
Setelah mandi aku langsung keluar dari kamar Alda, Aku melihat Arka sedang menyandarkan kepalanya di sofa, kedua matanya terpejam. Aku berniat untuk mendekatinya. Tapi Alda mencegahku dia menarik lenganku.
"Biarkan dia istirahat." bisiknya di telingaku.
Aku pun mengurungkan niatku untuk mendekatinya.
"Gue lapar " ucapku pada Alda
"Tuh , udah gue siapin. " raut wajah Alda menunjukkan kekesalannya.
Mungkin dia kesal dengan sikapku yang selalu kekanakan. Jujur saja aku adalah orang yang selalu menggantungkan hidup pada orang lain. Sampai hal kecil pun aku harus menyuruh orang lain.
Alda menyodorkan roti bakar di hadapanku. Aku pun mulai memakannya.
"Ca, coba deh mulai sekarang lu belajar mandiri. Jangan selalu bergantung sama orang lain. Lama-lama orang itu bisa bosan ngadepin sifat lu. " omel alda.
"Oohhh... jadi lu mulai bosan ma gue." aku pun mencebikkan bibirku.
"Bukan gitu Ca, Coba deh lu belajar mandiri, belajar jadi istri yang baik. Berusahalah Ca , gue yakin laki lu orang baik. Jangan pernah sakiti dia" Alda terus saja berbicara.
"Udahlah... ceramah melulu dari tadi. " aku pun meletakkan roti yang sudah aku gigit. Karna kesal mendengarkan dia ngomel terus.
aku segera mendekati Arka dan membangunkannya. Aku tarik-tarik kaos yang dia pakai.
"Arka.... Arka... ayo pulang. "
"Eehmm... kamu sudah bangun. Maaf aku ketiduran. " Sambil mengusap kedua matanya Arka segera berdiri.
Tiba-tiba Alda datang dengan membawa segelas air dan memberikannya pada Arka.
"Nih mas, minum dulu. Biar nggak pusing. " Arka pun menerimanya dan segera meminum air yang di berikan Alda.
"Makasih banyak ya. " Ucap Arka sambil tersenyum pada Alda. Aku tidak suka melihat pemandangan ini. Langsung aku tarik tangan Arka untuk segera keluar dari apartemen Alda.
Begitu sampai di luar Arka hanya tertawa kecil. " Kenapa kamu tiba-tiba aneh gini sih?"
Langsung aku lepaskan tangannya dan berjalan mendahuluinya.
Dia pun berjalan mengikutiku. Sampai di mobil Arka kebingungan mencari kunci mobil.
"Kayaknya ketinggalan deh kuncinya. " Sambil merogoh-rogoh kantong celananya.
"Kenapa bisa ketinggalan sih, kamu nih bener-bener nyebelin. " gerutuku.
Dia sama sekali tidak menghiraukan ocehanku, malah mengambil ponsel di kantong celananya. Dan menelpon seseorang.
"Halo Alda, minta tolong dong. Coba lihat di meja ada kunci mobil nggak.......... Oke terima kasih... aku tunggu "
Hah Alda, sejak kapan mereka bertukar nomer hp.
Sekitar lima menit, barulah Alda muncul sambil membawa kunci mobil.
"nih, kuncinya. " menyerahkan kunci mobil ke tangan Arka.
Alda menoleh ke arahku, tapi aku segera memalingkan wajahku, pura-pura tidak melihatnya.
"Udah lah cepetan buka, malah ngobrol aja."
"Iya sabar." Arka membuka pintu mobil, dan menurunkan kacanya agar bisa melihat Alda.
__ADS_1
"Duluan ya " Sambil melambaikan tangannya.
"Oke,,bye" Alda juga melambaikan tangannya.
"ehemm...fokus aja nyetirnya. " Arka hanya tersenyum tanpa menoleh ke arahku. Kami pun saling diam.
"Mau pulang, apa mau ke rumah baru? Tadi kakakmu nelpon dia sedang di rumah baru untuk ngecek desain interiornya. " Tanya Arka memecah keheningan.
"Terserah" jawabku dengan ketus.
