Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
44


__ADS_3

Arka memarkir mobil di parkiran luar club'. Masih belum begitu ramai, karena masih sore. Tempat ini ramai pengunjung kalau sudah Jam sepuluh ke atas. Aku ambil handphoneku dan aku geser layarnya. Segera aku hubungi Joy.


Begitu terdengar jawaban aku pun segera menyapanya. "Hai Joy, kamu dimana, apa kamu berada di parkiran luar" Kataku.


"Gila, jam berapa nih. Tumben lu udah nongol duluan. Acaranya masih dua jam lagi"


"Kamu dimana?" Tanyaku lagi.


"Gue masih di jalan. Mau ke club' ,Napa sih buru-buru amat. Mau bantuin gue siapin party?" Ledek Joy.


"Ya udah aku tunggu ya. Aku di parkiran luar" Aku putuskan panggilan dengan Joy. Kembali aku simpan handphone ku ke dalam handbag.


"Tante, kenapa kita diam disini saja" Tanya Luna.


"Kita nunggu tante Joy, teman Tante. Sebentar lagi datang. Sabar ya sayang" Aku usap pipinya yang lembut itu.


"Tunggu dulu ya bawel, habis dari sini kita beli mainan ya" Arka mencoba menghibur Luna yang mulai bosan di dalam mobil.


"Enggak ah, Luna nggak mau mainan lagi. Mainan Luna udah banyak." Jawabnya sambil bersungut.


"Nanti kita beli mainan. Besok kan hari Minggu, jadi kita bisa mainan bertiga ya. Om Arka kan libur jadi bisa ikut main sama luna. Ya sayang ya, tapi jangan ngambek gini dong. Lihat pipinya itu, kayak balon mau meletus" Arka terus membujuk Luna. Luna tertawa mungkin karena mendengar kalimat Arka yang terakhir.


"Nah gitu dong, kan tambah cantik." Sahutku sambil mencubit pipinya.


"Keluar yuk, kita cari makanan disana" Arka menunjuk ke arah pedagang kaki lima.


"Tapi disana rame banget sayang" Gerutuku.


"Ngantri bentar aja kok" Ucap Arka.


"Enak nggak sih?" Tanyaku penuh keraguan.


"Pasti enak, buktinya rame kayak gitu" Arka kembali menegaskan.


"Ayo Tante cobain dulu. Pasti enak, lihat tuh banyak yang beli" Luna mencoba membujuk. Kalau Luna sudah ikut bicara aku pun tidak bisa menolak ajakannya. Arka hanya tersenyum melihatku.


Kami pun keluar dari mobil "Sayang jalannya rame, Luna di gendong aja" Ucapku. Arka langsung mengangkat tubuh kecil Luna.


Aku berjalan mengikuti langkah kaki Arka. Sampai di tempat pedagang kaki lima, banyak orang yang berjajar mengantri menunggu pesanan. Arka menyuruhku duduk di kursi plastik yang tersedia. "Duduk sini ya, aku mau pesan dulu." Arka menurunkan Luna dari gendongannya . Lalu Arka berdiri berjajar seperti yang lainnya mengantri membuat pesanan. Setelah itu dia kembali menghampiriku dan duduk di sebelahku.


"Sebentar lagi pesanan datang" Ucap Arka sambil memberikan minuman botol di hadapanku dan juga pada Luna.


"Beneran enak kan makanannya?" Tanyaku lagi


Mendengar pertanyaanku Arka malah terkekeh "Tenang saja, biarpun mereka jualan di pinggir jalan tapi rasanya tidak kalah dengan restoran mewah. Harganya juga murah. Jadi kamu jangan khawatirkan soal itu" Jawab Arka.


Tidak lama kemudian pesanan datang. Tiga porsi siomay lengkap dengan sambal dan juga irisan jeruk limau di piring yang terpisah. Arka dan Luna langsung menyantap siomay itu. Sedangkan aku masih diam saja ragu untuk memakannya. Karna aku tidak biasa dengan makanan yang ada di pinggiran seperti ini.


"Kenapa diam. Ayo makan. Cobain dulu sayang, enak kok. Aku suapin ya" Arka menyodorkan sendok di depan mulutku. Tapi aku menolak. "Nggak usah aku makan punyaku aja" Jawabku.


Aku pun mulai memakan siomay di hadapanku. Dan aku kecap-kecap mulutku untuk merasakan rasanya. Enak, ya rasanya memang enak. Tidak kalah dengan yang di sajikan di restoran mewah.


