
Pukul enam pagi Arka pulang dari rumah sakit karena ia akan berangkat kerja. Dan mamah sudah meminta supaya sepulangnya Arka, mamah yang akan jaga Rani di rumah sakit. Aku tidak bisa mencegahnya, apalagi hari ini aku juga sudah ada janji dengan Alda.
Semalam aku sudah janjian dengan Alda, aku ragu kalau Arka tidak memberikan ijin. Apa aku tidak usah bilang ya ke Arka, kalau aku akan pergi dengan Alda. Tapi kan kalau istri pergi tanpa ijin suami, itu tidak di perbolehkan. Semoga saja Arka memberikan ijin.
"Sayang, aku bosan di rumah terus. Boleh nggak kalau nanti siang aku pergi sama Alda?" Tanyaku dengan lembut.
"Kemana?" Tanya Arka.
"Ke tempat Firna" Jawabku.
"Pergilah, tapi ingat jangan sampai sore lho ya. Pokoknya saat aku pulang kerja, kamu harus sudah ada di rumah, kamu juga jangan terlalu capek waktu disana" Ucapan Arka begitu tegas.
"Iya sayang, palingan aku pulang siang kok"
"Terus kabari aku ya, aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu dan juga calon anak kita"
"Siap bos" Arka mengacak rambutku kasar.
"Ayo kita sarapan dulu" Ajak Arka.
"Aku lagi nggak enak makan"
"Kenapa, rewel lagi?" Tanya Arka.
"Nggak tau nih, tiba-tiba agak rewel lagi"
"Ya sudah, nggak usah makan dulu. Tapi tetap temani aku di meja makan ya"
Arka selalu minta untuk di temani saat makan. Kadang kalau makan siang dia tidak sempat pulang, Arka Selalu minta video call untuk menemaninya makan.
Setelah sarapan Arka segera berangkat ke kantor. Sedangkan aku bersiap untuk menunggu kedatangan Alda. Tadi pagi aku sudah mengirimkan chat padanya, supaya segera menjemputku.
***
"Ca, beneran nggak apa-apa loe pergi ma gue?" Tanya Alda saat kami siap berangkat.
"Beneran dong, kalau nggak di ijinin mana berani aku pergi" Jawabku.
"Waaahh istri Solehah, nggak nyangka ternyata loe bisa berubah 180 derajat. Salut gue sama loe" Aja memujiku, karena dia tahu gimana aku sebelum menikah.
"Alhamdulillah, ini semua karena peran suamiku. Makanya kalau kamu nikah, jangan salah pilih"
__ADS_1
"Huuuu sekarang aja loe bisa ngomong kayak gini. loe lupa siapa yang nyariin loe laki, kan bokap loe, bukan loe sendiri. Dan loe lupa gimana saat awal nikah ma laki loe? Bahkan loe rela minta cerai supaya dia balik lagi sama cintanya" Apa yang di katakan Alda memang benar.
Ucapannya mengingatkan ku pada suatu kesalahan, karena dulu aku sempat menolak Arka, bahkan saat sudah menikah pun aku masih berusaha menjauh darinya. Tapi seiring berjalannya waktu, aku bisa membuka hatiku untuknya.
"Hehehe.. iya iya. Itu kan dulu. Sekarang udah beda" Aku pun terkekeh, meskipun dalam hati sebenarnya merutuki kesalahanku.
"Ca, sebelum berangkat gue mau makan dulu. Sumpah gue laper banget. Bisa aja sih gue makan di jalan tadi. Tapi gue kangen masakan mamah mertua loe. Boleh kan gue minta makan?"
Aku angkat bantal sofa dan aku timpuk kepala Alda.
"Awww, apaan sih, kok galak bener" Alda mengusap kepalanya yang tidak sakit.
"Sejak kapan kamu minta makan harus ijin dulu sama aku?" Aku mendengus kesal dengan ucapan Alda.
Bagaimana pun juga daridulu aku dan dia tidak pernah perhitungan, begitu juga dengannya.