"Kamu kenapa sih , marah-marah nggak jelas, apalagi tadi sama Alda teman kamu sendiri. "
"Bukan urusanmu"
"Aku hanya ingatkan sama kamu, bersikaplah dewasa dan... "
"Sudah cukup ya... nggak usah sok ceramah di depanku" Aku pun menghentikan kalimat Arka yang belum selesai di ucapkannya.
"Berhenti sekarang dan turun dari mobilku." Teriakku.
Arka pun benar-benar menghentikan mobilnya. Dan langsung membuka pintu. Tanpa bicara apapun dia langsung pergi begitu saja.
"Arka ... tunggu.... Arkaaa" Aku berusaha berteriak memanggilnya tapi dia tidak mau menoleh. Dia terus saja berjalan.
Karena merasa kesal aku biarkan saja dia, lalu aku langsung tancap gas, pulang ke rumah.
Begitu sampai di rumah aku langsung membuka pintu dan menutup kembali dengan keras. Sampai mbok Imah berlari menghampiriku .
"Non ada apa kok sampai banting pintu, lho den Arka kemana? " Mbok Imah membuka pintu untuk mencari Arka .
"Dia pergi mbok" Teriakku sambil menaiki tangga.
"Jalan kaki." Jawabku singkat.
Aku terus berjalan menaiki tangga menuju kamarku. Mbok Imah mengikutiku sampai masuk ke kamar.
Aku merebahkan diriku ke atas kasur. Mbok Imah duduk di sampingku.
"Non, bertengkar sama den Arka? " tanya Mbok Imah dengan lembutnya. Meski diam pun Mbok Imah seolah tau apa yang terjadi antara aku dan Arka.
"Non, den Arka itu orang baik. Jangan sakiti dia. " Mbok Imah berkata sambil memijat lembut kakiku. Aku pun menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan mencoba mencerna perkataan mbok Imah, karna selama ini yang dia katakan selalu saja benar.
"Mbok, kenapa sih semua orang bilang kalau Arka itu baik. Apa mungkin dia benar-benar orang baik. Atau mungkin aku yang terlalu jahat sama dia?" Kataku dengan nada yang cukup lembut, karna aku nggak bisa bicara kasar sama mbok Imah apalagi membentaknya.
"Coba non perhatikan, selama ini apa pernah den Arka berbuat kasar sama non, apa pernah den Arka berbuat hal yang bisa nyakiti perasaan non, atau apa pernah den Arka berbuat hal yang negatif lainnya. Nggak pernah kan non...?? jangankan sama non Caca sebagai istrinya. Den Arka baik sama semua orang , sama mbok , sama Pak Min dia juga baik dan sopan non. "
"Mbok, kenapa aku nggak menyadari hal itu ya mbok, aku jahat sama dia" gerutuku
"Non bukan orang jahat. Non hanya belum bisa menerima kehadiran den Arka dalam hidup non. Jadi perbuatan sebaik apapun yang di lakukan den Arka akan terlihat buruk di mata non Caca. "
Aku mencoba mencampur semua kata-kata mbok Imah dan mencoba mencerna kebenarannya. Kali ini aku yakin sekali dengan yang dikatakan mbok Imah, Benar juga yang di katakannya.
Aku bangun dan duduk di hadapan mbok Imah. sambil memegang tangan keriputnya.
" Mbok, aku harus bagaimana ?" Kataku .
"Non harus minta maaf sama den Arka, tunjukkan sama den Arka bahwa non bukan hanya istri yang cantik tapi juga bisa jadi istri yang baik. " Tangan mbok Imah membelai rambut yang menutupi sebagian wajahku dan menyelipkan di belakang telingaku.
Aku pun memeluk tubuh mbok Imah. mendekapnya erat. "Mbok makasih banyak ya mbok, selalu perhatiin Caca. Jadi tambah sayang nih sama mbok" Ucapku di tengah pelukan .
__ADS_1
"Mbok juga sayang sama non Caca, mbok bahagia lihat non Caca bahagia. " kata mbok Imah sambil melepas pelukanku.
" Mbok, aku capek mau istirahat dulu ya. kalau ada yang nyariin bilang aja nggak bisa di ganggu. "
"siap non, mbok juga mau masak buat makan malam."
Kemudian mbok Imah pergi meninggalkanku di dalam kamar. Aku pun mulai memejamkan mata dan tertidur.