"Gimana enak kan?" Tanya Arka yang daritadi memperhatikanku makan.


Aku mengangguk. "Iya enak".


"Mulai sekarang kalau mau makan nggak perlu di tempat yang mewah ya. Di tempat kayak gini juga enak kok. Nanti kamu juga bakal terbiasa." Ucap Arka. Aku mengangguk perlahan menjawab ucapan Arka.

__ADS_1


Handphone ku berdering saat aku sedang makan. Aku lihat layarnya dan nama Joy tertera di layarnya. segera aku geser tombol hijau untuk menjawab panggilannya.


"Halo Joy...


Iya aku ada di seberang jalan nih...


Tunggu dulu ya...


Bentar lagi aku kesitu..."


Aku akhiri panggilan dari Joy lalu menyeruput minuman yang di berikan Arka tadi. "Sayang, Joy sudah datang. Kita kesana ya" Ucapku.


"Nggak di habisin dulu" Ucap Arka.


"Nggak boleh membuang makanan lho Tante, nanti makanan itu nangis" Luna menimpali.


Tanpa menjawab ucapan mereka , segera aku lanjutkan makanku tentunya dengan buru-buru.


"Sayang, pelan-pelan kalau makan" Arka mengulurkan tangannya, jarinya mengusap pelan ujung bibirku "Lihat ini" Dia menunjukkan bumbu siomay yang menempel di ujung jempolnya.


"Makasih ya sayang" Ucaoku merasa malu karena makanku sampai belepotan. Luna malah tertawa melihatku seperti ini.


Setelah makan kami bertiga kembali ke parkiran club' untuk menemui Joy yang sudah menungguku. Aku melihatnya sedang duduk di kap mobil bagian depan. Sedangkan seorang lelaki berdiri di depannya. Dari kejauhan terlihat asap rokok yang menyembul keluar dari rokok yang di hisap Joy.


"Sayang, kamu tunggu di mobil aja ya, bawa Luna masuk ke dalam mobil. Aku mau bicara sebentar sama Joy.". Bisikku pada Arka.


Arka memperhatikan Joy dari kejauhan. Mungkin Arka memahami maksudku. Tanpa bertanya lagi Arka membawa Luna ke dalam mobil. Sedangkan aku terus berjalan menghampiri Joy.


Saat melihatku, Joy langsung turun dan membuang rokoknya. "Hai Ca, darimana aja sih lu. Gue nungguin sampe kering disini" Joy memelukku.


"Aku masih cari makan" Jawabku.


"Maaf Joy, suamiku nggak ngijinin. Lagian aku kesini juga bawa anak kecil jadi nggak mungkin aku bawa dia masuk" Jawabku.


"Gue tau, lu pasti nggak di ijinin. It's oke. No problem for me." Joy kembali memelukku.


"Kamu nggak marah kan?" Tanyaku lagi padanya.


"Ya enggak lah. **** banget kalau sampai gue marah ma lu gara-gara beginian doang. Oh ya ca, kenalin nih cowok gue." Joy memperkenalkan seorang lelaki yang daritadi berdiri berhadapan denganku.


Seorang lelaki bule, berkulit putih, rambut hitam, postur tubuh tinggi, bahkan lebih tinggi dari Arka mengulurkan tangannya untuk berkenalan. Aku pun membalas jabatan tangannya.


"Serius ini cowok kamu?" Tanyaku sedikit terkejut.


"Iya, dia kesini jemput gue. Minggu depan gue mau bertunangan dengannya" Jawab Joy.


"Kamu bilang ke Itali karena ada bisnis keluarga, tapi sekarang bilangnya mau tunangan. Mana yang bener sih?"Tanyaku lagi sedikit kesal.


"Iya sorry, kemaren gue bohong ma lu, ma temen-temen juga. Soalnya gue mau bikin kejutan sama mereka. Malam ini gue mau kenalin Robert sama mereka."


"Terus , kamu kesini lagi kapan?" Tanyaku lagi.


"I don't know. Resepsi juga di laksanakan di sana, Karena keluarga Robert inginnya seperti itu" Jelas Joy.


"Aku hanya bisa berdoa buat kalian, dimana pun kalian berada semoga kalian selalu bahagia" Aku menitikkan air mataku di hadapannya.


