
Tidurku terasa nyaman berada dalam dekapan Arka, aroma tubuhnya mampu membuatku menjadi tenang. Aku pun membalas dekapannya, aku selipkan tanganku di bawah tangannya. Aku dekatkan kepalaku di dada bidangnya. Kembali memejamkan mata.
"Sudah nggak marah lagi kan" Ucap Arka lirih.
Hah, mataku terbelalak mendengar ucapannya. Aku tersadar. Secepat kilat aku tarik tanganku yang tadi sempat menyelinap di bawah lengannya. Aku geser posisi tidurku kemudian membalikkan badanku membelakanginya.
Sial, Umpatku dalam hati. Kenapa aku bisa lupa kalau aku sedang marah sama dia. Tiba-tiba saja tangannya memeluk pinggangku. "Aku tau kalau kamu nggak akan bisa jauh dariku, meskipun dalam keadaan tidur sekalipun" Ucapnya terkekeh pelan.
Aku berusaha menyingkirkan tangannya. Tapi tangannya terasa begitu kuat menempel di pinggangku.
"Sayang, maafkan aku jika aku terlalu mengekangmu. Tapi ini demi kebaikanmu. Aku akan menjauhkanmu dari hal-hal buruk yang akan terjadi. Tapi sebaliknya aku akan selalu mendukungmu untuk sesuatu yang baik" Ucapnya lirih di belakang kepalaku.
Aku terdiam mendengar ucapannya, mencoba untuk mencerna yang dia katakan. Perlahan aku membalikkan tubuhku menghadap ke arahnya, aku selipkan tanganku di bawah lengannya, wajahku terbenam di dadanya yang bidang itu. Menghirup aroma tubuhnya perlahan, membiarkan aroma itu memenuhi otakku sejenak. Tenang, itu yang aku rasakan.
"Aku yang seharusnya minta maaf, tidak mendengarkan kata-kata darimu. Aku nggak akan pergi kesana" Ucapku lirih. Arka mengecup puncak kepalaku lama. Sedangkan tanganku mengeratkan pelukanku.
"Luna mana?" Tanyaku, karena sejak bangun aku tidak melihat Luna.
"Habis sholat subuh dia ikut mamah jalan-jalan keliling kompleks, sambil olahraga" Jawab Arka.
"Ya udah aku mau mandi dulu ya" Kataku sambil melepas pelukanku. Arka pun melonggarkan pelukannya, membiarkanku untuk pergi mandi.
Saat aku menuruni ranjang, Arka kembali menarik tanganku "Mau di mandiin nggak?" Tanya dia mulai menggodaku.
"Enggak ah" Aku pun menepis tangannya dan tertawa meninggalkannya. Arka pun terkekeh.
Segera aku memasuki kamar mandi, aku perhatikan setiap sudut kamar mandi, keadaannya sudah rapi seperti sedia kala, tidak berantakan seperti yang sudah aku lakukan kemarin. Segera aku selesaikan mandiku dan masuk kamar ganti hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuhku. Ternyata ada Arka di sana.
"Sayang, hari ini kamu nggak ke kantor kan?" Tanyaku saat melihatnya berpakaian rapi.
" Iya aku libur, tapi ada urusan sebentar di luar pekerjaan" Jawabnya sambil mengancingkan kancing kemejanya.
"Urusan apa?" Tanyaku lagi.
"Nanti juga kamu tahu" Jawabannya selalu membuatku semakin penasaran.
Aku pun mendekatinya, menggantikan tangannya mengancingkan kemeja "Apa aku boleh ikut?"
"Sayang, aku ada urusan penting. Jadi maaf aku nggak bisa ngajak kamu. Kamu dirumah aja sama Luna sama mamah ya, atau mungkin kamu mau jalan-jalan sama mereka?" Arka mencoba membujukku.
"Enggak usah, aku di rumah aja" Jawabku kesal. Aku palingkan wajahku dan membuka lemari baju milikku. Memilih baju yang akan aku pakai.
"Sayang jangan kayak gini dong. Aku kan pergi ada urusan penting, bukan untuk main-main nggak jelas"
"Ini kan weekend. Harusnya kamu berada di rumah atau habiskan waktu jalan-jalan sama keluarga. Bukan pergi dengan urusan yang nggak jelas gini." Gerutuku semakin kesal.
Arka menangkupkan tangannya di pipiku. "Iya aku tahu, tapi ini sangat penting. Oke" Senyum menghiasi bibirnya.
Aku lepaskan handuk yang melilit di kepalaku "Kamu ngelarang aku pergi bertemu teman-temanku, tapi kamu malah keluar sendiri. Dasar egois" Aku lempar handuk itu dihadapannya. Aku kembali memasuki kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras.