"Kan ini rumah loe, sebagai tamu yang baik, ya gue harus ijin dulu lah. Daripada nanti loe ngusir gue" Alda terkekeh. Lalu menggeser duduknya mendekatiku dan berbisik dengan pelan "Gue juga gak mau bikin loe malu di depan mertua loe, gara-gara punya teman yang gk sopan kayak gue"
"Nggak usah bisik-bisik gitu geli tahu" Aku usap-usap telingaku. "Lagian mamah mertuaku nggak ada di rumah, di rumah sakit nungguin Rani"
Kini giliran Alda yang memukulku menggunakan bantal bantal sofa " Bilang dong daritadi" Sungutnya kesal lalu kembali duduk menjauh.
"Lha kamu nggak nanya" Giliranku terkekeh.
"Mau makan lah" Lalu dia berjalan menuju ruang makan. Aku pun mengikutinya.
"Waahh kayaknya enak nih. Makan aaahh" Alda segera duduk dan menyiapkan sarapannya.
"Non Alda, mau minum apa non?" Buk Mar sudah berdiri di samping Alda.
"Jus jeruk alpukat ada?" Tanya Alda.
"Kebetulan nggak ada non, sepertinya masih belum musim alpukat" Jawab buk mar.
"Yang lain aja Al. Ada jeruk, apel, jambu, semangka, melon juga ada." Jawabku "Buk, minta tolong ya buatin jus wortel buatku. Tapi jangan pake susu ya" Pintaku pada buk mar.
"Kalau gitu gue juga mau dong jus wortel. Tapi pake susu pake gula, pokoknya yang manis buk" Ucap Alda lalu dia kembali menyiapkan nasi ke mulutnya.
Alda menoleh ke arahku "Loe, nggak makan?"
"Enggak ah, lagi males. Aku makan ini aja" Di tangan ku sudah ada brownies favoritku.
__ADS_1
Kalau dulu sebelum hamil sarapannya cukup dengan salad saja, kadang hanya sepotong roti atau brownies. Tapi sejak hamil menu sarapanku sudah berubah menjadi camilanku. Selain mudah lapar, aku juga tidak mau kalau anakku kekurangan gizi atau vitamin.
"Kamu beneran libur hari ini Al?" Tanyaku pada Alda.
"Bukan libur, tapi gue ijin nggak kerja" jawab Alda.
"Sama aja dodol, kan kamu gk kerja"
"Jelas berbeda dong, kalau libur gue tetap di gaji tapi kalau gue ijin, tidak dapat gaji" jelas Alda.
"Lagian buat apa sih kamu kerja sampe lembur-lembur gitu. Padahal kamu nggak pernah kekurangan uang"
"Emangnya loe lupa sama keadaan gue?" Alda enggan menjelaskan lagi masalah yang dia hadapi.
"Iya aku ngerti, ya udah habisin tuh makannya. Kalau kurang nambah aja, masih banyak tuh makanannya" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan supaya Alda melupakan kesedihannya. Lebih tepatnya bukan lupa, tapi menunda untuk mengingatnya.
Alda kembali melanjutkan makan. Setelah itu kami berdua bersiap untuk ke tempat Firna. Tak lupa aku mengirim pesan terlebih dahulu pada Arka.
(Sayang, sekarang aku sama Alda udah mau berangkat)
(Ya sudah hati-hati) balasan dari Arka.
Aku masukkan kembali ponselku ke dalam tas.
"Sudah siap?" Tanya Alda.
"Sudah. Sebentar aku mau pamit dulu ke buk mar" Aku berjalan menuju kamar buk mar.
"Mbak Susi, buk mar kemana?" Tanyaku karena di kamarnya hanya ada mbak Susi saja. Kamar itu cukup luas jadi bisa di gunakan berdua.
"Buk Mar masih ke apotik beli obat"
"Lho siapa yang sakit? Kenapa nggak bilang kalau butuh obat?" Tanyaku.
"Asam urat buk Mar kambuh"
"Oh gitu. Tapi bilangin ya ke buk mar kalau mau beli apa-apa itu bilang, biar nanti di ganti uangnya. Kamu juga mbak, kalau butuh obat atau apa, bilang ya. Jangan beli pakai uang pribadi. Jangan ada kata nggak enakan. Kalian semua itu tanggung jawabku sama suamiku. Jadi nggak mu terjadi apa-apa sama kalian" Mbak Susi hanya mengangguk. "Ya sudah, aku mau pergi dulu ya"
Aku pun menghampiri Alda yang sudah standby di garasi.
"Lama amat sih loe?" Gerutu Alda.
__ADS_1
"Sabar Napa, masih ada urusan dikit" Jawabku