"Hi, please don't cry dear" Joy kembali memelukku, dan mengusap punggungku.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba kamu ingin menikah?" Tanyaku dalam pelukannya.


"Karena gue ingin hidup bahagia seperti lu" Bisiknya, suaranya seperti tertahan. Aku lepaskan pelukannya dan aku perhatikan wajahnya.


Untuk pertama kali aku melihat Joy meneteskan air matanya. Selama ini Joy tidak pernah mengeluh atau pun bersedih dengan keadaannya. Joy adalah temanku yang paling cuek dengan segala hal. Joy juga temanku yang paling tomboy. Selama kenal dengannya aku nggak pernah melihatnya berpacaran dengan lelaki mana pun. Bahkan sekedar untuk menceritakan lelaki pun dia seperti alergi.


Wajar saja jika aku terkejut saat Joy mengenalkan Robert sebagai pacarnya bahkan calon suaminya. Sejak kapan mereka berhubungan aku pun tidak tahu. Tapi apapun keputusannya aku akan terus mendukungnya.


"Ini air mata apa?" Aku usap air mata Joy dengan jariku.


"Bahagia, karena gue menikah dengan orang yang benar-benar cinta ke gue. bahkan Robert begitu setia menunggu gue selama ini".


"Jadi kalian sudah kenal lama?" Tanyaku, Joy mengangguk mengiyakan.


"Iya"


"Sejak kapan?" Tanyaku lagi.


"Sejak gue study di Melbourne"


Aku bernafas lega mendengar penjelasannya. Tidak lama kemudian aku segera pamit untuk pulang. Joy mengantar sampai di mobilku karena dia juga ingin menyapa Arka.


"Hai bang, thanks ya udah ngantar Caca kesini" Joy melambaikan tangannya pada Arka. Dan Arka membalas dengan senyuman dan anggukan kepalanya.


"Ya udah Joy, aku pamit dulu ya. Sampaikan permintaan maaf ku pada yang lain karena nggak bisa ikut gabung" Ucapku sambil memeluknya.


"Oke nanti gue sampein. Hati-hati ya" Ucapnya.


Aku pun masuk ke dalam mobil "Bye" Aku lambaikan tanganku dari dalam mobil.


Arka menginjak pedal gas perlahan dan segera pergi meninggalkan parkiran. Jalanan kota mulai padat sehingga mobil berjalan merayap. Di dalam mobil, tidak ada kata yang aku ucapkan pada Arka ataupun luna. Masih terbawa suasana dengan keadaan. Aku nggak tahu apa aku harus bahagia atau sedih dengan perginya Joy. Seharusnya aku bahagia karena dia akan menjalani kehidupan barunya, tapi di sisi lain aku harus sedih karena tidak bisa menyaksikan hari bahagia itu.


Aku terkejut saat tangan kiri Arka menyentuh tanganku. "Kamu kenapa?" Tanya Arka menoleh kilas ke arahku lalu kembali menghadap jalanan di depannya.


"Nggak apa-apa kok" Jawabku dengan senyum yang aku paksakan.


"Bohong, kamu terlihat sedih. Ada apa dengan kamu?" Tanya Arka lagi.


Diam sejenak sebelum berkata lagi, Aku genggam erat tangan Arka. " Joy akan menikah" Jawabku lirih.


"Bagus kan. Harusnya kamu bahagia melihat temanmu bahagia. Bukan sedih kayak gini?" Ucap Arka lagi.


"Aku sedih karena nggak bisa hadir di hari bahagia itu. Mereka akan merayakannya di Itali" Jawabku.


"Itali itu dimana Tante, jauh nggak dari sini?" Luna ikut bicara. Dan aku terkejut mendengarnya ternyata Luna menyimak pembicaraanku dengan Arka.


"Dekat kok sayang, disana banyak kebun teh dan tempatnya sangat dingin, sejuk banget" Jawab Arka.


"Kok om tahu, udah pernah kesana ya?" Tanya Luna lagi.


"Tau dong, kan om orang Itali" Jawab Arka.


"Kita ke sana ya om"


"Kemana?" Tanya Arka


"Ke rumah om yang di Itali" Jawab luna

__ADS_1


Aku menoleh ke arah Arka, dan memukul lengannya. Kesedihanku hilang perlahan. Aku tertawa mendengar perbincangan mereka begitu juga dengan Arka. Luna yang memang tidak mengerti hanya senyum-senyum penuh keheranan.


__ADS_2