Sengaja tidak aku kunci pintu kamar mandi, berharap agar Arka menyusulku untuk meminta maaf. Aku tempelkan telingaku di sisi pintu dengan harapan mendengar ketukan pintu darinya. Tapi nihil ketukan itu tidak ada. Sedikit kecewa. Sampai selesai berpakaian pun dia tidak datang menyusulku.
__ADS_1
Perlahan aku keluar dari kamar mandi dan mengedarkan pandanganku di setiap sudut kamar. Tapi keberadaannya tidak terlihat. Kesal, sudah tau aku sedang marah tapi malah di abaikan. Bukannya datang membujuk dan minta maaf malah pergi gitu aja.
Aku keringkan rambutku dengan hair dryer dan mengikatnya gaya ponytail. Aku ambil handphoneku yang tergeletak di atas meja. Lalu keluar kamar untuk segera sarapan.
Aku lihat mamah sedang menata makanan di meja makan. "Mah, Luna dimana?" Tanyaku pada mamah.
"Itu di dapur sedang bantuin masak" Jawab mamah dengan senyum ramahnya.
"Masak?" Tanyaku heran.
"Iya, dia bersikeras mau bantuin masak. Coba lihat sana, dia lagi goreng udang makanan kesukaannya" Mamah tertawa ringan.
Aku pun menurut dengan yang di katakan mamah, aku pergi ke dapur untuk melihat luna. Dan memang benar, Luna sedang bantuin masak. Dia berdiri di atas kursi agar bisa menjangkau penggorengan yang ada di atas kompor.
"Ya ampun sayang, kamu ngapain? Nanti kena minyak panas gimana?" Ucapku saat mendekatinya.
"Tenang aja Tante, ini pelan-pelan kok. Dikit lagi juga selesai" Jawabnya dengan santai.
"Kalau sudah cepat turun" Ucapku lagi penuh kekhawatiran.
Tidak lama kemudian, Luna minta di turunkan dari kursi tempatnya berdiri. Dia juga mengambil semua udang hasil gorengannya dan di tunjukkan padaku.
"Ini semua Luna yang goreng lho Tante. Dan sekarang Luna mau makan, sudah lapar" Katanya dengan polos.
"Ya udah ayo kita sarapan" Ajakku. Aku ambil piring yang dia bawa sambil menggandeng tangannya.
"Ayaaaahhh..." Teriak Luna, lalu dia berlari, aku menatap ke arah yang di tuju Luna. Seorang lelaki berjalan berdampingan dengan Arka. Itu pasti ayah Luna.
Arka berjalan menghampiriku yang masih berdiri mematung. "Sayang, ini ayah Luna" Tunjuk Arka.
"Pak, perkenalkan saya istrinya Arka" Aku pun mengulurkan tanganku untuk berkenalan dengannya.
"Saya Faisal, ayah Luna. Saya sudah tahu banyak tentang nyonya. Saya ucapkan beribu-ribu terima kasih dengan apa yang sudah nyonya dan tuan lakukan pada keluarga saya."
"Maaf pak jangan sebut nyonya, jangan sebut Arka dengan sebutan tuan" Ucapku.
"Tapi sekarang kalian adalah majikan saya" Ucapnya lagi.
"Tapi sebutan itu tidak berlaku di rumah ini. panggil saja non Caca. Itu lebih enak di dengar" Kataku sambil tertawa, Arka mengangguk mengiyakan.
"Jadi sekarang ayah kerja disini, nggak kerja jauh lagi kan yah?" Tanya Luna.
"Iya sayang, sekarang ayah Luna kerja disini, biar bisa pulang setiap hari, jadi Luna nggak lagi nunggu ayah pulang lama-lama" Arka menimpali.
"Horeeee... Luna nggak sedih lagi. Ibu juga pasti seneng kan yah" Suara Luna terdengar begitu ceria mengetahui ayahnya kerja disini.
"Iya sayang, ibu senang sekali. Saking senangnya ibu sampai nangis" Ucap Ayah Luna. Mereka kembali berpelukan.
"Udah dulu ngobrolnya kita sarapan dulu yuk" Ajak mamah dari meja makan.
Mamah pun juga berkenalan dengan ayah Luna. Sarapan kali ini kita lakukan sambil mengobrol banyak hal, tentunya menanyakan perihal pekerjaan ayah Luna yang dulu. Wajar saja kalau dia sekeluarga senang bisa kerja di sini, karena dia sudah mencoba melamar pekerjaan kemana-mana selalu di tolak karena cacat fisiknya akibat kecelakaan. Dia sungguh bersyukur Arka memberi kepercayaan padanya.
