mandi. Aku melihat Arka sedang sholat malam. Ya ampun aku benar-benar beruntung mempunyai seorang suami yang rajin ibadah. Di jam seperti ini tuh enak-enaknya orang tidur. Sedangkan dia masih saja sholat.


Aku berjalan menuju kamar mandi untuk buang air kecil. Setelah itu mengambil piyama di ruang ganti. Satu persatu aku lepaskan baju santai ku, aku ganti dengan piyama.


Aku kembali ke kamarku. Aku melihat Arka sudah selesai sholat. Dan dia sedang bersiap untuk tidur. Tapi tidak di ranjang ku. ya, selama ini memang dia tidak pernah tidur bersamaku karna aku yang melarang dia tidur denganku. Aku menyuruhnya tidur di sofa.


Perlahan aku berjalan mendekatinya. Aku duduk di sampingnya yang sudah terbaring di sofa. Aku duduk di samping pinggangnya


" Hai kenapa bangun jam segini ? Mau minum, aku ambilkan ya " Arka segera duduk tapi aku mendorong kembali dadanya agar dia tetap terbaring.


"Nggak usah, aku nggak mau minum. " jawabku


"Terus mau apa ?" tanya Arka lagi .


" Kenapa masih tidur di sofa, kenapa tidak di ranjang bersamaku. " Tanyaku.


"Aku kan nggak berani tanpa seijin kamu" Kata Arka dengan polosnya.


" Aku kan sudah bilang hati dan tubuh ini buat kamu. " Jawabku.


"Ya sudah tidur sini saja sama aku. " Arka menggeser tubuhnya, dan menarik tubuhku agar aku tidur bersamanya di sofa.


Aku hanya menurut saja dengan keinginannya. Aku berbaring di sebelahnya. Memiringkan tubuhku agar wajahku menghadap ke wajahnya. Tangan kanannya aku jadikan tumpuan kepalaku dan tangan kirinya memeluk tubuhku. Aku pun sama , melingkarkan tanganku ke pinggangnya.


Aku mendekatkan wajahku ke dadanya, Aku dapat mendengar detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


Arka memejamkan matanya.


"Arka"


"Hemm" Arka menjawab tanpa membuka mata.


"Kamu sudah tidur?" Tanyaku padanya.


"Belum,Ini sudah hampir subuh, aku sangat ngantuk sekali, aku ingin tidur meskipun hanya sejam saja. "


"Baiklah, kamu tidur saja, aku akan disini menemanimu." Aku pun ikut memejamkan mataku. Meskipun aku sudah tidak merasa ngantuk lagi.


Tidur di sofa ini sungguh tidak nyaman, tidak leluasa bergerak. Bagaimana dengan Arka, yang selama ini aku suruh tidur di sofa. Betapa jahatnya aku ini, membiarkan dia tidur dengan tidak nyaman. Tapi dia tidak pernah mengeluh sedikit pun.


Terbuat dari apa hatimu itu, sehingga kamu bisa sabar menghadapi semua sifat burukku terhadapmu, bahkan kata-kata kasar yang bisa menyakiti hatimu.

__ADS_1


Sedikit pun tak pernah mengeluh atau pun melawan. Bahkan niatan untuk meninggalkanku pun tidak ada sama sekali.


Kesalahan terbesar dalam hidupku jika aku tidak bisa menerimamu sebagai suamiku. Mungkin Tuhan menciptakanmu hanya untukku. Untuk merubah sifat burukku. Mungkin ini sudah saatnya aku mengucapkan terima kasih pada Tuhan, karna telah mengirim malaikat tak bersayap di hadapanku. Sehingga membawa perubahan besar dalam hidupku. Perubahan menjadi lebih baik lagi.


__ADS_2