Cukup lama aku tertidur tanpa ada gangguan. Aku merasakan tidur siangku begitu pulas sekali. Karena saat bangun tidur aku merasa segar dan tidak pusing lagi.
tookk
tookk
tookk
Terdengar pintu kamarku diketuk , pasti itu Arka pikirku. Tapi kenapa tidak langsung masuk. Biarlah aku yang mengalah aku yang akan buka pintu.
Begitu pintu terbuka ternyata kak Bayu yang mengetuk pintu.
"Kakak.." ucapku sedikit kecewa
"Gimana sudah enakan ? kata Arka kamu lagi nggak enak badan. Makanya tadi dia kesana sendiri "
" Udah mendingan kok" jawabku asal padahal aku nggak bilang aku lagi sakit.
Mungkin Arka sengaja membuat alasan aku sakit agar tidak terlihat ada sedikit masalah antara aku dan Arka.
" Terus, sekarang Arka kemana kak?" Tanyaku.
"Oh tadi dia lagi ngantar temannya" Jawab kak Bayu.
"Teman? Cewek? " Tanyaku penasaran dan kak Bayu hanya mengangguk.
"Serius kak..??" Kak Bayu kembali mengangguk ,Emosiku mulai terkumpul kembali. Pasti Alda , pikirku.
" Tapi bohong..... Cieeee cemburu yaaa " Ledek kak Bayu yang spontan membuatku langsung memukulnya. Tapi untungnya kak Bayu berhasil mengelak. Ada rasa malu saat kak Bayu bilang seperti itu. Aku pun langsung menutup pintu kamarku.
Tapi kenapa Arka tidak tampak sama sekali. Apa dia masih marah karena ucapanku menyinggung perasaannya . Sehingga sampai sekarang dia masih marah dan nggak mau pulang.
Mau nanya sama kak Bayu tapi nggak berani. Mau hubungi dia langsung pun aku nggak tau nomernya. Gimana ya caranya...
Saat aku mencoba berpikir keras, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aku menoleh dan ternyata Arka datang. Aku bingung harus bagaimana berhadapan dengannya. Aku mencoba tersenyum saat dia masuk ke kamar. Tapi dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Bahkan tidak bicara sama sekali.
Arka mengeluarkan semua yang ada di kantong celana termasuk dompet dan ponselnya di letakannya di atas meja samping TV . Kemudian langsung masuk ke kamar mandi.
Ponsel Arka bergetar, saat aku lihat ada pesan whattsapp masuk. Aku penasaran pingin buka, tapi takut ketahuan. Aku mendekat ke pintu kamar mandi. Terdengar guyuran air yang artinya dia sedang mandi.
Maka tanpa ragu aku buka pesan itu. Dari Alda.
"Mas, ada yang mau aku sampaikan . Kita ketemuan di warung lesehan yang mas bicarakan kemarin ya. see you. bye"
Ternyata sepulang aku dari apartemennya , Alda mulai chat Arka. Aku baca mulai dari awal. Ada kata yang membuat aku sedikit kesal. Arka berterima kasih karna rasa perhatian Alda terhadapnya. Itu Alda lakukan karena Dia bilang Arka mirip sama pacarnya yang sudah meninggal, apalagi waktu pakai baju yang di pinjamkannya. Karna baju itu adalah baju pacarnya. Maka Alda jadi teringat sama pacarnya yang sudah meninggal.
Aku segera meletakkan ponsel di tempat semula ketika aku mendengar pintu kamar mandi terbuka. Aku segera melompat ke kasur dan berbaring dengan memainkan ponselku.
Aku melirik Arka yang sedang bersiap untuk sholat. Aku baru menyadari ternyata Arka memang tampak tampan sekali . Tubuhnya yang tinggi, dada yang bidang , perut rata, di balut dengan baju Koko dan sarung. Tampak sempurna sekali makhlukmu ini Tuhan. Itulah kata yang keluar dari hatiku.
Bodohnya aku mengabaikannya selama ini. Kalau saja dari awal aku mau menerima nya. mungkin tidak akan begini jadinya. Ternyata egoisku masih lebih besar di banding hati nurani ku .
__ADS_1