__ADS_1
Aku nggak menyangka kalau perbuatan kecilku begitu berharga buat kehidupan orang lain.
"Ayo nambah lagi, jangan sungkan-sungkan. Kita disini adalah satu keluarga. Jadi nggak perlu sungkan" Ucap mamah ketika mengetahui makanan di piring pak Faisal sudah mau habis.
"Luna, jangan di habisin. Itu kan banyak sekali. Nanti yang lain nggak kebagian" ucap pak Faisal pada luna setengah berbisik.
"Pak, nggak apa-apa, itu memang buat Luna. Jangan permasalahkan soal makanan. Di belakang juga masih banyak kok. Jadi nggak apa-apa kalau Luna menghabiskannya" Ucapku.
"Maaf, tapi ini banyak sekali yang dia ambil" Pak Faisal seperti malu karena aku menegurnya.
"Nggak apa-apa sayang habiskan saja" Mamah menimpali.
"Saya minta maaf, selama ini saya nggak pernah ngasih makanan enak buat anak saya. Tapi disini anak saya benar-benar di manjakan. Kalian benar-benar orang baik. Semoga Allah memberi kebahagiaan di keluarga kalian" Ucap pak Faisal.
"Aamiin" Jawab kami serentak.
"Sudah pak, sekarang nggak perlu khawatir soal itu, pak Faisal dan Bu Dina orang baik, yang selalu bersabar dalam menghadapi ujian hidup. Inilah balasan dari Allah. Jadi jangan lagi beranggapan kalau pak faisal berhutang budi pada keluarga saya" Ucap Arka Pak Faisal mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah selesai sarapan Arka berpamitan untuk pergi bersama pak Faisal. Entah mau kemana Arka tidak mau mengatakannya. Tapi aku sudah tidak mempermasalahkannya lagi.
"Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Aku cium tangannya dan di balas kecupan kilas di keningku.
Aku lambaikan tanganku padanya sampai bayangan mobilnya hilang terhalang pintu gerbang. Aku dan Luna kembali masuk ke rumah.
"Tante, kalau nanti punya anak, Tante maunya cewek dulu atau cowok dulu?" Tanya Luna dengan tiba-tiba.
"Hmm... mau cewek" Kataku.
"Kenapa mau cewek?" Tanya Luna lagi.
"Biar kayak Luna, cantik, lucu, pinter, penurut, solehah, dan baik hati" Jawabku yang membuat Luna tertawa.
"Tapi kalau nanti Tante nggak bisa ngikat rambut anaknya gimana"
"Hmm.. kan ada om Arka" Jawabku enteng.
"Iihh Tante... nggak boleh gitu. Tante kan mama nya, jadi harus bisa. Kayak ibu, ibu orangnya pintar banget. Serba bisa. Ibu melakukan semua pekerjaannya. Bahkan ibu juga bisa benerin genteng yang bocor waktu ayah nggak ada"
"Hah... yang bener?" Tanyaku nggak percaya.
"Iya Tante. Ibu melakukannya sendiri. Jadi nggak pernah mengalami kesulitan biarpun ayah nggak ada" Ucapnya lagi.
Seorang wanita yang tak pernah bergantung pada orang lain bahkan pada suaminya. Tidak ingin orang lain mendengar keluhannya. Meskipun terasa sulit tapi tetap di lakukannya demi melihat senyuman anaknya. Seoarang wanita yang tidak mau menyerah dengan keadaan. Benar-benar seorang wonder woman.
"Luna sayang nggak sama ibu?" Tanyaku
"Sayang banget. Kalau Luna udah gede bisa cari uang sendiri, Luna mau bahagiakan ibu. Tiap hari Luna akan kasih ibu makanan yang enak-enak, belikan baju yang bagus, Luna juga akan ngajak ibu jalan-jalan. Biar ibu merasa senang" Luna terus saja berceloteh dengan polosnya. Tapi itu semua adalah keinginannya untuk membahagiakan orang tuanya. Masih kecil keinginannya begitu luar biasa.
"Kita ke atas yuk Tante, kita main boneka" Ajak Luna.
__ADS_1
"Ayok" Aku pun menggandeng tangannya menaiki tangga menuju lantai atas. Aku perhatikan rona wajah Luna. Senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Bahkan terlihat lebih bahagia daripada saat dia di ajak ke wahana air waktu itu. Semoga senyum bahagia itu selalu menghiasi wajah mungilmu sayang, batinku.