
Mataku mengerjap berkali-kali saat aku terbangun dari tidurku. Aku melihat keadaan sekitarku. Suasana sepi lengang, tidak ada siapa pun di kamar. Hanya ada hembusan angin yang masuk melalui celah pintu. Pintu kaca pemisah kamarku dengan balkon yang memang sengaja aku buka sedikit agar ada udara segar yang masuk.
Aku mencoba bangun dan duduk bersila. Seluruh badanku terasa pegal semua. Terutama kakiku. Mungkin karna tadi pagi aku melakukan jogging. Sebelum bangun, aku lakukan sedikit gerakan di tangan dan kakiku sebelum berdiri. Lalu aku menuju kamar mandi untuk cuci muka.
Beberapa saat kemudian aku segera keluar kamar untuk mencari Luna dan juga Arka. Sampai di ruang tengah aku melihat mamah yang sedang sibuk menata minuman di atas nampan.
"Sayang, kamu sudah bangun?" Sapa mamah saat melihatku turun dari tangga.
"Iya mah, Luna sama Arka kemana, kok mereka nggak ada di kamar, disini juga mereka nggak kelihatan." tanyaku dengan mata yang terus mengedarkan pandangan ke berbagai sudut ruangan.
"Mereka ada di halaman" Jawab mamah.
"Oohh.. kok tumben mereka disana. Terus itu minuman banyak sekali mah, memangnya ada tamu?" Tanyaku sambil mengengok ke arah ruang tamu yang memang sepi.
"Itu buat Luna sama teman-teman kamu sayang, mereka kehausan katanya." Ucap mamah
"Hah...temanku? siapa?" aku melongo mendengarnya.
"Iya teman kamu, Tapi Mamah nggak tahu siapa namanya, mereka ada di halaman sama Luna" Ucap mamah lagi sambil mengangkat nampan tadi.
Aku segera berlari mendahului langkah kaki mamah. Dan memang benar yang di bilang mamah, ada temanku. Yaitu Alda dan juga Firna.
"Hai... kalian kesini nggak ngasih kabar dulu" Sapaku sambil memeluk Alda.
"Gimana kabar lu?" Tanya Alda.
"Baik" Kemudian aku memeluk Firna.
"Ini kenapa kalian bisa ada disini, gimana ceritanya?" Tanyaku lagi.
"Gue sama Alda dapat undangan, ya sudah kita datang aja. Apalagi kalau undangannya makan-makan." Firna tertawa.
"Undangan? Undangan apaan?" Aku mulai penasaran dengan yang Firna katakan.
"Aku yang mengundang mereka sayang, nggak apa-apa kan aku ngundang mereka buat makan bersama disini?" Arka mendekatiku dan mencium puncak kepalaku.
"Ya tentu saja boleh sayang, mereka temanku. Nggak mungkin kan aku melarang mereka datang kesini. Malah aku mau ucapin terima kasih sama kamu, udah ngajak mereka kesini" Jawabku, dan tanganku pun bergelayut manja di lengannya.
"Hmmm.. gini nih kalau orang sedang jatuh cinta. Nggak liat keadaan sekitar. Ada anak kecil dan juga jomblo akut, tapi tetap mesra aja." Ledek Alda. Aku pun tersipu malu dan pipiku sepertinya merah merona.
"Ayo ini di minum dulu, Tante udah buatin minuman dingin. Pasti seger banget" Mamah meletakkan nampan itu di atas meja.
"Omaaaaa... Luna mau. Luna haus banget." Luna pun langsung berdiri dan berlari menghampiri mamah. Daritadi dia sibuk membantu Arka mendirikan tenda. Bahkan kedatanganku pun diabaikan olehnya. Luna langsung meneguk habis minuman yang disediakan oleh mamah. Lalu kembali untuk membantu Arka tanpa menyapaku.
"Ca, lu udah hamil belum?" Bisik Alda.
"Apaan sih. Kok nanyain itu?" Protesku.
"Ya gue kan nanya. Lu nggak nunda buat punya anak kan" Tanya Alda lagi.
"Dengerin ya. Aku sama Arka nggak nunda buat punya anak. Aku sama Arka sama-sama pingin banget punya anak. Lagipula aku sama Arka nikah juga belum lama. Ya wajar lah kalau belum hamil. Emangnya buat anak semudah buat adonan donat" Gerutuku.
__ADS_1
"Iya juga ya" Alda menggaruk kepalanya yang memang tidak gatal.
"Tante liat deh rumah-rumahannya besar sekali. Luna mau bobok di dalam." Luna menunjukkan padaku tenda yang yang sudah selesai didirikan itu.
"Wah iya, besar sekali. Ya udah bobok sana. Tante mau siapin udang bakar buat Luna. nanti kalau bangun tidur langsung makan ya" Ucapku
"Yeeeeeeee... aasiiikk" Luna meloncat kegirangan dan segera masuk kedalam tenda.
Aku melihat Arka datang dengan dua kipas angin di kedua tangannya. "Sayang, buat apa kok sampe dua gini?" tanyaku.
"Yang satu buat di dalam tenda, dan yang satu lagi buat kita biar nggak kepanasan" Jawabnya.
Begitu besar perhatian Arka terhadap Luna. Meskipun Luna bukan anak kami. Tapi rasa kasih sayangnya sudah seperti kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. Kebaikan apalagi yang ada di dalam dirimu Arka, batinku.
Alda menepuk pundakku "Eh ngelamun aja lu. Sini bantuin gue nyiapin buat steak"
"Kalian udah ngerencanain ini semua?" Tanyaku.
Alda mendekatkan mulutnya di samping telingaku. "Bukan gue, tapi laki lu"
"Beruntung banget lu punya laki kayak dia Ca. Coba aja gue yang dapet laki kayak gitu. Serasa sempurna hidup gue" Gerutu Firna yang tiba-tiba berada diantara kami.
"Ngaco lu, yang ada juga lari duluan tuh orang kalau liat lu" Tegas Alda.
"Masih ada nggak ya, laki-laki seperti bang Arka?" Firna terus saja menggerutu dengan mata yang menerawang jauh ke atas.
"Woy, bangun... ngimpi lu ketinggian" Alda menepuk pipi Firna seperti membangunkan orang yang sedang tidur.
Tiba-tiba saja Arka menyahut dari belakang kami " Emangnya apa mimpi kamu Fir?"
Kami bertiga jadi salah tingkah dan saling senggol dengan siku. "Eh ini bang, lagi menghayal aja, andaikan mimpi bisa jadi kenyataan" Jawab firna dengan gugup.
"Terus berusaha dong" Jawab Arka dengan entengnya.
"Bang, kira-kira Abang punya kembaran nggak sih, kalau punya kenalin dong bang biar gue jadikan suami langsung, sekarang juga. Gue kan juga pingin punya suami kayak bang Arka yang cakep, baik, dan pengertian" Ucap Firna tanpa malu. Aku menoleh ke arah Arka melihat ekspresi wajahnya. Arka hanya mengerutkan dahinya.
"Sayang, lupain ucapan Firna. Jiwanya sedang terganggu gara-gara di tinggal pacarnya, jadinya ya gini ucapannya suka ngelantur" ucapku.
"Iya bang, bener kata Caca. Firna memang lagi terganggu" Sahut Alda.
"Enak aja, gue masih waras" Firna menyahut dengan nada kesal.
"Hahaha... kalian ini ya, ada-ada saja yang di bahas" Arka pun tertawa dan meninggalkan kami bertiga.
Kami kembali melanjutkan menyiapkan beberapa bahan makanan yang akan di panggang nanti. Sesekali kami bercanda, saling beradu argumen, tertawa lagi, merasa kesal tapi sebentar juga kembali tertawa. Ini lah kami dengan segala sikap dan sifat yang berbeda. Tapi itu semua tidak menjadi penghalang persahabatan kami. Biarpun kami saling marah tapi itu tidak akan bertahan lama.
"Siapa tuh" Firna menunjuk dengan isyarat matanya. Mataku tertuju pada oandanga matanya . Dari kejauhan terlihat ayah Luna yang sedang berjalan ke arahku. Aku tahu niat kedatangannya, Dia datang dengan tujuan mau menjemput Luna untuk pulang ke rumahnya. Aku katakan saja kalau Luna sedang tidur pulas. Dan aku menyuruhnya untuk menunggu Luna bangun. Karna aku nggak mau membangunkan Luna. Dengan senang hati Ayah Luna menyetujui.
Tidak lama kemudian Arka datang dan berbicara dengan ayah Luna dengan jarak yang agak jauh dariku, sehingga aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Entahlah apa yang mereka bahas, setelah mereka berbicara Arka datang mendekatiku dan meminta ijin untuk pergi ke suatu tempat.
"Nggak lama kan perginya? sebelum makan malam udah pulang lho ya" Tegasku
__ADS_1
"Insya Allah sayang. Kalau sudah selesai urusannya langsung pulang kok. Nanti aku kabari ya" Ucapnya.
Aku cium tangannya saat berpamitan dan seperti biasa Arka selalu mengecup keningku sekilas sebelum dia pergi.
Setelah Arka pergi, Firna dan Alda mulai meledekku. "Hmmmm... Tambah iri aja gue liatnya" Gerutu Firna.
"Diam aja tuh mulut resek banget lu liat mereka mesra. Lu tau nggak sebenernya gue sama lu itu sama, gue juga iri" Alda pun berkata dengan suara merengek yang sengaja di buat-buat. Dan aku hanya tertawa melihat mereka.
"Daripada kalian kayak gini, mending kalian nikah aja deh. Biar ada tempat buat kalian berkeluh kesah. Berbagi bahagia dan juga berbagi kesedihan." Ucapku.
"Huuu, sekarang aja lu bisa ngomong gini. Masih ingat nggak, siapa yang mau kabur sehari setelah ijab kabul. Siapa juga yang menukar paket honeymoon dengan double bad , terus siapa juga yang udah membuang mas kawin di tong sampah . Kalau lu inget itu, ada nggak rasa penyesalan di hati lu" Ucapan Alda mengingatkan bahwa begitu bodohnya diriku ini.
Aku terdiam, kalau ingat itu semua, tidak hanya rasa menyesal yang ada. Tapi juga rasa sakit hati karena sudah menyakiti Arka yang telah bersedia mengorbankan hidup dan cintanya demi menuruti kemauan papaku. Kalau mengingat itu semua rasanya aku ingin menenggelamkan diriku ke dasar laut. Betapa bodohnya diriku karena menilai Arka hanya dengan sebelah mata. Menilainya secara materi. Karena dari awal aku sudah mengira bahwa dia melakukan ini semua karena uang.
Tapi kini aku sadar bahwa Arka bukan lelaki seperti yang aku pikirkan. Arka adalah lelaki yang penuh kasih sayang, beriman, dan bertanggung jawab. Kalau saja aku mengetahui sifatnya dari awal, mungkin aku nggak akan melakukan kebodohan yang akan menghantui seluruh pikiranku sampai saat ini.
"Ca, ngelamun aja" Firna menepuk punggungku membuyarkan lamunanku.
Alda mengusap air mataku yang tanpa aku sadari sudah menetes melewati pipiku. Lalu Alda memelukku "Maafin gue ya, udah ngingetin masa-masa kebodohan lu" Firna pun ikut serta memeluk.
"Waahhh, ada apa ini kok peluk-peluk." Suara mamah mengagetkanku. Kami pun melepaskan pelukan kami. Aku tepuk-tepuk pipiku agar tidak terlihat habis menangis.
"Tante, bikin kaget aja. Kita lagi kangen-kangenan tan. Soalnya sekarang kan jarang ketemu sama Caca." Sahut Alda memberi alasan.
"Kenapa nggak main kesini, kalian kesini saja kalau ada waktu" Ucap mamah sambil menata makanan ringan di depan kami.
"Kan jauh Tante, capek di jalan" Firna pun turut serta memberi suara.
"Nginep saja disini. Kalian nggak kerja kan?" Tanya mamah.
"Saya kerja Tante" Sahut Alda.
"Oohh, kerja dimana?" Tanya mamah lagi.
"Di bengkel mobil Tan." jawab Alda malu-malu.
"Di bengkel? Itu kan pekerjaan lelaki" Sahut mamah.
"Tenang aja tante, biarpun Alda cewek tapi tenaganya nggak kalah sama pekerja kasar. Itu lah sebabnya dia juga awet banget jomblonya. Cowok-cowok pada takut kalau mau deketin" Firna tertawa, dan tanpa banyak kata Alda menyumpal mulut Firna menggunakan paprika yang ada di depannya.
Mamah tertawa melihat tingkah konyol mereka begitu juga denganku.
"Apapun pekerjaannya yang penting halal ya sayang, supaya berkah dunia akhirat" Ucap mamah sambil mengusap rambut hitam Alda.
"Iya Tante" Sahut Alda.
_
Stay healthy ya guys....
Semoga semua ini cepat berlalu dan normal kembali. Supaya kita bisa kembali belajar, bekerja Dan beribadah seperti semula.
__ADS_1
Aamiin...